Pernikahan Kenan dan Calista selalu dibayang-bayangi oleh kesalahan masa lalu Kenan pada Olivia, adik kandung Calista. Kenan yang beberapa bulan sebelum menikah dengan Calista salah memasuki kamar Olivia dan menyangka wanita yang tidur adalah Calista yang akhirnya membuat Olivia hamil. Lima tahun kemudian Kenan akhirnya bercerai dengan Calista, lalu menikah dengan Olivia. Calista yang dendam pada Olivia lalu menikah dengan Leo, tunangan Olivia yang dia rebut. Namun perjalanan rumah tangga Calista tidaklah mudah dan selalu dibayangi oleh dosa masa lalu yang telah mereka lakukan. Bahkan Calista juga dimadu dengan sekretaris Leo yang bernama Giselle meskipun akhirnya Leo dan Giselle bercerai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Sementara itu, berulangkali Calista menghubungi Leo, namun tak pernah ada jawaban, pesan yang dia kirimkan pun belum terbalas. 'Kenapa sih selalu saja susah dihubungi,' batin Calista sambil melihat jam di dinding kamarnya. Saat sedang asyik memainkan ponsel di tangannya, tiba-tiba ponsel itu pun berbunyi. "Papa?" kata Calista, kemudian dia mengangkat teleponnya.
[Halo Calista.]
[Ya Pa, ada apa? Apa Papa mau tanya kenapa tadi pagi Calista ga datang ke pernikahan Olivia, tadi Leo ada rapat mendadak, jadi Calista ga bisa datang ke rumah sakit.]
[Bukan itu yang ingin papa bicarakan Calista.]
[Lalu?]
[Calista, mama sudah sadar.]
[Bagus dong.]
[Mamamu ingin bertemu denganmu, Calista?]
[Ya sudah besok Calista ke rumah sakit, sudah dulu ya Pa, Calista mengantuk.] Calista lalu menutup teleponnya sambil menggerutu. Dia lalu mencoba menghubungi Leo kembali namun ponselnya sudah tidak aktif. "Dasar menyebalkan!" kata Calista sambil membuang ponselnya ke atas ranjang.
Sementara di dalam ruang kantornya, tampak Leo begitu sibuk mencumbu bibir merah seorang wanita. Wanita itu pun dengan penuh gairah membalas ciuman Leo dengan sedikit ******* sambil sesekali meringsak masuk ke dalam celana milik Leo.
"Kau membuatku semakin bergairah Giselle!" sahut Leo.
"Tentu saja, bahkan aku jauh lebih hebat dibanding istri anda Pak Leo," balas Giselle sambil mengalungkan tangannya di leher Leo. Leo lalu mendorong tubuh Giselle hingga jatuh di atas sofa di ruangannya. Kemudian dia mendekat pada Giselle lalu satu per satu kancing kemeja milik Giselle pun dibuka olehnya sambil menciumi bahu Giselle dan kemudian turun pada sepasang gunung kembar milik Giselle yang begitu menggodanya.
***
Dengan sedikit berjinjit, Leo masuk ke dalam rumahnya. Saat akan menaiki tangga, tiba-tiba lampu rumahnya pun menyala.
"Kau darimana saja Leo?"
"Calista, kau belum tidur, Sayang?" tanya Leo sambil menyembunyikan rasa gugup di dalam hatinya. "Malam ini aku survei ke tempat produksi proyek baruku, sinyal di sana sedikit susah, lalu saat dalam perjalanan pulang, bateraiku lowbat."
"Kau tidak bohong kan?"
"Untuk apa aku berbohong padamu, Sayang," jawab Leo sambil mendekap tubuh Calista dan memainkan jarinya di atas wajahnya. Emosi Calista yang sempat memuncak akhirnya sedikit menurun saat dia mulai terbuai dengan sentuhan Leo.
"Leo kau selalu membuatku lemah," ujar Calista. Leo lalu menyunggingkan senyum kecutnya.
"Sayang bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Ya, mintalah yang kau mau."
"Bolehkah besok aku ikut denganmu melihat proyek barumu?"
"Tentu sayang, besok pagi ikutlah denganku, sekarang ayo kita tidur." Leo kemudian melepaskan pelukannya pada Calista kemudian masuk ke dalam kamar. "Gimana sih, udah mancing-mancing malah ditinggal pergi!" kata Calista sambil mendengus kesal melihat tingkah Leo.
***
Pagi ini Calista berdandan begitu cantik, tubuh ramping putihnya berbalut dress model belted tweed skater warna merah bata merk sebuah produk import ternama. Wajah cantiknya berbalut make up minimalis bergaya korea, dan rambutnya dibiarkan tergerai dengan pita kecil di atasnya.
'Sempurna,' gumam Calista saat menatap dirinya di depan cermin. Leo yang keluar dari kamar mandi pun berdecak kagum saat melihat penampilan istrinya.
"Kau memang begitu cantik dan menawan Calista, Sayang," kata Leo sambil memeluk tubuh Calista dari belakang kemudian mencium tengkuknya. "Jangan menggodaku Leo, aku sudah bersusah payah berdandan pagi ini."
"Sebentar saja, Sayang!" Leo kemudian membuka resleting pakaian yang dikenakan Calista lalu mendekatkan wajahnya pada istrinya. Namun, saat bibir Leo sudah menyentuh bibir Calista tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Sial mengganggu saja!"
"Angkat sayang, siapa tahu pentin."
Leo lalu mengangkat ponselnya. "Iya sebentar lagi aku berangkat," jawab Leo.
"Calista, ayo kita pergi sekarang sayang karena lokasi yang akan kita tempuh cukup jauh." kata Leo sambil mengenakan pakaiannya.
"Iya sayang."
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, Leo dan Calista akhirnya sampai di lokasi tujuan mereka.
"Tempat yang bagus, Leo."
"Iya Calista, ini akan menjadi proyek terbesarku tahun ini." kata Leo sambil tersenyum.
"Kau benar-benar hebat sayang, aku bangga padamu."
'Tentu saja Calista, karena aku sudah menggunakan namamu agar rekan bisnisku tertarik bekerja sama denganku,' gumam Leo.
"Ayo sayang!" ajak Leo sambil menggandeng tangan Calista mendekat pada beberapa orang yang sedang sibuk mempersiapkan sesuatu.
"Selamat datang Pak Leo, Bu Calista," sapa beberapa orang saat Calista dan Leo mendekat pada mereka. Calista tersenyum bahagia mendengar orang-orang yang menyapanya dengan penuh hormat.
"Calista, ayo kuperkenalkan dengan seorang fotografer muda yang begitu berbakat, dia akan menangani proyek kita kali ini."
Calista kemudian mengangguk dan mengikuti langkah Leo mendekati seorang lelaki yang tampak begitu sibuk mempersiapkan alat-alat fotografi sambil sesekali mengecek laptopnya.
Leo kemudian menepuk bahu laki-laki itu. "Ramon."
"Oooh Pak Leo, maaf saya tidak melihat kedatangan anda." kata Ramon dengan sedikit gugup.
"Tidak apa. Calista, kemari lah."
Calista lalu mendekat pada Leo. "Calista, perkenalkan ini fotografer kita, Ramon." Perasaan Calista begitu berdebar-debar melihat sosok yang kini ada di hadapannya. 'Ramon,' batin Calista. Ramon lalu mengulurkan tangannya pada Calista, namun tak ada balasan dari Calista, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.
"Calista, kenapa kau diam?" tanya Leo.
"Ooh.. O.. maaf, saya Calista."
"Ramon, Nyonya."
Calista lalu tersenyum kemudian menarik tangannya kembali. '****, kenapa dia muncul lagi dalam kehidupanku?' gumam Calista.
"Emh sayang, aku ke belakang dulu ya," kata Calista, kemudian pergi meninggalkan Leo dan Ramon. Calista masuk ke dalam toilet kemudian berdiri di depan cermin sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Setelah aku hidup bahagia dengan Leo, kenapa dia kembali hadir dalam hidupku? Bagaimana jika dia membongkar semua rahasiaku, kebohonganku mengenai Olivia dan Kenan, lalu bagaimana jika Ramon juga membongkar rahasiaku jika kondisiku saat ini sangat tidak memungkinkan untuk bisa hamil. Jika Leo tahu semua itu, bisa-bisa dia menceraikanku?"
"Selamat pagi, Calista sayang!" sapa sebuah suara dari sosok yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya.
"Ra.. Ramon, mau apa kau ke sini."
"Aku merindukanmu Calista sayang, kita sudah lama tak berjumpa, apa kau tak merindukanku?" kata Ramon sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Jangan pernah coba-coba mempermainkanku Ramon."
"Hahahaha, aku tidak pernah mempermainkanmu Calista, bukankah aku hanya menyapamu saja."
"Brengsek!" gumam Calista, lalu pergi menabrak tubuh Ramon yang berdiri di depan pintu toilet.
"Calista, hidupmu kini ada dalam genggamanku," kata Ramon sambil tersenyum menyeringai.
ta vote Thor ✌️
bagus Thor perubahan karakter nya dari sangat jahat tidak selamanya menjadi penjahat 👍🌹
aku suka itu.....
jadi kesal