Menyakitkan jika mengingatnya, menyedihkan saat menjalaninya, mengecewakan saat melihatnya, itulah cinta.
"Naura ?" ucap orang tersebut memastikan orang dihadapannya ini
"Siapa ? hiks,,, hikss,,," tanyaku tidak mengenali orang yang mengajakku bicara
"Kamu Naurakan ? yang bermain bersamaku saat di panti asuhan ?" tanya anak itu lagi
"Deg !" Bayangan itu muncul, potongan mimpi yang terasa nyata itu hadir. Rasa sakit saat dipukuli oleh wanita yang ku anggap ibu, rasa menyalahkan diri karna tidak patuh, rasa yang menyesakkan dada
"Tidak, aku tidak bermain ke panti asuhan. Aku bukan anak yang nakal... hiks,,, hiks,,, " ucapku sambil menahan sakit diperut, ada perban dikepala menutupi luka yang cukup dalam dan besar serta beberapa lebam yang nyeri diwajahku
Itu semua ku dapatkan dari orang yang ku anggap tulus ternyata palsu, dari seorang yang ku anggap pelindung ternyata penjahat, Cinta dari segala bentuk itu menyedihkan Bukan ? Adakah Cinta yang tulus di dunia ini ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ralia Imutz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28_ Memulai
“Naura, percayalah denganku. Aku tidak ingin menyakitimu karena aku menyukaimu dan aku akan membersamaimu sampai kau yakin dengan kepercayaan itu” ucap Aydin dengan tulus
Naura hanya diam, menatap lurus mata Aydin, menelisik kebohongan dari perkataanya.
“Kau serius ?” Tanya Naura setelah beberapa saat diam
“Ya aku serius” jawab Aydin
“Hm, kita lihat saja nanti” ucap Naura kemudian pergi dengan membawa tasnya
“Nau, kita makan malam kan ?” susul Aydin
“Prof. sendirian dirumah, aku ingin pulang menemaninya” ucap Naura
“Baiklah, kalau begitu aku antar ya” ucap Aydin sambil berjalan mengimbangi Naura
“Aku bisa sendiri” ucap Naura dingin
“Sekalian aku ingin bertemu dengan Prof. untuk menanyakan tentang kamu” ucap Aydin membukakan pintu mobil
“Apa maksudmu ?” Tanya Naura
“Aku sudah berjanji untuk menemanimu mencari kebenarannya. Aku akan memulainya saat ini juga” ucap Aydin
“Aku belum menyetujuinya” ucap Naura sambil memasang sabuk pengaman
“Tanpa kau ucap aku juga tau apa keinginanmu, jangan menyembunyikannya Naula !” ucap Aydin sambil mencolek hidung Naura kemudian dirinya memutar untuk masuk kekursi kemudi
Naura hanya tersenyum malu, karena Aydin mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan. Dirinya tersadar saat mengetahui secuil kebenaran itu, bahwa masa kecilnya begitu menyenangkan bisa bermain dengan teman sebaya, menghabiskan waktu dengan teman yang mengasyikkan, belajar bersama dengan mereka, dia ingin mengingat masa itu.
“Nau, bisa kau beritahu dimana alamatmu ?” Tanya Aydin sambil menyetir
“Di Komplek XXX nomor 07” jawab Naura
“Baiklah, let’s go !!!” ucap Aydin bersemangat
Terukir senyum tipis diwajah Nuara, melihat sikap lucu Aydin yang bersemangat itu sedikit mebuat harinya mulai memutih.
“Ay, kenapa kau mau membantuku ?” Tanya Naura setelah terjadi hening beberapa saat
“Karena kau pengantin masa kecilku, hahaha” jawab Aydin
“Itu hanya dimasa kecil, kau temanku. Teman keduaku setelah Zahra” ucap Naura
“Zahra temanmu ? bukankah dia sahabatmu ?” Tanya Aydin
“Beda keduanya apa ?” Tanya Naura
“Teman itu hanya sebatas orang yang kau kenal, namun sahabat adalah orang yang selalu menemanimu, membersamaimu dan tempatmu berbagi senang dan duka” ucap Aydin
“Berarti Zahra sahabatku” ucap Naura memberikan pernyataan
“Ya, dan aku adalah sahabat masa kecilmu. Aku orang pertama yang menjadi sahabatmu” ucap Aydin
“Hm, aku memang lebih dulu kenal denganmu jika itu dihitung dari kecil. Namun aku tidak mengingatnya, jadi kau tetap menjadi yang kedua” ucap Naura
“Terserahlah, untuk status sahabat aku tidak akan merisaukannya” ucap Aydin
“Tapi nanti aku akan jadi sahabat utamamu, sahabat hidupmu” batin Aydin dengan senyum mengambang
“Kita sudah sampai, itu yang pagar putih itu” ucap Naura
“Oh, baiklah” ucap Aydin dan merekapun tiba didepan pagar itu, Naura menurunkan kaca mobil dan melampaikan tangan pada Pak Satpam agar membukakan pagar
“Terimakasih Pak” ucap Naura saat mereka berlalu
“Parkir disinikan ?” Tanya Aydin seletah memarkir didekat mobil yang ada
“Ya” ucap Naura, merekapun melepas sabuk pengaman namun Naura nampak enggan untuk turun
“Apa sabuk pengamannya sulit terlepas ? sini biar aku bantu ” Ucap Aydin melihat Naura yang melamun saat membuka sabuk pengaman
“Ah, tidak. Aku bisa kok” ucap Naura segera bergegas
“Hm, ayo kita turun” ucap Aydin kemudian keluar dari mobil
“Tok,,,tok,,tok,,,Hei kenapa tidak turun ?” ucap Aydin saat mengetuk kaca mobil didekat Naura
“Em,,, anu…”Naura hanya menurunkan kaca mobil saja
“Hehehe, wajahmu sangat menggemaskan saat gugup seperti ini” ucap Aydin sambil mendekap kedua pipi Naura dengan tangannya
“Aydoon, jongon lokukon ono” ucap Naura yang sulit berbicara dengan benar karena ulah Aydin
“Hahaha, maaf Naula. Aku tau kau gugup, tapi semua ini suatu saat nanti pasti akan kamu hadapi, cepat atau lambat kamu memang mengingikan kebenaran kan ? Terimakasih karena mau bercerita padaku tentang hidupmu, dengan begitu aku bisa membantumu” ucap Aydin menggengam kedua tangan Naura
“Apa kau benar mau membantuku ?” Tanya Naura
“Ya, aku yakin Prof. pasti tau bagaimana kondisimu. Jika kau belum siap mendengarnya, aku akan menjadi telinga untukmu menampung informasi itu untuk kau bisa menemukan kebenarannya” ucap Aydin
“Humfff,,, baiklah…” ucap Naura setelah merasa tenang dirinya pun memberanikan diri untuk turun dari mobil
“Semangat” ucap Aydin menyemangi saat Naura akhirnya turun dari mobil
“Ayah, apa Ayah ada diatas ?” teriak Naura saat mereka tiba dikursi tamu
“Kau biasa memanggil Prof. seperti ini ?” Tanya Aydin kaget dengan teriakan Naura
“Tidak, hanya karena ada kamu jadinya aku berteriak agar lebih efesien” ucap Naura
“Hah ?” Aydin kebingungan dengan maksud efesien disini
“Iya nak. Ada apa ?” terdengar teriakan orang lain dari atas
“Ayah, ada tamu untuk Ayah” ucap Naura juga berteriak
“Tunggu sebentar !” jawab yang dipanggil tersebut
“Nah Ayah sudah menyahut, kamu silahkan duduk Ay. Aku kedapur sebentar” ucap Naura
Tak berapa lama Naura dan Prof. Dwi datang secara bersamaan, Aydin segera berdiri menyambut Prof. Dwi
“Selamat malam Prof. maaf menganggu waktunya” ucap Aydin sambil menyalami Prof. Dwi
“Tidak apa, kenapa kalian datang lebih awal ?” Tanya Prof. Dwi
“Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Prof. apakah saya di izinkan Prof ?” ucap Aydin
“Kamu minta izin dengan saya ?” Tanya Prof. Dwi bingung, beliau menatap Naura yang nampak gelisah
“Iya Prof. em,,, ini berkaitan dengan Naura” ucap Aydin sambil menoleh ke arah Naura
“Kamu datang sendiri saja ?” Tanya Prof. Dwi
“Tidak Prof. saya kesini bersama Naura” jawab Aydin
“Iya, maksud saya orang tua kamu mana ?” Tanya Prof. Dwi
“Ayah dan Bunda ada dirumah Prof.” jawab Aydin
“Ooh, baiklah… dan apakah ini tidak terlalu cepat ?” tanya Prof. Dwi yang bingung karena Aydin baru mengenal Naura beberapa hari
“Saya rasa lebih cepat lebih baik Prof. saya sudah membicarakannya dengan Naura” jawab Aydin
“Sudah kalian bicarakan sebelumnya ?” Tanya Prof. Dwi menatap keduanya
“Ya” jawab Aydin dan Naura hanya mengangguk
“Apa kamu gugup nak ?” Tanya Prof. Dwi pada Naura
“Em,,, iya Yah” jawab Naura
“Kamu naiklah keatas Nak, luapkan emosi dan kegelisahan mu pada sesuatu yang positif” ucap Prof. Dwi dengan lembut
Dia memang sudah terbiasa jika Naura nampak gelisah atau mempunyai masalah selalu menyarankannya untuk melukis dan menggambarkan apa yang dia rasakan, karena Naura orang yang sulit melupakan emosinya melalui kata-kata, bagi mereka yang pernah mengalami gangguan psikologi harus menyalurkan emosi atau apa yang dirasakannya pada sesuatu agar tidak menyelakai diri sendiri.
“Baik Ayah, Naura akan melukis ke atas” ucap Naura menarik nafas kembali
“Kau tidak apa ?” Tanya Aydin khawatir
“Ya, akan lebih baik jika aku keatas” ucap Naura
“Baiklah” jawab Aydin sambil tersenyum yakin bahwa Naura bisa melalui ini
Naurapun melangkah, pandangan mereka tertuju pada Naura yang berjalan menaiki tangga sampai sosoknya tidak terlihat lagi.
“Jadi Nak Aydin, apakah kamu sudah menyiapkan semuanya ?” Tanya Prof. Dwi
“Ya, saya sudah siap Prof” jawab Aydin
“Kau membawa pengikatnya ?” Tanya Prof. Dwi
“Pengikat apa Prof. ?" Tanya Aydin kebingungan
"Tali atau sejenisnya ya ? untuk apa aku membawanya ?" Batin Aydin bertanya-tanya
“Haaih, anak muda jaman sekarang hanya bertindak tanpa menyiapkan apa-apa” gumam Prof. Dwi
“Tunggu sebentar saya kekamar untuk mengambil sesuatu” ucap Prof. Dwi kemudian meninggalkan Aydin yang nampak kebingungan dengan maksud percakapan yang mereka lakukan ini.
.
.
.
Kira² apa nih maksud Prof. Dwi kok, kesalahpahaman apa yang terjadi sampai membuat Aydin bingung ? 😁😁😁
See you next episode ya 😉~~~
Jangan lupa like, komen dan vote ✨
Thanks All ❤️❤️❤️
tak enteni iki🤭
meski menanti sedikit membuat hati galau😬
Akhirnya
sama2 tua kekanak kanakkan sumua