NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Pacarku

Aku Hamil Anak Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:89.9k
Nilai: 5
Nama Author: Revina Willy

⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!

UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB

Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.

Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?

Yuk pantauin terus ceritanya! 😉

-----

Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..

-----

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Rendi (2)

"Sil, maaf ya agak lama."

Aku menoleh ke arah Rendi yang berdiri di ambang pintu kamar. Tatapanku tertuju pada sebuah kaos dan celana yang sudah terlipat di tangan Rendi.

"Baju kamu basah banget, itu ga mungkin bisa dipake terus. Kamu bisa masuk angin."

Rendi terlihat khawatir. Yang Rendi katakan benar. Aku sudah tidak bisa lagi mengenakan seragam sekolahku ini. Jujur saja aku mulai merasa dingin.

"Ini Sil, maaf ya aku ga punya baju cewek, kamu gapapa kan kalau make baju aku?" tanya Rendi.

Rendi terlihat ragu-ragu memberikan kaos itu padaku. Apa Rendi mengira aku akan menolaknya? Aku sih tidak masalah.

Meski pun aku tidak suka, aku juga tidak punya pilihan lain kan? Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bisa memilih-milih pakaian.

"Haha gapapa kok Ren, justru malah aneh kan kalau kamu yang tinggal sendirian bisa nyimpen baju cewek?"

Aku tertawa untuk mencairkan suasana. Suara hujan masih terdengar nyaring. Sepertinya aku akan pulang terlambat hari ini.

Kuambil kaos dan celana itu dari tangan Rendi, lalu kubawa keduanya ke kamar mandi bersamaku. Awalnya kupikir tidak akan ada masalah. Tetapi..

"Rendi.."

Aku memanggil Rendi. Kepalaku keluar untuk mengintip dari dalam kamar mandi. Rendi yang mendengar suaraku lantas menghampiriku.

"Kenapa Sil? Bajunya ga cocok?" tanya Rendi dengan tatapan khawatir.

"Bu-bukan! Bukan ga cocok!" Dengan ragu-ragu, aku melangkah keluar dari kamar mandi. Kulihat Rendi tersentak sesaat aku keluar.

"Ce-celananya ga muat di aku Ren.. dari tadi melorot terus.."

Ah tidak tau! Aku benar-benar malu. Rendi memang memberikan kaos dan celana miliknya padaku, namun celananya benar-benar terlalu besar untuk melingkari pinggangku.

Rendi berpaling, begitu pula aku. Kami berdua sama-sama tidak mau saling menatap. Suasana canggung terus mengitari kami hingga akhirnya Rendi berbicara lebih dulu.

"Padahal aku udah ngasih ukuran paling kecil yang aku punya. maaf ya Sil.." lirih Rendi.

"Ya udah gapapa, aku begini doang juga gapapa kok! Lagian baju kamu kegedean sama aku."

Sebenarnya bukan hanya celana, namun kaos putih yang melekat di tubuhku ini juga sama besarnya. Kaos ini cukup mampu menutupi sebagian besar pahaku.

Aku menggenggam erat kedua tanganku. Rendi masih memalingkan wajahnya dariku. Karena tak ingin berlama-lama dengan situasi yang canggung ini, aku berinisiatif untuk mengubah suasana.

"Kayanya hujannya bakal awet deh! Mendingan aku nonton drama dulu- oh iya! HPku!"

Aku langsung berlari menuju ranselku yang sebagian besarnya sudah basah karena hujan. Aku langsung mengeluarkan barang apa saja yang tampak lebih dulu di mataku.

Dari buku-buku, hingga alat-alat tulis semuanya langsung kuhempas ke lantai. Aku tak peduli jika ada alat tulisku yang rusak, bagiku yang penting adalah cara agar buku-buku sekolahku tidak semakin basah.

"Tenang Sil.. tenang.."

Rendi berkali-kali memintaku untuk tenang, namun tak sekalipun aku mengindahkan perkataannya.

Aku baru menemukan ponselku yang ada di dalam ransel ketika sudah berhasil mengeluarkan semua buku-buku. Layar ponselku mati. Aku juga bisa melihat beberapa tetes air di layar ponselku yang gelap.

"Pliss nyala dong.. nyala pliss.."

Mataku melebar. Keningku mengerut penuh harapan. Ponselku adalah salah satu harta yang berharga bagiku. Ponselku tidak boleh rusak!

"Eh? Nyala!"

Layar ponselku menyala. Syukurlah ponselku tidak rusak. Tadinya aku sudah sangat ketakutan membayangkan ponselku jika tidak menyala.

Aku menoleh ke arah jendela. Pemandangan di luar ruangan terlihat berkabut. Awan-awan di langit sepertinya belum bosan membasahi bumi.

Suara hujan yang sangat deras terdengar nyaring. Ditambah dengan suara dedaunan pohon yang tersapu angin kencang.

Kulihat layar ponselku. Tanganku sejak tadi tidak henti-hentinya menekan ponsel untuk membuka dan menampilkan drama. Karena sepertinya hujan ini akan berlangsung lama, aku memilih untuk menonton drama sembari menunggu hujan reda.

"Sil, kamu bakal di situ aja?" tanya Rendi.

"Hm."

Aku berdehem singkat. Tatapanku hanya fokus pada layar ponselku. Saat ini alur ceritanya sedang seru-serunya. Rasanya satu detikku akan terasa sia-sia jika aku menoleh ke arah Rendi.

"Aku bakal ke kamar. Kalau aku ga bilang-bilang ntar takutnya kamu malah nyariin," ucap Rendi.

Aku diam tak menjawab. Aku tak mendengarkan ucapan Rendi dengan baik. Sepertinya Rendi juga sudah pergi.

Sejak tadi tatapanku tak mau lepas dari layar ponsel sekali pun. Yah.. beginilah aku. Jika aku sudah terhanyut ke dalam sebuah alur cerita, entah itu drama atau novel, aku pasti tidak akan mudah mengalihkan pandangan dan pikiranku ke arah lain.

Hingga 45 menit berlalu. Pinggangku mulai terasa sakit karena terlalu lama duduk. Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan hujan masih mengguyur dengan derasnya di luar.

Di layar ponselku muncul tanda pemberitahuan bahwa baterai ponsel sudah mulai habis. Hanya butuh 5 menit hingga ponselku mati total. Tepat sekali aku baru selesai menonton drama episode terakhir.

Kumatikan layar ponselku. Aku berdiri dari dudukku, dan mulai menatap sekeliling. Tubuhku sempat oleng sesaat baru berdiri. Kakiku terasa lemah, mungkin karena terlalu lama duduk.

Di sekelilingku terasa sepi. Aku baru sadar sejak tadi Rendi tidak ada di sini. Ketika mataku sibuk mencari-cari, aku baru teringat dengan ucapan Rendi tadi.

"Rendi bilang dia bakal ada di kamarnya kan? Kamarnya yang ini bukan sih?"

Aku berdiri tepat di depan pintu sebuah kamar. Di depan pintu kayu ber-cat putih ini, tanganku sudah menyentuh gagang pintu, dan siap untuk membuka pintu.

Ceklek

"Hm? Rendi?"

Aku melangkah pelan. Semulanya aku mengintip lebih dulu untuk memastikan Rendi memang benar ada di dalam kamar ini atau tidak.

Sesaat aku masuk, Rendi sudah langsung terlihat di mataku. Rendi duduk di atas sebuah kursi dengan sebuah meja belajar di depannya. Sepertinya dia sedang belajar.

"Eh? Silvi? Udah selesai nontonnya?" tanya Rendi.

Aku hanya diam. Kakiku terus melangkah pelan ke arah Rendi hingga aku berdiri tepat di sampingnya.

"Ren, ada charger ga?" tanyaku.

"Hm? Ada kok, nih! Buat apaan?" Rendi menyodorkan charger berwarna putih itu padaku. Aku pun langsung menerimanya dari tangan Rendi.

"HP aku baterainya habis," ujarku.

Setelah selesai mengurusi ponselku, dan telah memastikan daya ponselku tengah terisi, aku kembali menghampiri Rendi.

Kutarik salah satu bangku yang ada di dekatku. Kuletakkan bangku itu tepat di samping Rendi, lalu aku duduk di atasnya.

Rendi sempat tersentak melihatku yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Namun itu hanya beberapa detik saja sebelum pandangannya beralih kembali ke arah buku yang ada di hadapannya.

Rendi tampak fokus dengan buku-buku yang ada di hadapannya. Benar juga. Bagaimana aku bisa lupa? Satu tahun lagi Rendi akan lulus sekolah. Karena itu tentu saja Rendi harus melakukan persiapan penuh sebelum ujian kelulusannya.

Kusentuh pipiku dengan kedua telapak tanganku. Aku memajukan tubuhku agar lebih mendekat ke sisi meja. Dengan telapak tanganku yang masih menyentuh pipiku, kuletak lenganku ke atas meja dengan sikuku yang bertumpu pada meja.

Kutatap wajah Rendi. Entah kenapa perasaanku jadi tenang ketika memandang wajahnya. Apa karena Rendi tampan?

Omong-omong soal tampan, aku jadi teringat dengan Farel ketika di ruangan komputer waktu itu. Saat itu kenapa dia mendekatkan wajahnya padaku ya? Dia jadi terlihat seperti ingin menciumku. Apa aku salah paham?

Hah?! Apa yang sedang kupikirkan sih? Di saat aku sedang bersama Rendi begini kenapa aku malah memikirkan Farel?

1
Qaisaa Nazarudin
Kamu aja yg Bodoh,Farel itu tau Rendi itu seperti apa,makanya dia ingin melindungi kamu,Dasar ogeb..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Udah End aja,Gak ada kelanjutannya,Endnya kayak kegantung gitu, Ceritanya gak tuntas menurut ku..
Qaisaa Nazarudin
Ternyata Rendi udah biasa ngelakuin itu ke cewek2 yg lainnya juga..
Qaisaa Nazarudin
Apakah Rendi akan bertanggungjawab setelah ini?Atau biasa saja..🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Kalo emang Rendi sayang dan cinta sama Silvi,Harusnya dia menjaga Silvi bukan malah metosaknya,Ckk anak remaja jaman now..🤦🤦
Juju Siti Julaeha
pergaulan bebas dapat mengakibatkan seperti ini, hati hati aja
Toto Suharto
ceritanya bagus...konfliknya bikin baper dan penasaran...semangat lanjut dong thour...
Wahyuni
nanggung
@shiha putri inayyah 3107
kok gak ada lanjutannya...?🤔🤔
Hernawati Sitohang
jangan terjebak cinta rendi
Hernawati Sitohang
up
Rider Frost
ko ga up ya, lama thor
re
Next
Freen 🐰
hadir ya
Яцяу
farel pelindung sejatinya silvi
ai'
lanjut thor hehe
ai'
Jadi kepo ma zizi
indah
Bagus, awal yg menarik, jadi ingin baca lanjutannya karena banyak kemungkinan yg akan terjadi. Tutur bahasanya juga👍👍
mama angga
lanjuuuutttt
ai'
Rendi kek pedopil sih...eh bentar² keknya mereka mau olimpik bareng deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!