Season 1 dan Season 2
Sugar daddyku berbeda. Temukan bedanya dalam kisahku ini. Percayalah! Ia benar-benar berbeda.
Tidak selamanya sugar daddy merupakan lelaki berperut buncit dengan kepala plontos. Pria mesum yang liurnya menetes setiap kali melihat gadis muda nan cantik.
Sugar Daddyku buktinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bemine_97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Soal Prioritas
“Apa yang terjadi denganmu?” Mas Abim menyodorkan segelas Cappucino kepadaku dan ikut duduk di hadapanku.
“Mas, aku diskors sampai waktu yang tidak ditentukan. Bisa jadi aku tidak bisa ikut kuliah semester ini sama sekali.” Tanganku mulai mengaduk-aduk kopi di hadapanku.
Setiap kali aku kesulitan, Mas Abim tempatku mengadu selain Moly. Ia selalu menerimaku dengan tangan terbuka dan memandang setiap masalahku dari sudut yang berbeda. Ia tidak pernah asal menghakimi, tidak pernah asal menuduh, ia bijaksana dan itu yang aku suka darinya.
“Ceritakan padaku Queen. Aku bersedia mendengarmu.”
Dipersilahkan begitu, aju menceritakan semua hal yang baru saja terjadi hari ini pada Mas Abim. Harap-harap cemas jika ia akan menilaiku dengan cara yang sama seperti Dekan tadi.
“Jadi, semua tuduhan itu benar?” tanyanya setelah mendengar ceritaku.
“Mobil-mobil itu milik kekasihku.” Mas Abim memasang wajah heran, ia sama bingungnya dengan Dekan tadi.
“Sebentar Queen, siapa kekasihmu hingga ia bisa berganti-ganti mobil?”
“Seseorang yang mampu Mas.” Aku tidak bisa menyebut nama Om Gabriel sembarangan. Lagipula siapa yang akan percaya jika aku dan Om Gabriel bersama?
“Kamu?” Ia mengernyitkan dahinya.
“Ia, aku simpanan seseorang,” jawabku jujur. Sudah tak ada lagi yang bisa kusembunyikan saat ini.
Mas Abim terlihat kecewa, ia membuang pandangannya dan menghela nafas.
“Aku benar-benar tidak punya kesempatan lagi sepertinya.” Ia bergumam sendiri, dan aku bisa mendengarnya dengan jelas.
“Mas, kita sudah bicarakan hal ini.”
“Iya, saat itu kamu masih pacarnya bocah itu, lalu setelah putus dengannya aku kira kamu akan memilihku Queen.”
“Aku minta maaf.”
“Jangan meminta maaf padaku, ini kesalahanku jatuh cinta padamu hingga berusaha menahanmu dengan bekerja di sini. Salahku juga, terlambat mengungkapkannya padamu hingga akhirnya aku kehilangan dirimu.”
“Mas Abim sudah baik padaku, dan akan selalu begitu. Maaf aku tidak bisa melihatmu dengan cara berbeda.”
“Sudahlah, sudah berlalu bukan? Queen, kamu tahu apa artinya menjadi simpanan seseorang? Apa kamu sanggup bertahan dengan semua konsekuensinya?Belum apa-apa kamu sudah dirumahkan, suatu hari nanti kamu akan ditinggalkan, kamu akan dipandang jelek oleh orang lain dan lelaki itu dengan mudah melepaskan diri.”
Bibirku terkatup rapat mendengar kalimat-kalimat dari Mas Abim, ucapannya tidak jauh berbeda dengan Moly dulu saat aku memutuskan untuk bersama Om Gabriel. Lalu dimana Om Gabriel sekarang? Ia menghilang dan aku tidak bisa menemukannya.
“Mas....” Aku ragu-ragu mengatakan bahwa aku mencintai Om Gabriel, ini bukan perihal harta dan tahta melainkan perasaan.
“Kamu menyukai pria itu, kan?” Mas Abim menatap mataku.
“Aku....”
“Queen, aku mencintaimu, tentu saja aku tahu saat hatimu mencintai orang lain. Mungkin, semacam kekuatan super untuk merasakan perasaan orang yang kita cintai?”
“Benarkah, Mas?”
“Kamu tidak pernah mencoba melihat perasaan sesungguhnya dari lelaki itu?”
“Aku percaya pada setiap kalimatnya.” Aku kembali menunduk, merasa malu pada diriku sendiri yang dengan mudah percaya pada Om Gabriel, tidak pernah menaruh curiga padanya meskipun sudah mendengar semua ocehan Zain di kafe hari itu.
“Apa yang ingin kamu lakukan sekarang, Queen? Kamu tetap harus kembali ke kampus dan melanjutkan kuliahmu. Ini impianmu sejak lama.”
“Tentu Mas, aku akan kembali ke kampus.”
“Bukankah dia harusnya membantumu? Katakan padanya bahwa kamu butuh bantuannya, dia juga harus bertanggung jawab dalam hal ini.”
Aku kembali membisu, hanyut dalam pikiranku sendiri.
Bagaimana caranya meminta bantuan pada Om Gabriel saat aku sendiri tidak bisa menghubunginya? Apa yang akan terjadi dengan hidupku dan pendidikanku? Aku hanya mengencani seseorang dan berakhir dengan menghancurkan hidupku sendiri, sedang Om Gabriel tersentuhpun tidak.
“Queen, jangan bilang kalau kamu tidak bisa bertemu dengannya?” Ia menebak dengan benar seolah-olah Mas Abim mampu membaca pikiranku.
“Gila ini namanya, aku tidak tahu bahwa kamu sudah segila ini Queen.”
“Mas tenanglah, aku akan berusaha menghubungi kembali nanti. Mungkin ada hal yang harus ia selesaikan saat ini, makanya aku tidak bisa menghubunginya.”
“Queen, dengarkan aku baik-baik. Kamu paham artinya prioritas? Jika kamu ada dalam urutan teratas prioritasnya, ada di luar angkasapun ia akan berusaha menghubungimu, apalagi jika hanya di luar negeri.”
Aku lagi-lagi terdiam. Bagaimanapun, Mas Abim benar, ini soal prioritas. Jika ia menganggapku kekasihnya, sudah seharusnya ia mengabariku dan tidak mendiamkanku selama ini.
“Aku antar kamu pulang Queen, tenangkan dirimu ya?Jika kamu butuh aku, jangan sungkan-sungkan menghubungiku. Jangan lakukan hal-hal aneh.”
“Hal-hal aneh? Seperti apa itu, Mas?”
“Hheem, sudahlah aku yakin kamu masih sayang nyawa. Ingat untuk menghubungiku Queen, aku belum menyerah padamu dan akan selalu berusaha membantumu.”
“Bolehkah aku menerima bantuanmu?”
“Aku yang menawarkannya padamu, tentu saja kamu boleh menerimanya. Selama kamu tidak meminta dibelikan mobil seperti milik lelaki itu.” Aku tertawa mendengar kalimatnya barusan, Mas Abim selalu punya cara untuk menggodaku.
*****
“Kamu tinggal di sini Queen?” Mas Abim menoleh kiri dan kanan setelah memarkir mobilnya di parkiran apartemen.
“Ia Mas, milik lelaki itu.” Mas Abim mengangguk, ia tidak berminat bertanya lebih jauh.
“Ya sudah, tenangkan dirimu ya? Mampirlah ke kafe kapan saja, aku akan selalu ada di sana untukmu.”
“Terima kasih Mas atas semuanya.”
“Tentu Queen.”
Aku melambaikan tangan begitu mobil Mas Abim melaju meninggalkan parkiran.
****
Aku duduk beralaskan lantai dingin apartemen, membuka bungkusan nasi padang milikku, memisahkan sayuran serta lauk dari gundukan nasi dan mulai menikmati makan malam. Aku sudah tak perduli lagi dengan kebersihan apartemen atau aturan-aturan yang dibuat Om Gabriel untukku. Toh yang membuat peraturan juga tak tahu rimbanya, ia lenyap bagai ditelan bumi, bahkan ketiga pria itu juga ikut menghilang. Tak pernah sekalipun kami berpapasan dengan Pak Jey, Pak Wahyu atau Pak Bagas di apartemen.
“Queen, pelan-pelan makannya!” Moly ikut bergabung denganku, kami gadis miskin tentu saja duduk lesehan lebih cocok.
“Nikmati saja makananmu Moly.” Aku tidak mengubris gadis itu lebih jauh dan semakin mempercepat makanku.
“Apa kamu tidak penasaran siapa yang mengirim foto-foto itu ke kampus?” tanyanya di sela-sela persiapan makan malamnya.
Aku mendongak menatap wajah Moly.
“Kenapa aku tidak memikirkannya, ya?”
“Aku sudah bilang, berhentilah makan Queen. Kebiasaanmu makan jelek sekali, semakin banyak kamu makan semakin buntu otakmu.”
Aku mencebik mendengar ocehannya, “Seseorang yang mengirim foto-foto itu tentu saja seseorang yang tidak menyukaiku bukan? Tapi setahuku aku tidak punya musuh.”
“Kamu yakin? Kamu mempermalukan Vino di kampus, kamu menguyur pria asing itu di kafe, kamu mencaci gadis cantik di Mall dan menantang Manajer Butik tempatmu bekerja dulu.” Gadis itu mengurutkan satu persatu dosa-dosaku di hadapanku.
“Ah, kamu membuatku kehilangan selera,”
“Pikirkanlah Queen, siapa yang paling mungkin menjadi tersangkanya?”
“Apa Vino? Mungkin ia mendendam padaku. Atau Zain? Bahkan Om Gabriel turun tangan langsung untuk menghukumnya.”
“Zain? Bukankah ia baru pertama kali bertemu denganmu? Bagaimana bisa ia punya foto-fotomu saat kamu naik ke mobil Om Gabriel di gang depan kos dulu?”
“Bagaimana dengan Vino? Hanya dia yang mengenalku sebaik kamu Ly, Mas Abim tidak mungkin menjahatiku, bahkan tadi siang ia terkejut dengan musibah yang menimpaku.”
“Apa kamu ingin berbicara dengannya?”
“Harus, jika benar dia pelakunya, akan kucabut juniornya. Jelas-jelas dia yang mengkhianatiku saat itu, atas dasar apa ia menjebakku seperti ini?” aku mendengus sebal, padahal baru saja bisa menikmati nasi padangku.
“Bisa tidak kalau ngomong jangan jorok Queen?”
“Ah maaf.” Aku membantu Moly membersihkan tubuhnya yang tersembur isi mulutku. Harusnya kutelan dulu makananku sebelum mengumpati Vino.
.
.
.
.
To Be Continued,
love love
bemine_97