Elias merupakan sosok lelaki idola di kampus, dan ia adalah seorang playboy.
Cyara adalah mahasiswi baru di UI Kediri. Mereka bertemu saat Masa Orientasi Siswa baru. Cyara jatuh hati pada Elias.
Elias menjadikan Cyara kekasihnya, namun tidak lama kemudian putus setelah Cyara mengetahui bahwa semuanya adalah settingan.
Setelah putus dari Cyara, Elias baru menyadari jika dia menyukai Cyara yang juga masih memendam rasa untuknya. Mereka bertemu lagi di Rumah Sakit karena Elias terinfeksi corona virus. Akankah Elias sembuh, dan apakah dia menyadari kesalahannya di masa lalu, bisakah ia menaklukkan kembali hati Cyara dan bersaing dengan Fandy untuk mendapatkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruby kejora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.28 Putus Asa
Elias membuka mata dan mendapati dirinya berada di Rumah Sakit, di ruangan isolasi yang terpisah dengan pasien lainnya. Dia menoleh ke pasien di sebelahnya.
"Pak, ini ruangan apa ya, sepertinya tertutup sekali."
"Ini ruang isolasi."
"Ruang isolasi..."
"Iya, kita di ruang isolasi, karena kita terinfeksi covid-19." jawab pasien di sebelah Elias yang merupakan Bapak separuh baya.
"Apa... jadi aku terinfeksi ?" tanya Elias shock menerima kenyataan.
"Kenapa bisa... padahal aku selalu memakai masker dan hand sanitizer."
"Namanya takdir, tidak bisa ditolak, jadi di terima saja."
"Sudah berapa lama Bapak dirawat di sini ?"
"Sudah satu minggu."
Elias diam dan menata hatinya yang hancur, mencoba menerima kondisinya sekarang. Ia menatap monitor di ruangan. Terlihat ada beberapa perawat yang memakai Alat Pelindung Diri, sarung tangan dan facebook shield berjalan di depan ruangannya dan akan masuk.
"Bagaimana kondisi Bapak Elias pagi ini, apakah masih demam ?" tanya perawat wanita pada Elias.
Elias diam tidak menjawab karena masih merasa frustasi. Perawat itu mengambil termometer digital dan mengukur suhu tubuh Elias.
"Demamnya masih tinggi, empat puluh derajat." kata perawat wanita kepada perawat lain di sebelahnya.
"Kita perlu memberi pereda demam sekarang."
"Tahan ya, Bapak. Saya akan menyuntikkan obat penurun panas." kata perawat mengambil jarum suntik lalu memasukkan ke ampul dan akan menyuntik Elias.
"Aku tidak mau disuntik, lepaskan aku. Aku merasa baik-baik saja."
Perawat lain memegangi Elias agar tidak berontak, dan perawat lainnya bersiap menyuntik.
"Aku bilang aku tidak mau. Jika Anda tetap memaksaku, berarti Anda menyalahi kode etik perawat, karena memaksa pasien. Dan aku akan melaporkannya kepada Kepala Rumah Sakit ini."
"Bapak, kami minta pengertiannya. Kami tidak memaksa, namun kami melakukan perawatan sesuai prosedur di Rumah Sakit ini."
Perawat melepaskan tangan dari tubuh Elias dan membatalkan melakukan injeksi.
"Kita beri obat penenang, setelah tidur baru kita injeksi pereda panas." kata perawat lain berbisik pada perawat wanita mengambil jarum suntik berisi obat penenang dan menyerahkan padanya.
"Bapak kami tidak jadi memberi pereda panas, tapi kami akan memberi obat penenang, agar Bapak bisa tenang dan beristirahat.''
"Aku tidak mau. Apapun obatnya, aku tidak mau. Aku mau keluar dari sini, lebih baik aku isolasi mandiri di rumah saja."
Perawat menjauh dari Elias dan menarik perawat lainnya untuk berbicara.
"Kapan aku bisa keluar dari sini, ada seseorang yang harus ku temui hari ini."
"Bagaimana ini... kita akan dalam masalah bila tidak bisa merawat pasien ini."
"Aku tahu siapa yang bisa membuatnya menurut. Semua pasien yang susah diatur menurut bila dirawat nya."
"Siapa..."
Perawat wanita menjawab berbisik di telinga perawat laki-laki.
"Coba cari dia, agar membantu kita membujuknya."
Perawat wanita tadi keluar ruangan dan beberapa saat kemudian kembali dengan seorang perawat wanita lainnya.
Ia berjalan mendekat ke Elias dan mengambil jarum suntik uang sudah disiapkan.
"Aku bilang, aku tidak mau. Harus berapa kali aku bilang."
"Anda yakin tidak mau saya rawat ?"
Elias hafal dengan suara itu meskipun suaranya sedikit teredam karena memakai masker.
"Cyara... kau kah itu ? Benarkah kau Cyara ?"
"Benar, Bapak Elias Rayhaan Shakeil. Kau harus menurut jika ingin segera sembuh dan pulang."
"Aku berjanji akan menemui mu hari ini, dan kita bertemu di sini dengan kondisiku seperti ini."
"Obat ini hanyalah media untuk melawan virus itu, obat sebenarnya adalah hatimu. Jika pikiranmu positif, maka kau akan segera sembuh, namun jika kau depresi, maka virus itu akan bertahan lebih lama di tubuhmu."
"Baiklah, aku mau jika kau yang melakukannya. Untuk perawatan selanjutnya aku mau hanya kau yang menanganiku."
"Kau berani bayar aku berapa," tanya Cyara bercanda sambil menyuntikkan paracetamol, "sudah selesai, obatnya sudah masuk.
Perawat lainnya merasa lega melihat Cyara berhasil menginjeksi Elias. Mereka kemudian mengajak Cyara keluar bersama dari ruangan.
"Elias... maaf maksudku Bapak Elias, saya akan keluar dulu, masih ada pasien lain."
"Tunggu, jangan pergi. Temani aku sebentar di sini."
"Aku akan keluar sebentar dan kembali setelah merawat pasien lainnya untuk menemanimu." kata Cyara keluar dari ruangan.
Elias merasa sedikit tenang karena ada Cyara, setidaknya ada yang menjenguknya masuk ke ruangan. Beberapa saat kemudian obat bekerja, dan Elias tertidur.
Cyara selesai bertugas sebelum pulang ia kembali ke ruangan Elias dengan memakai APD lengkap.
Ia melihat Elias tertidur pulas, kemudian menunggunya bangun dan duduk di kasur pasien kosong dekat Elias.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan dengan ku. Namun tidak mungkin aku menanyakannya sekarang. Malang sekali kondisimu, apa kau lalai menjaga dirimu selama di sana hingga kau terinfeksi." kata Cyara memandangi Elias yang sedang tertidur.
Beberapa saat kemudian Elias bangun dan melihat perawat memakai APD di dekatnya, " Cyara apa itu kau, aku hampir tidak mengenalimu dalam APD itu.
"Iya, aku tidak bisa melepasnya selama bekerja. Kau sudah bangun, bagaimana rasanya, apakah demam mu sudah turun," kata Cyara kemudian mencari termometer di sakunya, "sayangnya aku tidak membawa termometer saat ini."
"Aku merasa baikan. Sudah berapa lama kau menungguku, kenapa tidak membangunkanku saja ?"
"Baru tiga puluh menit. Kau tertidur pulas, karena pengaruh obat, dan kau butuh istirahat. Jadi aku tunggu kau bangun."
"Cyara aku ingin segera keluar dari sini. Kapan aku akan pulih ?"
"Semua tergantung dirimu, jika kau ingin cepat sembuh, kau harus menurut pada dokter dan perawat."
"Aku tidak mau jika bukan kau yang merawatku."
"Aku tidak akan ke sini merawatmu besok, jika kau tidak mau dirawat oleh perawat lainnya. Aku sudah menitipkanmu pada perawat lainnya di sini, agar melayanimu dengan baik."
"Berapa lama aku akan dirawat di sini ?"
"Jika imun mu bagus, dalam dua minggu ke depan virus itu akan mati, dan kau bisa pulang."
"Tidak bisakah lebih cepat dari itu, kau tahu, aku tidak tahan berada lama di sini."
"Kau mau keluar lebih cepat, tidak sampai satu minggu kau akan keluar dari sini. Jika kau mau..."
"Aku mau, bagaimana caranya ?"
"Sebenarnya aku melakukan penelitian, membuat obat untuk penawar virus ini, karena belum ada vaksinnya sampai hari ini. Jika kau mau, aku akan membawanya besok."
"Jadi aku orang pertama yang akan menguji obat mu, kau menjadikan ku kelinci percobaanmu." kata Elias menggerutu.
"Obat itu merupakan obat herbal, sambung rasa. Aku membuatnya dari ekstrak air kelapa, bawang lanang, serta rempah-rempah lainnya. Jika tidak mau tidak apa, aku tidak memaksa."
"Aku mau mencobanya, aku harap aku bisa mengandalkanmu."
"Pastikan jangan sampai ketahuan oleh perawat ataupun dokter lainnya, jika tidak, aku akan di tandai dan masuk daftar hitam."
Elias tersenyum mendengar Cyara, "aku bisa pastikan itu tidak akan terjadi padamu."
Cyara melihat monitor di ruangan, ada seorang Ibu yang berjalan menuju depan ruangan Elias, "mungkin itu Ibumu, mau menjengukmu."
"Iya benar, itu Mama."
"Kalau begitu, aku pulang dulu, kau bicaralah dengan Mamamu, aku tidak akan mengganggu."
"Cyara... jangan pergi."
"Aku juga akan menyalahi aturan jika terlalu lama berada di sini. Besok kita ketemu lagi." kata Cyara pamit dan meninggalkan ruangan.
Mama Elias mengambil Handi Talkie yang disediakan khusus untuk berbicara dengan pasien yang terinfeksi, karena tidak diperbolehkan bagi keluarga untuk mengadakan kontak langsung dengan penderita untuk memutus rantai penularan.
Elias mengambil Handi Talkie di atas meja, kemudian berbicara dengan Mama nya, menerangkan jika dirinya baik-baik saja, dan karena itu dia kembali optimis dan bersemangat.
kok Elyas sama Cyara blom sampai pelaminan
maksud,y hubungan orang.
cerita,y keren 👍 semakin menegangkan
Penuh arti dan juga makna
Semua karyaMu kan kagumi
Jika memberi kesan sempurna
maaf ya Author cerita,y ku suka dan pengen kejutan. biar berasa nyata.
gemessss😁
👍
_ _ _
pikiran ku terhantut.
hrus,y kn klo cinta bahagia mlihat seseorang yg d cintai,y bahagia.
_ _
ak aj bahagia pdahal ak salah satu mantan Elyas🤫
🤫