Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.
Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?
Baca juga side story dari karya ini:
"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.
"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANGLAH
Devan masih terpaku di tempatnya sesaat setelah mendapat ciuman dadakan dari Nona Bellinda. Hanya ciuman singkat memang, namun sungguh mampu membuat darah Devan berdesir seketika.
"Kau jadi berangkat, Dev?" Tanya Bellinda lembut.
"Eeh, iya. Aku pergi dulu," pamit Devan tergagap. Masih sedikit salah tingkah Devan segera berlalu dengan cepat menuju pintu keluar apartemen. Pria itu menarik nafas pendek-pendek demi menormalkan irama jantungnya yang berdegup kencang.
Clarissa hanya berdecak melihat Bellinda yang seakan sedang pamer kemesraan di depannya.
"Kalian masih terlihat kaku untuk sepasang suami istri yang baru menikah," sindir Clarissa sedikit curiga.
"Devan pria pemalu, jadi dia memang tidak suka mengumbar kemesraan di depan banyak orang," sahut Bellinda mencari alasan.
"Nona arogan dan pria pemalu. Sepertinya kalian pasangan yang serasi," timpal Clarissa seraya tertawa renyah. Atau mungkin gadis ini sedang mengejek Bellinda.
"Jadi, dimana kau menemukan pria pemalu itu?" Tanya Clarissa penasaran.
"Haruskah aku menceritakan semua detail kehidupanku kepadamu?" Jawab Bellinda dengan nada malas.
Ck!
Clarissa berdecak kesal.
"Aku selalu berusaha untuk memperbaiki hubungan kita, Bell! Tidak bisakah kau melupakan semua perseteruan diantara kita dan mulai untuk hidup rukun seperti kata paman Owen?" Sergah Clarissa dengan nada berapi-api.
"Kau sudah menuduhku, dan kau memintaku melupakannya begitu saja? Tidak akan semudah itu, Nona Clarissa!" Sahut Bellinda ketus.
"Aku tidak pernah membunuh Arkan-mu itu apalagi mengirim mata-mata untuk mengawasinya. Tapi kau tetap saja menuduhku," imbuh Bellinda lagi masih ketus.
"Aku tahu! Dan aku sudah berulang kali minta maaf. Tidak bisakah kau memaafkanku dan melupakan semuanya?" Cecar Clarissa yang terdengar frustasi.
"Kita sudah sama-sama dewasa. Tidak bisakah kita berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini?" Imbuh Clarissa lagi sedikit memohon.
Bellinda tak langsung menjawab dan hanya berjalan mendekat ke arah Clarissa yang masih duduk di atas ranjangnya. Bellinda ikut duduk di samping Clarissa.
"Aku sungguh-sungguh ingin kita berbaikan, Bell!" Ucap Clarissa penuh kesungguhan.
Bellinda memutar bola matanya.
"Apa tujuanmu sebenarnya datang ke apartemenku?" Tanya Bellinda to the point.
"Pulanglah ke rumah!" Jawab Clarissa tegas.
"Ini rumahku, aku harus pulang kemana lagi?" Bellinda memalingkan wajahnya.
Ada nada kesedihan dari cara bicara Bellinda barusan.
"Ini bukan rumahmu!"
"Rumahmu di rumah besar itu. Kita keluarga, Bell! Tidak bisakah kau kembali tinggal di rumah besar itu bersamaku?" Clarissa memeluk sang kakak dan sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Aku tidak akan tinggal lagi di sana. Silahkan kau saja yang tinggal disana," sahut Bellinda masa bodoh.
"Bell!" Suara Clarissa tercekat di tenggorokan. Gadis itu menangis terisak.
"Mama dan papa sudah bahagia di surga. Tidak bisakah kau menerima semua kenyataan itu dan berlapang dada?" Sergah Clarissa mulai emosi.
"Aku sudah menerima semuanya. Aku hanya tidak sanggup jika harus tinggal di rumah besar itu, karena semua kenangan kita bersama mama dan papa ada di sana. Aku tidak bisa, Cla!" Raung Bellinda yang ikut-ikutan menangis.
Kakak beradik itu saling memeluk dan menangis sekarang.
"Kau akan membuatku kesepian, kalau kau terus tinggal disini," gumam Clarissa dengan nada sedih.
"Kau juga akan kembali ke Paris tak lama lagi. Jadi untuk apa kau menyuruhku pulang?" Timpal Bellinda yang sudah melepaskan pelukannya pada Clarissa. Wanita itu mengusap airmata di wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak akan kembali ke Paris," sahut Clarissa cepat yang langsung membuat Bellinda tersentak kaget.
"Butikku yang di Paris sudah diambil alih oleh seorang temanku. Jadi aku akan menetap lagi di negara ini mulai hari ini," sambung Clarissa lagi dengan nada bersungguh-sungguh.
Bellinda menggeleng tak percaya,
"Bagaimana dengan mimpimu menjadi seorang desainer kelas dunia?" Tanya Bellinda masih dengan raut wajah tidak percaya.
Clarissa menggeleng lemah.
"Keluarga adalah segalanya, Bell! Dan aku ingin memperbaiki hubungan diantara kita. Jika aku terus-terusan tinggal di Paris, hubungan kita hanya akan semakin memburuk," jawab Clarissa seraya menundukkan kepalanya.
Bellinda terdiam mendengar kata-kata Clarissa.
Paman Owen benar, Clarissa sudah berpikir dan bersikap dewasa dua tahun terakhir, dan selama ini justru Belinda yang selalu bersikap kekanak-kanakan karena terus saja membesar-besarkan masalah dari masa lalu.
"Aku belum bisa pindah ke rumah besar itu dalam waktu dekat, Cla. Maaf," ucap Bellinda akhirnya.
Clarissa mendesah frustrasi.
"Kalau begitu, aku akan tinggal di apartemenmu sampai kau setuju untuk kembali pulang bersamaku," ancam Clarissa menatap tajam pada Bellinda.
"Tidak ada kamar disini. Kau mau tidur dimana memangnya?" Bellinda mencari alasan.
"Kau pikir aku bodoh? Masih ada satu kamar kosong selain kamarmu yang besar ini." Sergah Clarissa tak mau kalah.
"Itu kamar De-" Bellinda tak jadi melanjutkan kalimatnya dan secepat kilat membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
Clarissa sangat dekat dengan paman Owen. Jika Bellinda memberitahu tentang pernikahan kontraknya dengan Devan pada gadis ini, bukan tak mungkin Clarissa juga akan langsung melaporkannya pada paman Owen.
Tidak!
Bellinda belum siap menerima ceramah dari sang paman.
Toh, kontrak Devan sebagai suami bayaran Bellinda hanya tinggal beberapa bulan lagi.
Dan Clarissa pasti juga akan kembali mengejek Bellinda sebagai perawan tua karena hingga kini Bellinda tak kunjung menemukan pasangan hidup, sampai Bellinda harus menyewa seorang suami bayaran demi sebuah proyek.
Rahasia ini harus tetap terjaga.
Biarkan hanya Bellinda, Devan, dan Theo yang mengetahuinya. Clarissa tak boleh tahu.
"Jadi, aku akan tinggal disini mulai detik ini dan malam ini," putus Clarissa dengan nada tegas.
"Apa?!"
.
.
.
Hahahahaha
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 👠.