Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Canggung Bersama Pria Paling Berpengaruh
Guncangan budaya akibat konfrontasi dengan kloset otomatis buatan Jepang baru saja mereda dari sistem saraf Alessa, namun takdir di bawah atap aliansi Alberto tampaknya menolak untuk memberikan jeda bagi kewarasan batinnya. Setelah dibantu oleh Titi untuk berganti pakaian ke dalam setelan piyama katun organik oversized berwarna abu-abu arang—pilihan "jalan ninja" yang untungnya disetujui tanpa banyak perdebatan—Alessa tidak dikembalikan ke atas kasur kanopi peraknya. Sebaliknya, kursi roda kulit Italianya kini didorong membelah area ruang duduk privat, menuju sebuah meja makan bundar dari kayu ebony hitam yang terletak tepat di sisi jendela kaca antipeluru Paviliun Timur.
Di sana, di bawah pendaran cahaya matahari pagi yang kian terang menembus pucuk-pucuk pohon pinus, Giovanni Alberto sudah duduk dengan tegak laksana monumen kekuasaan yang tak tergoyahkan. Pria itu telah menyinggalkan jas abu-abu arangnya, kini hanya mengenakan kemeja putih bersih berpotensi fasyun tinggi dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan guratan urat lengan dan jam tangan kronograf platinum yang harganya sanggup membiayai seluruh kelurahan di pinggiran Surabaya selama lima tahun linear.
Aroma parfum mahal oud yang pekat bercampur dengan kehangatan ambergris kembali mendominasi udara, berpadu secara frontal dengan aroma distingtif dari hidangan sarapan yang sudah tertata rapi di atas meja. Bagi Alessa, momen ini adalah definisi mutlak dari sebuah kecanggungan sosial kasta tertinggi. Sarapan berdua bersama pria paling berpengaruh di dunia malam ibu kota, dengan kondisi tubuh penuh lebam dan punggung yang masih kaku akibat rajutan jahitan mikro, bener-bener terasa seperti berada di dalam ruang sidang pengadilan perdata internasional.
Di atas meja ebony tersebut, piring-piring porselen tipis bermotif sulur emas murni menyajikan menu sarapan yang bener-bener asing bagi garis keturunan kelas pekerja Alessa. Tidak ada nasi uduk bungkus daun pisang yang karetnya dua, tidak ada gorengan tempe yang minyaknya bisa dipakai buat pelumas mesin jahit. Di depan Giovanni, terdapat semangkuk kecil yogurt Yunani organik dengan taburan serpihan emas murni (edible gold) dan buah beri liar artik. Sementara di depan kursi roda Alessa, sebuah piring perak menyajikan Eggs Benedict dengan siraman saus hollandaise sewarna mentega cair, kaviar beluga hitam di bagian atasnya, serta segelas jus delima segar yang warnanya merah pekat menyerupai darah.
Kesedihan yang teramat mendalam dan rasa keterasingan yang masif kembali merayap, mengetuk dinding kesadaran Alessa dengan perlahan namun tajam. Dia menatap sendok perak di tangannya, memandangi pantulan wajahnya sendiri yang masih dihiasi lebam keunguan di bawah pelipis.
“Ibu... lihat Alessa sekarang. Duduk di depan orang kaya yang kalau bicara bisa menentukan hidup matinya preman pelabuhan,” ratap batinnya, rasa sesak yang masif membuat dadanya kembali terasa sempit. “Tapi Alessa berasa kayak hantu kelaparan yang salah masuk ke perjamuan para dewa. Kemewahan ini bener-bener dingin. Semuanya diatur pakai kalkulasi bisnis, sampai-sampai rasa telur di piring ini pun kayaknya punya nomor seri legalitasnya sendiri.”
Amarah yang pekat terhadap ketidakadilan dunia ikut bergolak di sela-sela rasa rendah dirinya. Dia marah karena harus terjebak di antara dua pilihan ekstrem: disiksa sampai mati oleh Rian di Surabaya, atau dijadikan pajangan fungsional yang dikurung di dalam sangkar emas milik monster berjas mahal ini. Namun, sekring pelindung anomali di dalam otaknya menolak untuk membiarkan Alessa tenggelam dalam melodrama air mata di depan Giovanni. Sarkasme radikal adalah satu-satunya senjata orisinal yang tersisa untuk mempertahankan sisa harga dirinya yang belum sepenuhnya runtuh.
Alessa meletakkan sendok peraknya ke atas meja dengan bunyi dentang yang halus, memecah kesunyian mutlak yang sejak tadi mengurung mereka. Dia mendongak, menantang sepasang manik mata hitam kelam Giovanni dengan seulas senyuman ironis yang dipaksakan di sudut bibirnya yang pecah.
"Mas Bos Giovanni..." kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi yang menyengat, memotong aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegap pria di depannya. "Konsep menu sarapan lu bener-bener bikin jiwa miskin gue mengalami guncangan kultural jilid dua ya. Itu yogurt lu kenapa dikasih serpihan logam mulia begitu sih? Apa di duniaku yang serba mewah ini, para miliarder kaku punya hobi menimbun investasi emas batangan langsung di dalam lambung mereka? Biar kalau buang air nanti hasilnya bisa langsung digadaikan ke pegadaian swasta?"
Giovanni tidak menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang pisau kecil. Wajahnya tetap tenang, berwibawa, dan tanpa riak emosi kasar manusia biasa. Sifat kaku dan dinginnya justru membuat sarkasme Alessa terdengar seperti sebuah orkestra komedi gelap yang menyegarkan di tengah rutinitas bisnisnya yang sarat akan silsilah pengkhianatan dan kalkulasi angka triliunan.
"Serpihan emas itu adalah fungsionalitas estetika, Alessa," desis Giovanni dingin, suaranya yang berat dan rendah terdengar begitu dominan di dalam ruangan yang luas. "Di duniaku, apa yang masuk ke dalam tubuh harus merepresentasikan kasta dari orang yang mengonsumsinya. Dan untuk Eggs Benedict di depanmu... kaviar beluga itu seharga tiga puluh juta rupiah per kaleng kecil. Aku memerintahkan koki utama untuk menyajikannya agar sel darah merahmu yang hilang akibat pelarian tanpa alas kaki semalam bisa digantikan oleh nutrisi kelas tertinggi."
"Tiga puluh juta?" Alessa mendengus parau, matanya menatap butiran hitam kecil di atas telurnya dengan tatapan yang sarat akan kepasrahan ironis. "Waduh, Mas Bos... ini telur dadar fasyun ekstrem namanya. Berarti satu suapan dari sendok ini nilainya setara dengan gaji gue memotong roti di toko Ko Alung selama satu tahun penuh, Mas. Kalau lambung kelas buruh gue mendadak kaget dan menolak memproses makanan seharga motor matic ini, apa gue bakal dituntut pasal penistaan investasi kuliner internasional di dalam kontrak berlapis emas kita?"
Giovanni meletakkan sendoknya, menegakkan punggungnya yang tegap laksana pahatan patung marmer kuno, lalu menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Alessa yang mulai memancarkan kilatan kebebasan yang liar.
"Kontrak kita tidak mengatur tentang penolakan lambung, Alessa," kata Giovanni dengan nada suara yang sangat rendah namun mengandung getaran wewenang mutlak yang absolut. "Namun, kontrak itu mengatur bahwa kamu harus tetap hidup dan berada dalam kondisi fisik terbaik untuk menjadi pusat perhatian di sampingku. Makanlah. Jangan biarkan lidah sarkasmu kekurangan bahan bakar hanya karena kamu terlalu sibuk menghitung nominal rupiah dari setiap butir kaviar tersebut."
Kebingungan psikologis yang luar biasa masif kembali menyerang Alessa saat dia mulai memberanikan diri menyuap potongan telur mewah itu ke dalam mulutnya. Rasa gurih yang sangat lembut, berpadu dengan letupan asin yang elegan dari kaviar beluga, seketika memanjakan indra pencecapnya—sebuah rasa yang bener-bener berada di luar jangkauan imajinasi domestik seorang gadis semprul dari Surabaya. Di tengah kecanggungan sarapan yang mencekam ini, sebuah pengakuan kaku muncul di dalam batin Alessa bahwa monster berjas mahal di depannya ini setidaknya memiliki selera manajemen gizi yang bener-bener kriminil dalam hal kemewahan.
"Gimana?" tanya Giovanni datar, sepasang matanya meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah Alessa dengan ketelitian seorang investor yang sedang memantau pergerakan grafik saham.
Alessa menelan makanannya dengan perlahan, menahan rasa linu di rusuk kirinya, lalu kembali memasang tameng ironisnya. "Rasanya... bener-bener kayak rasa kebebasan yang dibeli pakai utang, Mas Bos. Enak sih, tapi setelah ini gue rasa gue musti jalan keliling lapangan sepak bola di kamar baru gue selama tiga jam buat membakar kalori mewah ini. Biar silsilah kemiskinan di dalam tubuh gue gak mendadak melakukan demonstrasi massal menuntut kenaikan kasta sosial secara sepihak."
Giovanni meraih gelas kristal berisi air mineral premiumnya, meminumnya sedikit sebelum kembali menatap Alessa dengan silsilah tatapan yang hampa dari belas kasihan namun dipenuhi janji proteksi mutlak.
"Kamu tidak perlu berjalan keliling ruangan untuk membakar apa pun, Alessa," sahut Giovanni, suaranya yang berat memotong keheningan pagi. "Siang ini, setelah tim desainer selesai mengukur tubuhmu, Dion akan membawa berkas laporan resmi mengenai penghancuran total rumah petak kontramu di Surabaya. Proses pembersihan memori lamamu telah selesai sembilan puluh persen. Tidak ada lagi Rian, tidak ada lagi toko roti kumuh, dan tidak ada lagi fasyun tanpa alas kaki yang membuat telapak kakimu hancur."
Mendengar kata "penghancuran total", Alessa tertegun sejenak. Sendok peraknya tertahan di udara. Ada rasa kehilangan yang aneh yang sempat melintas di wajah lebamnya, namun ingatan akan sabetan ikat pinggang Rian dan rasa dingin aspal terminal semalam seketika menghapus sisa-sensi melankolis tersebut. Kata Basta yang diucapkan Giovanni kemarin bener-bener menjadi sebuah garis pembatas baja yang memisahkan dirinya dari neraka masa lalu.
"Mas Bos Giovanni..." bisik Alessa lirih, nadanya kembali datar penuh ironi yang kaku. "Lu bener-bener tipe pria penguasa yang gak suka menyisakan barang bukti ya. Semuanya dihancurkan sampai rata dengan tanah. Tapi makasih buat telur tiga puluh juta ini, Mas Bos. Setidaknya, sarapan canggung bersama kanebo kering termahal di ibu kota ini sukses bikin gue tahu kalau dunia luar itu luasnya bener-bener gak masuk akal buat ukuran seorang buronan tanpa alas kaki kayak gue."
Giovanni tidak membalas kalimat terakhir Alessa. Dia hanya mengangguk sangat tipis, lalu kembali melanjutkan sarapan yogurt emasnya dengan keanggunan kaku yang absolut. Di bawah pendaran cahaya senja fajar yang kian benderang di Paviliun Timur, aliansi tak tertulis di antara sang miliarder penguasa dunia malam dan gadis sarkas berwajah lebam itu kian terkunci rapat—sebuah hubungan domestik baru yang dibangun di atas fondasi kertas berlapis emas dan sepiring sarapan kasta tertinggi yang terlalu mewah untuk menjadi kenyataan.