NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Suasana pesta masih hangat. Lampu-lampu menggantung indah di langit-langit, membentuk kilau lembut yang memantul di lantai marmer. Bayangan para tamu bergerak perlahan, seolah mengikuti irama musik yang mengalun tenang di sudut ruangan. Gelas-gelas beradu pelan. Tawa terdengar di berbagai arah. Semuanya tampak hidup.

Terlalu hidup. Untuk seseorang yang sedang berusaha menahan sesuatu di dalam dirinya.

Di tengah semua itu Fania berdiri bersama Chaerlina dan Livia. Posisinya tetap dan ekspresinya terjaga.

Ia sesekali tersenyum, mengangguk, bahkan ikut tertawa kecil saat Livia melempar candaan ringan.

Dari luar ia tampak baik-baik saja. Namun di dalam pikirannya masih belum benar-benar pergi dari satu arah. Satu titik yang terus menariknya kembali. Meski ia berusaha melawan. Meski ia mencoba fokus pada hal lain.

Namun kali ini suara lain memecah alur itu.

“Vi.” Suara pria itu terdengar santai, akrab. Dan cukup dekat untuk langsung menggeser perhatian.

Livia langsung menoleh refleks. Matanya sedikit melebar seolah tidak menyangka lalu dalam hitungan detik berubah. Lebih hangat dan lebih hidup.

“Mark?” Nada suaranya naik tipis tidak dibuat-buat. Tidak disaring, spontan. Dan cukup jelas untuk menunjukkan sesuatu.

Pria itu tersenyum. Langkahnya santai saat mendekat. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak ragu. Seolah ia memang datang ke arah itu sejak awal. Namun sebelum Livia sempat mengatakan apa pun Fania sudah lebih dulu mengenalinya.

Mark, asisten pribadi Ronald. Seseorang yang selalu hadir di balik layar kehidupan Ronald. Yang mengatur jadwal, yang memastikan semua berjalan sesuai rencana. Yang hampir tidak pernah benar-benar terlihat namun selalu ada.

Fania sering melihatnya, di rumah. Di kantor, dalam percakapan-percakapan singkat yang formal. Selalu rapi dan selalu terjaga. Selalu profesional dan sekarang ia berdiri di sini.

Di tengah pesta dengan ekspresi yang berbeda. Dengan cara yang lebih santai, dengan Livia. Fania mengernyit sedikit bukan karena tidak suka. Namun karena tidak menyangka.

“Aku pikir kau belum datang,” kata Mark. Matanya tidak lepas dari Livia.

Livia tersenyum kecil. “Aku juga berpikir kau belum datang.” Nada suaranya lebih pelan sekarang namun justru lebih dalam.

Percakapan sederhana dengan kalimat ringan. Namun cara mereka saling melihat tidak sederhana. Tidak netral dan tidak datar.

Fania memperhatikan lebih lama, lebih jeli. Dan langsung menangkap sesuatu yang tidak diucapkan. Ini bukan sekadar kenal. Bukan sekadar teman biasa. Chaerlina juga melihat, dan tanpa sadar senyum kecil muncul di wajahnya. Senyum yang tahu.

“Kenalkan,” ujar Livia akhirnya. Sedikit salah tingkah. Namun berusaha terdengar santai. “Ini Mark.”

Ia berhenti sepersekian detik. Seolah memilih kata yang tepat “…temen.” Satu kata itu menggantung. Dan semua orang di sana tahu itu tidak cukup.

Mark tertawa kecil. “Hanya teman?” Nada suaranya ringan. Namun ada dorongan kecil di baliknya. Seperti menguji, seperti sengaja menggoda.

Livia langsung mendelik. “Kau sudah mengenal mereka?” Cepat, mengalihkan. Namun reaksinya justru memperjelas.

Fania akhirnya bicara. “Sudah.” Singkat dengan tenang.

Mark menoleh ke arahnya, sedikit terkejut. Seolah baru benar-benar sadar siapa yang berdiri di depannya.

“Bu Bos?” Refleks. Nada formal itu langsung muncul, kebiasaan.

Fania mengangguk kecil. “Mark." Nada suaranya tetap tenang. Namun ada perubahan kecil lebih santai dan lebih manusiawi. “Tak perlu formal di sini,” tambahnya pelan.

Mark tersenyum, mengangguk. “Iya.” Namun meski begitu sikapnya tidak benar-benar berubah. Cara berdirinya masih rapi, nada bicaranya masih terukur. Beberapa kebiasaan tidak bisa dilepas begitu saja.

Livia melirik bergantian. Dari Fania ke Mark, lalu kembali lagi. “Wait, kalian saling mengenal?” Nada suaranya naik, terkejut.

Fania mengangguk. “Dia asisten Ronald.” Langsung tanpa jeda dan tanpa hiasan.

Livia membeku sepersekian detik. Lalu matanya kembali ke Mark. “Serius? Kau tak pernah mengatakannya.”

Mark mengangkat bahu kecil. “Belum menemukan waktu yang tepat.” Santai. Jawaban itu terdengar ringan. Namun justru membuat suasana berubah tipis.

Ada jeda kecil yang tidak terlihat namun terasa. Livia menatapnya, setengah kesal dan setengah bingung.

Chaerlina tertawa kecil. “Wah, ini makin menarik.” Ia melirik Fania lalu ke Livia. “Dunia kecil ya.”

Fania tersenyum tipis, dan kali ini senyumnya lebih nyata. Lebih ringan untuk beberapa saat, fokusnya benar-benar berpindah. Percakapan mereka berlanjut, lebih cair dan lebih hidup.

Livia mulai lebih terbuka, Mark juga. Mereka saling menyela. Saling mengoreksi, saling menertawakan hal kecil yang hanya mereka pahami. Dan semuanya terlalu natural untuk disebut baru.

Fania melihat itu dan tanpa sadar ada sesuatu yang muncul. Bukan sakit, bukan cemburu. Namun sesuatu yang lebih tenang.

Lebih netral.

“Itu bagus,” ujar Fania pelan menatap Livia. “Dia orang yang konsisten.” Komentarnya sederhana namun tidak kosong.

Livia menatapnya sedikit terkejut. “Kau tau dari mana?”

Fania mengangkat bahu kecil. “Kerja bareng Ronald.” Singkat, namun cukup menjelaskan. “Dia tak mudah berubah sikap.” Kalimat itu keluar begitu saja tanpa disaring dan tanpa dipikir panjang.

Dan begitu keluar Fania langsung merasakannya. Karena kalimat itu tidak berhenti di Mark. Ia melebar ke arah lain. Ke seseorang yang sama-sama konsisten. Dan itu langsung menarik pikirannya kembali.

Tanpa izin dan tanpa jeda.

Seperti refleks, matanya bergerak lagi. Mencari dan menemukan. Ronald dan Valencia masih di sana. Namun kali ini lebih dekat dan lebih jelas. Tidak tertutup kerumunan.

Valencia tertawa kecil, Ronald sedikit menunduk mendengar dengan perhatian penuh. Lalu tanpa sadar tangan Ronald terangkat. Merapikan helaian rambut Valencia yang jatuh ke wajahnya.

Gerakan kecil, sangat kecil. Hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan. Namun terlalu familiar. Terlalu personal. Fania membeku. Segalanya terasa berhenti sepersekian detik. Dadanya langsung terasa sesak. Lebih kuat dari sebelumnya.

Karena gerakan itu bukan hal baru. Itu kebiasaan Ronald. Dulu, untuknya. Saat ia kesal, saat ia diam. Saat ia pura-pura tidak peduli. Ronald selalu melakukan hal kecil itu tanpa banyak bicara.

Dan sekarang ia melihatnya dilakukan untuk orang lain. Fania menelan pelan. Tangannya perlahan menegang. Jari-jarinya saling menggenggam lebih erat. Namun wajahnya tetap tenang dan tetap diam. Seolah tidak terjadi apa-apa.

“Fan?” Suara Livia menariknya kembali.

Fania menoleh cepat. “Iya?”

“Kau lagi-lagi melamun?”

Fania tersenyum kecil. “Tidak, aku mendengarkan kalian bicara.” Bohong, jelas.

Livia menatapnya beberapa detik, lalu mengikuti arah pandangnya. Dan dalam satu detik ia mengerti. Chaerlina juga ikut melirik, dan ekspresinya berubah. Lebih serius dan lebih hati-hati.

Fania langsung mengalihkan pandangan dengan cepat. Seolah baru saja tertangkap melakukan sesuatu.

“Aku fine,” ucapnya dengan cepat. Tanpa ditanya namun tidak ada yang bertanya. Karena jawabannya sudah terlihat.

Fania menarik napas namun terasa tidak cukup. Pikirannya mulai berlari lebih cepat dan lebih tidak terkontrol. Potongan-potongan kecil mulai tersusun, perhatian-perhatian kecil. Hal-hal yang dulu ia anggap biasa, yang dulu ia abaikan.

Sekarang terlihat jelas. Terang, tidak bisa diabaikan lagi. Dan semuanya berpindah. Pelan namun pasti. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan yang tiba-tiba. Karena ini terjadi di depan mata. Sedikit demi sedikit dan tidak bisa dihentikan.

Fania menggenggam tangannya lebih erat. Kali ini bukan hanya untuk menahan. Namun seperti mencoba menjaga sesuatu agar tidak benar-benar hilang. Namun yang muncul bukan hanya cemburu. Bukan hanya rindu namun juga takut.

Takut kalau semua yang selama ini ia tolak yang selama ini ia abaikan yang selama ini ia pikir tidak penting ternyata adalah hal yang sama yang sekarang sedang perlahan menjauh. Dan kali ini bukan karena ia melepaskan.

Namun karena ada orang lain yang mulai mengambil tempat itu tanpa ia sadari sampai semuanya sudah terlalu jelas untuk disangkal.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!