NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi Aurelia

Malam turun perlahan.

Lampu kota berkelip di balik jendela tinggi penthouse.

Di dalam— suasana hangat masih tersisa.

Piring-piring sudah hampir kosong.

Mireya duduk di kursi, sedikit bersandar.

Perutnya kenyang.

Tubuhnya… mulai terasa berat.

Langkah kaki terdengar dari luar.

Pintu terbuka.

masuk tanpa suara berlebihan.

Jasnya masih rapi.

Ekspresinya… seperti biasa.

Datar.

Namun— matanya langsung mencari satu orang.

Dan menemukannya.

Mireya yang duduk dengan santai, sedikit lelah.

“…kamu sudah pulang.”

Bukan pertanyaan.

Mireya menoleh.

Sedikit kaget.

“Eh… iya.”

Zevran mendekat perlahan.

Tatapannya turun ke meja.

Piring kosong.

Lalu— ke arah Mireya.

“Sudah makan?”

Mireya mengangguk.

“Iya. Banyak banget malah.”

Dari dapur— bibi langsung menyahut.

“Baru mau kurus itu anak, langsung aku gemukin lagi!”

Zevran berhenti sejenak.

“…bagus.”

Satu kata.

Namun— nada suaranya sedikit lebih ringan.

Mireya memperhatikannya.

Dia… beneran peduli ya?

Zevran melepas jasnya.

Menaruhnya dengan rapi.

“Bagaimana hari pertama?”

Mireya terdiam sejenak.

“…rame.”

Jawaban jujur.

“Banyak yang harus dipelajari.”

Zevran duduk di seberangnya.

“Takut?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba.

Mireya berkedip.

“…sedikit.”

Ia tidak berbohong.

Zevran menatapnya beberapa detik.

“Bagus.”

Mireya mengernyit.

“Kenapa semua orang bilang itu bagus sih…”

Zevran menyandarkan punggung.

“Karena itu berarti kamu sadar posisi kamu.”

Nada suaranya tenang.

“Orang yang terlalu percaya diri biasanya… jatuh lebih keras.”

Mireya terdiam.

Kata-kata itu—

terdengar dingin.

Tapi— tidak salah.

“…aku nggak mau jatuh.”

Zevran menatapnya lagi.

Lebih lama kali ini.

“Kalau begitu—”

“jangan beri mereka kesempatan.”

Hening.

Suasana tiba-tiba terasa lebih dekat.

Mireya menelan ludah.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“…kamu ngomong kayak sutradara kedua.”

Zevran sedikit mengangkat alis.

“Aku investor.”

Jawaban singkat.

“…jadi aku berhak.”

Mireya tertawa kecil.

“Ah, iya juga…”

Hening kembali.

Namun kali ini—

tidak canggung.

Zevran bangkit.

“Besok kamu mulai syuting?”

“Iya.”

“Jam?”

“Pagi.”

Zevran mengangguk.

“Aku akan antar.”

Mireya langsung menggeleng cepat.

“Eh, nggak usah! Aku bisa sama Pixy—”

“Aku tidak bertanya.”

Jawaban itu cepat.

Datar.

Tidak memberi ruang bantahan.

Mireya terdiam.

“…oke.”

Zevran berjalan menuju kamarnya.

Namun— berhenti sejenak.

Tanpa menoleh— ia berkata pelan.

“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Langkahnya lanjut.

Pintu tertutup.

Mireya duduk diam.

Beberapa detik.

Lalu— ia menyentuh dadanya pelan.

Detaknya masih cepat.

“…apa sih…”

gumamnya.

Namun— senyum kecil muncul di wajahnya.

Malam itu— tenang.

Namun— sesuatu perlahan berubah.

Bukan hanya kariernya.

Tapi juga— hubungannya dengan pria itu.

...****************...

Malam itu— setelah Zevran Ardevar masuk ke kamarnya— Mireya masih duduk diam.

“…investor?”

Alisnya sedikit berkerut.

Sejak kapan dia jadi investor… Di drama nya

Pikirannya langsung berputar.

Pantas saja…

makanan kru tadi enak banget…

Ia mengingat kotak minuman siang tadi.

Dan makan siang yang sempat ia coba.

Meskipun dia makan sedikit karena porsi makan nya kecil.

Jangan-jangan…

Mireya langsung menggeleng cepat.

“…nggak mungkin.”

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Dia cuma… mungkin suka novelnya…”

“Terus iseng investasi…”

Semakin dipikir— semakin aneh.

Jantungnya berdetak lagi.

“…kenapa aku jadi kepikiran gini sih…”

Ia langsung berdiri.

Berjalan cepat ke kamar.

Malam itu— tidurnya tidak terlalu nyenyak.

Pagi datang terlalu cepat.

...----------------...

Mireya keluar dari kamar dengan wajah sedikit lelah.

Tapi— rapi.

Saat ia sampai di ruang depan—

dia langsung berhenti.

Zevran Ardevar sudah siap.

Seperti biasa— rapi.

Dingin.

Tenang.

Seolah semalam tidak terjadi apa-apa.

“…pagi.”

“Pagi.”

Singkat.

Pixy muncul dari belakang Mireya dengan semangat.

“Pagi, Kak Zevran!”

Zevran hanya mengangguk tipis.

“Berangkat sekarang.”

Tidak ada basa-basi.

Mereka bertiga masuk ke mobil.

Di dalam mobil— suasana… aneh.

Pixy duduk di samping Mireya.

Tapi— tidak bisa diam.

Matanya bolak-balik.

Dari Mireya…

ke Zevran…

balik lagi…

Mireya langsung sadar.

“…kenapa?”

Pixy menggeleng cepat.

“Nggak kok!”

Dua detik.

“…ih.”

Mireya menyipitkan mata.

“Kamu kenapa sih…”

Pixy mendekat sedikit.

Berbisik.

“Sweet banget sih…”

Mireya langsung menegang.

“Apaan?!”

Pixy menahan tawa.

“Diantar langsung gitu…”

“Bareng lagi…”

“Kiww kiww…”

Mireya langsung menutup mulut Pixy.

“DIEM!”

Zevran di depan tidak menoleh.

Namun— ujung alisnya sedikit bergerak.

Seolah mendengar.

Mireya berbisik cepat.

“Kamu kan tahu posisi aku gimana.”

Nada suaranya berubah serius.

Pixy langsung mengangguk.

“Iya… iya aku tahu…”

Wajahnya ikut jadi serius.

“Dan Kak Rhea juga udah dijelasin kok…”

Mireya menatapnya.

Pixy menurunkan suara.

“Aku juga sudah tanda tangan.”

“Non-disclosure.”

“Rahasia perusahaan.”

Ia tersenyum kecil.

“Tenang aja… aku nggak bakal ngomong ke siapa-siapa.”

Mireya sedikit lega.

“…bagus.”

Pixy lalu menambahkan pelan—

“Tapi tetep aja…”

Mireya: “…?”

“Sweet.”

Mireya hampir tersedak napasnya sendiri.

“YA AMPUN…”

Zevran tetap diam di depan.

Tenang.

Seolah tidak terpengaruh.

Namun—

kalau diperhatikan—

sudut bibirnya…

hampir.

naik sedikit.

Mobil berhenti di lokasi syuting.

Pintu terbuka.

Zevran keluar lebih dulu.

Aura dinginnya langsung terasa.

Beberapa orang yang kebetulan lewat—

langsung melirik.

“…itu siapa?”

“Bukan kru…”

“Orang penting ya?”

"Investor?"

Mireya turun.

Diikuti Pixy.

Zevran hanya berkata singkat—

“Kerja yang baik.”

Tatapannya singkat.

Tapi dalam.

Lalu— ia pergi.

Langkahnya cepat.

Tegas.

Kembali ke mobil terbang nya.

Mireya berdiri diam sejenak.

Pixy langsung nyenggol pelan.

“…ih.”

“Udah, DIEM.”

Mireya berjalan masuk.

Namun— hari itu terasa berbeda.

Bukan hanya karena ini hari syutingnya.

Tapi karena—

ia tahu—

ada seseorang…

yang diam-diam memperhatikannya.

...****************...

Langit pagi cerah.

Namun area set—

sudah penuh aktivitas.

Bukan lagi aula.

Bukan lagi istana.

Kini— jalan tanah panjang.

Pinggiran kota kekaisaran.

Gerbang kayu.

Gerobak tua.

Debu yang sengaja ditebar.

Semua terlihat… nyata.

Ini bukan lokasi biasa…

Mireya berdiri di samping Pixy.

Matanya menyapu sekitar.

Satu area… tapi bisa jadi banyak tempat

Memang.

Area itu luas.

Seperti kota kecil.

Disewakan khusus untuk produksi film atau drama.

Bangunan setengah permanen.

Bisa diubah sesuai kebutuhan.

“Set luar siap!”

Suara kru menggema.

“Pemeran utama, standby!”

Di kejauhan—

Eirian Vale sudah dalam kostum.

Masih lusuh.

Masih “Kaizar yang belum jadi apa-apa”.

Namun—

hari ini lebih hidup.

Di sampingnya—

seorang gadis berdiri.

Pakaian sederhana.

Namun ekspresinya hangat.

Teman masa kecil.

Calon istri kedua.

Di sisi lain—

sekelompok pria kasar berkumpul.

Bandit.

Dan di tengah mereka—

seorang gadis lain terikat.

Calon istri ketiga.

“Semua posisi!”

Mireya dipanggil.

“Selir Aurelia siap!”

Ia berjalan maju.

Hari ini— gilirannya.

Di samping jalan— sebuah tandu berhenti.

Kain renda tipis menutupi bagian dalam.

Tidak sepenuhnya terlihat.

Namun— cukup untuk memberi kesan.

Misterius.

Pixy berbisik pelan—

“Kak… ini keren banget…”

Mireya tidak menjawab.

Matanya berubah.

Lebih tenang.

Lebih jauh.

Aurelia…

Ia naik ke dalam tandu.

Duduk.

Dan—

diam.

Benar-benar diam.

“Camera rolling!”

“Action!”

Suara gaduh langsung pecah.

Bandit tertawa kasar.

“Serahkan saja gadis itu—”

Kaizar melangkah maju.

“Aku tidak suka cara kalian.”

Nada suaranya rendah.

Bandit tertawa.

“Lihat dia!”

“Pakaian lusuh, berani sok pahlawan!”

Pertarungan kecil pecah.

Gerakan cepat.

Namun— tidak sempurna.

Kaizar masih lemah.

Ia hampir jatuh.

Teman masa kecilnya panik.

“Kaizar!”

Di saat itu—

tandu perlahan berhenti.

Salah satu bandit melirik.

“…apa itu?”

Kain renda bergerak sedikit.

Hening.

Dari dalam—

suara lembut keluar.

“…berisik.”

Semua langsung menoleh.

Kaizar juga.

Bandit mendekat.

“Siapa kau—”

Belum selesai.

“Kalau tidak ingin mati…”

Nada suaranya pelan.

“…pergi.”

Hening.

Beberapa kru di luar kamera ikut merinding.

Bandit tertawa lagi.

“Perempuan di dalam tandu berani mengancam—”

Tiba-tiba— angin bertiup.

Kain renda tersibak sedikit.

Mata Mireya terlihat.

Dingin.

Kosong.

Namun— menekan.

Bandit itu membeku sesaat.

“…gila.”

Ia mundur setengah langkah.

Kaizar menyipitkan mata.

Siapa dia…?

Di dalam tandu—

Mireya tidak bergerak.

Namun— auranya berubah.

Bukan lagi gadis biasa.

Tapi seseorang…

yang melihat lebih jauh dari orang lain.

“Cut!”

Suara sutradara pecah.

Beberapa detik— tidak ada yang langsung bergerak.

Lalu—

“Bagus!”

“Ini dapet!”

Beberapa kru langsung heboh.

“Ekspresinya dapet banget!”

“Padahal cuma mata doang yang kelihatan!”

Di luar—

Pixy hampir lompat.

“KA KEREN BANGET!”

Sementara itu—

Eirian Vale berdiri diam.

Masih melihat ke arah tandu.

…ini bukan kebetulan.

Aktingnya bagus

...----------------...

Di sisi lain—

Luna menggigit bibirnya pelan.

Tatapannya tajam.

“…cuma gaya doang.”

Namun—

tidak ada yang benar-benar memperhatikannya.

Karena hari itu—

untuk pertama kalinya—

Mireya tidak lagi hanya “diam di pinggir”.

Ia— sudah masuk ke dalam cerita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!