NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#28

Malam ulang tahun ketujuh belas Liam Cavanaugh ditutup dengan sisa-sisa kemewahan yang tenang. Pesta kecil yang hanya dihadiri keluarga besar dan beberapa sahabat terdekat di taman belakang Mansion Cavanaugh telah usai.

Balon-balon perak masih bergoyang tertiup angin malam, dan aroma kue cokelat mahal masih tertinggal di udara. Namun bagi dua remaja yang kini berada di dalam kamar utama sayap kanan, pesta yang sesungguhnya baru saja dimulai—pesta kejujuran yang menghancurkan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Angelina menginap. Bagi Everest, Catherina, Adrian, maupun Julie, kedekatan mereka berdua adalah sebuah kewajaran yang indah. Mereka melihat Liam dan Angelina sebagai dua jiwa yang senadi, kakak dan adik yang tidak sedarah namun terikat oleh sejarah.

Tidak ada satu pun dari para orang tua itu yang menebak bahwa di balik tatapan mata Angelina, ada badai yang lebih besar dari sekadar cemburu seorang sahabat. Mereka hanya mengira Angelina merasa posisinya sebagai "prioritas nomor satu" sedang digeser oleh kehadiran orang baru.

Hujan rintik mulai membasahi kaca jendela kamar. Suasana di dalam kamar begitu hangat. Liam dan Angelina berbaring di atas ranjang king size yang empuk, berselimutkan kain cashmere yang lembut.

Liam menarik tubuh Angelina mendekat, melingkarkan lengannya yang kini terasa jauh lebih kekar dan lebar di pinggang gadis itu dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Angelina, posisi favorit mereka sejak kecil. Bagi Liam, ini adalah zona nyaman, tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa beban nama besar Cavanaugh. Namun bagi Angelina, setiap inci kulit Liam yang bersentuhan dengannya terasa seperti api yang membakar pelan.

"Angel..." bisik Liam, suaranya kini sudah pecah menjadi bariton yang dalam dan seksi, sangat mirip dengan suara Everest.

"Hm?" Angelina menjawab pendek. Ia mencoba mengatur napasnya yang tidak keruan. Ia memainkan jemari Liam yang melingkar di perutnya, mencoba mengalihkan debaran jantungnya yang terasa sangat keras.

"Aku sudah melakukannya sore tadi," gumam Liam. Suaranya mengandung nada kemenangan sekaligus kebingungan yang khas bagi remaja pria.

Jantung Angelina seakan berhenti berdetak di detik itu juga. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, namun ia adalah aktris terbaik di dunia ini. Ia telah melatih diri selama Berminggu-minggu untuk tidak meledak di depan Liam.

"Melakukan apa?" tanya Angelina dengan nada yang ia buat seringan mungkin, seolah-olah ia sedang menanyakan skor pertandingan basket.

"Aku sudah berciuman dengannya, Angel... Dengan Clarissa," bisik Liam tepat di telinga Angelina.

Dunia seolah runtuh menimpa Angelina. Rasa sakitnya begitu fisik, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-parunya. Namun, tangannya masih bergerak tenang, mengelus punggung tangan Liam dengan lembut—sebuah gerakan menenangkan yang biasa ia berikan sebagai "adik".

"Oh ya? Di mana?" Angelina tersenyum getir, meski Liam tidak bisa melihat wajahnya. "Dan siapa yang mulai?"

Liam terkekeh pelan, getaran di dadanya terasa sampai ke punggung Angelina. "Aku yang mulai. Di taman belakang sekolah, tepat saat matahari terbenam. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, tapi saat dia menatapku... aku hanya ingin melakukannya."

Liam mengeratkan pelukannya, seolah sedang menghidupkan kembali memori manis itu. "Kami sudah berciuman, Angel. Benar-benar berciuman. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa memilikinya secara utuh. Bukan hanya sekadar teman belajar."

Angelina menelan ludah yang terasa pahit. "Lalu? Bagaimana rasanya?"

"Aku sempat tertegun tadi," Liam bercerita dengan nada melamun. "Rasa lipgloss stroberi... manis dan sedikit lengket. Aku rasa aku akan mengingat rasa itu dengan sangat baik di kepalaku. Bau parfum vanilanya juga terasa sangat kuat saat itu."

Angelina tertawa kecil, sebuah tawa yang ia paksa keluar untuk menyembunyikan isak tangis yang mulai naik ke tenggorokannya. "Heyyy... kau benar-benar bercerita padaku soal rasa stroberi? Sedetail itu? Kau mesum sekali, Liam Cavanaugh."

"Hahaha, bukan mesum! Aku hanya... aku hanya ingin kau tahu bahwa sahabatmu ini sudah dewasa," Liam membenamkan wajahnya di ceruk leher Angelina, menghirup aroma tubuh Angelina yang ia kenal sejak bayi—aroma bedak bayi dan bunga lili yang menenangkan.

"Hanya kau yang bisa kudengarkan ceritanya, Angel. Kalau aku cerita pada Dad, dia pasti akan menceramahiku soal tanggung jawab pria. Kalau pada Mom, dia pasti akan menangis karena menganggap putranya sudah bukan bayi lagi."

Angelina terdiam. Hanya aku? Ia merasa terhormat sekaligus terhina. Ia adalah tempat sampah bagi memori manis Liam dengan wanita lain.

"Tidurlah, Angel," bisik Liam. Ia mengecup pelipis Angelina dengan sangat lembut—ciuman yang sama seperti malam-malam sebelumnya, namun malam ini terasa berbeda karena bibir itu baru saja menyentuh bibir orang lain. "Good night, My Little Angel."

Liam membiarkan kepalanya tetap di ceruk leher Angelina, matanya mulai terpejam karena kelelahan setelah hari yang panjang. Napasnya mulai teratur, hangat mengenai kulit leher Angelina.

Angelina menatap kegelapan kamar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu per satu, membasahi bantal sutra mereka. Ia sudah melatih diri untuk ini. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk saat-saat di mana Liam akan menemukan pelabuhan lain. Namun, mendengar tentang "rasa stroberi" itu tetap saja membuatnya merasa seperti ditusuk ribuan jarum.

"Night juga, Liam," bisiknya sangat lirih, hampir tidak terdengar.

Ia membiarkan Liam memeluknya. Ia membiarkan dirinya menjadi sandaran bagi pria yang ia cintai, meski pria itu sedang bermimpi tentang bibir wanita lain. Di bawah atap Mansion Cavanaugh malam itu, Liam tertidur dengan rasa stroberi di bibirnya, sementara Angelina tertidur dengan rasa asin air mata di hatinya.

Di kamar sebelah, Everest berdiri di depan jendela, menatap hujan. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan anak-anaknya di kamar sebelah, namun instingnya sebagai seorang pria yang pernah melakukan rahasia besar membuatnya merasa ada sesuatu yang sedang bergeser dalam takdir mereka. Ia hanya berharap, Liam tidak perlu melewati rasa sakit yang sama seperti yang pernah ia berikan pada Catherina dulu.

Namun takdir, seperti biasa, memiliki caranya sendiri untuk mengulang sejarah—hanya dengan pemeran yang berbeda dan luka yang lebih dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!