Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ice cream
Iren memperhatikan tangan mereka yang saling menggenggam, lalu mengangkat alis tipis.
"Wah… kalian kelihatannya dekat banget sekarang," godanya sambil tersenyum.
Raisa langsung salah tingkah dan mencoba melepaskan tangannya pelan, tapi Evan malah menggenggamnya lebih erat.
Evan menjawab santai,
"Memangnya kenapa kalau dekat?"
Iren tertawa kecil.
"Nggak kenapa-napa sih… cuma agak kaget aja."
Raisa menunduk malu, sementara Evan terlihat sama sekali tidak terganggu.
Iren lalu melipat tangannya.
"Jadi… kalian habis dari mana?"
Raisa dan Evan saling melirik sesaat.
Evan menjawab singkat,
"Ada urusan."
Iren mengangguk pelan, seolah sadar ada sesuatu yang tidak ingin dibahas.
"Yaudah… aku nggak ganggu lama-lama." Ia tersenyum tipis ke arah Raisa. "Jaga Evan baik-baik ya. Banyak yang ngincer soalnya."
Raisa spontan menoleh cepat ke Evan.
Evan malah tertawa kecil.
"Ngapain ngomong begitu?"
Iren mengangkat bahu santai.
"Fakta."
Raisa berusaha terlihat biasa saja, tapi dalam hati langsung tidak nyaman.
"Banyak yang ngincer?" gumamnya dalam hati.
Iren melangkah mundur sedikit.
"Oke, aku pergi dulu. Bye."
"Bye," jawab Evan singkat.
Setelah Iren pergi, Raisa masih diam sambil berjalan di samping Evan.
Evan meliriknya sekilas.
"Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
Evan terkekeh pelan.
"Cemburu ya?"
Raisa langsung membantah cepat.
"Nggak!"
Evan sengaja mendekatkan wajahnya sedikit.
"Kalau nggak cemburu, kenapa mukanya ditekuk begitu?"
Raisa mendengus pelan.
"Aku cuma baru tahu ternyata banyak perempuan yang dekat sama kamu."
Evan tersenyum kecil, lalu menggenggam tangannya lebih hangat.
"Tapi yang mas gandeng sekarang siapa?"
Raisa terdiam sejenak.
"Kamu…"
"Nah. Jadi nggak usah mikirin yang lain."
Pipi Raisa kembali memerah sementara Evan terlihat semakin senang menggoda wanita itu.
Mereka akhirnya masuk ke restoran Paper Lunch yang cukup ramai siang itu. Aroma daging dan mentega langsung tercium begitu mereka duduk di salah satu meja dekat kaca.
Evan menarik kursi untuk Raisa.
"Duduk sini."
Raisa tersenyum kecil.
"Makasih…"
Seorang pelayan datang membawa menu.
"Mau pesan apa?" tanya Evan sambil melihat Raisa.
Raisa membuka menu beberapa detik lalu menunjuk salah satu gambar.
"Aku mau beef pepper rice aja."
Evan mengangguk.
"Satu beef pepper rice… sama salmon teriyaki buat saya," ucapnya pada pelayan.
"Drink-nya?" tanya pelayan lagi.
"Lemon tea dua."
Pelayan itu mengangguk lalu pergi.
Raisa duduk sambil memainkan ujung sendoknya pelan.
Evan memperhatikannya sekilas.
"Masih mikirin tadi?"
Raisa menghela napas kecil.
"Sedikit…"
Evan meraih tangan Raisa di atas meja.
"Udah jangan dipikirin terus."
Raisa menatap genggaman tangan mereka, lalu mengangguk pelan.
Tak lama kemudian makanan datang. Suara sizzling dari hot plate membuat Raisa sedikit teralihkan.
"Wah… harum banget," gumamnya.
Evan tersenyum kecil.
"Makan yang banyak. Dari tadi kamu belum makan bener."
Raisa mulai mencampur nasi dan dagingnya perlahan.
Evan mengambil satu sendok lalu menyodorkannya ke Raisa.
"Aa…"
Raisa langsung melirik kanan kiri malu.
"Mas… banyak orang."
"Memangnya kenapa?" Evan tetap menyodorkan sendoknya.
Raisa akhirnya membuka mulut kecil-kecil.
Evan tersenyum puas.
"Nah gitu."
Raisa ikut mengambil daging lalu menyuapi Evan gantian.
"Sekarang kamu."
Evan sengaja mendekat sedikit saat menerima suapan itu.
"Mas jadi makin pengen cepet nikahin kamu."
Raisa langsung salah tingkah.
"Kok nyambungnya ke situ sih…"
Evan tertawa kecil.
"Karena rasanya beda kalau disuapin calon istri."
Raisa menunduk malu sambil terus makan.
Sesekali Evan masih menggoda dan menyuapinya, membuat suasana yang tadi berat perlahan berubah hangat.
Setelah makanan mereka habis, Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap Raisa yang terlihat jauh lebih tenang.
"Kamu mau dessert nggak?" tanyanya santai.
Mata Raisa langsung berbinar sedikit.
"Mau…"
"Mau apa?"
Raisa tersenyum kecil.
"Beliiin es krim ya."
Evan terkekeh pelan.
"Yaudah, tunggu bentar."
Ia bangkit dari kursinya lalu berjalan ke counter dessert.
Beberapa menit kemudian Evan kembali sambil membawa satu cup es krim.
"Nih."
Raisa langsung menerimanya senang.
"Kenapa cuma satu?"
"Kan buat berdua."
Raisa mulai menyuap es krim itu pelan.
"Enak…" gumamnya puas.
Evan memperhatikannya sambil tersenyum kecil.
"Mas mau?"
Raisa menyodorkan sendok ke arahnya.
Evan menggeleng santai.
"Mas nggak terlalu suka es krim."
"Terus kenapa beli?"
"Karena kamu mau."
Raisa jadi salah tingkah sendiri.
"Yaudah… coba dikit."
Evan mencondongkan tubuhnya sedikit seolah ingin mencoba dari sendok yang dipegang Raisa.
Namun bukannya mengambil sendok—ia malah mengecup singkat bibir Raisa." Mmhh... "
Raisa langsung membelalak.
"Mas!" bisiknya panik sambil mendorong pelan dada Evan. "Banyak orang!"
Evan malah tersenyum puas.
"Manis."
Raisa memerah sampai telinga.
"Ihh…"
Evan menatapnya jahil.
"Rasanya jadi lebih enak dari es krimnya."
Raisa langsung memukul pelan lengannya.
"Mesum."
Evan tertawa kecil melihat wajah Raisa yang salah tingkah.
Sementara Raisa buru-buru kembali makan es krimnya meski jantungnya masih berdebar tidak karuan karena ulah Evan.
ulat bulu mulai berdatangan...
Raisa kamu harus kuat menghadapi para uget uget yang mengincar Evan...
semangat naik ranjang
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya