NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Sekar menatapnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Karena kamu nggak ada,” ulangnya, kali ini lebih dalam, lebih penuh emosi yang selama ini ia simpan. “Makanya aku nikah sama orang lain!” Tangannya mengepal di atas meja. “Makanya aku harus ngerasain diselingkuhi… dihancurin… sampai akhirnya sekarang aku terpisah dari anakku sendiri!” Suaranya bergetar, napasnya tidak teratur. Semua yang ia tahan sejak pagi—bahkan mungkin sejak bertahun-tahun lalu, akhirnya keluar tanpa bisa dihentikan.

Damar terdiam. Tidak menyangka reaksi sebesar itu.

Sekar menunduk sebentar, mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengontrol dirinya, tapi air mata tetap jatuh. “Aku capek…” bisiknya lirih. “Aku capek harus kuat terus.”

Sunyi menyelimuti meja kecil itu. Beberapa orang di sekitar mungkin melirik sekilas, tapi tidak ada yang benar-benar peduli. Dunia tetap berjalan, sementara di sudut itu, dua orang sedang berhadapan dengan masa lalu yang tidak pernah selesai.

Sekar mengangkat wajahnya lagi, menatap Damar dengan mata yang penuh luka. “Jangan tanya kenapa aku nikah,” lanjutnya pelan, suaranya masih bergetar. “Karena waktu itu… hidupku jalan terus. Dan kamu nggak ada di situ.”

Kalimat itu tidak menyalahkan sepenuhnya. Tapi juga tidak membebaskan. Hanya… kenyataan.

Sekar menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Andai…” ia berhenti sejenak, lalu tersenyum pahit. “…andai aku sama Aji nggak pernah nikah…” Ia menggeleng pelan. “Tapi hidup nggak bisa pakai andai-andai, kan?”

Damar masih diam. Wajahnya berubah, bukan lagi gelisah, tapi lebih seperti seseorang yang baru saja menyadari sesuatu yang terlambat. Dan di antara mereka tidak ada lagi jarak masa lalu yang samar. Yang ada hanya dua orang yang sama-sama datang terlambat di waktu yang berbeda.

Sekar menarik napas panjang, mencoba meredakan sisa gemuruh di dadanya. Ia menatap Damar yang masih diam, masih terpaku pada kata-kata yang baru saja ia dengar atau mungkin pada kenyataan yang akhirnya tidak bisa lagi dihindari. “Sekarang bagaimana?” suara Sekar lebih pelan, tapi justru terasa lebih dalam. “Aku sudah seperti ini…” Ia tersenyum tipis, pahit. Tidak ada lagi kemarahan, hanya kelelahan yang jujur. “Maafkan aku, Damar… kalau kamu nggak mendapati aku seperti harapanmu.”

Kalimat itu tidak dramatis, tidak berlebihan. Tapi justru di situlah letak sakitnya, karena Sekar mengatakannya dengan penerimaan. Seolah ia benar-benar sudah berdamai dengan dirinya, dengan masa lalunya, dengan semua yang membuatnya sampai di titik ini.

Damar masih belum menjawab. Tangannya yang sejak tadi di atas meja perlahan mengepal, lalu melemas lagi. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata yang terasa cukup.

Sekar berdiri pelan. “Kita sama-sama terlambat, mungkin,” lanjutnya lirih. “Dan hidup… nggak nunggu siapa-siapa.” Ia meraih tasnya, bersiap pergi. Ia tidak ingin memperpanjang luka yang sebenarnya tidak perlu dibuka lagi.

Namun baru saja ia berbalik tangan Damar refleks menahan pergelangan tangannya.

Sekar terdiam. Sentuhan itu tidak keras, tapi cukup untuk menghentikannya.

Damar tidak langsung bicara. Ia sendiri terlihat bingung dengan tindakannya. Matanya menatap Sekar, penuh hal yang tidak bisa ia susun menjadi kalimat. Beberapa detik berlalu dalam diam. “Aku…” Damar akhirnya membuka suara, tapi berhenti di tengah jalan. Ia menggeleng pelan, frustrasi pada dirinya sendiri.

Sekar menunggu, tapi tidak memaksa.

“Aku nggak tahu harus ngomong apa,” lanjut Damar jujur. “Semua yang aku pikir… rasanya salah semua sekarang.”

.Sekar menatapnya, kali ini tanpa emosi yang meledak. Hanya ada keheningan yang hangat, tapi juga getir. “Ya… kadang memang nggak semua harus dijawab,” ucap Sekar pelan.

Damar menelan ludah. “Tapi aku juga nggak mau kamu pergi gitu aja.” Kalimat itu sederhana, tapi penuh makna yang belum selesai. "Aku pergi waktu itu untuk memanaskan diri, Kar."

Sekar menunduk sebentar, menatap tangan Damar yang masih menahannya. Lalu perlahan, dengan lembut, ia melepaskan pegangan itu. Bukan dengan marah. Bukan dengan penolakan keras. Tapi dengan kesadaran. “Aku nggak ke mana-mana, Dam,” katanya lirih. “Aku cuma… lagi belajar berdiri lagi.” Ia mengangkat wajahnya, menatap Damar dengan mata yang lebih tenang. “Dan untuk sekarang… itu saja dulu yang aku bisa.”

.

Damar terdiam.

Sekar mundur satu langkah, memberi jarak yang jelas di antara mereka. Bukan karena tidak ada rasa. Tapi karena ada terlalu banyak yang harus diselesaikan dalam dirinya sendiri. “Terima kasih… sudah pernah nunggu,” tambah Sekar pelan. Lalu kali ini, ia benar-benar berbalik. Melangkah pergi. Meninggalkan Damar yang masih berdiri di tempatnya dengan perasaan yang akhirnya menemukan jalannya tapi di waktu yang tidak lagi sama.

***

Sepanjang perjalanan pulang, Sekar sengaja tidak menyalakan apa pun, tidak musik, tidak radio, tidak juga membuka jendela, ia membiarkan mobil itu dipenuhi keheningan yang pelan-pelan justru membongkar isi kepalanya sendiri.

Pertemuan dengan Damar masih terasa hangat sekaligus menyakitkan, bukan karena cinta lama yang kembali tumbuh, tapi karena kesadaran pahit tentang satu kemungkinan hidup lain yang pernah hampir ada namun kini benar-benar tertutup. Ia sempat membayangkan, hanya sekilas, bagaimana jika dulu ia mengambil jalan berbeda jika ia tidak menolak, jika ia tidak menikah dengan Aji, jika hidupnya tidak harus melewati pengkhianatan, kehancuran, dan kehilangan seperti sekarang, tetapi pikiran itu berhenti dengan sendirinya, seperti ditarik paksa oleh kesadaran yang lebih kuat.

Tangannya mengerat di setir, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya ia menggeleng pelan, menolak semua “andai-andai” yang tidak akan pernah mengubah apa pun. Hidupnya memang sudah terbentuk dari pilihan-pilihan yang telah terjadi, sekeras dan sepahit apa pun itu, dan untuk pertama kalinya Sekar tidak lagi ingin melawan kenyataan itu. Air matanya jatuh tanpa suara, bukan ledakan emosi seperti sebelumnya, melainkan tangisan yang lebih tenang, lebih dalam, seolah ia sedang merelakan sesuatu yang selama ini diam-diam ia genggam, bukan Damar, bukan masa lalu, tapi harapan tentang hidup yang berbeda.

“Aku nggak butuh diselamatkan siapa-siapa…” bisiknya lirih, hampir seperti pengakuan pada dirinya sendiri, dan kalimat itu tidak terasa lemah, justru sebaliknya, ada kekuatan yang perlahan tumbuh dari sana. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu melanjutkan dalam hati dengan keyakinan yang mulai mengakar, “aku cuma butuh memperjuangkan anakku.”

Saat nama itu muncul, Sea, semua yang semula terasa kabur tiba-tiba menjadi jelas; bukan lagi tentang luka yang ia alami, bukan tentang siapa yang datang atau pergi dalam hidupnya, tapi tentang satu hal yang sejak awal seharusnya menjadi pusat dari semua langkahnya. Sekar mengusap air matanya, memperbaiki posisi duduknya, dan kembali menatap jalan dengan pandangan yang lebih fokus, lebih mantap, seolah arah hidupnya yang sempat tercerai-berai kini menyatu kembali dalam satu tujuan yang tidak bisa ditawar. Hidupnya mungkin tidak mudah, bahkan jauh dari kata ideal, tapi untuk pertama kalinya ia tidak merasa tersesat karena kini ia tahu, ke mana ia harus melangkah, dan untuk siapa ia harus bertahan.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!