NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Marsha mendengarkan percakapan itu sambil terus makan. Ia merasa sedikit aneh melihat ayahnya, Andreas, dan ayah angkatnya, Erlan, bisa duduk bersama tanpa ada kecanggungan yang berarti. Ia tahu Andreas sangat menghormati Erlan karena telah menyelamatkannya, dan Erlan pun cukup bijaksana untuk memahami rasa bersalah Andreas.

"Daddy," panggil Marsha pelan pada Erlan. "Besok ada jadwal operasi bersama? Aku dengar ada pasien rujukan dari Jerman yang memiliki kasus Double Outlet Right Ventricle."

Erlan tersenyum, matanya berbinar bangga. "Iya, pasien itu akan sampai besok pagi. Dan aku ingin kamu yang menjadi asisten utama, atau jika kamu merasa siap, kamu yang akan memimpin operasinya."

Andreas dan Theodore terdiam. Mereka melihat bagaimana kedua dokter ini berkomunikasi dalam bahasa yang hanya mereka mengerti bahasa penyelamatan.

"Lihat itu, Theodore," gumam Andreas sambil menyesap anggurnya. "Dunia mereka jauh lebih kompleks daripada dunia bisnis kita. Mereka tidak memperebutkan wilayah, mereka memperebutkan detik-detik napas seseorang."

Malam itu, di bawah lampu kristal mansion Halvard, Marsha menyadari satu hal. Meski ia adalah putri seorang konglomerat dan sedang diawasi oleh putra mafia, identitas aslinya tidak akan pernah berubah. Ia adalah seorang dokter bedah yang dibentuk oleh cinta Erlan dan dipersenjatai dengan keteguhan hati seorang Halvard.

Malam ini, untuk pertama kalinya, Marsha tidak merasa terbagi. Ia merasa utuh.

Theodore menyandarkan punggungnya di kursi, matanya yang tajam tetap terpaku pada Marsha. Gumanan pelannya tentang "calon istri Liam" mungkin hanya terdengar oleh Andreas yang duduk di dekatnya, namun aura yang dipancarkannya seketika berubah, seperti seekor predator yang baru saja menemukan permata paling berharga untuk koloninya.

Namun, lamunan Theodore dan antusiasme medis Marsha seketika terputus oleh interupsi tegas dari satu-satunya orang yang paling berani di ruangan itu selain Marsha.

"Heyyy... Kalian berdua berhenti membahas operasi! Kita sedang di meja makan, bukan di meja operasi," ucap Shafira sambil menaruh tangannya di pinggang, memberikan tatapan "peringatan" khas seorang ibu kepada suami dan putrinya.

Marsha dan Erlan seketika terdiam, lalu saling berpandangan dan tertawa kecil.

"Maaf, Mommy... habisnya kasusnya sangat menarik," ujar Marsha sambil menjulurkan lidahnya sedikit, kembali fokus pada sup di depannya.

---

Andreas, yang mendengar gumanan Theodore tadi, mendadak mengeraskan rahangnya. Ia meletakkan sendoknya dengan suara denting yang cukup jelas di atas piring porselen.

"Theodore," panggil Andreas dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Jangan pernah berpikir untuk memasukkan putriku ke dalam duniamu. Satu luka saja pada Marsha karena urusan bisnismu, aku pastikan seluruh dermaga yang kau kuasai akan rata dengan tanah."

Theodore hanya tersenyum tipis, sebuah seringai yang terlihat provokatif. "Aku tidak bicara tentang bisnis, Andreas. Aku bicara tentang kriteria. Liam butuh wanita yang bisa mengendalikan liarnya, dan Dokter Marsha... dia baru saja menjinakkan singa hanya dengan sepasang sarung tangan lateks."

Archio yang mendengar itu langsung menatap Theodore dengan tajam. "Jangan harap, Tuan Theodore. Marsha baru saja kembali ke rumah ini, kami tidak akan membiarkannya pergi ke sarang mafia, bahkan untuk sekadar makan malam dengan Liam."

Marsha, yang sejak tadi mencoba mengabaikan percakapan para pria "berkuasa" itu, akhirnya angkat bicara tanpa mendongak dari piringnya.

"Tuan Theodore," suara Marsha terdengar sangat tenang, namun menusuk. "Jika Liam ingin mencari istri, sarankan dia mencari wanita yang suka perhiasan atau pesta. Saya lebih suka aroma ruang operasi daripada aroma bubuk mesiu atau uang kotor. Jadi, tolong habiskan makan malam Anda tanpa membuat saya kehilangan selera makan lagi."

Suasana meja makan mendadak hening. Erlan Dominic menahan senyum bangganya di balik gelas air putih, sementara Shafira hanya bisa menggelengkan kepala melihat keberanian putrinya. "Dengar itu?" Erlan menimpali dengan bijaksana. "Putriku sudah menentukan pilihannya sendiri. Dan pilihannya adalah menyelamatkan nyawa, bukan menjadi piala di dunia siapa pun."

Theodore terdiam, lalu mengangguk pelan sebagai tanda hormat. "Kalian benar-benar membesarkan seorang ratu, Erlan. Baiklah, aku akan tutup mulut soal Liam... untuk malam ini."

Setelah ketegangan itu mencair, Shafira kembali mencairkan suasana. "Nah, begitu. Sekarang, Marsha, habiskan supmu. Setelah ini Mommy sudah siapkan teh camomile agar kamu bisa tidur nyenyak. Besok adalah hari besar untukmu dan Daddy."

Marsha tersenyum manis pada Shafira. "Terima kasih, Mommy."

Di seberang meja, Andreas menatap Marsha dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia menyadari bahwa meski ia adalah seorang Halvard yang kaya raya, ia tidak perlu terlalu khawatir melindungi Marsha. Putrinya sudah memiliki "perisai" paling kuat yang pernah ada: prinsip yang teguh dan keluarga yang mencintainya dengan tulus.

Malam itu ditutup dengan percakapan yang lebih normal tentang rencana liburan dan hobi, meninggalkan urusan bisnis dan darah di luar pintu besar mansion Halvard. Namun di dalam benak Theodore, rencana untuk Liam dan Marsha mungkin belum benar-benar berakhir.

Theodore terkekeh, suara beratnya bergema di ruangan yang luas itu. Ia menyesap wine-nya dengan gestur yang sangat tenang. "Aku tidak memaksa Liam, Andreas. Tapi siapa yang tidak tertarik menjadikan Marsha menantu? Dia punya otak, keberanian, dan tangan yang bisa memberikan kehidupan. Bukan begitu, Dokter Erlan?"

Erlan tertawa kecil, menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia melirik Marsha yang kini sedang berpura-pura sangat sibuk dengan potongan buahnya, meski telinganya jelas-jelas memerah.

"Itu benar," sahut Erlan dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan. "Dulu saat kami masih tinggal di lingkungan lama, tetangga kami selalu mengklaim kalau Marsha akan jadi menantu mereka. Bahkan setiap minggu ada saja pasien yang bertanya, 'Dokter, apakah putrimu sudah memiliki kekasih?'

Marsha mendesah pelan. "Daddy, tolong..."

"Ya ampun," lanjut Erlan, mengabaikan protes kecil putrinya, "Membayangkan putriku diambil orang saja aku sudah merasa tidak rela. Bahkan, kalian harus tahu, pemilik rumah sakit tempat kami bekerja pun sempat terang-terangan menginginkan Marsha jadi menantunya untuk dipasangkan dengan putranya yang juga seorang spesialis."

Andreas, yang sejak tadi hanya mendengarkan, mendadak meletakkan gelasnya dengan sedikit keras. "Pemilik rumah sakit? Siapa namanya? Archio, catat namanya. Besok aku ingin tahu seberapa hebat putranya sampai berani mengincar putriku."

"Ayolah, Yah," Archio menimpali sambil tertawa. "Daftar antreannya panjang. Kalau Ayah mau mengeliminasi semua pengagum Marsha, kita akan butuh satu departemen khusus di perusahaan hanya untuk mengurus itu."

Shafira menggelengkan kepala melihat tingkah para pria di meja itu. "Lihatlah Marsha, sekarang kamu punya tiga naga yang menjagamu. Satu mafia, satu konglomerat, dan satu dokter bedah jantung terbaik. Sepertinya tidak akan ada pria yang berani mendekatimu dalam radius satu kilometer."

Marsha akhirnya mendongak, matanya berkilat jenaka namun tajam. "Baguslah. Jadi aku bisa fokus pada katup jantung dan pembuluh darah tanpa gangguan. Lagipula, aku baru saja bertemu Damian tadi, dan dia adalah satu-satunya pria yang tidak membuatku merasa seperti sedang diinterogasi oleh dewan keamanan PBB."

Mendengar nama Damian, suasana meja mendadak sedikit hening. Archio dan Andreas saling berpandangan radar protektif mereka langsung aktif.

"Damian?" tanya Andreas dan Archio hampir bersamaan.

Theodore hanya tersenyum tipis, menikmati drama keluarga di depannya. "Sepertinya 'singa' kecil kita punya rahasia sendiri, Andreas. Pertandingan baru saja dimulai."

1
Nesya
ngeriii kok ada y ibu yang hatinya seperti iblis binatang aja g tega membuang anaknya loh miris kali
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!