Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labuhan Hati di Tepian Pantai
Suasana di dalam ruang tengah rumah joglo sore itu dipenuhi oleh gemuruh tawa dan obrolan yang seolah tidak ada putusnya. Kehadiran Aris benar-benar laksana oase di tengah padang pasir bagi Bapak Suprapto dan Ibu Lastri. Sejak siang setelah klinik tutup, kedua orang tua itu bergantian menumpahkan seluruh isi hati mereka. Bapak Suprapto bercerita panjang lebar mengenai proses birokrasi pembangunan klinik, dinamika warga desa yang kini sangat bergantung pada Rania, hingga rasa syukurnya melihat menantunya kembali bangkit.
Sementara Ibu Lastri, dengan gaya berceritanya yang ekspresif, menambahi detail tentang bagaimana Rania sempat mengidam, ketakutan mereka saat Rania menjerit histeris karena mimpi buruk semalam, hingga menu "Jumat Berkah" yang kini menjadi tradisi baru keluarga. Aris mendengarkan setiap kalimat dengan saksama, mengangguk takzim, dan sesekali memberikan tanggapan yang menyejukkan. Bagi kedua orang tua itu, Aris telah menjelma menjadi tiang sandaran tempat mereka menuangkan segala keluh kesah—peran yang seharusnya diemban oleh Damar, namun kini ditunaikan dengan sempurna oleh pria di hadapan mereka.
"Astaga, Ibu sampai lupa. Tadi kamu bilang membawa barang di mobil, Le?" cetus Ibu Lastri di sela obrolan.
"Oh iya, Bu! Hampir saja Aris lupa karena keasyikan mengobrol," Aris menepuk dahinya. "Sebentar, Aris ambilkan di bagasi."
Aris bergegas keluar menuju mobilnya yang terparkir di bawah pohon mangga. Tak lama kemudian, ia kembali dengan kedua tangan penuh membawa beberapa tas belanja besar. Ada kain batik tulis halus untuk Ibu Lastri, satu set kopiah dan sarung tenun premium untuk Bapak Suprapto, serta berbagai macam camilan khas Jakarta, buah-buahan segar, dan beberapa buku panduan merawat bayi untuk Rania.
"Ini sedikit oleh-oleh dari Jakarta, Bu, Pak. Mohon diterima nggih," ujar Aris tulus sambil menyerahkan bingkisan itu satu per satu.
"Ya Allah, Aris... kamu ini repot-repot sekali. Datang saja kami sudah senang luar biasa, kok malah bawa barang sebanyak ini," ucap Ibu Lastri dengan mata yang berkaca-kaca karena haru, sementara Bapak Suprapto hanya bisa menepuk-nepuk bahu Aris dengan pandangan penuh rasa bangga.
Rencana Liburan Dadakan ke Semarang
Melihat gurat kelelahan yang samar di wajah Rania serta kedua orang tuanya, sebuah ide mendadak melintas di kepala Aris. Ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul empat sore.
"Ibu, Bapak, Rania... mumpung klinik libur sampai besok sore, bagaimana kalau malam ini kita makan di luar? Tapi tidak di Kendal. Kita ke Semarang Kota," ajak Aris dengan binar mata penuh rencana. "Aris sudah memesan kamar di hotel dekat pantai untuk kita menginap semalam. Anggap saja ini acara refreshing keluarga. Ibu dan Bapak kan sudah lelah sekali membantu Rania mengurus klinik akhir-akhir ini."
Ibu Lastri terbelalak, saling pandang dengan suaminya. "Lho, menginap di hotel, Le? Apa tidak usah pulang saja? Kan Semarang dekat."
"Sesekali, Bu. Jarang-jarang kan kita bisa kumpul lengkap seperti ini? Aris ingin Ibu dan Bapak merasakan tidur nyaman tanpa memikirkan pekerjaan rumah. Rania juga butuh menghirup udara pantai supaya pikirannya segar," bujuk Aris lagi, kali ini sambil melirik Rania yang tampak tersenyum tipis, menyetujui ide tersebut.
Bapak Suprapto akhirnya terkekeh dan mengangguk. "Ya sudah, kalau anak lanang yang meminta, masa kita tolak. Ibu, ayo siap-siap, ganti baju yang rapi."
Perjalanan menuju Semarang sore itu dipenuhi dengan gairah yang menyenangkan. Perlakuan Aris yang begitu hangat, sopan, dan penuh perhatian membuat Bapak Suprapto dan Ibu Lastri merasa sangat dihormati. Selama hidup mereka, jarang sekali mereka menikmati kemewahan berlibur dan menginap di hotel berbintang seperti ini. Aris benar-benar memperlakukan mereka layaknya orang tua kandungnya sendiri.
Pujian di Bawah Pendar Senja
Malam harinya, Aris membawa mereka makan malam di sebuah restoran hidangan laut eksklusif yang terletak tepat di tepi Pantai Marina, Semarang. Meja mereka diatur di area terbuka, berbatasan langsung dengan pembatas laut di mana deburan ombak kecil berkejaran memantulkan pendar lampu kota.
Rania malam itu tampil sangat anggun. Ia mengenakan gaun hamil terusan berwarna hijau pastel dengan jilbab putih bersih yang membingkai wajah ayunya. Meskipun perutnya sudah kentara membuncit, aura keibuan dan kecantikan alaminya justru terpancar berkali-kali lipat lebih kuat.
Saat Rania berjalan kembali ke meja setelah mencuci tangan, Aris yang berdiri untuk menyambutnya tidak bisa menahan diri untuk tidak terpaku sejenak.
"Kamu cantik sekali malam ini, Ran. Aura Ibu hamil benar-benar membuatmu kelihatan... berbeda. Jauh lebih bersinar," puji Aris dengan suara rendah, tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Pipi Rania seketika merona merah mendengar pujian spontan itu. Ia menunduk sambil merapikan gaunnya. "Kamu ini bisa saja, Ris. Ini efek bedak tipis saja karena udara pantai yang panas."
Di seberang meja, Ibu Lastri dan Bapak Suprapto yang melihat interaksi tersebut hanya saling melempar senyum penuh arti. Mereka tidak buta; mereka tahu ada ketulusan yang luar biasa besar di dalam pasang mata Aris untuk Rania.
Rahasia Mimpi dan Keraguan Sang Penyelidik
Setelah makan malam selesai dan kedua orang tua mereka memilih untuk tetap duduk di restoran menikmati angin malam bersama secangkir teh hangat, Aris mengajak Rania untuk berjalan-jalan kecil di sepanjang jalan setapak beton di tepian pantai. Langkah mereka pelan, menyelaraskan dengan ritme jalan Rania yang kini sedikit lebih lambat.
Aroma garam yang khas dan suara deburan ombak menciptakan suasana yang intim namun melankolis. Rania menatap hamparan laut yang hitam luas sebelum akhirnya membuka suara, memecah keheningan di antara mereka.
"Ris... sebenarnya, kedatanganmu hari ini seperti jawaban atas ketakutanku," ujar Rania pelan, jemarinya bertaut di depan perutnya.
Aris menoleh, menatap profil samping wajah Rania dari balik remang cahaya lampu taman. "Ketakutan apa, Ran? Apa ada masalah di klinik?"
Rania menggeleng lemah. "Bukan klinik. Semalam, aku bermimpi buruk sekali. Aku bermimpi tentang Mas Damar."
Aris seketika menghentikan langkahnya, membuat Rania ikut berhenti dan berbalik menghadapnya. Jantung Aris mendadak berdesir tajam. Nama 'Damar' selalu menjadi pemicu ketegangan tersendiri baginya.
"Mimpi apa?" tanya Aris, mencoba menjaga suaranya tetap tenang.
"Dalam mimpi itu, Mas Damar menggandeng tangan seorang wanita yang sangat cantik. Tapi anehnya, perawakan dan tinggi wanita itu mirip sekali dengan Mas Damar, seperti cerminan yang ganjil," Rania menarik napas dalam, matanya mulai berkaca-kaca saat memori mimpi itu berputar kembali. "Wanita itu mendekatiku dan berkata... dia berkata dengan sangat jelas bahwa Mas Damar sudah mati. Mas Damar sendiri hanya diam di sampingnya, tidak membantah, tidak bicara."
Rania menyeka setetes air mata yang lolos di pipinya. "Ris, sejak terbangun tengah malam dengan keringat dingin, hatiku rasanya perih sekali. Aku takut... aku sangat takut kalau mimpi itu adalah pertanda nyata. Bagaimana kalau Mas Damar benar-benar sudah meninggal di luar sana? Bagaimana kalau dia mengalami kecelakaan atau hal buruk tanpa kita ketahui?"
Mendengar penuturan Rania yang begitu emosional dan penuh asumsi tentang kematian fisik Damar, Aris mendadak terpaku. Lidahnya terasa kelu. Pikirannya seketika berkecamuk hebat, berputar pada lembaran-lembaran dokumen hasil penyelidikan pribadinya di Jakarta akhir-akhir ini.
Sebelum berangkat ke Kendal, Aris sebenarnya telah menemukan beberapa bukti krusial yang sengaja ia simpan sendiri karena belum siap ia ungkapkan. Dari informan setianya, Aris berhasil melacak manifest penerbangan fiktif dan transaksi medis berskala besar atas nama Mario di sebuah rumah sakit rekonstruksi gender terkenal di Bangkok, Thailand, dua bulan lalu. Informan Aris bahkan sempat memotret siluet Mario yang selalu mendampingi seorang 'wanita' berperban total dari kejauhan.
Aris menarik napas panjang. Damar sudah mati... Kalimat dalam mimpi Rania itu menggaung di kepala Aris dengan makna yang sepenuhnya berbeda.
Aris tahu, Damar tidak mati secara fisik seperti yang ditakutkan Rania. Namun, Damar telah 'membunuh' jati dirinya sendiri. Damar telah memotong sejarah hidupnya sebagai seorang pria, suami, dan ayah, demi menjelma menjadi sosok 'Dara'—wanita cantik yang kini mendampingi Mario. Dan yang membuat bulu kuduk Aris meremang adalah kemiripan detail mimpi Rania; sosok wanita cantik berperawakan mirip Damar yang memegang tangan Mario (yang dalam mimpi Rania mungkin termanifestasi sebagai Damar sendiri karena keterbatasan informasi visual).
Ada keraguan yang teramat sangat menyergap batin Aris malam itu. Ia menatap Rania yang menanti jawabannya dengan mata yang penuh harap dan kesedihan.
Apakah aku harus memberi tahu Rania yang sebenarnya sekarang? batin Aris bergolak. Jika aku katakan bahwa suaminya tidak mati melainkan mengubah kelaminnya menjadi wanita demi pria lain, apakah Rania akan sanggup menahannya? Apakah janin di rahimnya akan aman menerima guncangan sekejam itu?
Aris mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Hasil penyelidikannya menunjukkan bahwa Mario dan 'Dara' baru saja mendarat kembali di Semarang kemarin menggunakan jet pribadi. Mereka berada di kota yang sama, malam ini. Kenyataan bahwa Damar yang dicari Rania kini telah berwujud wanita cantik bernama Dara, dan berada hanya beberapa kilometer dari tempat mereka berdiri sekarang, membuat Aris merasa berada di atas bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Ris? Kenapa malah melamun?" tegur Rania pelan, menyentuh lengan Aris yang tampak tegang.
Aris tersentak, segera memaksakan sebuah senyuman hangat untuk menutupi gejolak batinnya. Ia meraih kedua pundak Rania, menatap matanya dengan penuh kesungguhan.
"Ran, dengarkan aku," ucap Aris dengan suara selembut mungkin. "Mimpi itu hanya cerminan dari rasa lelah dan kekhawatiranmu yang menumpuk. Kamu menanggung beban rindu dan ketidakpastian ini sendirian sambil hamil dan mengurus klinik. Damar tidak mati. Aku yakin dia sehat di suatu tempat. Jadi, tolong hapus pikiran buruk itu nggih? Fokuslah pada kesehatanmu dan bayimu. Ada aku, Ibu, dan Bapak yang akan selalu menjagamu di sini."
Rania menatap mata Aris lama, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah keteduhan yang mendalam. Rania akhirnya mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang meski rasa perih itu tidak sepenuhnya hilang.
Mereka kembali berjalan beriringan menuju restoran, di bawah siraman cahaya lampu tepian pantai Marina. Rania berjalan dengan hati yang sedikit terobati, tanpa pernah menyadari bahwa di balik senyuman hangat Aris, ada sebuah rahasia besar nan mengerikan yang sedang disembunyikan rapat-rapat demi melindunginya dari kehancuran jiwa yang sesungguhnya.