Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : SISA KEHANGATAN YANG MENYAKITKAN
Brak.
Pintu besi tertutup, meninggalkan Talia sendirian di bawah sorot lampu rembulan. Talia mengepalkan tangannya kuat-kuat, merutuki kebodohannya yang sempat terbuai. Jika Ethan menganggap pernikahan mereka hanya sebatas bisnis dan masih mengharapkan wanita lain, maka Talia bersumpah tidak akan membiarkan pria itu menyentuhnya lagi.
Ketika Talia kembali ke dalam ballroom, ia berusaha keras menampilkan senyum terbaiknya. Namun, rona merah di pipi dan bibirnya yang sedikit bengkak langsung tertangkap oleh pandangan tajam Rey.
"Tata? Kau dari mana saja? Kami mencarimu," Rey melangkah cepat mendekati Talia, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran seorang kakak. Tangan Rey bergerak menyentuh pundak Talia, menyadari tubuh adiknya sedikit menggigil. "Kau dingin sekali. Apa si bajingan Ethan itu menemuimu?"
Sebelum Talia sempat menjawab untuk menenangkan kakaknya, pengumuman dari pembawa acara menggema di seluruh ruangan, meminta seluruh tamu memberikan perhatian penuh untuk acara utama malam itu: pengumuman resmi pernikahan dua pilar bisnis terbesar.
Atmosfer berganti megah. Di atas panggung utama, Ethan sudah berdiri tegap berdampingan dengan kedua orang tuanya. Ketampanannya yang bak bangsawan malam itu menyihir semua orang, namun di mata Talia, pria itu tak lebih dari teka-teki yang kejam.
"Dan malam ini, dengan bangga kami umumkan penyatuan dua keluarga besar. Pernikahan antara putra mahkota kami, Ethan, dengan putri cantik dari keluarga..."
Saat nama Talia dipanggil, lampu sorot (spotlight) langsung mengarah tepat ke posisinya. Seluruh pasang mata di ballroom berbalik menatapnya, memberikan tepuk tangan riuh.
Dari atas panggung, Ethan menatap lekat ke arah Talia. Sorot matanya yang kelam mengunci pandangan Talia yang berdiri di antara Rey, Alex, dan Elex—tiga pria yang siap menerkam Ethan jika ia berbuat salah. Ada kilat kepemilikan dan ego yang terusik di mata Ethan. Sebagai calon suami, ia tidak suka melihat Talia selalu mencari perlindungan di balik punggung kakak dan sepupunya, seolah Ethan adalah ancaman terbesar bagi gadis itu.
Talia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, membalas tatapan tajam Ethan dengan pandangan menantang. Ia melepaskan tangan Rey di pundaknya secara perlahan, lalu melangkah maju menuju panggung sendirian, bersiap memasuki lingkaran sandiwara pernikahan yang penuh dengan gairah berbahaya ini.
Berikut adalah kelanjutan skenario (Bab 6) ketika Ethan sengaja bersikap manis dan posesif di atas panggung untuk memprovokasi Rey serta sepupu-sepupu Talia yang protektif:
Langkah Talia terasa berat namun mantap saat ia menaiki anak tangga panggung. Di bawah pendar lampu sorot yang menyilaukan, ia bisa merasakan ratusan pasang mata tertuju padanya. Namun, hanya ada satu tatapan yang benar-benar menguliti pertahanannya—tatapan dari Ethan.
Begitu Talia tiba di atas panggung, Ethan tidak membiarkan gadis itu berdiri kaku di sampingnya. Di luar dugaan Talia, Ethan justru melangkah maju satu langkah. Dengan gerakan yang begitu halus namun sarat akan dominasi, tangan kekar Ethan terulur, melingkar sempurna di pinggang ramping Talia dan menarik tubuh gadis itu hingga merapat tanpa jarak ke dadanya.
Talia tersentak kecil. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Ethan yang beberapa menit lalu mengurungnya di rooftop kembali menyengat indranya. Aroma mint dan parfum maskulin pria itu kembali menginvasi penciumannya.
"Tersenyumlah, Calon Istriku," bisik Ethan, begitu dekat di telinga Talia hingga helaan napasnya membuat bulu kuduk Talia meremang. "Kakakmu sedang mengawasiku seolah dia ingin menguburku hidup-hidup."
Talia melirik sekilas ke arah bawah panggung. Benar saja, di barisan depan, Rey berdiri dengan rahang mengeras dan kedua tangan mengepal di dalam saku celananya. Di sampingnya, Alex dan Elex menatap panggung dengan tatapan sedingin es, siap bergerak jika Talia menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman.
Menyadari hal itu, Ethan justru memperdalam sandiwara manisnya. Ia menundukkan kepala, menatap Talia dengan binar mata yang dibuat seolah-olah ia adalah pria paling kasmaran di dunia. Ibu jarinya yang berada di pinggang Talia bergerak mengusap lembut kain gaun gadis itu, sebuah gestur posesif yang sangat intim di depan publik.
"Kau sengaja melakukan ini untuk memprovokasi Rey?" desis Talia di balik senyum palsu yang ia paksakan untuk kamera media.
"Aku hanya sedang menunjukkan pada dunia—dan pada kakakmu—siapa pria yang memiliki hak penuh atas dirimu mulai malam ini," jawab Ethan berbisik, suaranya terdengar sangat lembut namun penuh kepemilikan yang mutlak.
Sebelum Talia sempat membalas, Ethan mengecup pelan pelipis Talia di hadapan kilatan lampu flash kamera yang saling bersahutan. Tindakan manis yang sangat terencana itu sukses membuat riuh seluruh ballroom dengan godaan dan tepuk tangan, sekaligus menyalakan api ketegangan yang kian membara antara Ethan dan barisan pelindung Talia di bawah sana.