NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Tanda Tangan Berdarah dan Runtuhnya Dua Pilar Kesombongan

Pagi di Kerajaan Valeria terasa sangat mencekam. Kabut tebal turun dari Pegunungan Utara, menyelimuti jalanan kota dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, di dalam ruang makan eksklusif penginapan Bulan Sabit Berdarah, keheningan yang tersaji jauh lebih membekukan daripada cuaca di luar.

Di meja sudut yang terbuat dari kayu ek hitam, kelompok Algojo Dimensi tengah menyantap sarapan mereka. Hari ini adalah hari penentuan. Bentrok Resmi Guild—sebuah duel legal di mana hukum pembunuhan ditiadakan—akan segera terjadi antara kelompok Ajil yang hanya berjumlah empat orang, melawan aliansi seratus elit dari Silver Fang dan Crimson Lion.

Di hadapan Ajil, tersaji hidangan penambah stamina tingkat tinggi: Steak Kaki Banteng Baja yang dipanggang dengan tingkat kematangan rare, dilumuri Saus Merah Pedas dari ekstrak cabai naga, serta secangkir Kopi Hitam Akar Lava yang uapnya saja bisa menghangatkan seluruh tubuh. Ajil mengiris daging alot itu dengan pisau peraknya. Wajahnya sedatar pahatan es, tak ada secercah pun ketegangan atau rasa takut di sepasang matanya yang kelam.

Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya tampak tanpa cela, menyerap sedikit cahaya lilin di meja tersebut. Di punggung tangannya yang tertutup sarung tangan kulit, urat-uratnya menonjol tenang, mengalirkan mana tak terbatas yang siap meledak kapan saja.

Di seberangnya, Rino dan Richard makan dengan porsi ganda. Mereka berdua telah pulih sepenuhnya dari luka bakar naga berkat sup sumsum dan sihir Erina. Dengan uang emas yang diberikan Ajil, mereka telah memperbarui persenjataan mereka yang hancur.

Rino kini mengenakan Zirah Baja Hitam Vulkanik yang jauh lebih berat dan tahan panas, serta memangku sebuah Pedang Lebar Tulang Naga di pangkuannya. Sementara Richard mengenakan Jubah Sisik Leviathan berwarna biru gelap yang memperkuat elemen sihir esnya, menggenggam Tombak Kristal Es Kutub yang memancarkan embun beku. Tekad di mata kedua pria itu menyala terang; mereka siap mati sebagai perisai sang Pemimpin.

Erina, yang duduk di sebelah Ajil, hanya menyesap Nektar Embun Pagi dari gelas kristalnya. Zirah sutra mithrilnya bersinar lembut. Sang High Elf menatap Ajil dengan penuh kekaguman, mengabaikan fakta bahwa mereka akan segera menghadapi dua petualang dengan level 120 dan 140 beserta pasukannya.

"Daging ini terlalu keras," komentar Ajil singkat, meletakkan pisaunya. Suaranya yang bariton memecah keheningan. Ia menenggak kopi hitamnya dalam satu tegukan, lalu berdiri. "Ayo. Kita selesaikan urusan administrasi bodoh ini sebelum membakar mereka."

Jalanan menuju Guild Petualang hari ini kosong melompong. Para warga dan pedagang memilih menutup pintu dan jendela rumah mereka rapat-rapat, tak ingin terseret dalam konflik Kelas S yang bisa menghancurkan separuh kota.

Begitu kelompok Algojo Dimensi melangkah masuk ke dalam gedung Guild, suasana aula yang biasanya riuh seketika mati. Tidak ada petualang yang mabuk atau berteriak. Mereka semua berdiri merapat ke dinding, menatap Ajil dengan campuran rasa ngeri dan takjub.

Ajil berjalan lurus membelah aula, langkah sepatu botnya bergema mantap.

Di balik meja kaca mahoni, Karin telah berdiri menunggu dengan sebuah perkamen merah berstempel tengkorak bersilang. Tangan resepsionis muda itu bergetar hebat. Begitu mata birunya menangkap sosok Ajil yang memancarkan aura dingin dan mematikan, jantung Karin berdegup gila. Wajahnya yang tegang seketika memerah merona, sepekat warna tomat yang baru dipetik. Rasa khawatir dan cinta yang terpendam berbaur menjadi satu di dalam dadanya.

"S-Selamat pagi, T-Tuan Ajil..." sapa Karin, suaranya sedikit bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap luka tipis yang kini sudah sepenuhnya hilang di pipi Ajil, namun kekhawatirannya tidak surut. "I-Ini adalah Surat Perjanjian Bentrok Resmi. S-Setelah Anda menandatanganinya dengan setetes darah, hukum Kerajaan Valeria tidak akan melindungi nyawa siapa pun di Lembah Kematian Berdarah hari ini."

Karin menyodorkan perkamen itu beserta sebuah pena perak. Namun, saat Ajil hendak mengambilnya, Karin menahan ujung perkamen itu. Mata birunya berkaca-kaca, pipinya semakin memerah padam.

"T-Tuan Ajil, kumohon..." bisik Karin dengan nada memohon yang sangat rapuh. Dari balik kerah kemejanya, ia mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin kristal biru kecil. "I-Ini adalah Jimat Air Mata Dewi... I-Ini warisan ibuku. Kumohon, bawalah ini. Galahad dan Boros bukanlah manusia biasa, mereka memiliki pusaka kuno dan pasukan elit. S-Saya tidak ingin melihat Anda..."

TRANG!

Sebuah anak panah yang terbuat dari angin padat menancap tajam di atas meja kaca, tepat satu sentimeter dari jari Karin, membuat gadis manusia itu memekik dan menarik tangannya mundur.

Erina melangkah maju, memosisikan tubuhnya di antara Ajil dan meja resepsionis. Mata zamrud sang High Elf berkilat penuh amarah dan arogansi absolut. Rambut perak kebiruannya sedikit berkibar oleh fluktuasi mana yang mengancam.

"Simpan batu kerikil rongsokanmu itu, Gadis Manusia," desis Erina, suaranya mengalun merdu namun berbisa layaknya ular mematikan. Ia menatap Karin dengan tatapan merendahkan. "Pria ini berjalan di bawah perlindungan sihir seorang High Elf. Dia tidak membutuhkan jimat murahan dari seorang pelayan meja yang sedang berkhayal menjadi seorang permaisuri. Berhentilah menatapnya dengan pipi merahmu yang menjijikkan itu, atau aku sendiri yang akan mencungkil matamu."

Karin menggertakkan giginya. Harga dirinya sebagai staf resmi Guild tercabik-cabik, namun rasa cemburunya membakar keberaniannya. Ia membalas tatapan tajam Erina dengan napas memburu.

"Saya memberikan ini atas dasar kepedulian tulus, Nona Elf yang sombong," balas Karin sinis, tak mau kalah. "Sesuatu yang mungkin tidak Anda mengerti karena Anda terlalu sibuk memamerkan telinga runcing Anda! Jika Anda benar-benar peduli padanya, Anda seharusnya melarangnya pergi ke medan bunuh diri ini!"

"Bunuh diri?" Erina tertawa sinis, sebuah tawa yang menggema merdu. "Itulah bedanya aku denganmu, Manusia. Kau melihatnya sebagai pria rapuh yang butuh dilindungi. Aku melihatnya sebagai dewa kematian yang akan meratakan dunia ini. Aku tidak akan pernah mengikat sayapnya. Aku akan berdiri di sisinya saat ia membakar musuh-musuhnya."

Ajil tidak sedikit pun tertarik dengan perang dingin yang memperebutkan dirinya ini. Matanya yang kelam hanya menatap perkamen merah di atas meja. Ia mengabaikan tatapan memohon Karin dan aura posesif Erina.

Ia mengulurkan tangannya, menarik perkamen itu dari bawah anak panah angin Erina. Tanpa menggunakan pena, Ajil menggigit ujung ibu jarinya sendiri hingga berdarah, lalu menempelkan cap jempol berdarah itu di atas perkamen.

Seketika, perkamen itu terbakar menjadi abu merah yang terbang ke udara, menandakan bahwa kontrak kematian absolut telah disahkan oleh sistem dunia Ridokan.

[SISTEM: Kontrak Kematian Resmi Disetujui.]

[Zona: Lembah Kematian Berdarah. Hukum Pidana Dinonaktifkan sementara.]

"Urusan kita selesai," ucap Ajil datar, membalikkan badannya. Ia sama sekali tidak melirik kalung yang ditawarkan Karin. "Ayo. Para serangga sudah menunggu untuk diinjak."

Karin terdiam, air mata tertahan di pelupuk matanya saat melihat punggung lebar Ajil menjauh. Sementara Erina memberikan senyuman kemenangan yang sangat memuakkan ke arah Karin, sebelum akhirnya melangkah anggun menyusul sang Algojo. Rino dan Richard membungkuk hormat sekilas pada Karin, lalu bergegas mengekor di belakang.

Lembah Kematian Berdarah terletak lima belas kilometer di utara Valeria. Medannya sangat gersang. Tanah liatnya berwarna merah kecokelatan, dipenuhi oleh pilar-pilar batu bergerigi yang menyerupai taring raksasa yang mencuat dari dalam bumi. Bau karat dan besi tua sangat menyengat di udara, sisa-sisa darah dari ribuan duel petualang yang pernah terjadi di tempat terkutuk ini.

Saat kelompok Algojo Dimensi tiba di mulut lembah, pemandangan di depan mereka cukup untuk membuat petualang Kelas S mana pun mundur teratur.

Di tengah pelataran batu merah yang luas, seratus orang elit bersenjata lengkap telah berbaris membentuk formasi tapal kuda. Di sisi kiri, lima puluh ksatria Silver Fang dengan zirah perak mengkilap berdiri kokoh memegang perisai cahaya. Di sisi kanan, lima puluh pembunuh dan petarung barbar dari Crimson Lion memutar kapak dan merentangkan busur silang mereka.

Di garis paling depan, berdiri dua pilar kesombongan Valeria.

Galahad, Grandmaster Silver Fang, mengenakan zirah Paladin Suci yang memancarkan aura cahaya menyilaukan. Pedang raksasa di tangannya bergetar oleh mana suci tingkat tinggi.

Di sebelahnya, Boros, Panglima Crimson Lion, menyeringai lebar. Panglima botak itu kini memiliki sebuah lengan mekanik prostetik di sebelah kanannya—lengan yang terbuat dari tembaga sihir dan kristal beracun, pengganti lengannya yang hangus oleh petir Ajil di Menara Ilusi.

[SISTEM: Memasuki Zona Bentrok Resmi.]

[Peringatan Ekstrem! Kuantitas Musuh: 102 Entitas. Rata-rata Level: 90.]

[Menganalisis Ancaman Utama: Galahad (Lv.140), Boros (Lv.120).]

"Aku tidak menyangka kau benar-benar datang, Gelandangan!" raung Galahad, suaranya diperkuat oleh sihir hingga menggema di seluruh lembah. "Apakah kau sudah menyiapkan kata-kata terakhirmu? Atau kau ingin memohon ampun sekarang agar aku mengampuni nyawa dua anjing cacat di belakangmu itu?"

Boros tertawa serak, memutar lengan mekaniknya hingga mengeluarkan bunyi roda gigi yang berderit. Ejekan meluncur dari bibirnya yang sumbing. "Lengan ini... lengan yang kau hancurkan di Menara Ilusi, Pria Berjaket Hitam! Aku telah menggantinya dengan mahakarya racun Dwarf Hitam! Hari ini, aku akan mencabik-cabik perutmu, mengambil Prasasti Dimensi itu dari mayatmu, dan menjadikan elf di sebelahmu itu sebagai budakku!"

Mendengar hinaan itu, Rino dan Richard menggeram marah. Mereka melangkah maju, menghunuskan Pedang Tulang Naga dan Tombak Kristal Es mereka secara bersamaan.

"Kalian tidak pantas mengucapkan namanya dengan mulut kotor kalian!" teriak Rino, memancarkan aura api vulkanik yang luar biasa panas.

Ajil berdiri di depan mereka bertiga. Angin lembah yang kering meniup ujung trench coat hitamnya. Wajahnya tidak memancarkan emosi. Ia tidak marah atas hinaan Boros. Singa tidak pernah merasa terhina oleh gonggongan anjing liar.

"Keangkuhan yang dibangun di atas jumlah pasukan dan penderitaan orang lain hanyalah menara pasir di tepi lautan," ucap Ajil. Suara baritonnya tidak berteriak, namun entah bagaimana, keheningan mutlak dari frekuensi suaranya memotong seluruh sorakan pasukan musuh, terdengar sangat jelas di setiap telinga.

Ajil perlahan mengangkat wajahnya. Mata hitamnya menatap Galahad dan Boros dengan tatapan dewa kematian yang menatap sekumpulan jiwa yang telah divonis neraka.

"Kalian menyebut diri kalian ksatria dan penguasa," lanjut Ajil, mengosongkan seluruh beban di hatinya, mengubah duka menjadi kemurkaan absolut. "Tapi kalian tidak tahu bahwa tahta tertinggi di dunia ini hanya bisa diduduki oleh mereka yang telah kehilangan segalanya, dan tidak takut untuk jatuh lebih dalam lagi ke dalam kegelapan. Dan hari ini... aku akan menunjukkan pada kalian seberapa gelapnya duniaku."

Ajil mengangkat tangan kanannya. "Erina, Rino, Richard. Bunuh seratus kroco itu. Jangan mati."

"Dengan senang hati, Pemimpin," Erina tersenyum mematikan. Sang High Elf melompat tinggi ke atas salah satu pilar batu. Busur emasnya ditarik, dan lima anak panah angin suci tercipta seketika.

"HAAARRRGHHH!" Rino dan Richard menerjang maju layaknya dua binatang buas yang dilepaskan dari rantainya, langsung menghantam barisan depan Crimson Lion dan Silver Fang. Benturan sihir es dan ledakan api langsung mewarnai pinggiran lembah.

Galahad dan Boros tidak memedulikan pasukan mereka. Mata mereka terkunci pada Ajil yang kini berjalan perlahan, sendirian, lurus ke arah mereka berdua.

"Mati kau, Pengecut!" raung Boros.

Panglima plontos itu menghentakkan kakinya. Sihir pasir hitam menyelimuti tubuhnya, membuatnya masuk ke dalam tanah dan bergerak di bawah permukaan layaknya hiu di dalam air. Dalam sekejap, tanah di bawah kaki Ajil meledak.

Boros muncul dari bawah, lengan mekaniknya mengayunkan sebuah kapak beracun yang memancarkan gas korosif berwarna hijau pekat. Racun ini dirancang khusus untuk menggerogoti mana pelindung, bahkan mampu melelehkan Setelan Malam Abadi secara perlahan.

Ajil tidak menghindar. Ia memutar tubuhnya, menangkap pergelangan lengan mekanik Boros dengan tangan kirinya. Trang!

"Kena kau!" seringai Boros licik. Dari sela-sela jari lengan mekaniknya, jarum-jarum kecil beracun melesat keluar, menembus sarung tangan Ajil dan menyuntikkan racun pelumpuh saraf langsung ke pembuluh darahnya.

[SISTEM: Peringatan Kritis! Racun Pelumpuh Saraf Ekstrem terdeteksi. Kapasitas Mana terhambat 30%.]

Namun, senyum Boros langsung pudar saat melihat wajah Ajil tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sedikit pun. Mata hitam Ajil menatap mata Boros dari jarak dekat.

"Trik murahan," desis Ajil.

Ajil menyalurkan Aura Gravitasi Jiwa ke tangan kirinya yang mencengkeram lengan mekanik Boros. Gravitasi dilipatgandakan hingga seratus kali lipat tepat di titik cengkeramannya.

KRAAAK! KRETEK!

Lengan mekanik yang terbuat dari tembaga sihir dan kristal itu hancur remuk, remuk, dan gepeng di bawah cengkeraman telapak tangan Ajil. Boros menjerit histeris saat sambungan saraf sisa bahunya ikut tertarik hancur.

Sebelum Ajil sempat menghancurkan kepala Boros, sebuah cahaya putih yang membutakan meledak dari arah langit.

Galahad melompat dari tebing batu, memegang Pedang Suci Paladin-nya. Ia merapalkan jurus pamungkasnya. "Domain Cahaya Absolut! Hukuman Fajar!"

Sebuah kubah cahaya putih raksasa turun dan mengurung Ajil dan Galahad di dalamnya, memisahkan Boros yang terlempar keluar. Di dalam kubah itu, cahayanya begitu terang hingga membutakan mata. Tidak hanya itu, cahaya tersebut memiliki efek menyerap energi gelap dan menguras stamina fisik secara brutal. Ini adalah musuh alami dari aura petir ungu yang merusak.

[SISTEM: Terperangkap dalam Domain Cahaya Absolut. Kecepatan gerakan menurun 50%. Visibilitas 0%.]

"Di dalam domain ini, kau buta dan lemah, Gelandangan!" suara Galahad menggema dari segala arah. Sang Grandmaster bergerak dengan kecepatan kilat, menebaskan pedangnya dari arah titik buta.

Sraatt! Bilah pedang cahaya itu menggores punggung Ajil, menyayat tipis trench coat-nya dan meninggalkan luka bakar ringan. Ajil terhuyung selangkah ke depan.

"Ahahaha! Di mana kesombonganmu tadi?!" tawa Galahad kembali menggema, serangannya datang lagi, kali ini menyayat lengan kiri Ajil.

Di dalam kebutaan cahaya itu, Ajil tidak panik. Ia memejamkan matanya, membiarkan racun Boros berdenyut di nadinya dan sayatan Galahad membakar kulitnya. Ia mengatur napasnya.

Ia mengangkat tangan kanannya, merentangkannya ke samping.

VZZZMMMMM!

Pusaran dimensi terbuka. Ajil menarik Pedang Petir Hijau Abadi dari ruang hampa. Begitu gagang sisik naga itu berada di tangannya, badai petir hijau dan ungu meledak keluar dari bilah zamrudnya.

"Segel Pertama. Segel Kedua," bisik Ajil dingin.

Petir ungu yang liar menyelimuti pedangnya, namun kali ini, sepasang sayap badai kehancuran yang terbuat dari energi murni membentang dari punggung Ajil, menghalau cahaya putih yang menyilaukan itu dari sekitarnya.

"Cahaya yang menyilaukan mata," ucap Ajil datar, memutar pedangnya dengan anggun namun mematikan, "tidak akan pernah bisa menerangi jiwa yang telah lama mati di dalam kegelapan. Dan cahayamu ini... sangat lemah."

Ajil tidak perlu melihat. Ia menyalurkan Amukan Petir Abadi secara maksimal ke seluruh kubah tersebut. Jika ia tidak bisa melihat musuhnya, ia akan menghancurkan seluruh areanya.

Ajil menancapkan Pedang Petir Hijau Abadi ke tanah berbatu.

ZDAAAAAAAARRRRRRR!!!!!!!

Ledakan energi God-Tier yang melampaui batas rasionalitas meledak dari titik pedang itu. Petir ungu dan hijau menyapu bersih ke segala arah dalam bentuk kubah yang lebih besar dan lebih destruktif.

Domain Cahaya Absolut milik Galahad pecah berkeping-keping layaknya kaca rapuh. Sang Grandmaster Level 140 itu terhempas hebat, melolong kesakitan saat petir ungu menyengat dan melelehkan zirah perak kebanggaannya. Ia jatuh bergulingan di tanah merah, sekujur tubuhnya hangus berasap.

Ajil mencabut pedangnya, berjalan perlahan keluar dari kepulan asap petir. Sayap energinya telah ditarik kembali. Wajahnya tetap sedingin gletser. Darah menetes dari lengan kirinya, namun Mana Tak Terbatas dengan cepat menetralisir racun Boros dan menutup lukanya.

Di depannya, Boros yang hanya memiliki satu tangan mencoba merangkak kabur dengan wajah dipenuhi teror mutlak.

Ajil mengayunkan tangannya dengan santai. Sebuah tebasan energi bulan sabit hijau-ungu melesat. Cras! Tebasan itu memisahkan kepala Boros dari lehernya. Panglima Crimson Lion tewas secara instan, kepalanya menggelinding di atas tanah merah.

Galahad, yang masih hidup namun lumpuh, menatap ngeri ke arah Ajil yang berjalan mendekatinya. Harga dirinya telah hancur. Kesombongannya telah lenyap. Pria berjaket hitam di depannya ini bukanlah manusia; ia adalah bencana alam yang berwujud manusia.

"T-Tidak... K-Ku mohon... Aku adalah Grandmaster..." isak Galahad, merangkak mundur sambil memuntahkan darah. Air mata ketakutan mengalir di wajahnya. "Aku akan memberikan seluruh hartaku... Aku akan memberikan Silver Fang padamu... Jangan bunuh aku!"

Ajil berdiri menjulang di atas tubuh Galahad yang gemetar. Ujung Pedang Petir Hijau Abadi diarahkan tepat ke tenggorokan sang Grandmaster.

Mata hitam Ajil tidak memancarkan belas kasihan, tidak pula rasa puas.

"Hartamu tidak bisa membeli tiket kepulanganku," ucap Ajil dengan nada bariton yang teramat dingin dan mutlak. "Dan aku tidak butuh anjing penakut sepertimu."

JLEB.

Ajil menusukkan pedangnya, menembus lurus tenggorokan Galahad dan menancap hingga ke tanah. Sang Grandmaster tewas tanpa sempat mengeluarkan suara jeritan, matanya membelalak menatap kehampaan.

[SISTEM: Berhasil mengeksekusi Galahad (Lv.140) dan Boros (Lv.120). EXP Mutlak Ditambahkan!]

[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 112.]

[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 115.]

Ajil menarik pedangnya, mengibaskan darah bangsawan itu, lalu menyarungkannya kembali ke dimensi hampa. Ia memutar tubuhnya, menatap ke arah medan pertempuran di belakangnya.

Sisa-sisa elit Silver Fang dan Crimson Lion yang berjumlah nyaris seratus orang itu, kini sebagian besar telah terkapar tanpa nyawa. Rino berdiri dengan napas terengah-engah, pedang apinya berlumuran darah. Richard bersandar pada tombaknya, dikelilingi oleh patung-patung es dari musuh yang telah ia bekukan. Erina melayang turun dengan anggun, tidak ada sehelai pun debu yang menodai zirah mithrilnya, busurnya baru saja mengirimkan nyawa terakhir pasukan musuh ke alam baka.

Melihat pemimpin mereka, Galahad dan Boros, telah dibantai dengan begitu mudah, belasan pasukan elit yang tersisa menjatuhkan senjata mereka. Mereka jatuh bersujud, menangis memohon ampun, tak berani menatap wajah Ajil.

"Pemimpin," Erina berjalan mendekati Ajil, tersenyum bangga. "Lembah ini telah kita bersihkan. Apa yang harus kita lakukan pada sisa serangga yang menangis ini?"

Ajil menatap para petualang yang bersujud itu dengan kehampaan yang sama. Ia merapatkan kerah trench coat-nya.

"Biarkan mereka hidup," perintah Ajil datar, suaranya menggema di tengah lembah yang sunyi oleh kematian. "Biarkan mereka kembali ke Valeria. Biarkan mereka menjadi saksi dan pembawa pesan kepada seluruh benua."

Ajil melangkah pergi, melewati tumpukan mayat musuh-musuhnya tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Rino, Richard, dan Erina segera mengekor, mengikuti sang Pemimpin dengan rasa hormat yang absolut.

"Katakan pada seluruh raja, penyihir, dan pahlawan di dunia ini," kata-kata terakhir Ajil terbawa oleh angin berdarah Lembah Kematian, mengukir legenda yang akan membuat seluruh Planet Ridokan gemetar ketakutan. "Jika mereka menyembunyikan Prasasti Dimensi dari pandanganku... aku akan datang, dan mencabut nyawa mereka satu-persatu."

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!