Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Sakit & interogasi (1)
Kelopak mata yang semulanya tertutup rapat kini perlahan-lahan mulai terbuka. Hal pertama yang retina mata itu tangkap adalah sebuah pandangan buram. Laura mengerjapkan matanya dengan perlahan. Tepat saat mata itu dapat melihat dengan jelas, hal pertama yang ia lihat adalah sebuah ruangan asing dengan aroma yang tidak asing baginya.
Kamar siapa ini?
Laura menarik tubuhnya untuk bersandar pada sandaran kasur. Kepalanya berdenyut pelan, sedikit berputar namun terasa lebih baik di bandingkan kemarin. Matanya terus menelusuri setiap sudut ruang kamar itu. Sampai pada sebuah pigura besar di tengah ruangan membuat matanya membelalak.
Ini.. kamar suaminya? Kenapa? Sejak kapan ia berada di sini? Kenapa bisa ia tertidur di sini? Dan.. Kenapa ada plester penurun demam menempel apik pada dahinya.
Tunggu.. kemarin ia merasa kepalanya sakit, berlari menghindar dari kating bernama Abizar, masuk ke dalam mobil, lalu.. ia tidak sadar lagi apa yang terjadi.
Terlalu sibuk dengan pemikirannya, Laura tidak sadar bahwa Gaharu memperhatikannya saat pria itu keluar dari kamar ganti. Kursi roda yang pria itu gunakan berjalan dengan perlahan mendekat tepian kasur.
“Sudah merasa lebih baik?”
Laura tersentak, ia menoleh pada sumber suara. Dengan refleks menarik selimut hingga sebatas dada. Matanya yang bulat menatap Gaharu dengan sisa-sisa keterkejutan dan kebingungan yang campur aduk. Pria itu tampak tenang, duduk di kursi rodanya dengan pakaian rumah yang santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa.
“Su—Suami...” suara Laura parau, nyaris berbisik. Ia berdeham kecil, mencoba menetralkan tenggorokannya yang terasa kering. “Kenapa aku bisa ada di sini? Ini kamar suami?”
Alih-alih menjawab, pria itu malah mengulurkan tangannya memastikan suhu tubuh Laura juga memastikan plester demam itu menempel dengan benar.
“Kamu pingsan kemarin, kenapa? Tidak mengingatnya?” jawab Gaharu datar setelah ia menarik tangannya. “Suhu tubuhmu benar-benar tinggi, dan aku tidak ingin repot mengurusi orang mati. Jadi aku membawamu ke sini, benar-benar merepotkan.”
Cih! Denial sekali pria itu. Padahal bisa saja katakan jika pria itu khawatir.
Laura mengerucutkan bibirnya tipis mendengar jawaban ketus yang keluar dari mulut Gaharu. Meski kata-katanya setajam silet, namun ia berterimakasih karena pria itu sudah peduli. Ya, walaupun terkesan tidak ikhlas sih..
“Terima kasih... dan maaf sudah merepotkan,” cicit Laura.
Gaharu mendengus kecil, ia memutar kursi rodanya sedikit untuk mengambil segelas air hangat dari atas nakas dan menyodorkannya pada Laura. “Minum. Dokter Bram bilang kamu dehidrasi parah. Apa yang sebenarnya kamu lakukan di kampus sampai lupa caranya minum dan makan?”
Laura menerima gelas itu dengan tangan sedikit gemetar. Air hangat itu terasa sangat melegakan tenggorokannya yang sempat terasa terbakar. “Aku... aku hanya terlalu sibuk mengejar kelas, Suami.”
“Sibuk mengejar kelas atau sibuk lari dari seseorang?”
Pertanyaan dingin dan tepat sasaran itu membuat Laura tersedak. Ia terbatuk kecil, wajahnya yang pucat kini sedikit memerah karena tertangkap basah. Gaharu hanya memerhatikan dengan tatapan yang seolah bisa membaca seluruh isi kepala Laura.
“Abizar, siapa dia?” suaranya merendah, menciptakan aura posesif yang mendadak memenuhi ruangan.
Laura meremas selimutnya erat. Belum sempat ia menyusun kalimat untuk menjawab, pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar tanpa ketukan.
“Laura! Sayang, kamu sudah sadar?” Adeline masuk dengan wajah sumringah namun penuh kecemasan, membawa nampan berisi bubur yang masih mengepul.
Gaharu menghela napas panjang, tampak terganggu dengan kehadiran ibunya yang merusak suasana interogasinya. “Ibu, bukankah sudah kukatakan untuk menunggu di bawah?”
“Memangnya kenapa? Ibu mau memastikan menantu kesayangan Ibu sudah bangun!” Adeline menjawab tanpa menoleh pada putranya, ia langsung duduk di tepi ranjang dan meletakkan nampan di atas nakas.
Adeline mengelus lembut rambut Laura, wajahnya penuh kasih sayang yang kontras dengan aura dingin Gaharu. “Jangan takut, Sayang. Kalau si kaku ini memarahimu lagi, bilang pada Ibu. Ibu akan menyuruh Ayahnya menyita kursi rodanya!”
Laura hanya bisa tersenyum canggung. “Ti—tidak apa-apa, Ibu. Suami cuma tanya soal kuliah.”
Gaharu memutar bola matanya malas. “Ibu terlalu memanjakannya. Dia sakit karena kecerobohannya sendiri.”
“Heh! Menantu itu begini juga karena kamu kurang perhatian!” Adeline membalas tajam, lalu kembali menatap Laura. “Ayo, makan dulu buburnya. Mama membuat bubur ini sendiri. Habiskan ya, supaya wajahmu tidak sepucat kertas lagi. Jangan pedulikan omongan manusia kaku itu. Ayo makanlah.”
Laura membuka mulutnya saat Adeline mulai membantu menyuapkan bubur itu dengan perlahan. Namun, ia bisa merasakan sepasang mata tajam milik Gaharu masih terus menghujamnya. Pria itu tidak bergerak dari tempatnya, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali melayangkan pertanyaan yang tertunda.
“Ibu, jangan dipaksa jika dia sudah kenyang,” potong Gaharu saat melihat Adeline hendak menyuapkan sendok kelima dengan semangat.
“Menantuku baru makan sedikit, Gaharu! Kamu ini mau istrimu pingsan lagi?” Adeline melotot, namun tangannya berhenti menyuap saat melihat Laura tampak kesulitan menelan. “Eh, Sayang, apa mual? Atau buburnya tidak enak?”
“Tidak, Ibu. Buburnya enak kok. Hanya saja.. perutku terasa penuh,” jawab Laura pelan.
“Itu karena lambungmu kosong terlalu lama, makanya terasa penuh padahal baru makan sedikit,” Adeline menghela napas, ia meletakkan mangkuk bubur yang masih tersisa separuh ke atas nampan. “Ya sudah, jangan dipaksa. Yang penting ada makanan yang masuk. Mama akan minta Bibi buatkan teh jahe hangat supaya mualmu hilang.”
Adeline bangkit berdiri, namun sebelum melangkah keluar, ia memberikan tatapan peringatan yang sangat tajam pada putranya. “Jangan membuat istrimu tertekan dengan banyaknya pertanyaan interogasi darimu. Jika sampai itu terjadi, hari ini juga Ibu akan bawa Laura pindah ke rumah utama!”
Pintu tertutup dengan suara klik yang cukup keras, menyisakan kesunyian yang mencekam di antara dua orang itu. Laura kembali merapatkan selimutnya, mencoba menghindari kontak mata dengan suaminya.
Keheningan kembali menyelimuti kamar megah itu. Aroma maskulin yang tadinya terasa menenangkan, kini perlahan berubah menjadi mencekam saat Gaharu memajukan kursi rodanya hingga tepat berada di samping ranjang. Jarak mereka kini begitu dekat, hingga Laura bisa merasakan aura dominasi yang kuat terpancar dari pria itu.
“Ibu sudah pergi,” suara Gaharu terdengar rendah. “Sekarang, jawab pertanyaanku tadi. Siapa Abizar?”
Laura menunduk, memainkan jari jemarinya dengan gugup. “Bu—Bukan siapa-siapa. Dia hanya Kakak tingkatku di kampus, Suami. Kami hanya... ada sedikit salah paham soal urusan kampus.”
Gaharu terkekeh sinis, “Salah paham? Salah paham tidak akan membuat seseorang berlari seperti di kejar maut dan berakhir demam dengan suhu tubuh 39°, Laura.”
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap dalam pada manik mata Laura yang bergetar. “Jangan mencoba membodohiku. Aku sudah menyuruh Juan untuk menyelidiki latar belakang pria itu. Tapi sebelum aku melihat laporan itu, aku ingin tahu jawabmu.”
“Aku sudah katakan jika dia hanya Kakak tingkatku, tidak ada apa-apa selain masalah kampus. Aku akan mengurasnya nanti.”
“Kamu terlihat gemetar, jelas kamu berbohong.” Gaharu kembali mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Apa dia menyentuhmu?”
“Ti-tidak! Dia tidak menyentuhku!” bantah Laura cepat dengan nada yang sedikit meninggi karena panik.
“Jadi benar dia menyentuhmu,” gumam Gaharu dengan suara rendah.
“Tidak!”
“Katakan yang sejujurnya, atau aku akan menyuruh Juan untuk 'membersihkan' kakak tingkatmu itu dari kampus hari ini juga.”
Laura membelalak. Ia tahu suaminya tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. “Jangan, tolong jangan lakukan apa-apa. Aku akan menyelesaikannya sendiri setelah aku sembuh.”
Gaharu menarik tubuhnya, ia menyandarkan kembali punggungnya pada sandaran kursi roda, namun matanya tetap menyipit tajam.
“Menyelesaikannya sendiri? Lihat kondisimu sekarang, terbaring lemas di tempat tidurku karena tidak becus mengurus diri sendiri,” ucapnya pedas. “Aku beri kamu waktu sampai besok pagi. Jika kamu masih bungkam, jangan salahkan aku jika besok pria bernama Abizar itu tidak pernah terlihat lagi di kampusmu. Selamanya.”
***
Kamis, 07 Mei 2026
Published : Kamis, 07 Mei 2026