Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arjuna VS Gareng
Di dalam mobil yang melesat membelah jalanan pinggiran kota, wajah Arjuna tampak sekeras batu. Matanya fokus pada layar monitor kecil yang terpasang di dasbor, menampilkan titik merah yang berkedip-kedip di sebuah area pergudangan tua dekat pelabuhan.
"Sialan.... ternyata dia membawanya ke sana," geram Arjuna. Beruntung, ponsel Dita yang berada di dalam tasnya belum sempat dimatikan atau dibuang oleh anak buah Gareng, sehingga sinyal GPS nya masih memancarkan koordinat yang akurat.
Arjuna segera menghubungi tim taktisnya melalui radio panggil. "Semua unit, fokus ke gudang nomor 14 di sektor utara pelabuhan. Target ada di dalam. Ingat, keselamatan sandera adalah prioritas utama. Jangan lakukan tembakan peringatan jika tidak diperlukan!"
Di Dalam Gudang Tua
Dita masih terduduk lemas di kursi kayu. Air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak perih di pipinya. Setiap kali Gareng melangkah mendekat, tubuhnya gemetar hebat. Namun, di tengah ketakutannya, pikirannya justru melayang jauh kepada Angga.
‘Angga... kumohon bertahanlah. Maafkan aku... karena aku kamu jadi terluka seperti itu,’ batin Dita tersedu.
Bayangan wajah Angga yang pucat pasi dan bersimbah darah terus berputar di kepalanya, membuatnya merasa seperti orang paling berdosa di dunia.
Ia kemudian menatap tas sekolahnya yang tergeletak tak jauh di atas meja berkarat. Ia tahu ponselnya ada di sana. Dita memejamkan mata, merapal doa dengan bibir yang gemetar.
‘Pak Juna... tolong temukan aku. Aku tahu kamu pasti bisa melacak ku. Tolong... cepatlah datang,’ harapnya dalam hati.
Harapannya kini sepenuhnya bertumpu pada pria yang baru beberapa hari menjadi suaminya itu.
Tiba-tiba, suara derap sepatu lars yang samar terdengar dari luar gudang. Gareng yang sedang asyik menghitung lembaran uang di sudut ruangan langsung tersentak. Ia menyambar senjatanya dan menoleh ke arah pintu besar yang tertutup rapat.
"Heh! Kalian lihat ke luar! Sepertinya ada tamu tak diundang," perintah Gareng pada anak buahnya dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Dita menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, bantuan mungkin sudah tiba, namun ia juga tahu bahwa saat-saat seperti ini adalah saat yang paling berbahaya bagi nyawanya.
"Jangan bergerak, Nona manis. Kalau polisi itu berani masuk, kepala mu ini yang akan jadi jaminannya," bisik Gareng sambil menempelkan moncong pisaunya ke leher Dita, membuat Dita mematung dengan mata terbelalak ketakutan.
*
*
Suasana di sekitar gudang tua di kawasan pelabuhan itu mendadak mencekam. Tim taktis di bawah komando Arjuna sudah mengepung setiap sudut. Angin laut yang dingin berhembus, membawa bau karat dan garam yang menyengat. Arjuna, dengan rompi anti peluru dan tatapan mata yang setajam elang, memberikan komando terakhir melalui earpiece nya.
"Sektor satu siap. Masuk dalam hitungan tiga. Satu... dua... tiga."
Brak!
Pintu besi besar gudang didobrak paksa, menciptakan dentuman keras yang menggema. Asap dan debu membubung tinggi, disusul jeritan panik anak buah Gareng. Tim taktis merangsek masuk dengan gerakan cepat dan terukur, melumpuhkan satu per satu penjahat yang mencoba melawan.
Di tengah kekacauan itu, Gareng yang menyadari posisinya terpojok, langsung menyeret Dita dan menempelkan pisau belati tajam ke lehernya. Matanya liar menatap sekeliling.
"JANGAN BERGERAK! Atau gadis ini mati!" teriak Gareng parau, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan.
Arjuna muncul dari balik tumpukan kontainer tua, senjatanya terarah lurus ke kepala Gareng. "Lepaskan dia, Gareng! Kau sudah kalah!" bentak Arjuna, suaranya dingin dan mematikan.
Gareng menyeringai licik. "Mundur, Polisi! Aku tahu kau peduli pada jal*ng kecil ini."
Arjuna perlahan menurunkan senjatanya, mencoba mengulur waktu dan mencari celah. Dita, yang wajahnya pucat pasi dan bermandikan air mata, menatap Arjuna penuh harap. Lakban di mulutnya meredam isakan nya, namun matanya memancarkan ketakutan yang mendalam.
Dalam sepersekian detik yang menegangkan, saat perhatian Gareng sedikit teralih oleh gerakan salah satu anggota tim taktis di sudut ruangan, Arjuna bergerak secepat kilat. Ia menerjang maju, melayangkan tendangan keras yang berhasil menjatuhkan pisau dari tangan Gareng. Dita terlepas dari cengkeraman Gareng dan jatuh tersungkur di lantai.
Gareng yang murka tidak tinggal diam. Ia segera menyerang Arjuna dengan pukulan mentahnya. Terjadilah duel satu lawan satu yang sangat brutal di antara tumpukan barang bekas. Arjuna dengan teknik beladiri yang mumpuni, berhasil mendaratkan beberapa pukulan telak di wajah dan perut Gareng.
Namun, Gareng yang licin dan licik, diam-diam meraih sebilah pisau belati lain yang tersembunyi di balik pinggangnya. Saat Arjuna lengah, Gareng melayangkan tusukan mematikan ke arah dada Arjuna.
Srettt!
Arjuna, dengan refleks yang luar biasa, berhasil mengelak, namun pisau belati itu menyayat lengan kanannya cukup dalam. Darah segar merah pekat langsung merembes cepat membasahi seragamnya dan menetes ke lantai gudang yang kotor.
"ARJUNAAA!" teriak Dita histeris, lakban di mulutnya terlepas saat ia berteriak. Pemandangan itu, darah yang mengalir dari lengan pria yang mencoba melindunginya, secara traumatis mengingatkannya pada Angga yang juga terluka parah di hadapannya tak lama sebelumnya. Dita menangis sesenggukan, tubuhnya bergetar hebat.
Arjuna meringis menahan perih yang luar biasa di lengannya. Ia menelan ludah, berusaha mengabaikan rasa sakit yang kian menjalar. Ia menatap Gareng dengan tatapan penuh dendam.
"Hanya itu kemampuanmu, Gareng?" tantang Arjuna, suaranya parau namun penuh tekad.
Gareng yang melihat Arjuna terluka, tertawa licik. "Ternyata polisi sombong ini juga bisa berdarah." Ia kembali menyerang Arjuna dengan pisaunya.
Duel kembali berlanjut dengan kemampuan yang lebih tinggi. Arjuna, meski dengan tangan kanan yang terluka parah, tetap bertarung dengan gigih. Ia menggunakan tangan kirinya dan kakinya untuk menangkis serangan Gareng dan mencari celah untuk melumpuhkannya.
Akhirnya, dalam sebuah kesempatan, Arjuna berhasil menangkap tangan Gareng yang memegang pisau. Ia menggunakan teknik kuncian yang mematikan, membuat Gareng mengerang kesakitan dan menjatuhkan pisaunya. Arjuna kemudian mendaratkan pukulan telak di rahang Gareng, membuatnya jatuh pingsan tak sadarkan diri di lantai gudang.
Gareng berhasil ditumbangkan. Tim taktis segera merangsek masuk dan memborgol Gareng serta anak buahnya yang lain.
Arjuna, dengan napas tersengal dan wajah yang pucat, segera menghampiri Dita yang masih menangis histeris di lantai. Ia berlutut di depannya, menggunakan tangan kirinya untuk mengusap air mata Dita.
"Kau... kau tidak apa-apa?" tanya Arjuna lembut, suaranya parau menahan sakit di lengannya.
Dita menatap lengan kanan Arjuna yang bersimbah darah. Air matanya mengalir semakin deras. "Kenapa... kenapa harus terluka? Angga juga... kenapa semua orang yang melindungi ku harus terluka?" tangis Dita tersedu.
Arjuna tersenyum tipis, mencoba menenangkan Dita. "Aku tidak apa-apa, Dita. Ini hanya luka kecil. Yang penting kau selamat."
Tepat saat itu, mobil ambulans tiba dengan sirine yang membelah keheningan pelabuhan. Petugas medis segera turun dan menangani Arjuna dan Dita.
Arjuna, dengan tangan kanan yang dibalut perban tebal, menatap Dita yang sedang ditenangkan oleh salah satu petugas medis. Ia menghela napas panjang, bersyukur Dita selamat, namun juga merasa bersalah karena telah membuat Dita mengalami trauma yang mendalam.
Gareng dan komplotannya berhasil ditangkap, namun bagi Arjuna dan Dita, hari ini akan menjadi hari yang tak terlupakan, hari di mana mereka harus berhadapan langsung dengan maut dan menyaksikan darah yang tertumpah demi kebenaran dan perlindungan.
Bersambung...
ini lagi satu ulet bulu blom kapok jg yah ganggu rumah tangga orang tau rasa lu d usir sama.juna huuh 😤😤
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna