NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

paginya seneng malemnya sedih

Pagi itu matahari baru saja naik, sinarnya masuk perlahan melalui celah tirai apartemen yang belum sepenuhnya tertutup. Suasana masih sangat tenang, bahkan cenderung hening.

‎Kania adalah orang pertama yang bangun.

‎Ia keluar dari kamarnya dengan langkah santai, masih menguap kecil. Rambutnya sedikit berantakan, tapi matanya langsung terbuka lebar saat melihat ke arah ruang tengah.

‎Di sofa panjang itu…

‎Yoga dan Bella tertidur.

‎Bukan sekadar duduk.

‎Mereka berpelukan.

‎Kepala Bella berada di dada Yoga, sementara tangan Yoga melingkar di tubuh Bella seolah melindungi. Posisi mereka sangat dekat… terlalu dekat untuk sekadar “teman”.

‎Kania membeku beberapa detik.

‎Lalu…

‎Senyum jahil perlahan muncul di wajahnya.

‎“Wah… ini sih kesempatan emas,” gumamnya pelan.

‎Ia berjalan mendekat dengan langkah super hati-hati, seperti pencuri profesional. Tangannya menutup mulut sendiri agar tidak tertawa.

‎Ia berdiri tepat di depan mereka.

‎Memperhatikan wajah kakaknya… lalu Bella.

‎Keduanya tertidur pulas.

‎Damai.

‎Lucu.

‎Dan… sangat menggoda untuk dikerjai.

‎Kania langsung lari kecil ke kamarnya.

‎Beberapa detik kemudian ia kembali… membawa sesuatu.

‎Lipstik.

‎“Maaf ya kak… demi hiburan pagi hari,” bisiknya dengan senyum licik.

‎Ia berjongkok di depan mereka.

‎Perlahan… sangat perlahan…

‎Ia mulai menggambar di wajah Yoga.

‎Pertama, kumis tipis.

‎Lalu dilanjutkan dengan kumis tebal.

‎Lalu… jenggot.

‎Tidak cukup sampai di situ, ia menambahkan titik-titik di pipi seperti karakter kartun.

‎Kania menahan tawa sampai bahunya bergetar.

‎“Ganteng banget…” bisiknya sambil menutup mulut.

‎Setelah puas dengan karya di wajah Yoga, ia beralih ke Bella.

‎“Kalau yang ini… harus lebih lucu,” gumamnya.

‎Ia mulai menggambar.

‎Pipi bulat.

‎Hidung kecil.

‎Lalu garis-garis seperti kumis kucing.

‎Tambahan lingkaran di bawah mata.

‎Dan terakhir… hati kecil di pipi.

‎Kania mundur sedikit.

‎Melihat hasilnya.

‎Beberapa detik hening.

‎Lalu—

‎Ia hampir meledak tertawa.

‎“Ini sih bukan manusia lagi…” bisiknya sambil menahan diri.

‎Namun… belum cukup.

‎Matanya berbinar lagi.

‎“Kurang chaos.”

‎Ia langsung mengambil satu botol minum yang ada di meja.

‎Mengisi ulang dengan air hangat… tapi agak panas.

‎Lalu kembali mendekat.

‎Ia melihat posisi mereka.

‎Senyumnya makin lebar.

‎Dengan hati-hati…

‎ia menyelipkan botol itu di antara tubuh Bella dan Yoga.

‎Tepat di tengah.

‎Beberapa detik…

‎Tidak ada reaksi.

‎Lalu—

‎Yoga sedikit bergerak.

‎Alisnya mengernyit.

‎Bella juga mulai menggerakkan tubuhnya.

‎Beberapa detik kemudian—

‎“Eh… panas…” gumam Bella setengah sadar.

‎Yoga langsung membuka mata. “Apaan sih…”

‎Keduanya refleks menjauh sedikit.

‎Dan saat itulah—

‎Mereka saling melihat.

‎Hening.

‎Satu detik.

‎Dua detik.

‎Tiga detik.

‎Lalu—

‎Yoga langsung tertawa.

‎“HAHAHAHA!”

‎Bella kaget. “Apaan sih kamu—”

‎Ia berhenti.

‎Melihat wajah Yoga.

‎Dengan jelas.

‎Kumis. Jenggot. Coretan aneh di mana-mana.

‎Bella langsung menutup mulut.

‎Lalu—

‎Ia ikut tertawa.

‎“HAHAHAHA! Ya Tuhan, muka kamu apaan itu!”

‎Yoga masih tertawa. “Lihat muka kamu dulu!”

‎Bella refleks menyentuh wajahnya. “Apaan? Nggak ada apa—”

‎Ia langsung mengambil ponsel di meja.

‎Membuka kamera depan.

‎Dan—

‎“YA AMPUN!”

‎Bella langsung tertawa lebih keras.

‎“Ini siapa?!”

‎Yoga menunjuk. “Itu kamu!”

‎Bella memukul pelan lengan Yoga. “Kamu juga nggak kalah aneh!”

‎Mereka berdua tertawa.

‎Saling menunjuk.

‎Saling mengejek.

‎Namun bukannya marah…

‎suasana justru hangat.

‎Penuh tawa.

‎Bella mendekat sedikit, masih tertawa. “Sumpah… kamu jelek banget sekarang.”

‎Yoga mendekat juga. “Kamu lebih parah.”

‎Bella mendorong pelan bahu Yoga. “Nggak!”

‎Yoga menahan tangannya. “Iya.”

‎Tawa mereka perlahan berubah menjadi lebih pelan.

‎Tatapan mereka bertemu.

‎Masih dekat.

‎Masih tersenyum.

‎Dan tanpa sadar… suasana jadi berbeda.

‎Lebih lembut.

‎Lebih… romantis.

‎Namun—

‎“TADA!”

‎Suara keras memecah suasana.

‎Kania berdiri di belakang mereka dengan ekspresi bangga.

‎“Selamat pagi pasangan paling mesra!”

‎Bella langsung kaget. “KANIA?!”

‎Yoga menghela napas. “Pantes…”

‎Kania tertawa puas. “Keren kan hasil karya aku?”

‎Bella langsung berdiri, masih memegang ponselnya. “Ini kamu yang gambar?!”

‎Kania mengangguk. “Iya dong.”

‎Yoga menggeleng. “Nggak ada kerjaan banget…”

‎Kania malah bangga. “Seni itu nggak semua orang ngerti, Kak.”

‎Bella langsung berjalan cepat ke arah kamar mandi. “Aku hapus dulu!”

‎Yoga ikut bangkit. “Aku juga.”

‎Beberapa menit kemudian—

‎“KENAPA NGGAK HILANG?!”

‎Suara Bella terdengar panik dari dalam.

‎Yoga juga keluar dari kamar mandi dengan wajah masih penuh coretan.

‎“Ini apaan sih?!”

‎Kania santai bersandar di tembok. “Oh iya… aku lupa bilang.”

‎Bella menoleh tajam. “Apa lagi?!”

‎Kania tersenyum lebar. “Itu lipstik waterproof.”

‎Hening.

‎Bella dan Yoga saling menatap.

‎Lalu kembali ke Kania.

‎“APA?!”

‎Kania mengangkat bahu santai. “Aku juga nggak punya makeup remover.”

‎Bella langsung memegang kepalanya. “Ya Tuhan…”

‎Yoga menghela napas panjang. “Berarti kita keluar gini?”

‎Kania mengangguk. “Lucu kok.”

‎Bella menatap Yoga.

‎Yoga menatap Bella.

‎Beberapa detik…

‎Lalu—

‎Mereka tertawa lagi.

‎Bella menutup wajahnya. “Malu banget…”

‎Yoga tersenyum, lalu mendekat sedikit. “Udah, nggak apa-apa.”

‎Bella melirik. “Serius?”

‎Yoga mengangguk. “Selama sama kamu… aman.”

‎Bella langsung diam.

‎Pipinya memerah.

‎Kania di belakang langsung nyeletuk, “Ih… masih sempet romantis.”

‎Bella langsung mengambil bantal dan melempar ke arah Kania. “Kamu tuh ya!”

‎Kania menghindar sambil tertawa. “Pagi-pagi udah seru banget!”

‎Dan pagi itu—

‎dipenuhi tawa, kejahilan, dan sedikit rasa malu.

‎Namun di balik semua itu…

‎ada sesuatu yang semakin jelas.

‎Mereka tidak lagi hanya “berpura-pura”.

‎Karena bahkan dalam keadaan paling absurd sekalipun…

‎mereka tetap bisa tertawa bersama.

‎...........

‎Pagi itu masih dipenuhi sisa-sisa tawa.

‎Bella dan Yoga berdiri di ruang tengah dengan wajah penuh coretan lipstik yang belum bisa hilang. Bella beberapa kali mencoba menggosok pipinya dengan tisu basah, tapi hasilnya nihil—malah semakin berantakan.

‎“Ini kenapa malah makin aneh sih…” keluh Bella sambil bercermin di layar ponselnya.

‎Yoga di sampingnya menghela napas panjang. “Aku udah nyerah. Mau diapain juga kayaknya tetap begini.”

‎Kania yang duduk santai di sofa malah menahan tawa. “Lucu banget, sumpah. Kayak karakter kartun gagal.”

‎Bella melotot. “Kania!”

‎Belum sempat Bella melanjutkan protes—

‎Tiba-tiba terdengar suara bel apartemen.

‎Ting tong.

‎Semua menoleh.

‎Yoga mengernyit. “Pagi-pagi siapa sih…”

‎Kania langsung berdiri dengan semangat. “Aku buka!”

‎Bella langsung panik. “Eh jangan dulu!”

‎Namun sudah terlambat.

‎Pintu terbuka.

‎Dan di balik pintu…

‎Rafi dan Andre berdiri santai.

‎“Pagi—”

‎Kalimat Rafi langsung terhenti.

‎Andre juga membeku.

‎Keduanya menatap ke dalam.

‎Beberapa detik hening.

‎Lalu—

‎“HAHAHAHAHAHA!”

‎Rafi langsung terbahak-bahak.

‎Andre sampai menepuk pintu sambil tertawa keras. “Ya ampun… ini apaan?!”

‎Bella langsung menutup wajahnya. “Jangan lihat!”

‎Yoga menutup mata sejenak, menahan malu. “Kania…”

‎Kania malah berdiri di belakang sambil tersenyum puas. “Silakan masuk, tontonan gratis.”

‎Rafi masuk sambil masih tertawa. “Bro… lo abis ikut lomba apa?”

‎Andre ikut masuk. “Ini bukan CEO lagi, ini badut keliling!”

‎Yoga langsung menatap tajam. “Udah cukup belum?”

‎Rafi menunjuk wajah Yoga. “Nggak! Ini masterpiece!”

‎Andre menambahkan, “Serius, ini kumis siapa yang gambar? Artistik banget!”

‎Kania mengangkat tangan bangga. “Aku.”

‎Rafi langsung menoleh. “Gila, bakat terpendam.”

‎Bella masih menutup wajahnya. “Aku mau ngilang aja…”

‎Rafi langsung mendekat ke Bella. “Eh jangan! Yang ini juga lucu banget!”

‎Bella refleks mundur. “Jangan dekat-dekat!”

‎Andre ikut mendekat, menahan tawa. “Ini pipi apa donat sih bulat banget.”

‎Bella langsung mengambil bantal dan melempar ke arah mereka. “Kalian berdua diem!”

‎Rafi menghindar sambil tertawa. “Galak banget sih, padahal lagi imut.”

‎Yoga menghela napas panjang. “Kalian ke sini ngapain sebenarnya?”

‎Rafi masih menahan tawa. “Mau ngecek lo… tapi ternyata dapat bonus.”

‎Andre mengangguk. “Bonus hiburan pagi.”

‎Kania duduk santai sambil menikmati. “Aku juga nggak nyangka bakal seseru ini.”

‎Bella menoleh tajam ke Kania. “Kamu tuh…”

‎Yoga mendekat ke Bella pelan. “Udah… percuma marah.”

‎Bella menoleh ke Yoga. “Ini semua gara-gara kamu juga!”

‎Yoga mengernyit. “Aku tidur, salahku di mana?”

‎Bella menunjuk wajahnya. “Lihat ini!”

‎Yoga menatap wajah Bella beberapa detik.

‎Lalu—

‎Ia tersenyum.

‎Bella langsung curiga. “Apa?”

‎Yoga menahan tawa. “Lucu.”

‎Bella membeku.

‎“Yoga!”

‎Rafi langsung bersiul. “Wah… tetep dibela.”

‎Andre menepuk bahu Yoga. “Ini baru bucin sejati.”

‎Bella memukul pelan lengan Yoga. “Kamu juga sama aja!”

‎Yoga tertawa kecil, lalu tanpa sadar… meraih tangan Bella.

‎“Udah, santai.”

‎Bella diam.

‎Tatapan mereka bertemu.

‎Suasana sedikit berubah.

‎Namun—

‎“CIHUUU!”

‎Rafi dan Andre kompak bersuara.

‎Bella langsung menarik tangannya. “Apaan sih kalian!”

‎Andre menunjuk mereka berdua. “Ini udah level parah.”

‎Rafi mengangguk. “Dari sakit sampai muka kayak gini aja tetap romantis.”

‎Kania tertawa. “Setuju.”

‎Yoga mulai kesal. “Kalian berdua selesai belum?”

‎Rafi masih nyengir. “Belum. Ini momen langka.”

‎Andre langsung mengambil ponselnya. “Foto dulu.”

‎“JANGAN!” Bella dan Yoga kompak.

‎Klik.

‎Terlambat.

‎Andre sudah memotret.

‎Rafi langsung mendekat. “Sini gue juga.”

‎Klik.

‎Klik.

‎Bella hampir teriak. “Hapus!”

‎Andre menggeleng santai. “Kenangan.”

‎Rafi menambahkan, “Buat undangan nikahan nanti.”

‎Yoga langsung mengambil bantal dan melempar ke arah mereka. “KELUAR!”

‎Andre menghindar sambil tertawa. “Oke oke, kita cabut.”

‎Rafi masih tertawa sambil mundur ke arah pintu. “Jangan lupa kirim foto prewedding ya!”

‎Bella menutup wajahnya lagi. “Aku malu banget…”

‎Pintu akhirnya tertutup.

‎Suasana kembali hening.

‎Bella masih diam.

‎Yoga menoleh ke arahnya.

‎Pelan.

‎Ia menarik tangan Bella lagi.

‎“Kamu kenapa?”

‎Bella menggeleng kecil. “Malu…”

‎Yoga tersenyum tipis. “Aku juga.”

‎Bella menoleh. “Terus kenapa kamu santai?”

‎Yoga mendekat sedikit.

‎“Karena kamu juga kayak gini.”

‎Bella terdiam.

‎Beberapa detik.

‎Lalu—

‎Ia tertawa kecil.

‎Yoga ikut tersenyum.

‎Di belakang, Kania berbisik pelan ke dirinya sendiri, “Mereka malah makin lengket…”

‎Dan pagi itu—

‎meski penuh kejahilan, tawa, dan rasa malu—

‎justru membuat hubungan mereka…

‎semakin dekat.

‎......  ... ..

‎Siang itu suasana apartemen masih dipenuhi sisa tawa pagi tadi, meski wajah Bella dan Yoga sudah jauh lebih bersih—walaupun bekas samar coretan masih terlihat jika diperhatikan.

‎Bella sedang duduk di sofa, memegang segelas air, sesekali melirik ke arah Yoga yang berdiri di dekat jendela, menerima telepon singkat dari seseorang.

‎Nada suaranya berubah lebih serius.

‎“Iya, saya mengerti… nanti saya urus.”

‎Panggilan berakhir.

‎Bella langsung merasa ada yang berbeda.

‎“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.

‎Yoga belum sempat menjawab—

‎Tiba-tiba pintu apartemen terbuka.

‎Sosok yang masuk membuat suasana langsung berubah.

‎Ayah Yoga.

‎Aura tegasnya langsung terasa.

‎Yoga berdiri tegak. “Ayah.”

‎Bella ikut berdiri, sedikit canggung. “Om…”

‎Ayah Yoga mengangguk singkat, lalu langsung ke inti. “Yoga, kamu harus ke Bandung.”

‎Hening.

‎Bella langsung menoleh cepat ke arah Yoga.

‎Yoga mengernyit. “Sekarang?”

‎Ayahnya mengangguk. “Ada masalah di kantor pusat. Proyek besar terganggu. Orang yang pegang di sana tidak bisa mengatasinya.”

‎Yoga terdiam beberapa detik.

‎Bella bisa melihat… ini bukan hal kecil.

‎“Kapan harus berangkat?” tanya Yoga akhirnya.

‎“Secepatnya. Kalau bisa malam ini.”

‎Kalimat itu…

‎langsung membuat dada Bella terasa sesak.

‎Malam ini.

‎Terlalu cepat.

‎Yoga menghela napas panjang. “Baik, Yah. Saya berangkat malam ini.”

‎Ayahnya mengangguk puas. “Bagus. Ayah percaya sama kamu.”

‎Setelah itu, ayahnya melirik Bella sekilas. Tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk tipis sebelum berbalik keluar.

‎Pintu kembali tertutup.

‎Sunyi.

‎Bella masih berdiri di tempat.

‎Yoga menoleh ke arahnya.

‎Tatapan mereka bertemu.

‎Beberapa detik… tanpa kata.

‎“Kamu… harus pergi?” suara Bella pelan.

‎Yoga mendekat. “Iya.”

‎Bella menunduk. “Cepat banget…”

‎Yoga mengangkat dagu Bella pelan agar ia menatapnya. “Cuma sebentar.”

‎Bella menggeleng kecil. “Tetap aja… jauh.”

‎Yoga tersenyum tipis, berusaha menenangkan. “Bandung doang, bukan luar negeri.”

‎Bella mencoba tersenyum, tapi tidak berhasil sepenuhnya. “Tetap jauh…”

‎Yoga menarik napas pelan. “Aku harus beresin ini cepat, biar bisa balik ke kamu.”

‎Kalimat itu membuat Bella diam.

‎Hatinya hangat… tapi juga berat.

‎“Berapa lama?” tanyanya lagi.

‎“Secepatnya. Aku usahain nggak lama.”

‎Bella menggigit bibirnya. “Janji?”

‎Yoga mengangguk. “Janji.”

‎Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.

‎Sore berubah menjadi malam.

‎Koper sudah siap.

‎Suasana apartemen berubah sunyi dan berat.

‎Bella berdiri di dekat pintu, sementara Yoga merapikan jam tangannya.

‎Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

‎Hanya suara napas.

‎“Aku nggak suka ini…” gumam Bella pelan.

‎Yoga menoleh. “Apa?”

‎“Perpisahan.”

‎Yoga tersenyum kecil, lalu mendekat. “Ini bukan perpisahan.”

‎Bella menatapnya. “Tetap aja rasanya kayak gitu.”

‎Yoga berdiri tepat di depannya. Jarak mereka sangat dekat.

‎“Dengerin aku,” ucapnya pelan.

‎Bella mengangkat wajahnya.

‎“Aku pergi bukan buat ninggalin kamu.”

‎Bella terdiam.

‎“Aku pergi supaya bisa balik ke kamu.”

‎Kalimat itu membuat mata Bella mulai berkaca-kaca.

‎“Jangan nangis…” bisik Yoga.

‎Namun air mata itu tetap jatuh.

‎Satu.

‎Lalu satu lagi.

‎“Gimana kalau kamu lupa…” suara Bella bergetar.

‎Yoga langsung menggeleng tegas. “Nggak mungkin.”

‎“Gimana kalau kamu sibuk terus…”

‎“Aku tetap akan cari waktu buat kamu.”

‎“Gimana kalau—”

‎Yoga memotong dengan lembut.

‎“Bella.”

‎Bella diam.

‎Yoga mengusap air matanya dengan ibu jari. “Aku di sini.”

‎Bella menatapnya.

‎“Aku nggak ke mana-mana,” lanjut Yoga.

‎“Cuma… lagi ada kerjaan.”

‎Bella akhirnya mengangguk pelan, meski air matanya belum berhenti.

‎Yoga tersenyum tipis. “Kamu harus kuat.”

‎Bella mengerucutkan bibirnya. “Aku kuat kok…”

‎Yoga mengangkat alis. “Tapi nangis.”

‎Bella memukul pelan dada Yoga. “Ini beda.”

‎Yoga tertawa kecil, lalu menarik Bella ke dalam pelukannya.

‎Erat.

‎Hangat.

‎Bella langsung memeluk balik.

‎Lebih erat.

‎Seolah tidak mau melepas.

‎“Aku bakal kangen…” bisik Bella.

‎Yoga memejamkan mata sejenak. “Aku juga.”

‎Bella semakin menempel. “Cepet pulang.”

‎Yoga mengangguk pelan di atas kepala Bella. “Iya.”

‎Beberapa detik mereka hanya diam… saling memeluk.

‎Menikmati waktu yang tersisa.

‎Sebelum akhirnya—

‎Yoga sedikit menjauh.

‎Menatap wajah Bella.

‎Masih ada sisa air mata di sana.

‎Yoga mengusapnya lagi.

‎Pelan.

‎Lalu tanpa banyak kata—

‎ia mencium kening Bella.

‎Lama.

‎Penuh makna.

‎Bella memejamkan mata.

‎Merasakan.

‎Menyimpan momen itu.

‎Saat Yoga menjauh, Bella langsung menggenggam tangannya.

‎“Jaga diri kamu…”

‎Yoga mengangguk. “Kamu juga.”

‎Bella menarik napas. “Jangan sakit lagi.”

‎Yoga tersenyum. “Iya, Dokter Bella.”

‎Bella sedikit tertawa di sela tangisnya.

‎Yoga melangkah ke pintu.

‎Tangannya masih digenggam Bella beberapa detik.

‎Seolah berat untuk dilepas.

‎Namun akhirnya—

‎perlahan… terlepas.

‎Yoga membuka pintu.

‎Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.

‎Bella masih berdiri di sana.

‎Matanya

‎merah.

‎Tapi tersenyum kecil.

‎“Cepet pulang,” ucap Bella lagi.

‎Yoga mengangguk. “Tunggu aku.”

‎Pintu tertutup.

‎Dan malam itu…

‎untuk pertama kalinya sejak mereka dekat—

‎mereka benar-benar terpisah jarak.

‎Namun perasaan itu…

‎justru terasa semakin dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!