Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis itu
Angin sore yang bertiup kencang membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menerpa tubuh ramping Arumi tanpa ampun. Namun, gadis itu sama sekali tidak memedulikannya. Ia berdiri tegak, atau lebih tepatnya, berusaha tampil tegak di depan pintu masuk restoran mewah milik Nathan, tempat yang dulu sering menjadi saksi tawa dan kebahagiaan mereka. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya, kuku-kukunya hampir menancap ke dalam daging telapak tangan, berusaha sekuat tenaga menahan emosi yang sudah memuncak bak gunung berapi yang siap meletus.
Ia hanya mengenakan kaos polos hitam yang agak longgar, dipadukan dengan celana jeans biru tua dan sepasang sepatu kets putih yang sudah sedikit terlihat bekas pakainya, pakaian sederhana yang dulu sering di puji Nathan saat mereka bersama. Rambut hitam panjangnya diikat kuda tinggi dengan sembarangan, membuat beberapa helai rambut liar menerpa wajahnya yang pucat pasi, seolah mencoba menyembunyikan ekspresi kesedihan yang terpancar jelas di sana.
Meskipun tampil sederhana, bahkan bisa dibilang tanpa riasan sedikit pun, aura kecantikannya tidak luntur sama sekali. Justru di tengah situasi yang menyakitkan ini, wajah cantiknya itu tampak begitu rapuh, seolah mudah sekali hancur menjadi serbuk debu jika tersentuh sedikit saja. Ada kesedihan mendalam yang terukir di setiap garis wajahnya, sebuah luka batin yang baru saja mulai terbuka lebar.
"Kenapa kalian melarangku masuk?" tanya Arumi, suaranya terdengar bergetar hebat, hampir tak terdengar jelas di tengah deru angin. Ia menatap dua orang satuan keamanan yang berdiri kokoh di hadapannya dengan tatapan memohon namun juga menyimpan rasa kesal yang mendalam yang sulit disembunyikan.
"Maaf, Nona Arumi," jawab salah satu satpam dengan nada sopan namun tegas, matanya sedikit menghindari tatapan gadis itu. Ia terlihat sangat tidak nyaman harus melakukan tugas ini, seolah ia tahu betapa menyakitkannya apa yang sedang terjadi pada gadis di depannya. "Tapi memang Tuan Nathan yang memerintahkan demikian secara tegas. Beliau bilang, kalau Nona datang, kami harus mengusir Nona dan tidak boleh membiarkan Nona melangkah masuk sedikit pun ke dalam area restoran ini."
Kata-kata itu meluncur dari mulut satpam itu, namun bagi Arumi, rasanya seperti tamparan keras yang mendarat tepat di pipinya. Wajahnya yang tadi sudah pucat kini berubah menjadi lebih pucat lagi, bahkan hampir menyerupai kertas putih. Darah seolah surut seluruhnya dari wajahnya, membuatnya merasa pusing dan mual seketika.
"Kurang ajar ya dia!" seru Arumi, suaranya meninggi tajam karena emosi yang tak lagi bisa ditahannya. Genggaman tangannya semakin erat, hingga buku-buku jarinya memutih. "Setelah dia tiba-tiba memblokir nomor ponselku tanpa alasan yang jelas! Setelah dia menghapusku dari semua akun media sosialnya, seolah aku tidak pernah ada dalam hidupnya! Sekarang dia juga melarangku datang ke tempatnya? Setelah semua yang sudah kuberikan padanya, waktuku, perasaanku, bahkan diriku sendiri. ini balasannya? Ini caranya dia mengakhiri segalanya? Tanpa penjelasan? Tanpa pamit?"
Matanya yang indah perlahan berkaca-kaca, air mata mulai menggenang di pelupuk mata, siap jatuh kapan saja seperti air bah yang siap meluap. Dadanya terasa sesak, sangat sesak, seolah ada batu besar yang menimpanya dan menghalangi setiap helai udara yang ingin ia hirup. Rasa sakit, kecewa, marah, dan bingung bercampur aduk menjadi satu, menciptakan kekacauan yang dahsyat di dalam hatinya, merobek-robek perasaannya tanpa ampun.
Namun, sebelum air matanya sempat jatuh membasahi pipi, pandangannya tiba-tiba menangkap sosok yang sangat ia rindukan di balik pintu kaca restoran yang terbuka sedikit. Itu Nathan! Pria itu sedang berjalan melewati lobi, langkahnya tegap dan anggun, seolah sedang memeriksa tempatnya dengan penuh perhatian. Penampilannya masih sama seperti dulu, sempurna, mempesona, dan membuat jantung Arumi berdegup kencang, meskipun kali ini degupannya terasa begitu menyakitkan.
"Nathan!" seru Arumi sekuat tenaga, suaranya memecah kebisingan lalu lintas dan deru angin di sekitar mereka. Ia melangkah maju dengan cepat, berniat menghampiri pria itu, berniat menuntut penjelasan, namun tubuhnya terhalang kasar oleh tubuh kekar para satpam yang berdiri di depannya.
Mendengar teriakan itu, langkah Nathan terhenti mendadak. Ia perlahan menolehkan kepalanya, dan akhirnya, tatapan mereka bertemu. Jarak di antara mereka terasa begitu dekat, namun juga terasa begitu jauh, seolah ada dinding tebal yang memisahkan mereka.
Arumi menatapnya dengan penuh harap, matanya memohon penjelasan, memohon alasan mengapa pria yang dulu begitu mencintainya, yang selalu berkata bahwa Arumi adalah segalanya baginya, tiba-tiba berubah menjadi orang asing yang dingin dan tak berperasaan. Ia berharap melihat rasa rindu di mata Nathan, berharap melihat penyesalan, atau setidaknya sebuah alasan yang bisa ia terima.
Namun, apa yang ia temukan di mata Nathan bukanlah kehangatan, bukan juga rasa rindu, dan bukan pula penyesalan. Itu adalah tatapan nanar, kosong, dan hampa. Tatapan itu seolah menembus dirinya, seolah Arumi hanyalah bayangan yang tidak penting, atau bahkan lebih buruk lagi, seolah Arumi adalah sosok yang ingin ia lupakan selamanya, sosok yang tidak ingin ia ingat lagi. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Nathan yang dulu sering membisikkan kata-kata cinta. Tidak ada senyuman, tidak ada sapaan. Hanya kebisuan yang menyakitkan, kebisuan yang berteriak lebih keras daripada kata-kata.
Beberapa detik yang terasa seperti abad itu berlalu perlahan, setiap detiknya terasa seperti siksaan bagi Arumi. Dan kemudian... Nathan membuang muka. Tanpa ragu, tanpa sedikit pun keraguan. Dengan langkah yang tenang namun tegas, ia berbalik badan dan terus berjalan menjauh, meninggalkan Arumi yang terpaku di sana, seolah keberadaannya sama sekali tidak berarti baginya, seolah ia tidak pernah mengenal gadis itu sebelumnya.
"Nathan!" seru Arumi sekali lagi, kali ini suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan yang mendalam. Suaranya terdengar begitu menyedihkan, memohon agar pria itu berhenti, memohon agar ia tidak pergi. Namun, pria itu tidak menoleh lagi. Ia terus berjalan, langkahnya tak tergoyahkan, hingga akhirnya menghilang dari pandangan Arumi, lenyap di balik lorong restoran yang gelap, meninggalkan Arumi dengan rasa sakit yang tak terbayangkan.
"Sialan!" pekik Arumi, tak mampu lagi menahan dirinya. Tangisnya tiba-tiba pecah, meledak begitu saja seperti bendungan yang jebol. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, menenggelamkan isak tangis yang tertahan begitu lama. Bahunya terguncang hebat menahan rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit karena dikhianati, rasa sakit karena ditinggalkan tanpa alasan, rasa sakit karena cinta yang ia bangun dengan begitu indah tiba-tiba hancur begitu saja.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Arumi membalikkan badan. Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana, di tempat di mana ia merasa begitu dihargai dulu, di tempat di mana ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa, namun kini merasa begitu dibuang, begitu tidak berharga. Dengan langkah yang berat dan gemetar, ia berjalan menjauh dari restoran Nathan, meninggalkan kenangan manis dan rasa sakit yang tertinggal di belakangnya, sementara angin sore terus menerpa tubuh kecilnya yang semakin rapuh, seolah ikut merasakan kesedihan yang mendalam yang sedang melanda jiwanya.