NovelToon NovelToon
TANGIS TERAKHIR

TANGIS TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emily

Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.

Dunia seakan runtuh saat itu juga.

Hancur. Pedih. Perih...

Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.

Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENCAN PERTAMA/VISUAL

Angin malam berhembus lembut saat pintu lift terbuka langsung di lantai rooftop Hotel Emerald. Dante melangkah keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya. Layaknya pria sejati pada kekasihnya.

"Selamat datang di tempat favoritku," bisik Dante saat Mikha menyambut tangannya.

Mikha terpaku. Seluruh area rooftop telah dikosongkan khusus untuk mereka saja. Di tengah-tengah rooftop yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Jakarta, sebuah meja bundar telah ditata sempurna dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga mawar putih kesukaan Mikha. Alunan musik saxophone yang lembut terdengar samar di latar belakang, menambah kesan romantis.

"Dante... ini terlalu indah," ucap Mikha pelan, matanya berbinar menatap pemandangan Jakarta dari ketinggian menara hotel berbintang itu.

Dante menarik kursi untuk Mikha dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. "Harus yang terbaik untuk kencan pertama kita, Mikha. Malam ini Emerald bukan saja milikku, tapi milikmu juga", ucap Dante mendalam penuh perasaan.

Mendengar itu membuat wajah Mikha berbinar. "Ternyata kamu sangat romantis sekali. Aku akan cemburu buta jika kau memperlakukan wanita lain seperti ini", ucap Mikhaela tanpa ragu memeluk pinggang kekasihnya itu.

Dua orang pelayan pribadi berseragam rapi muncul membawa menu pembuka wagyu carpaccio  setelah matang dengan sentuhan truffle.

Namun fokus Dante tidak beralih sedikit pun dari wanita di hadapannya. Suasana kaku perlahan mencair saat mereka mulai berbincang, bukan tentang bisnis atau pekerjaan, melainkan tentang mimpi-mimpi kecil yang belum sempat mereka wujudkan.

Saat makanan utama disajikan, Dante mengangkat gelas kristalnya. "Untuk awal yang baru hubungan kita", ucap Dante.

Mikha menyentuhkan gelasnya ke gelas Dante, bunyi denting kaca terdengar merdu. "Untuk awal yang baru", balasnya tersenyum bahagia.

Dante meletakkan gelasnya, lalu berdiri dan berjalan perlahan menghampiri kursi Mikha. Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangan kanannya dengan telapak terbuka, sementara tangan kirinya ia simpan di belakang punggung.

"Aku ingin mengajakmu berdansa. Aku bukan penari yang hebat, tapi aku ingin merasakannya bersama mu", ujar Dante dengan suara rendah yang berat. "Aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berdansa denganmu di bawah langit malam ini. Would you?".

"Dante aku tidak lihai berdansa, jangan salahkan aku jika menginjak kaki mu", ujar Mikha dengan kedua netra membulat menatap Dante.

"No problem. Yang penting kita berdansa".

Mikha tersenyum manis, meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Dante yang hangat. Dante menariknya lembut ke area terbuka di tepi rooftop. Seolah mengerti isyarat sang pemilik hotel, musik saxophone berubah menjadi melodi jazz slow yang lebih intim. Entah siapa yang menjadi operatornya, mungkin Luthfi atau bisa jadi orang-orang hotel. Siapapun mereka pasti tidak akan berani menolak perintah pucuk pimpinan tempat mereka bekerja.

Dante melingkarkan tangannya di pinggang Mikha, sementara Mikha menyandarkan tangannya di bahu kokoh pria itu. Mereka bergerak perlahan, mengikuti irama musik yang tenang. Keduanya tanpa jarak, Mikha bisa mencium aroma maskulin perpaduan sandalwood dan 

citrus dari tubuh Dante. Mikhaela sudah sangat menyukainya.

"Kau tahu?", bisik Dante tepat di dekat telinga Mikha. "Emerald dibangun untuk menjadi tempat paling megah di kota ini. Tapi malam ini, tempat ini terasa jauh lebih hidup karena kau ada di sini, sayang". Dante sudah acap kali memanggil Mikha dengan sebutan sayang.

Mikha mendongak, menatap mata Dante yang tajam namun meneduhkan. Keheningan di antara mereka terasa nyaman, seolah waktu berhenti berputar di puncak gedung yang tinggi itu.

 Dante semakin merapatkan tubuhnya pada Mikha, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Mikha. Sementara Mikha melingkarkan tangannya di leher Dante. Pasangan itu begitu intim. Mikha tidak menolak Dante, karena ia menginginkan.

Lampu-lampu kota di bawah sana seolah meredup, menyisakan cahaya remang dari lilin dan sinar bulan yang menyinari wajah mereka. Dante menunduk, menatap dalam ke mata Mikha dengan tatapan yang sangat intens, bukan lagi tatapan pengusaha dingin yang dikenal publik, melainkan tatapan pria yang sedang jatuh cinta. Sejatuh-jatuhnya ke dasar terdalam relung hatinya.

"Mikha", bisik Dante. Suaranya kini terdengar lebih berat dan serak. "Aku terbiasa mengendalikan segala hal di hidupku. Tapi saat bersamamu, aku merasa tidak keberatan jika harus kehilangan kendali itu".

Mikha merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan hangatnya nafas Dante di keningnya. Tanpa sadar, Mikha menyandarkan kepalanya di dada Dante, mendengarkan detak jantung pria itu yang ternyata sama cepatnya dengan miliknya.

Dante menghentikan langkah dansanya sejenak. Ia mengangkat satu tangannya, perlahan menyelipkan anak rambut Mikha ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut, lalu membiarkan jemarinya mengusap pipi Mikha. Keheningan di atas rooftop itu terasa begitu manis, seolah dunia hanya milik mereka berdua malam itu.

"Aku mencintaimu Mikhaela..."

Dante menghentikan gerakan sepenuhnya, namun tangannya masih melingkar di pinggang Mikha. Sesaat kemudian laki-laki itu merogoh saku jas-nya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam yang elegan.

"Aku ingin kau memiliki ini," bisik Dante seraya membuka kotak tersebut.

Sebuah gelang emas putih dengan desain minimalis namun mewah berkilau tertimpa cahaya lilin. Di tengah gelang itu, terdapat sebuah batu zamrud emerald kecil yang dikelilingi melee diamonds seperti simbol dari hotel Emerald tempat mereka berada sekarang.

Mikha terkesiap. Mulutnya terbuka karena kaget. "Dante, ini terlalu berlebihan..."

"Tidak ada yang berlebihan untukmu, sayang", sela Dante dengan nada rendah yang tegas namun lembut. Ia mengambil pergelangan tangan Mikha, lalu mengaitkan gelang tersebut. "Batu ini disebut Emerald. Seperti hotel ini, melambangkan kesetiaan dan awal yang baru. Aku ingin setiap kali kau melihatnya, kau ingat bahwa malam ini adalah milik kita Mikhaela".

Dante kemudian mengecup lembut punggung tangan Mikha yang kini dihiasi perhiasan pemberiannya. Tatapan Dante mengunci pandangan Mikha, memberikan kesan bahwa gelang itu bukan sekadar hadiah melainkan janji yang tersirat.

Mikha terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca menatap kilau zamrud di pergelangan tangannya. Ia merasa sesak oleh emosi yang membuncah bukan karena kemewahan perhiasan itu, tapi karena cara Dante menatapnya seolah ia adalah satu-satunya hal berharga di dunia ini.

Tanpa berkata-kata, tiba-tiba Mikha menghambur ke pelukan Dante, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Tangannya melingkar erat di pinggang Dante, meremas jas mahal sang pengusaha itu.

"Terima kasih, Dante. Aku seperti ini bukan karena gelang mahal ini, tapi karena kau membuatku merasa... sangat berarti," bisik Mikha dengan suara yang sedikit bergetar.

Dante sempat tertegun sesaat. Ia tidak menyangka reaksi Mikha akan se-emosional ini. Namun, sedetik kemudian ia membalas pelukan itu, dagunya bersandar di puncak kepala Mikha. Ia menghirup aroma rambut Mikha, merasa ketenangan yang luar biasa yang tidak pernah ia rasakan sejak lama. Sejak Cloe istrinya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.

Bahkan Dante sudah lupa rasanya jatuh cinta, ternyata begini rasanya. Perasaannya menghangat. Jantungnya tak henti berdebar-debar.

"Kau memang berarti, Mikha. Lebih dari yang kau tahu," balas Dante.

Mikha mendongak, matanya yang basah bertemu dengan tatapan lembut Dante. Di bawah naungan langit malam Jakarta, suasana di rooftop itu seakan terkunci dalam keheningan yang penuh makna.

Dante tersenyum tipis melihat binar di mata Mikha. Ia perlahan melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tangan Mikha dengan erat. Ia menuntun Mikha berjalan menuju tepian pagar kaca rooftop yang menyajikan pemandangan cakrawala Jakarta yang luas.

"Lihat ke sana, Mikha," bisik Dante tepat di belakangnya, sambil melirik arloji mewahnya.

Tepat saat jarum jam menunjukkan angka sepuluh, sebuah dentuman keras memecah keheningan malam. DUAARR!

Seketika, langit hitam di atas Hotel Emerald meledak menampakkan cahaya warna-warni yang memukau. Kembang api besar berwarna emas dan hijau Emerald meluncur silih berganti, menerangi wajah Mikha yang terpana. Cahaya itu memantul di permukaan kaca gedung-gedung tinggi di sekitar mereka, menciptakan pantulan yang luar biasa indah.

"Oh my god Dante... kamu merencanakan ini juga?", tanya Mikha hampir tak percaya, suaranya tertutup suara ledakan kembang api yang meriah.

Dante tidak melihat ke arah langit. Ia justru menatap wajah Mikha yang diterangi cahaya warna-warni. "Aku ingin memastikan kencan pertama kita ditutup dengan sesuatu yang sulit kau lupakan."

Setiap ledakan cahaya seolah merayakan momen mereka berdua. Di bawah guyuran cahaya kembang api yang megah, Dante perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Mikhaela, membiarkan suasana semakin romantis di puncak gedung tertinggi miliknya itu.

"Mikhaela.."

"Dante.."

...***...

To be continue

1
Dinda Wei
Gaspolllll🔥🔥🔥
Dinda Wei
Keluarga harmonis. Smg pernikahan dante dan mikha segera memiliki anak👍
Dinda Wei
Bagus
Ariany Sudjana
kamu kan pelacur murahan Audrey, mimpi kamu ketinggian untuk jadi istrinya Dante, dasar pelacur kamu
Dinda Wei
Ternyata Lon*e pro dia yak😂 Untung aja nggak jd nikah lo ama lon*e, coba kalau jd nikah bisa2 Cloe bangkit dr kubur
Dinda Wei
Diiihhh uget2 nih si Audrey
Delyana.P
Bener bener murahan kamu Audrey. Bayangkan kalau beneran dinikahi Dante. Bisa2 lgs kirim Eugene ke asrama yang letaknya jauhhh
Delyana.P
Dari sini sj sudah tau seperti apa Audrey ini. Dasarnya wanita gatel. Percaya deh dah di nikahin pst jd ibu tiri jahat.🤔
Delyana.P
Brantasss aja tuu ulat keket pengganggu. Jangan lengah. Lengah dikit pasti main embat. Dante nya jg sihh amu aja di peluk2 bikin ilfill aja😡
Fitria Syafei
hadeh deh ada uler Keket nya nih di dalam kehidupan suami istri ini nih...Jagan lengah Mikha ...🤨 KK cantik mantaf 🥰🥰
Ariany Sudjana
Dante ga bisa tegas, sudah menikah dengan Mikhaela, kok membiarkan pelacur murahan ikut diam di mansion? harusnya dibunuh saja pelacur murahan ga tau diri itu
Amelia
Ayo Mikha libassss semua hama pengganggu di pernikahan kalian. Lagian Dante main peluk2 segala di hadapan istri. Sepupu adalah maut ini mah judulnya... Waspada Mikhaela, harus tegas sama suamimu
Amelia
Hmmm...saposeee Audreyyyy jangan jangan🤔
Amelia
Syukurinnnnn kalian berdua. Gimana rasanya??? Selamat menikmati kehidupan baru Tio Nania wkwk
Ariany Sudjana
Audrey apa mungkin kekasih Dante di masa lalu?
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu Nania, mati saja kamu di penjara
Delyana.P
Vote buat karya mu yang ciamik ini kak Emily, semangat y👍🔥
Delyana.P
Selalu seru di setiap babnya thor. Kau bisa aj mengaduk2 perasaan ku dg cerita nggak bertele-tele gini 🥰
Delyana.P
Puassss baca hukuman mrk. Nikmati hidup baru kalian deh
Delyana.P
Lanjut thor dg yg manis2 pengantin baru🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!