"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Darah dan Penebusan Adicandra
Keheningan yang terjadi di ruangan itu terasa mencekik. Hanya terdengar suara tetesan air hujan dari atap bocor yang memecah ketegangan antara dua kubu yang siap saling menghabisi.
Alana berdiri tegak dengan spuit medis di tangannya, berkilau seperti berlian di bawah cahaya lampu yang berkedip.
Mata yang biasanya memancarkan kelembutan kini berubah sedingin es, menatap Aldo seolah pria itu hanya onggokan daging yang siap ia bedah.
"Kau pikir aku bercanda, Aldo? Ini bukan stand up comedy," suara Alana terdengar rendah namun bisa menggetarkan nyali siapa pun yang mendengarnya.
Tubuh Aldo gemetar hebat, keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Namun rasa iri yang sudah tertanam di dalam hati membuatnya tetap bertahan.
Ia semakin mempererat cengkeramannya pada leher Mama Raden.
Arista yang saat ini masih menjambak rambut kakaknya itu malah tertawa melengking—sebuah tawa yang terdengar seperti kuntilanak.
"Kak, lihatlah drama picisan di depanmu ini! Arsenio, kau lihat betapa tak berdayanya dirimu sekarang?"
"Kau seorang pria perkasa, pemimpin Adicandra, tapi kau terlihat tak berkutik hanya karena satu jarum kecil!" ejek Arista.
Arsenio Adicandra kemudian maju satu langkah. Wajah tampannya menunjukkan kemarahan yang melampaui batas manusia biasa.
"Arista... kau bukan hanya mencuri wajah istriku, tapi kau juga mencuri waktu, kasih sayang, dan belasan tahun hidupku yang tidak akan pernah bisa kau kembalikan."
"Dasar bedebah sialan!" desis Arsenio dengan suara tajam.
Bukannya takut, Arista justru tersenyum puas, seolah pengakuan itu adalah medali kemenangan baginya.
"Apa kau tahu? Belasan tahun aku harus menahan mual setiap kali kau menciumku dan membisikkan nama wanita serakah itu di telingaku," ucap Arista dengan nada mengejek.
"Aku mencatat setiap detail hidupnya! Parfum, makan, cara dia berjalan, bahkan cara dia menyeduh kopi kesukaanmu."
"Aku membuang identitasku dan melakukan operasi plastik berkali-kali untuk menjadi dia. Aku hanya ingin dicintai."
"Tapi aku puas sekarang, Arsenio. Aku puas melihatmu mencintai seorang iblis selama ini... hahahha!"
"Sementara istrimu yang asli membusuk di gudang kotor ini seperti sampah!" Arista berteriak histeris, meluapkan dendam yang dipendamnya sejak kecil.
Di sisi lain, Gunawan Tanujaya—suami Nadia—merapat ke arah Arsenio dengan gaya angkuh, seolah dunia berada dalam genggamannya sekarang.
"Arsen... Arsen, apa kau mau tahu sebuah rahasia besar? Dengarkan baik-baik. Semua asetmu telah berhasil kucuri pelan-pelan lewat tangan Arista."
"Kejayaan Adicandra sudah berakhir malam ini. Kau sekarang hanya sekadar macan ompong tanpa taring," ucap Gunawan sambil merangkul Nadia.
Dengan tatapan meremehkan, Nadia juga tak mau kalah. Ia menginjak tangan Ibu Alana yang terkapar di lantai dengan tumit sepatunya yang tajam.
"Dan untukmu Alana, lihatlah ibumu yang menjijikkan ini. Dia akan mati sebagai tumbal pernikahanmu yang gagal."
"Raden juga akan melihat kematian mamanya tepat sebelum dia bisa memasangkan cincin di jarimu!" hina Nadia dengan wajah penuh dendam.
Alana tidak terpancing sedikit pun. Ia hanya menatap Nadia dengan senyum miring yang meremehkan.
"Nadia... Nadia, kau bicara soal harta, kasta, dan takdir, tapi kau lupa satu hal. Di ruangan ini akulah yang memegang kendali atas siapa yang tetap bernapas dalam satu menit ke depan," balas Alana tenang tapi mematikan.
Raden yang sedari tadi diam dengan napas memburu, perlahan melirik ke arah Alana. Tangan kiri mereka masih bertautan erat di belakang tubuh Raden, menyembunyikan komunikasi rahasia.
Raden mengusap punggung tangan Alana dengan jempolnya, sebuah kode rahasia yang mereka sepakati jika berada dalam situasi genting.
Batin Raden menjerit saat melihat Aldo. Ia teringat masa-masa mereka kuliah kedokteran, berbagi makanan, dan bermimpi menyelamatkan banyak nyawa bersama.
Aldo, tangan yang dulu kau gunakan untuk aku jabat sebagai saudara kini memegang jarum suntik untuk mengancamku? Dan kenapa tangan itu sekarang menodongkan kematian pada mamaku?
Raden tidak lagi berteriak. Kemarahannya sudah berada di titik dingin. Ia menatap Aldo bukan lagi sebagai teman maupun saudara, melainkan sebagai hama yang harus segera dimusnahkan.
Raden menarik napas dalam dan berbisik sangat pelan, hanya bisa didengar oleh telinga Alana.
"Apapun yang terjadi nanti, aku selalu mencintaimu selamanya."
WUSSS!
Raden mencium singkat pelipis Alana sebagai tanda serangan akan dimulai.
Alana bergerak secepat kilat. Ia melemparkan tas medis kecilnya tepat ke wajah Aldo.
Aldo yang panik refleks menghalangi pandangan, dan di saat itu juga Alana melakukan low kick yang sangat keras ke arah lutut Nadia.
KRETEK!
Nadia menjerit kesakitan saat lututnya bergeser. Alana tidak berhenti di situ. Ia melakukan kuncian leher pada Nadia dan menyeret ibunya menjauh dari jangkauan musuh.
Di saat yang sama, Raden menerjang Aldo dengan seluruh kekuatan tubuhnya. Mereka berguling di lantai beton yang dingin dan kotor, persis anak kecil yang merajuk.
"INI UNTUK SETIAP KEPERCAYAAN YANG KAU KHIANATI, ALDO!" teriak Raden sambil melayangkan pukulan upper-cut keras tepat di rahang Aldo hingga terdengar bunyi retakan.
Aldo mencoba menusukkan jarum suntik di tangannya ke punggung Raden, namun Raden bergerak lebih cepat.
Ia memutar tangan Aldo hingga jarum itu terjatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.
PRANGGG!
Suara kaca jendela samping pecah berantakan. Tim taktis Adicandra yang dipimpin Marko, orang kepercayaan Arsenio, turun dari atap menggunakan tali (rappel down).
Asap putih tebal dari debu yang berterbangan memenuhi ruangan bersamaan dengan suara rentetan tembakan yang membengkakkan telinga.
Laser merah dari senapan laras panjang membidik dada setiap anak buah Gunawan.
Arsenio sendiri bergerak seperti malaikat pencabut nyawa yang haus darah. Ia langsung berhadapan satu lawan satu dengan Gunawan Tanujaya.
Gunawan mencoba mencabut pistolnya, namun Arsenio lebih dulu melayangkan tendangan maut ke arah tangannya hingga pistol itu terlempar jauh.
"Gunawan, kematian terlalu mudah untukmu. Aku akan membuatmu memohon untuk mati di penjara terdalamku setiap hari."
"Kau akan hidup seperti di neraka!" desis Arsenio sambil menghujamkan pukulan bertubi-tubi ke wajah rivalnya itu.
Arista yang melihat keadaan semakin kacau mencoba melarikan diri lewat tangga darurat. Namun, ia justru terkepung oleh lima anak buah Arsenio bersenjata lengkap.
Ia jatuh terduduk. Wajahnya yang penuh hasil operasi plastik itu mulai terlihat mengerikan karena bercampur keringat, darah, dan air mata.
Arsenio kini berdiri di hadapannya dengan menodongkan pistol ke arah lantai tepat di depan kaki Arista.
"Bawa iblis ini, wanita murahan. Pastikan dia tidak pernah melihat sinar matahari lagi selama sisa hidupnya!"
Setelah dua jam yang mencekam, suara tembakan mulai mereda. Ruangan itu kini hancur berantakan. Bau mesiu dan debu bercampur memenuhi udara.
Aldo terkapar pingsan dengan wajah sulit dikenali. Gunawan dan Nadia dirantai dengan kasar, siap diseret menuju pengadilan bayangan keluarga Adicandra.
Raden dengan napas naik turun dan baju yang robek di beberapa bagian, segera menghampiri Alana. Senyum terpatri di wajah tampannya.
Alana sedang memeluk ibunya dan Mama Raden yang menangis haru. Setelah belasan tahun, akhirnya mereka bisa berkumpul lagi.
Tubuh Alana masih sedikit bergetar, sisa-sisa adrenalin yang masih mengalir di pembuluh darahnya.
Raden berjalan mendekat, lalu memeluk Alana dari belakang dengan sangat erat seolah mereka akan berpisah lama.
Ia menyandarkan dagunya di bahu Alana, menghirup aroma lembut rambut tunangannya yang menenangkan di tengah bau mesiu.
"Sudah berakhir, Sayang. Kita berhasil. Semuanya sudah aman sekarang, kita menang," bisik Raden dengan suara serak penuh kasih sayang.
Alana berbalik menatap Raden yang juga penuh air mata lega. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Raden, menangis sejadi-jadinya untuk semua rasa takut yang sejak tadi ia tahan.
Di bawah langit malam yang masih diguyur hujan lebat, helikopter medis keluarga Adicandra mendarat di atap gedung.
Semua babak kelam penuh air mata telah tertutup, namun luka yang ditinggalkan akan menjadi saksi abadi dari perjuangan cinta mereka berdua.
****
Catatan Penulis:
Puas banget lihat pengkhianat akhirnya tumbang! Tapi luka di hati Raden karena Aldo pasti nggak gampang sembuh. Akankah ada pengampunan untuk mereka?
Jangan lupa Like, Vote, dan tinggalkan jejak di kolom komentar ya, Guys! Dukungan kalian semangat Author! 🔥🔥🔥
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭