NovelToon NovelToon
CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aquarius97

YANG SUKA ROMCOM... MERAPAT SINI✨

PLAGIAT, BISULAN SEUMUR HIDUP YA ! 👊🏻

Restu Anggoro Wicaksono selalu menjadi bahan tertawaan ketiga sahabatnya lantaran di usianya yang hampir tiga puluh tahun, pria itu belum pernah menyentuh seorang wanita.

Jangankan menyentuh, menjalin hubungan asmara saja Restu belum pernah.

Karena itulah, ia mendapat julukan si pria beku tak tersentuh.

Sampai suatu malam, ketiga sahabatnya menyusun rencana gila. Mereka kesal melihat hidup Restu yang terlalu flat.

Akhirnya, mereka bertiga nekat mengirim Restu ke kamar VIP di sebuah klub malam.

Malam itu seharusnya hanya menjadi kenangan singkat Restu bertemu wanita sewaan ketiga sahabatnya. Tapi anehnya, wanita itu justru terus memenuhi pikirannya.

Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Sementara Restu terjebak dalam pencarian panjang di tengah tekanan keluarga yang terus menuntutnya untuk segera menikah.

Apakah Restu bisa menemukan wanita malam itu kembali? Yuk, ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 CMDWM

"Pak, bodyguard kita sudah menemukan Oma Anda!" seru Niko sambil berjalan cepat memasuki ruang tengah.

Restu spontan mendongak. "Di mana?" tanyanya sambil berdiri.

"Di Pasar Senen, Pak. Mereka melihat Oma Anda bersama seorang wanita muda."

Wajah Restu langsung menegang. "Bagaimana keadaan Oma?"

"Tenang, Pak. Oma Anda baik-baik saja. Sampai sekarang bodyguard masih mengikuti beliau dari jauh."

Restu menghembuskan napas panjang. Rasa lega perlahan menyusup ke dadanya.

"Syukurlah...Kalau begitu, ayo kita susul Oma sekarang."

>>>

Beberapa jam sebelumnya...

Bu Ani mendapat peringatan dari pihak Grand Vista. Selama dirinya terbaring sakit, program sarapan gratis memang sementara dialihkan ke catering lain atas rekomendasi Andira, sesuai permintaan Qiana.

Setelah berdiskusi, Qiana akhirnya memutuskan untuk kembali mengambil alih tanggung jawab itu bersama Bu Heni. Meski kondisi Bu Ani belum pulih sepenuhnya, catering harus tetap berjalan. Qiana sadar, kerja sama dengan Grand Vista Properti bisa saja terputus jika terlalu lama membiarkan program itu ditangani pihak lain.

Akhirnya sekitar pukul sembilan pagi, Qiana bersiap pergi membeli bahan-bahan untuk kebutuhan hari Senin. Meski masih ada satu hari tersisa, ia tidak ingin menunda selagi punya waktu luang. Karena Qiana tahu, hari-harinya sering kali dipenuhi hal-hal tak terduga.

Begitu menuruni tangga, Qiana mendapati Oma Dania sudah berdiri menunggunya di bawah dengan senyum penuh arti.

"Min... nenek ikut, ya," rengeknya lembut sambil menggenggam tangan Qiana.

Qiana refleks menggeleng cepat.

"Ih, jangan, Nek. Pasar itu rame banget. Nanti nenek hilang lagi!" ujarnya khawatir.

"Min... please lah. Nenek nggak bakal hilang." Oma Dania langsung cemberut. "Nenek cuma pengen jalan-jalan bentar, pengen hirup udara Jakarta."

"Udara Jakarta nggak cocok buat nenek! Banyak polusi!" sahut Qiana cepat.

Dahi Oma mengernyit. "Lho, bukannya wajar? Polusi kan ada di mana-mana. Tugas mereka mengatur lalu lintas!"

"Aiihh, beda, Nek! Itu polisi," Qiana memutar matanya. "Et, dahhh! Gemes banget sama nenek satu ini, jadi pengen buatin jus Baygon!"

Oma Dania nyengir. "Gak boleh bicara gitu sama orang tua, dosa nanti gak nikah-nikah loh!"

"Biarin, wleeee!" Qiana menjulurkan lidahnya sekilas.

"Dih, ni anak dibilangin. Ya Min ya, nenek ikut!" Oma Dania menggoyang-goyangkan lengan Qiana pelan.

Qiana pun terdiam, menimbang. Melihat raut wajah Oma yang penuh harap, ia jadi tidak tega.

Akhirnya, hatinya luluh juga.

"Dengan satu syarat!" katanya.

Mata Oma berbinar. "Apa?!"

"Nenek harus janji tetap di samping Min-min, nurut sama Min-min, dan nggak boleh kemana-mana," peringat Qiana tegas.

Oma Dania langsung mengangguk-angguk, lalu mengangkat jari kelingkingnya seperti anak kecil. "Janji!"

"Bagus, baiklah mari kita berangkat!" tangan Qiana menggandeng jemari Oma Dania.

>>>

Begitu sampai di Pasar Senen, Qiana memarkirkan mobil box tak jauh dari pintu masuk agar Oma Dania tidak perlu berjalan terlalu jauh.

Ia segera membukakan pintu lalu menuntun Oma turun. Bahkan sepanjang berjalan, Qiana terus menggenggam tangan Oma erat-erat, seolah takut wanita tua itu akan hilang lagi.

Perhatian kecil itu diam-diam membuat hati Oma Dania hangat.

Sejenak ia teringat pada Nyonya Emma, menantunya sendiri, yang bahkan tak pernah memperlakukannya sehangat ini. Jika berjalan bersama, wanita itu lebih sering melangkah lebih dulu tanpa benar-benar memperhatikan dirinya.

Sedangkan Qiana, wanita muda itu justru terus menjaga langkahnya.

Oma Dania menatap tangan mereka yang saling menggenggam sambil tersenyum haru.

"Min... kayaknya kita salah alamat deh," celetuknya tiba-tiba.

Qiana spontan berhenti lalu menoleh bingung. "Hah? Salah alamat gimana, Nek?"

"Tuh lihat." Oma Dania menunjuk plang nama pasar. "Ini kan hari Sabtu. Kenapa kamu ngajak nenek ke Pasar Senen?"

Beberapa detik hening. Lalu....

"Haishhh, nenek!" Qiana langsung mengangkat kedua tangannya gemas di depan wajah Oma, seolah ingin mencakar udara.

Oma Dania malah terbahak puas.

"Hahaha! Hidupmu spaneng amat sih, Min. Dibikin loss gitu loo..." ujarnya dengan logat Jawa yang begitu medok.

"Lhooo, nenek wong Jowo toh?" Qiana ikut menirukan logatnya sambil buru-buru mengejar langkah Oma. "Nek, jangan jalan cepat-cepat! Nanti hilang lagi!"

Mereka pun akhirnya masuk ke dalam pasar yang ramai oleh suara pedagang dan pembeli.

Qiana sibuk memilih sayuran segar, sementara Oma Dania ikut menawar dengan lihai seolah sudah sangat terbiasa berbelanja di pasar tradisional.

Sesekali Oma bercanda dengan para pedagang hingga membuat Qiana kewalahan sendiri. Di balik semua itu, hati Oma Dania terasa hangat.

Sejak dulu ia selalu ingin memiliki anak perempuan. Dan kini, melakukan hal sederhana seperti berbelanja bersama Qiana justru membuat keinginan itu terasa seolah benar-benar terwujud.

Sementara Qiana sendiri diam-diam mulai menikmati kebersamaan mereka.

Meski tingkah Oma sering membuatnya geleng kepala, ia justru kagum melihat betapa cekatan wanita tua itu memilih bahan makanan.

"Nggak bagus. Yang ini jangan banyak-banyak," oceh Oma Dania sambil memilah sayur. "Kalau pilih bahan harus teliti, Min. Ini menyangkut urusan perut banyak orang."

Belum lagi tingkah manjanya yang muncul tiba-tiba.

"Min, nenek haus..."

"Min, nenek mau bakso."

"Min... kaki nenek pegel."

Qiana sampai mengembuskan napas panjang berkali-kali dibuatnya.

Entah kenapa, tingkah Oma Dania tiba-tiba mengingatkannya pada seseorang yang sama-sama suka menyuruh seenaknya.

Tapi Qiana sendiri lupa siapa orangnya.

Setelah semua belanjaan dirasa lengkap, mereka akhirnya memutuskan pulang.

Meski sebelumnya Qiana sempat dipalak Oma Dania untuk mentraktir dua mangkuk bakso dan minuman favorit the jompo people, yaitu teh panas.

Baru saja Qiana selesai menurunkan belanjaan dari mobil, dua sedan hitam tiba-tiba meluncur masuk ke halaman rumah Bu Ani.

Qiana terdiam. Rasa was-was seketika muncul saat melihat beberapa pria berpakaian hitam keluar dari dalam mobil.

Oma Dania yang hendak masuk ke rumah pun ikut berhenti dan memutar tubuhnya.

Tak lama kemudian, sebuah Alphard hitam menyusul masuk.

Mata Oma Dania langsung melebar ketika melihat seseorang keluar dari dalam mobil itu.

Restu.

Sementara Qiana ikut terperanjat.

"Loh, kenapa Pak Restu kesini?" batinnya bingung.

Dengan langkah ragu, ia mendekat.

"Loh, Pak... ada keperluan apa ke sini?" tanyanya hati-hati.

Namun Restu tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju lurus pada Oma Dania.

"Oma... mari kita pulang," ucapnya pelan.

Qiana spontan menoleh ke arah Oma Dania, lalu kembali menatap Restu, kemudian kembali lagi pada Oma.

Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

"Hah...? Apakah Anda cucu Nenek?" tanyanya bingung.

Restu membuka mulut.

"Iy-"

"DIA BUKAN CUCUKU, MIN!"

...ΩΩΩΩΩΩΩ...

Loh? Kok Oma Dania tidak mengakui Restu 🤣 Apa yang akan terjadi selanjutnya, ikuti terus ceritanya 😘

1
Miu.Nuha
masa lalu gk usah dibuka lagi...
Miu.Nuha
ber oh ria /Facepalm/
oh ah oh eh oh uh...
Miu.Nuha
akal2an Oma 😅
Miu.Nuha
ih kenapa pula ini Oma 🤭
apa oma kecewa Restu gk nikah2, hehe...
Miu.Nuha
hahaha ngelawak mulu neneknya 😭😭
Miu.Nuha
hilih, giliran nama cucuny aja gk mau nyebut, lupa apa niat ngelupa lagi nih 😫
Miu.Nuha
apa itu mendiang suami 🤔
Miu.Nuha
Omamu tau2 ketemu sama qiana, Res...
entah apa yg terjadi sama Oma, malah jadi akting jadi nenek pikun 😭
Miu.Nuha
mahal pak beli susu 😭😆
Miu.Nuha
mungkn saatny pk restu tampil 👍
gk mau kalah sama Angga
Miu.Nuha
calon istriku sholihah bngt, batin restu ❤
Miu.Nuha
stalker cucunya donk 😆😆😆
Miu.Nuha
takut ketauaann 😭
astagaa... bestiemu msh setia bngt Res smpe inget sama gadis yg bikin kamu gk bisa mupon...
Miu.Nuha
siap2 jadi Angga terus kamu Res kalo smpe nikah sama Qiana 😆😆
Miu.Nuha
untung bisa boong
Mingyu gf😘
heh justru itu bagus, karena se*s bebas sarang penykit
Mega Siregar
janganlah dipaksa...
jika buru2 tanpa mengenal baik pasangan yang ada hanya menimbulkan ketidakbahagiaan dalam rumah tangga
⋆.ೃ࿔ִֶָ🪽་༘*:・݁ ˖Ი𐑼⋆ ‎ꫂ᭪݁⋆˚
100 milyar kek bukan apa2 aja ke kamu, res😌
Rain Aricia
Nadine gatal ihh ga sukaa
Rain Aricia
Dah deg2an luan ya Res😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!