SETIAP HARI UP UNTUKMU🤩
Kedatangan lelaki-lelaki muda Eropa yang ganteng-ganteng telah menuai pusat perhatian. Disaat yang bersamaan, lelaki-lelaki dan wanita-wanita muda pun ikut menghilang satu demi satu secara misterius.
Holsi dan teman-temannya menyadari hal itu dan tahu rahasia dibalik itu semua. Namun, mereka semua berhasil dibungkam oleh dua tokoh yang menawan namun iblis. Holsi dan teman-teman nya berhasil di usir dan di hina kan banyak orang.
Dua tokoh menawan itu semakin dipuja-puji bak dewa-dewi. Peminatnya dari kalangan remaja yang begitu tergila-gila pada dua tokoh itu.
Lalu, jelas nya seperti apa? Baca Sekarang!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Firmo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 28
Setelah kejadian yang aneh itu, Nuel pada akhirnya hanya bisa diam dan berusaha melupakan hal itu.
Namun Erik & Holsi yang sadar akan kejanggalan terhadap apa yang telah di ceritakan oleh Nuel, mengatakan bahwa itu adalah petunjuk yang nyata. Tetapi yang masih menjadi pertanyaan Erik, Holsi, & Nuel adalah apakah benar pemimpin mahkluk yang sama dengan Rimo juga Agil, adalah ayahnya?
Tidak lama kemudian, datanglah Eli, Tommy, Halzet yang masih menyerupai serigala menawan, mereka bertiga datang dari puncak bukit menghampiri ketiga remaja ini.
Eli yang terlihat berlari-lari penuh khawatir ke arah ketiga remaja ini, berkata. "Hey... apakah kalian baik-baik saja?"
Begitupun dengan Tommy yang juga berlari-lari penuh khawatir kepada ketiga remaja ini. "Kenapa kalian pergi dari pantauan kita?"
Lalu Halzet yang juga berlari-lari menghampiri Erik, Holsi, Nuel, menyeru. "Kalian jangan pergi terlalu jauh. Negeri ini tidak ada ujungnya dan kalian bisa saja tersesat!"
Selepas Eli, Tommy, Halzet sudah berada di hadapan ketiga remaja ini.
Eli mengeluarkan tatapan sedih ke Nuel. "Kenapa kau terlihat murung? Apa yang telah menyerang dirimu? Tolong ceritakan! Hatiku merasa tidak enak!"
Dan Nuel hanya bisa membuang muka dengan ekspresi murung. "Entahlah, aku merasa tidak ada mood saat ini."
Kemudian Tommy menyeru ke Erik dengan sangat mendesak. "Apa yang sebenarnya terjadi? Sehingga kalian ada di daerah ini?"
Lalu Erik berkata. "Kalian harus lihat apa yang telah kita bertiga lihat."
Dengan penuh kebingungan, Halzet berkata. "Apa maksudmu?"
"Dibelakang ku!" Tegas Erik.
Kemudian Eli, Tommy, Halzet melihat ke arah apa yang Erik maksud.
Spontan, Eli menjadi penuh pertanyaan. "Bebukitan maksudnya?"
Seketika itu, Erik, Holsi, dan Nuel menoleh ke belakangnya. Lalu, perasaan tidak menyangka benar-benar menyentuh hati mereka bertiga. Yang tadinya mereka lihat sebuah rumah, taman, hutan, kini hanya sebuah bebukitan yang biasa saja. Bahkan tak ada satu pun jejak terlihat tentang adanya sebuah rumah yang pernah berdiri di daerah ini.
Nuel yang melihat kejadian membingungkan yang kembali terjadi ini, berlari ke arah bebukitan itu. "Tidak! Tidak! Tidak mungkin ini terjadi lagi! Kenapa? Ada apa ini? Hiks..."
Nuel pun terlihat terduduk sedih, ia menangis sejadi-jadinya. Kejadian demi kejadian yang telah lalu itu, membuat nya frustasi dan merasa trauma.
Dan Eli yang masih saja belum mendapatkan jawaban, menyeru. "Ada apa dan apa yang sebenarnya terjadi ini?"
Kemudian Holsi dengan air mata yang bergelimang, berkata. "Tadi, jauh sebelum kalian datang kemari. Kami melihat sebuah rumah indah, taman halaman belakang rumah yang nyaman, dan sebuah hutan tempat dimana ibu ku di makamkan, hiks. Namun anehnya, semuanya menjadi lenyap seketika itu, hiks."
Mendengar pernyataan dari Holsi yang begitu mencengangkan. Membuat, Eli, Tommy, Halzet terkejut hebat.
"Tidak mungkin itu terjadi!" Kata Halzet.
Lalu Holsi kembali menegaskan. "Itu terjadi! Itu nyata adanya! Aku dan kedua saudara kandungku yang mengalami hal itu secara nyata."
"Saudara kandung?" Seru Tommy dengan penuh tanda tanya.
Kemudian dari jauh, Nuel menyeru dengan tegas sekali. "Aku, Holsi, dan Erik adalah teman-teman kalian bertiga yang dahulu pernah bersama, yang dahulu pernah kalian tidurkan di sebuah kasur yang nyaman, lalu kami terbangun entah bagaimana dan lupa akan semuanya."
Spontan, Eli menangis sejadi-jadinya. "Hiks, aku tidak bisa percaya ini."
Dan Nuel yang pernah dekat dengan Eli dahulu kala, berlari-lari mendekati Eli. "Eli, ingat nggak dulu kita pernah deket? Hingga pada akhirnya kamu pernah nangis karena aku telah kamu anggap mati."
Seketika itu, Eli yang langsung berubah wujud menjadi manusia kembali, berpelukkan erat dengan teman lamanya yang hidup kembali, yaitu Nuel.
Tommy dan Halzet yang juga telah berubah wujud menjadi manusia kembali, saling berpelukan erat dengan Erik dan Holsi.
Teman yang pernah mereka anggap tiada untuk selamanya, telah bangun kembali.
Erik lalu melepaskan pelukan eratnya dari Halzet. "Aku juga dulu ingat, kalau dulu itu apa-apa suka sama kau, Halzet."
Kemudian Halzet tersenyum. "Iya, aku juga jadi ingat kembali."
Dan pernyataan Holsi ini, membuat Eli, Tommy, Halzet tercengang kembali. "Apakah Desember si pemimpin mahkluk ganteng itu adalah ayah kami?"
Eli pun terlihat kebingungan. "Aku tidak tahu!"
Kemudian Tommy, menyeru. "Dari mana kalian tahu tentang pemimpin mahkluk Blax bernama Desember itu?"
Erik pun terkejut dengan ucapan Tommy. "Jadi Rimo, Agil dan kawanannya itu adalah satu jenis mahkluk bernama Blax?"
"Begitulah." Jawab Halzet dengan singkat.
Kemudian Erik kembali berkata. "Lalu kalian bertiga yang bisa merubah wujud jadi serigala, adalah mahkluk jenis apa? Tolong jelaskan ini semua!"
Dengan tegas, Eli menuturkan. "Kami adalah mahkluk bernama Floklore yang menyerupai manusia biasa namun berkulit Eropa, kami hanya bisa merubah menjadi serigala tetapi memiliki kekuatan. Kami adalah penghuni negeri July yang telah hilang dari pandangan kami, makanya kami sangat merindukan July tempat dimana kami lahir dan tumbuh menjadi remaja."
Erik lalu menundukkan kepalanya. "Sekarang aku mengerti semuanya."
Lalu Holsi berkata. "Pantas saja kalian sebaik peri."
Pertanyaan Tommy yang Tommy tanyakan, kembali ia tarik. "Dari mana kalian tahu kalau Desember adalah pemimpin mahkluk Blax?"
Kemudian Nuel menyeru. "Dari ibuku yang datang kedalam pikiran ku. Dan juga ibuku mengatakan bahwa Desember adalah ayah kami. Apakah kalian tahu dimana kami berada sebelum tahun 1918 Masehi?"
Eli pun terlihat diam sejenak untuk mengingat-ingat di sebuah kejadian seratus tahun silam. "Dulu kalian itu kami temui disebuah sekolah di daerah Jakar..."
Spontan, Halzet memotong pembicaraan Eli. "Berhenti! Hatiku merasa tidak enak dengan daerah tempat kita tinggal di hutan Huner!"
Lalu Tommy yang juga peka, mendesak Eli. "Astaga Eli, ini gawat, aku juga ikut merasakan hal buruk. Cepat kita kembali saja ke Bogor!"
Kemudian Eli berkata. "Baiklah, kembali ke Bogor adalah hal yang tepat. Kita kembali detik ini juga!"
Setelah berkata demikian, Eli langsung memegang tangan Nuel dengan erat. Lalu langsung menghilang. Begitupun dengan Tommy yang langsung memegang erat Holsi, kemudian menghilang. Lalu Halzet pun melakukan hal serupa ke Erik, lalu menghilang dan mereka berenam benar-benar telah meninggalkan daerah bernama Noah ini.
Entah apa yang telah terjadi, namun perasaan Halzet begitu bimbang dengan keadaan rumah nyaman nya di hutan Huner sana yang seperti terancam. Tetapi setidaknya, ketiga remaja yang pernah bersama Eli, Tommy, Halzet di seratus tahun yang lalu, telah bersama-sama kembali di tahun 2018 Masehi ini, sebagaimana dahulu mereka berenam pernah bersama. Dan kekuatan pun semakin bertambah banyak dalam menghadapi zaman yang akan segera tiba, Era Berdarah Manusia!
tunggu ya
Author.....lanjut, tuntaskan ceritanya
cling gitu
Apakah dia murid baru