Mereka dijodohkan oleh sang Kakek sejak kecil dan direstui oleh kedua orang tua. Setelah dewasa, mereka tidak setuju dijodohkan dan melarikan diri sebelum pertunangan dilangsungkan, karena sudah punya kekasih.
Hanya berbekal sisa tabungan semasa kuliah dan sedikit keberanian, mereka lari dari rumah, meninggalkan proses pertunangan demi sang kekasih. Namun sangat menyakitkan, saat tahu kekasih mereka telah berpaling..
》Mungkinkah mereka terus berlari atau kembali pada keputusan orang tua?
》Mungkinkah ada kesempatan kedua untuk melanjutkan proses perjodohan sang kakek?
Ikuti kisahnya di Novel "SECOND CHANCE"
Selamat membaca.
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Terkuak 2.
...~•Happy Reading•~...
Setelah terjalin komunikasi yang baik antara Philemon dan Maya. Mereka mulai sering menanyakan kabar di sela kesibukan. Kadang menceritakan kejadian-kejadian lucu atau saling ledek yang menghibur dan makin mendekatkan mereka.
Hari berlalu, akhir pekan tiba. Seperti yang pernah dikatakan Philemon akan datang ke rumah Maya di akhir pekan, Philemon sudah pastikan akan datang bertamu pertama kali ke rumah Maya setelah mereka bertemu.
Hal itu membuat Maya bangun pagi dengan suasana hati yang berbeda, tidak seperti akhir pekan sebelumnya. Bangun tidur dengan bermalas-malasan dan berat untuk turun dari tempat tidur.
Hari ini dia bangun pagi, lalu menggerakan badan dengan berolah raga ringan dan juga berjalan cepat beberapa kali mengitari halaman rumah mereka yang luas. Kemudian sarapan dan mandi. Dia berendam dalam bathtub cukup lama, sampai tubuhnya rileks dan sangat harum.
"Kau, mau ikut Mama ke pasar?" Tanya Mama Maya yang masuk ke kamar dan melihatnya sudah selesai mandi.
"Ngga, Ma. Putri mau di rumah saja." Jawab Maya cepat, membuat Mamanya heran, karena tidak seperti biasanya. Dia akan ikut jika diajak pergi di akhir pekan, bahkan kadang menawarkan diri mau ikut.
"Kau ingin makan sesuatu, nanti siang?" Tanya Mama Maya lagi, agar bisa sekalian dibelikan.
"Ngga ada yang khusus, Ma. Putri ikut yang Mama mau masak untuk Papa saja." Jawab Maya sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Baiklah, kalau begitu. Jika Papa sudah bangun, temani sarapan, ya." Papa Maya minta bangun agak siang, jadi Mamanya tidak bisa menemani sarapan.
"Siap, Ma." Maya berkata sambil mengangkat tangannya di atas alis ala prajurit. Mamanya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat sikap Maya, lalu keluar kamar.
~*
Setelah makan siang, Maya menyibukan diri di kamar di depan laptop untuk memeriksa pekerjaan kantor terakhirnya sambil menunggu kedatangan Philemon. Tidak lupa dia terus berdoa dan berharap kedua orang tuanya bisa melunak kepada Philemon atau menerima kedatangannya.
Maya tidak mengatakan apa pun kepada orang tuanya bahwa Philemon mau datang ke rumah. Dia menghindari berdebat atau beradu argumen sebelum Philemon datang. Dia berpikir, kalau Philemon sudah pulang dan akan diceramahi atau dimarahi, dia akan terima.
Sehingga dia tetap di rumah, sambil menunggu kabar kedatangan Philemon dan tidak menunjukan bahwa dia sedang menunggu seseorang. Dia menghindari bertemu atau bercakap-cakap dan lebih banyak tinggal di kamar, agar tidak ditanya oleh orang tuanya.
Dia hanya keluar untuk makan siang, lalu kembali masuk ke kamar dengan alasan mau memanjakan diri dengan beristirahat. Agar di hari senin nanti, dia bisa bekerja dengan kondisi tubuh yang lebih baik dan sehat.
Maya sangat percaya, Philemon akan datang seperti yang dijanjikan. Karena Philemon minta alamat rumahnya dan dia sudah berikan. Jadi dia hanya menunggu dan berharap, Philemon akan mudah menemukan rumahnya.
Ketika merasa cukup memeriksa pekerjaan, dia berbaring sambil menunggu Philemon dengan tidak sabar. Ponselnya tidak jauh darinya, agar dia bisa mengetahui kedatangan Philemon. Tanpa sadar, dia tertidur karena lama menunggu.
~*
Di sisi lain ; Philemon terlambat, dari waktu yang dikatakan kepada Maya, yaitu setelah makan siang. Dia memacu kendaraannya sedikit lebih cepat, agar tidak terlalu sore tiba di rumah Maya.
Menjelang sore, dia tiba di gerbang rumah besar yang berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya. Membuat dia kembali melihat alamat yang diberikan Maya untuk memastikan. Kemudian dia turun dari mobil, lalu mendekati gerbang untuk bertanya pada security yang sedang berjaga di pos.
"Selamat sore, Pak. Saya mau bertemu dengan Nona Kamaya." Philemon langsung mengatakan maksud kedatangannya.
"Mas dari mana?" Tanya security tanpa membuka gerbang.
"Saya Philemon, teman Nona Kamaya. Saya sudah buat janji dengannya." Philemon jadi lega, karena respon security membuat dia yakin benar, rumah Maya.
Tidak lama kemudian, pintu gerbang dibuka untuknya. Philemon kembali ke mobilnya, lalu masuk melewati gerbang yang sudah dibuka ke halaman rumah Maya yang luas dan ditumbuhi rumput hijau, juga bunga yang sedang mekar.
Dia parkir dekat mobil orang tua Maya. Kemudian turun dan menuju pintu utama rumah, lalu mengetuk. Papa Maya yang sudah mengetahui ada teman Maya yang datang dari security, langsung buka pintu untuk mengetahui siapa teman Maya yang tiba-tiba datang tanpa sepengetahuan mereka. Karena Maya tidak mengatakan ada temannya yang mau datang ke rumah.
Ketika melihat siapa yang berdiri di depannya, sontak wajah Papa Maya jadi kaku. "Selamat sore, Om. Saya ada janji mau bertemu dengan Kamaya." Philemon berkata pelan dan sopan. Walau dia tahu ketidak sukaan Papa Maya terhadapnya.
Philemon merasa sedikit lega, karena Papa Maya tidak menutup pintu di depannya saat berbalik meninggalkan dia. Oleh sebab itu dia hanya menunggu di depan pintu yang terbuka, karena tidak dipersilahkan masuk.
Beberapa waktu kemudian, Philemon tersenyum melihat Maya berlari keluar dari dalam rumah.
"Phileee...." Teriak Maya, memanggil namanya dengan rasa senang yang tidak bisa disembunyikan.
"Sssssttttt..." Philemon meletakan jarinya di bibir, supaya jangan terdengar orang tuanya, lalu menunjuk kakinya, agar dia tidak perlu berlari.
"Mengapa berdiri di situ? Ayooo, masuk." Ucap Maya yang sudah berdiri di dekatnya.
"Aku baru mau kirim pesan untukmu. Siapa yang kasih tau, aku sudah datang?" Tanya Philemon sambil mengikuti Maya masuk ke ruang tamu.
"Papa yang membangunkanku. Sorry, ketiduran." Ucap Maya sambil duduk di depan Philemon.
"Sorry, juga. Kelamaan nunggu, ya. Tadi ada masalah sedikit di rumah, jadi agak terlambat berangkat." Philemon menjelaskan, penyebab dia terlambat.
"Ngga pa'pa, yang penting kau sudah datang dan belum terlalu sore. Jadi nanti pulang ngga kemalaman di jalan." Maya berkata dengan hati senang.
Philemon masih memikirkan Papa Maya. Karena saat melihat Papa Maya secara dekat dan berhadapan, dia mengingat seseorang. Dia merasa pernah melihat Papa Maya, tapi lupa di mana.
Pada malam kedukaan, dia tidak perhatikan wajah Papa Maya dengan baik. Tapi tadi sangat jelas, membuat dia berpikir dan mengingat-ingat lagi.
"K'May, aku mau nanya, tapi lupa mulu. Kau kerja di sini, dimana? Mungkin kalau aku ada ke sini, bisa menjemputmu di kantor." Philemon baru ingat mau menanyakan pekerjaan Maya.
"Aku kerja di Onesim..." Maya menjawab singkat.
"Onesim? Pabrik pengolahan kelapa sawit yang di perbatasan itu?" Philemon, terkejut.
"Iyaa. Oh iya, mau minum apa?" Tanya Maya untuk mengajak Philemon bicara, karena dia melihat Philrmon terkejut dan terdiam.
"Apa saja. Tapi lebih baik, air mineral saja." Ucap Philemon agar tidak merepotkan dan dia butuh minum air mineral, agar bisa berpikir.
"Ok. Tunggu, yaa." Maya berkata sambil mengangkat tangan dan menurunkan, agar Philemon mau sabar. Philemon mengangguk mengiyakan sambil mengangkat jempolnya.
Setelah Maya berdiri, Philemon jadi berpikir tentang kedua orang tuanya dan juga Papa Maya yang tidak berkata apapun padanya, atau mempersilahkan dia masuk, tapi mau memanggil Maya untuk keluar menemuinya. Suatu sikap yang sangat bertolak belakang dan membuat penasaran.
Mengingat semua itu, Philemon berucap pelan, tapi seakan memanggil. "Putri..." Dia hanya mencoba untuk menguji yang ada di pikirannya.
"Yaa..." Maya menyahut lalu menengok ke arah Philemon dengan heran. Philemon bagaikan terkena sengatan listrik saat mendengar Maya menyahutnya.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
apa lemon nanti pria yang dijodohkan sama kamaya