Author: Renata From Indonesia
(NOT MINE)
Riana Lee adalah seorang perempuan yang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di ibukota berkat kecerdasannya, selain pintar ia juga cantik dan ceria, namun disana ia bertemu dengan seorang remaja laki-laki yang tanpa ia sadari. Laki-laki itu perlahan tapi pasti mengambil tempat terbesar di hatinya.
***
Aldrian Weist seorang remaja laki-laki kaya kelas 3 sekolah menengah atas,dia cerdas, tampan, dan ramah, tetapi di balik kepribadiannya yang karismatik itu, ia juga memiliki aura misterius yang dapat membuat orang di sekitarnya merasa sadar untuk tidak membangunkan sisi lain dalam dirinya itu.
Bagaimana keduanya bisa bertemu dan terikat satu sama lain? Dan bagaimana mereka bisa bersama dengan segala perbedaan yang mereka miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C.Y.J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
"Selamat datang di rumah kami yang sederhana."
Ayahku menyambut kedatangan Aldrian, dia menghampirinya kemudian menyalaminya dengan senyum yang terus terpancar dari wajah ayahku.
"Terimakasih Pak sudah mau menerima saya di rumah anda, maaf jadi ngerepotin."
"Ah enggak ngerepotin kok, Bapak justru senang saat Riana bilang kalau aden mau main kesini, berarti kalian sudah cukup dekat, tadinya Bapak khawatir kalau Riana bakalan susah punya teman di ibukota."
"Bisa dibilang saya memang teman satu satunya teman anak Bapak di ibukota ahaha."
"Wah wah, dia itu memang lebih gampang bergaul dengan teman pria tapi anehnya justru susah punya pacar."
"Jadi sampai sekarang dia masih jomblo Pak?"
"Ya begitulah kira-kira." Jawab ayahku tidak yakin.
Mereka terus bercakap-cakap sambil berdiri dan masih sambil berpegangan tangan, sepertinya mereka lupa kalau disekitar mereka ada manusia lain yaitu aku dan ibuku, apalagi yang jadi tema perbincangan mereka itu adalah aku.
"Ekhem, apa kalian mau bergosip di ruang tamu sambil berdiri sampai subuh?" Sela ku ditengah percakapan mereka.
"Iya si Bapak gimana sih, biar mereka istirahat dulu, mereka juga pasti belum makan malam, Riri kamu antar den Al ke kamar mu ya." Ucap ibuku.
Ah aku hampir lupa kalau kamarku akan dijadikan kamar tamu, dan aku akan tidur dikamar adikku, untungnya sekarang dia sedang jalan-jalan keluar kota bersama teman-temannya jadi kamarnya kosong, tapi seharusnya Aldrian tidur dikamar adikku saja, kenapa juga dia malah tidur di kamarku.
"Bu, kamarnya Roni kan kosong, kenapa Aldrian gak tidur disana aja?" Tanyaku.
"Kamar kamu kan lebih besar dan lebih rapi dari kamarnya Roni, kasian kalau den Al tidur disana."
"Terus aku?? Ibu gak kasian sama aku gituuu?" Batinku.
Kamar Roni memang lebih kecil dariku dan terlebih lagi dia orangnya agak jorok, barang barang di kamarnya berserakan dan terlebih lagi dia suka merokok di kamarnya dan itu membuat kamarnya berbau dupa. Kurasa dengan membiarkan Aldrian tidur di kamarku lebih seperti menjaga harkat dan martabat keluarga ketimbang jika dia tidur di kamarnya Roni.
Dengan terpaksa aku mengantarkan Aldrian ke kamarku. Untungnya aku sempat merapikan kamarku sebelum aku pindah untuk bekerja di ibukota dan masih belum ada yang berubah semenjak aku tinggalkan.
"Kamarmu lumayan juga, kasurnya juga lumayan besar sepertinya muat untuk dua orang, kenapa kau tidak tidur disini bersamaku saja?" Ucap Aldrian sambil duduk di kasurku dan menepuk nepuknya.
"Haha gak usah ngelawak, cukup pastikan saja kalau kau tidak akan membuka buka lemari pakaianku, yang lainnya aku gak peduli mau kau lihat lihat atau kau pegang pegang juga." Ucapku sambil mengunci lemari pakaianku dan mengantongi kuncinya. Untungnya aku membawa beberapa setel pakaian yang aku bawa pindah jadi aku tidak perlu mengeluarkan pakaianku yang ada didalam lemari.
"Memangnya di lemari pakaianmu ada berangkasnya apa?" Ucap Aldrian masih duduk di atas kasur kini sambil melipatkan tangannya di dada.
"Mana punya ku yang begituan, aku hanya teringat waktu kau nyelonong masuk ke kamarku yang ada di kosan dan melihat "nya"." Mukaku memerah jika aku mengingat kejadian itu, bisa bisanya dia melihat pakaian dalamku dan menebak ukurannya pula.
"Waktu itu kan aku tidak sengaja melihatnya, memangnya aku punya kebiasaan aneh yang suka mengambil pakaian dalam wanita apa? Dan kalaupun iya, maaf saja, aku gak tertarik sama pakaian dalam no branded milikmu itu."
Uhuk- ucapannya menusuk tulang iga ku, untungnya belum sampai ke jantung. Kalau dipikir-pikir pakaian dalamku memang produk lokal semua, yang sama sekali tidak meninggalkan kesan seksi ala ala model V-Secret meskipun aku hanya memakai dalaman saja. Dan kenapa juga pikiranku jadi ikut mesum macam dia. Aku menggeleng gelengkan kepalaku mencoba menghilangkan pikiran pikiran aneh itu dari benakku.
"Ah sudahlah, aku mau ganti baju dulu, kau juga ganti ke pakaianmu ke yang lebih nyaman, habis itu kita makan malam, kau juga pasti lapar kan."
"Ok, kau jemput aku lagi disini setelah ganti baju ya, aku takut nyasar kalau pergi ke ruang makan sendirian." Ucap Aldrian dengan senyum polos diwajahnya.
"Rumahku cuma 10, ah tidak, mungkin hanya 5 persen dari rumahmu, kita bahkan gak bisa main petak umpet disini jadi gak usah khawatir bakal nyasar ok !! Keluar sendiri abis ganti baju, aku tunggu di meja makan."
Senyum polos diwajah Aldrian berubah jadi cemberut, aku tidak menghiraukannya dan hanya pergi berlalu keluar dari dari kamarku menuju ke kamar adikku yang hanya berjarak beberapa meter dari kamarku.
Saat aku memasuki kamar adikku, bau dupa rokoknya langsung menyengat hidungku dan aku langsung menyemprotkan parfum ke seluruh penjuru ruangan untuk meredam baunya. Baunya jadi bercampur aduk tapi lebih baik daripada bau kemenyan rokoknya Roni. Dia hanya berbeda dua tahun dariku tapi dia belum juga mendapatkan pekerjaan, kerjaannya cuma tiduran di rumah dan main kalau ada temannya yang mengajaknya untuk keluar, sepertinya itu karena kedua orangtuaku terlalu memanjakannya.
Aku mengambil piyama dari dalam tas tenteng yang aku bawa dari kosan dan mengganti pakaianku, setelah itu aku keluar menuju dapur untuk membantu ibuku yang sedang menghangatkan makanan, karena ini sudah cukup larut jadi makanannya sudah keburu dingin.
"Bu, ibu sama ayah kenapa harus pakai setelan formal begini sih, kayak mau nyambut presiden aja." Ucapku sambil memindahkan rendang dari wajan ke piring.
"Hish kamu ini, meskipun dia cucunya bos mu tapi dia itu tetap atasanmu, jadi dia termasuk tamu yang terhormat, masa Ibu sama Ayah nyambut tamu terhormat pake kaos oblong sama daster, kan gak sopan, pakaian kita itu mencerminkan diri kita."
Ya, memang benar apa yang diucapkan ibuku, jika aku diposisinya toh aku juga pasti akan melakukan hal yang sama, mungkin aku hanya merasa kasihan melihat ayah dan ibuku menahan gerahnya memakai pakaian untuk acara kondangan di malam hari hanya untuk menyambut anak remaja pecicilan macam Aldrian.
"Yaudah ibu istirahat dulu gih, ibu pasti gerah berjam jam pake ini gamis full payet, biar aku aja yang nyiapin makanan, yang makan kan cuma aku sama Aldrian."
"Iya sih rasanya ibu pengen banget nyebur ke kolam koi, Bapakmu juga pasti udah ganti setelan kolor sama kaosnya dikamar makanya dia gak keluar keluar lagi, kalau gitu ibu juga mau mojok aja dikamar sama Bapakmu."
Ibuku pergi ke kamarnya dan disaat yang sama setelah aku selesai menyiapkan makan malam, Aldrian datang, dia langsung duduk dimeja makan dan mengeluarkan pandangannya pada menu yang tersedia di atas meja.
"Kenapa?" Tanyaku sedikit khawatir jika makanan yang ibuku buat tidak sesuai dengan seleranya.
"Rendang??"" Tanya Aldrian dengan mata sedikit berkaca kaca.
"Ya... terus?? Ada apa dengan rendang?"
"Oh my God, this is my favorite." Ucap Aldrian sambil menyendok nasi dan beberapa potong daging rendang keatas piringnya dan memakannya dengan lahap. Sedangkan aku masih berdiri, takjub, dengan pemandangan di hadapanku.
author menggambarkan Riana yg menunduk trus Aldrian melihat airmata Riana dan Aldrian merasa dadanya sakit.. yaa Allah thor sampe kerasa banget sampe ke hatiku