Yang dia inginkan hanyalah kehidupan normal sama seperti yang lainnya, sesekali ia berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan keinginan sederhananya namun masih juga di abaikan.
Sejenak ia berhenti bertanya pada mereka yang memburunya, ia selama ini lari dari tanggung jawab namun saat ia lelah ia berhenti berlari, berbalik kemudian menyambut mereka.
"Saya lelah jadi akhiri saja di sini"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Dina oktafia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Pulang (2)
"Yah ini hanya masalah sepele sebelumnya, tapi karena ada sedikit Maslaah jadi begini deh hehehe" jelas Nana yang sama sekali tidak memuaskan hasrat penasaran ku, "Apa maksud mu sedikit masalah?" tanyaku memperjelas.
Nana mencoba menjaga jarak, "Tiga menit" kataku mengingatkan Nana akan waktu yang ia janjikan pada Aldo.
"Okeh okeh aku jelaskan" kata Nana.
"Beberapa hari yang lalu, Aldo mengadakan pertemuan antara kami (Kelompok Nana dengan kelompok Laura) tanpa sepengetahuan ku, aku sebelumnya sama sekali tidak tahu menahu mengenai pertemuan itu, namun di saat-saat terakhir Aldo malah baru bilang padaku kalau kami akan ada pertemuan saat itu juga, aku langsung syok bukan main apalagi kami tidak tahu harus mengatakan apa nanti" jelas Nana mengambil nafas.
Dari sepenggal cerita tadi bisa sedikit ada gambaran kalau biang kerok masalah ini adalah dodol itu, "Terus apa yang terjadi?" sambung ku.
"Yah Aldo mengajukan pembagian wilayah yang jelas-jelas sudah di kuasai kelompoknya, meski ia sudah tahu ia masih saja kekeh akan pilihannya, aku yang menjadi pimpinannya saat itu hanya bisa mengangguk padahal mah deg-degan nya luar biasa, apalagi saat itu Aldo dengan polosnya mau ketipu sama mereka" jelas Nana membuatku terheran-heran, "Ketipu? maksudnya?" tanyaku.
"Kau tahu metode kertas putih kan?" kata Nana, "Maksud mu perjanjian kertas kosong?" kataku menanggapi, ada banyak ungkapan yang kami pakai untuk menggambarkan sesuatu tapi semua itu tergantung akan pemahaman masing-masing, "Yah anggap saja seperti itu, dengan polosnya ia akan memberikan tanda tangannya pada mereka, jadi aku merobeknya, dan mungkin saja itu menjadi salah satu pemicu amarah mereka" kata Nana santai.
"Apa dia seb*d*h itu?" Cibirku kaget mengingat selama ini dia begitu bijak dalam memberikanku perintah.
"Tak lama setelah itu Aldo yang semua tenang tiba-tiba saja menjadi heboh sembari membawakanku paket aneh yang mana berisikan CD dengan benda rusak yang berdarah, aku sudah bilang ke Aldo kalau untuk sementara ini kita biarkan dulu masalah ini tapi dia malah bersikukuh mengatakan kalau pelakunya adalah mereka (kelompok Laura)"
"Jadi apa yang kau lakukan?" tanyaku penasaran.
"Beberapa hari yang lalu kami kembali mengadakan pertemuan dengan mereka, namun kali ini dengan persetujuan dariku karena pada saat itu aku menganggap kalau pertemuan kali ini akan sedikit menguntungkan buat kami, tapi rupanya aku salah" menghentikan kata-katanya.
"Bukannya menyelesaikan masalah Aldo malah kembali menyinggung masalah teror yang akhir-akhir ini menimpa kami dan membuat semuanya seolah-olah ulah mereka, jadi itulah sedikit masalahnya"
Nana mengakhiri ceritanya dengan akhir yang membagongkan.
"Lah?" aku bingung campur aduk, "Lah kok tu anak malah kagak ngotak yah, bisa-bisanya dia ngelakuin hal itu, emang yah tu anak nantang gelut" Cibirku gemas saat membayangkan wajahnya yang tengah cengengesan saat mendengar ulahnya sendiri.
"Yah bagaimana pun juga itu sudah terjadi, pada akhirnya mereka memberikan dua pilihan pada ku jika ingin semuannya kembali seperti dulu" kata Nana menyisipkan sebuah rahasia.
"Pilihan? apa maksudmu?" tanyaku.
"Untuk menghindari adanya pertumpahan darah kami mengadakan sebuah perjanjian yang mana membuat kami tidak bisa berkutik di hadapannya, sebelumnya kami hendak melakukan perang kecil-kecilan dimana kami akan kalah telak jika mereka benar-benar ingin menghancurkan kami namun sebelum itu mereka juga bilang kalau akan ada sedikit harapan untuk kami jika kami bisa membentuk bibit yang baru untuk di jadikan senjata untuk melawan mereka"
"Jangan bilang kalau-" perasaan ku mulai tidak enak, "Iya seperti itu" sahut Nana seakan-akan sudah paham akan apa yang tengah aku pikirkan, "Oh tidak".