Kehidupan setelah menikah pasti bahagia menurut sebagian orang karena adanya cinta. Namun, tidak dengan kenyataan yang justru akan banyak ujian dan juga konflik yang terjadi setelah menikah. Seperti Dinda, yang kehidupan rumah tangganya begitu menyedihkan. Rey, suami yang tak berguna karena tidak bisa di andalkan baik dalam materi atau perhatian Rey, yang hanya bisa memberikan uang sedikit untuk kebutuhannya juga anaknya. Saat di minta uang Rey, selalu bilang tidak punya hingga Dinda, harus meminjam uang pada teman dan tetangganya. Tidak hanya dalam masalah uang Rey, juga tidak perhatian pada Dinda, juga anaknya. Saat anaknya sakit dan Dinda, meminta uang untuk biaya rumah sakit Rey, hanya bilang 'Nanti ku telepon lagi' itu saja yang Rey, ucapkan tanpa rasa khawatir. Rey, suami yang tak berguna juga pelit tetapi Rey, berani royal pada wanita lain.
Bagaimanakah cara Dinda, menghadapi Rey, suami yang tak berguna? Konflik apa lagi yang terjadi pada rumah tangga mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 ( Ketahuan )
Karin, dan Dinda, masih berada di dalam mobil. Perkataan Karin, membuat Dinda penasaran ada apa dengan rumah tangga Karin. Akhirnya mereka berdua mampir ke sebuah cafe untuk berbicara lebih nyaman.
"Kita bicara di sini saja. Kasian Syena, dia pasti lapar." Karin, menghentikan mobilnya di sebuah cafe kemudian turun yang di ikuti Dinda.
"Mirna!" Di waktu bersamaan Dinda, juga melihat Mirna, ada di cafe tersebut. Mirna yang di panggil Dinda, pun hanya membalas sapaan dengan menundukkan kepalanya.
"Siapa dia?" tanya Karin.
"Karin, dia Mirna, teman kerjaku. Bolehkah dia bergabung dengan kita."
"Tentu."
Mereka bertiga pun bergabung dan duduk di kursi yang sama. Dinda, memilih tempat outdoor agar Syena, tidak rewel karena kegerahan. Cuaca di ibu kota saat ini begitu panas membuat peluh keringat bercucuran. Namun tidak dengan Mirna, yang menggunakan lengan panjang masker dan juga syal pada lehernya. Membuat Dinda, dan Karin, bertanya-tanya.
"Temanmu ini apa biasa berpakaian seperti itu. Apa dia sakit? Memakai baju hangat di siang hari." Karin, berkata seraya menatap Mirna, dari atas hingga bawah.
"Mirna, bukalah maskermu apa kamu tidak gerah. Apa kamu akan makan seperti itu," ujar Dinda.
"Kalian makanlah yang nyaman jangan hiraukan aku," bantah Mirna. Namun, tangan nakal Syena, tidak sengaja membuka tali maskernya membuat masker itu terlepas dari wajah Mirna. Karin, dan Dinda, terbelalak juga terkejut melihat keadaan Mirna. Namun Mirna, belum menyadarinya.
"Mirna, ada apa dengan wajahmu."
Mendengar pertanyaan Dinda, Mirna, langsung meraba wajahnya yang ternyata sudah terlepas dari maskernya. Dengan, segera Mirna, menutup kembali wajahnya dengan masker.
"Apa kamu sakit? Jatuh?" Dinda, mulai melontarkan banyak pertanyaan.
"Aku terjatuh, itu sebabnya aku membeli obat. Dari apotek aku langsung ke sini." Kata Mirna, yang menunjukkan obat yang dia beli.
"Itu bukan luka jatuh." Kata Karin, yang terus menatap Mirna, di depannya. "Kamu di pukuli benarkan. Ada seseorang yang melakukannya?" tanya Karin, Mirna masih diam.
"Mirna, jawab." Dinda, mendesak. Karena Mirna, tidak kunjung menjawab tangan Dinda, langsung membuka syal yang di ikatkan pada leher Mirna.
Dinda, tertegun. Ternyata ini alasan Mirna, yang selalu memakai syal saat bekerja. Kadang, memakai baju panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Dan Mirna, menjadi pendiam. Dinda, ingat jika dirinya pernah bertemu Mirna, saat di depan kantor New-Dream tatapan Mirna, begitu berbeda seperti menyimpan harapan pada kantor itu.
"Apa suamimu yang melakukannya." Tiba-tiba saja pertanyaan itu lolos dari mulut Dinda. Membuat Karin dan juga Mirna menoleh.
"KDRT. Laki-laki pecundang bisa-bisanya melakukan itu pada wanita. Apa kamu hanya diam saja tidak melawan atau menghajarnya. Seharusnya kamu tinggalkan saja suamimu itu." Tukas Karin.
"Sudahku bilang aku terluka karena jatuh."
"Ini harus di laporkan. Mirna, kamu bisa melaporkan tindakan suamimu itu. Luka mu ini bisa di jadikan bukti."
"Sudahku bilang aku terjatuh!" Mirna, tiba-tiba saja membentak Dinda. Kini suasana semakin menegang. Tidak ada yang bicara satu pun mereka semua diam. Tiba-tiba suara isakan terdengar Karin, dan Dinda, melirik pada Mirna, yang kini menangis.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan dan tidak ada yang bisa menolongku. Seharusnya kalian abaikan saja lukaku ini kenapa kalian begitu peduli."
"Seharusnya kamu bersyukur aku yang baru bertemu denganmu sangat peduli padamu. Tapi kamu malah memarahiku." Karin, tidak terima dengan ucapan Mirna, merasa kesal.
"Kenapa kamu tidak lapor polisi?" tanya Dinda.
"Sudah aku pikirkan. Tapi aku tidak bisa melakukannya dia selalu mengancamku."
"Kamu bisa pergi dan kabur." Karin menimpali.
"Sudah aku pikirkan. Aku punya keluarga, ayah, ibu, adik dan anak. Jika aku pergi atau kabur dia akan mengganggu keluargaku aku tidak bisa membiarkan itu."
"Cerai. Kamu bisa minta cerai padanya." Dinda, memberi harapan.
"Sudahku coba. Dia akan melukai anakku jika aku melakukan itu."
"Sulit juga kalau kita punya anak. Aku pun mengalami hal yang sama. Bercerai bukan akhir semua masalah dengan bercerai belum tentu hidup kita tenang. Buktinya aku saat ini Rey, masih saja meminta hak asuh anaknya padahal hak asuh sudah jatuh padaku."
"Ya. Aku pun bertahan demi anakku." Mirna, menimpali.
"Karin, bagaimana denganmu kamu bilang ada yang ingin di ceritakan." Dinda, bertanya seraya menatap Karin, yang duduk di depannya. Namun Karin, malah menatap Mirna, yang duduk di hadapannya.
"Cerita saja. Aku bisa di percaya," ujar Mirna, yang tahu apa maksud tatapan Karin padanya. Mungkin Karin, enggan bercerita karena ada Mirna, orang yang baru di kenalnya.
"Sepertinya kita semua punya masalah yang sama. Rumah tangga kita tidak ada yang benar. Aku masih curiga pada suamiku apa yang harus aku lakukan. Ibuku datang dia memperlihatkan sebuah foto jika Vikram, sedang bersama wanita lain. Tapi anehnya aku sama sekali tidak percaya, ibuku bilang aku di butakan cinta. Sekarang aku mulai curiga karena semalam tingkahnya aneh, sangat aneh." Karin, berkata.
"Memang kamu di butakan cinta Karin. Kamu punya uang, kaya, cantik, tapi kamu malah mempertahankan lelaki yang tidak berguna. Kamu mencintainya tidak peduli apa yang Vikram, lakukan. Kamu belum memiliki anak dan sangat mudah untuk berpisah tapi kamu memiliki cinta yang sulit di hilangkan." Kata Dinda.
"Sepertinya kamu yang paling beruntung," ujar Mirna.
"Aku pikir juga begitu," sambung Dinda.
"Hei, kenapa? Kenapa aku yang beruntung."
"Kamu punya uang, kamu bisa menuntut suamimu jika berulah. Kamu cantik, kaya, banyak lelaki yang akan menunggumu. Sedangkan aku … aku tidak berdaya." Mirna, merasa putus asa.
"Memangnya kamu curiga tentang apa pada Vikram?" tanya Dinda, yang penasaran.
"Aku curiga dia selingkuh. Tapi aku belum punya bukti untuk menyalahkannya."
"Kamu pikir Vikram akan melakukan itu. Dia akan sangat rugi jika berani mengkhianatimu dia akan kehilangan semuanya. Bukankah kamu yang selama ini mencukupi hidupnya."
"Nyatanya dia melakukan itu," sanggah Karin, yang memotong perkataan Dinda.
"Bukankah tadi ada anak kecil di sini," ujar Mirna. Membuat Dinda, dan Karin, meliriknya.
"Ya, itu anakku kenapa?" tanya Dinda.
"Dimana dia sekarang?" tanya Mirna, pada Dinda.
"Dinda, Syena …."
"Ya Tuhan, dimana Syena." Dinda, panik karena Syena, tidak ada. Bahkan Mirna dan Karin ikut panik. Mereka baru menyadari jika Syena, hilang. Karena keasyikan mengobrol dan curhat Dinda, lupa pada putrinya sendiri. Kini mereka sibuk mencari Syena.
"Dinda, bukankah itu Syena."
Karin, melihat Syena berada di bawah meja yang lain. Syena, melihat ada botol susu punya seseorang yang jatuh. Dan sekarang Syena, duduk di bawah meja itu. Sambil menikmati susunya.
"Ya tuhan Syena."
Dinda, langsung berlari menghampiri Syena, begitu pun Karin, dan Mirna. Dinda, terlihat meminta maaf pada sepasang suami istri yang menempati meja itu karena sudah mengganggu makannya. Lalu memberikan botol susu yang sempat Syena, pegang karena milik anaknya yang terjatuh.
"Dinda, apa Syena, baik-baik saja?"
Mirna, dan Karin, ikut panik dan cemas. Namun Dinda, mengatakan jika semua baik-baik saja. Tanpa di duga Karin, melihat sebuah pemandangan yang mengejutkan dan juga memancing amarahnya. Tidak jauh dari meja itu Dinda, melihat Vikram, bersama Mia. Karin, melihat Mia. Bahkan mereka saling menyuapi Mia, terlihat sedang membersihkan sisa makanan pada sudut bibir Vikram, mereka tersenyum bahagia tanpa sadar masalah akan datang.
Tatapan Karin, begitu tajam tidak berkedip sedikit pun atau pun menoleh.
"Karin, kamu kenapa?"
Dinda, bertanya namun Karin, menghiraukannya. Tatapannya masih tertuju pada Vikram. Dinda, dan Mirna, jadi bingung. Lalu mengikuti kemana arah tatapan mata Karin. Akhirnya Dinda, tahu apa yang membuat Karin, seperti itu.
"Ya tuhan."
"Ada apa?"
"Lihatlah itu suaminya bersama wanita lain."
"Pantas saja matanya tidak berkedip."
Dinda, dan Mirna, saling berbisik.
"Menurutmu apa yang akan terjadi," bisik Mirna.
"Entahlah," ucap Dinda.
...----------------...
Kira-kira apa yang akan di lakukan Karin.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya like, dan komentar setelah membaca. Kasih votenya juga 🙏.
Dari tokohnya juga sangat mengisnpirasi untuk tetap sabar dalam menjalani cobaan.
enak skli laki2 kyk gitu sllu main perempuan trus punya anak2 di mna,
bayakin cerita dinda sma willy dong thor
males cerita.rey mulu