WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28
Saat Darto dan Herman sedang berdebat. Tiba-tiba, Lastri masuk kedalam ruangan itu dengan sebotol air di tangannya.
“Gak usah ribut, kalian anggap aja hari ini gak pernah terjadi,” kata Lastri. Gadis itu berjalan ke arah Cempaka berada.
“La-la-lastri,” sebut Cempaka dengan lemah.
“Hahaha!” Lastri tertawa saat mendengar Cempaka menyebut namanya. “Gimana, enak?”
“Ka-ka-kamu tega, Las. Apa salahku?”
“Kamu tanya apa salah kamu? Emang kamu gak punya pikiran, salah kamu itu banyak. Pertama, kamu itu hanya gadis miskin tapi selalu unggul dalam bidang apapun dari aku. Kedua, kamu udah merebut perhatian semua orang dari aku. Dan ketiga, aku udah rebut Harun dari aku! Jadi inilah yang pantas kamu dapatkan!”
Lastri menginjak-injak kaki dan tangan Cempaka. “Lastri, jangan!” pekik Darto.
“Sakit, aku mohon hentikan, Lastri,” ucap Cempaka dengan lirih.
“Lastri, sudah. Udah cukup, kasian Cempaka!” Darto hendak menolong Lastri, tetapi Herman mencegah dengan cara menahan tubuh Darto.
Buk!” Darto memukul wajah Herman. “Sialan! Kamu berani sama aku!” Herman tersulut emosi, dan membalas Darto berkali-kali lipat.
Lastri tersenyum, ia membuka botol air yang ia bawa. “Sekarang, kamu rasain ini! Aku yakin, Harun gak akan mengenali wajah kamu. Meskipun sudah menjadi hantu sekalipun!” Lastri menumpahkan air yang ia pegang ke wajah Cempaka yang tampak lesu dan kusut itu.
“LASTRI!” teriak Darto dengan keras.
“Aaakkhh! Sakit Lastri, muka ku perih,” rintih Cempaka. Air keras yang di tumpahkan Lastri pada wajah Cempaka, membuat wajah putih itu seketika memerah dan mengelupas.
“Lastri, ampun!”
“Cempaka!” teriak Darto. Darto yang jatuh tersungkur karena di pukuli oleh Herman, berusaha bangkit dan hendak membantu Cempaka.
“Hahahaa! Aku puas sekali,” kata Lastri sembari tertawa terbahak. “Setelah Harun kembali, dia pasti jadi milikku.”
Lastri pun melirik Darto yang berjalan mendekat ke arah Cempaka yang sudah tidak berdaya itu.
“Diam di situ, Darto! Atau ku buat nasip mu sama seperti Cempaka!” ancam Lastri.
“Kalian berdua sangat kejam! Seharunya kamu gak perlu menyiram mukanya pakai air alkohol itu!” tunjuk Darto. Darto pun tidak mendengarkan perkataan Lastri, ia berjalan dan mendekati Cempaka yang sudah sekarat.
“Dia sekarat,” kata Darto sembari menyentuh tangan Cempaka yang terkulai lemas.
“Gimama ini, Las?” tanya Herman dengan panik.
“Jangan panik, kita kubur dia secepatnya,” kata Lastri.
“Kubur dimana?” tanya Herman.
“Di koridor samping yang lagi di bangun. Aku yakin, gak akan ada yang tau. Lagipula, dua hari lagi koridor iru bakal di semen dan di pasang keramik kan?”
“Kalian berdua gila!” pekik Darto.
“Ya, aku memang gila! Aku gila, kalau kamu di penjara. Kamu bawa aja dia kerumah sakit, tapi ingat jangan bawa-bawa atau sebut namaku dan Herman!” bentak Lastri.
Darto terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa? Ia juga tidak ingin di penjara, jika ibu dan bapaknya tahu apa yang telah ia lakukan. Pasti ibu dan bapaknya akan membunuhnya.
“Sekarang kamu pilih, kita tutup rapat semua yang udaj terjadi. Atau memilih mendekam di penjara sampe tua?” Lastri memberi dua pilihan kepada Darto.
“Halah, kelamaan mikir!” Herman mendekat dan menyeret kaki Cempaka.
“Jangan, Her! Biar aku yang bawa,” kata Darto. Ia tidak tega melihat Cempaka yang di seret seperti binatang itu. Jadi, ia memilih untuk membopong tubuh Cempaka.
Herman dan Darto pun membuat lubang di tengah-tengah lorong yang sedang di bangun. Setelah cukup dalam, Herman melempar tubuh Cempaka kedalam lubang itu. Saat itu, hari menjelang magrib. Cempaka yang di kubur dengan tidak layak, belum meninggal. Jantungnya masih berdetag dengan lambat, ia di kubur di lorong itu dalam keadaan sekarat.
Setelah mengubur Cempaka yang sedang sekarat, Darto menangis. Ia menyesali semua perbuatannya. Ia pun pergi meninggalkan kampus itu lebih dulu.
Baru saja ia hendak melangkah, Lastri kembali mengingatkan dirinya. “Ingat Darto! Hanya kita bertiga yang tau semua ini, kalau sampe kamu bocorkan ke orang lain. Maka kami pastikan, kamu bakalan bernasip sama seperti Cempaka!”
“Kalian gila, kalian kejam!” pekik Darto. Setelah itu, Darto benar-benar pergi meninggalkan kampus itu.
Saat azan magrib berkumandang, Cempaka yang di kubur di dalam lubang yang ada di koridor itu, menghembuskan napas terakhirnya.
Dua hari kemudian, koridor samping kampus itu benar-benar di semen dan di pasang lantai keramik. Lastri dan Herman yang melihat, tersenyum puas. Lain dengan Darto, pemuda itu memandang sendu. Setelah kejadian itu, ia selalu di hantui rasa bersalah.
Flashback off
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu