(PERHATIAN!! bacaan ini akan membuat mu geram... skip saja bagi yang tidak kuat membaca, tentang perselingkuhan 😊🙏)
aku Adam Riansyah, pria berusia 32 tahun.
seorang operator alat berat, yang harus bekerja di kota yang jauh. dan terkadang berpindah dari satu kota ke kota yang lain.
meninggalkan seorang istri yang baru ku nikahi empat tahun yang lalu, juga seorang anak berusia tiga tahun.
kata orang hidup di perantauan itu mudah, benarkah begitu?
aku rasa tidak!
apalagi aku adalah pria yang sudah menikah, berusaha menahan hasrat berbulan-bulan sangatlah sulit bukan. godaan demi godaan sering datang menghampiri, dimana teman-teman ku bahkan lebih memilih untuk menikah diam-diam atau mungkin menyewa wanita demi memenuhi hasratnya.
hingga akhirnya aku bertemu dengan Andini, seorang janda yang baik hati serta ramah. wanita yang bekerja sebagai penjual nasi dan kopi di tempat ku bekerja. membuat ku merasakan kenyamanan saat di dekatnya...
di sinilah kesetiaan ku mulai di uji...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aqila sakit.
Beberapa hari berlalu, bahkan sudah berganti Minggu.
Gadis itu masih duduk berhadapan dengan pria yang tengah berbicara banyak hal.
Sepertinya makin nyaman saja Adam di dekat Andini, dia tidak pernah menyia-nyiakan waktu luangnya selain untuk mengunjungi Andini.
Bahkan Andini saja sampai bingung, harus dengan cara apa dia mengusir Adam. Berbagai cara sepertinya tidak mempan untuknya, karena dia sadar pria itu sedang berusaha mendekatinya saat ini, sementara hatinya sendiri sudah tidak bisa lagi menahan untuk pura-pura tidak peduli dengan perasaannya itu.
Terlebih saat ini, dimana ketika Adam menatap wajah Andini, dengan penuh cinta.
'dia senang sekali sih menatap ku seperti itu?' batin Andini yang merasa risih sendiri.
"Mas, ngapain ngeliatin aku sampai seperti itu sih?" Tanya Andini.
"Menurut mu, ini tatapan apa?" Tanya Adam. Sementara yang di tanya hanya diam saja. Tidak mau menjawab, karena dia takut pertanyaan Adam nanti akan menjerumus ke yang lainnya. "Kok diam?"
"Di minum saja kopinya." Ucap Andini. Adam pun terkekeh.
"Bagaimana caranya aku mengatakan pada mu sih? Agar kau paham, seperti apa isi hati ku, Dini?"
"Tidak usah berbicara ngelantur ya mas. Aku harus tutup, ini sudah malam." Gadis itu beranjak.
"Besok aku off, jadi kan? Kita jalan... Kamu sudah janji loh ya."
"Tapi besok aku sepertinya tidak bisa mas."
"Lagi, kamu mau membatalkannya? Kamu memang seperti ini ya, paling tidak bisa memegang janji mu sendiri?"
"Bukan begitu mas Adam. Aku tidak mau kau terus seperti ini dengan ku, ingat kau itu ada istri."
"Memang kenapa? Pokoknya, besok kau harus siap-siap. Ku tunggu kau di sini sehabis isha. Jika kau tidak datang, akan ku jemput ke rumah mu langsung." Adam beranjak dari kursinya lalu pergi.
Andini pun menggaruk keningnya menggunakan jari telunjuknya itu. "Ya ampun pria itu ya...?" Sudah pasrah saja dia mengikuti keinginan Adam.
.
.
.
Dan malam Minggu ini, Andini pun sudah siap. Menyanggupi kemauan pria bernama Adam itu untuk pergi bersama, hingga tak lama pria berpenampilan lumayan rapi itu pun berjalan mendekatinya.
Adam tersenyum, dia melihat Andini lebih bersinar malam ini. Tidak seperti biasanya.
"Mas, langit agak mendung. Mending kita batalkan saja, aku takut hujan." Ucap Andini pada pria yang sudah duduk di atas motor miliknya itu.
"Kunci motornya mana?" Tanya Adam tak menggubris.
"Mas, ku bilang langit mendung."
"Tidak akan hujan Dini, percaya lah pada ku. ayo keburu malam nih."
"Ck..." Andini pun naik ke atas motornya. Dan saat itu pula kedua tangan Adam meraih kedua tangan Andini lalu melingkarkan tangan itu di pinggangnya.
"Pegangan ya. Yang kenceng, aku nggak mau kamu jatuh." Titah Adam, dan motor pun mulai melaju dari tempat mereka mengambil start.
. 🥀 🥀 🥀 🥀
Sementara di Jakarta....
Nesa baru saja pulang dari kampusnya, karena Nesa mengambil studi Sabtu dan Minggu, jadi waktunya akan terkuras habis di dua hari itu. Hingga dia akan sering pulang malam.
Dan sebelum kembali ke rumahnya sendiri, dia harus menjemput Aqila terlebih dahulu di rumah orang tuanya.
Ada yang aneh... gadis kecil itu tidak seperti biasanya. Dia terlihat lebih murung, dan bahkan kata sang ibu anak itu tidak mau makan seharian ini.
Nesa pun menggendongnya. Karena gadis kecilnya masih merengek-rengek minta pulang.
"Ibu ayo pulang... Qila mau pulang."
"Iya sayang, tapi kamu sepertinya agak hangat badannya?" Nesa merasakan suhu tubuh sang anak yang tak biasa.
"Ayo pulang... Pulang ibu–" rengek Qila yang langsung menangis.
"Ya sudah pulang saja tidak apa Nesa..." Ucap sang ibu yang turut menyentuh kening Aqila.
"Bawa pulang saja anak mu Nesa, tapi bapak dan ibu ikut ya. Menginap sekalian di rumah mu." Ucap pak Kurniawan, ayah Vanesa.
"Iya deh pak." Jawab Nesa yang bergegas keluar, lalu di ikuti sang ibu dan ayahnya.
Di rumah, Aqila masih saja merengek memeluk boneka kesayangannya. Pemberian dari sang ayah.
"Hiks... Ayah." Rintih gadis kecil itu, dengan kain handuk yang di basahi, melekat di keningnya.
"Anak mu rindu dengan ayahnya, itu. Coba kamu telfon Adam." Titah sang ibu. Nesa pun mengiyakan, ia mencoba menelfon sang suami. Namu tidak di angkat.
"Tidak di angkat Bu, mungkin mas Adam lembur. Kemarin kan dia tugas malam." Jawab Nesa, karena dia tidak tahu kalau malam minggu ini Adam tengah off.
"Ya sudah, bentar ibu buatkan parutan bawang merah dulu ya."
"Iya Bu, makasih ya."
"Sama-sama." Beranjak dari ranjang Vanesa lalu keluar.
"Ibu... Ibu..." Rintih Qila lagi, dengan mata yang terpejam. Sepertinya suhu tubuh anak itu semakin tinggi.
"Iya sayang?"
"Qila mau ayah, Qila mau ayah pulang." Rengeknya.
"Ayah kerja sayang, Qila tidak boleh Seperti ini ya? Ayah kan kerja untuk Aqila juga."
"Ya sudah telfon ayah, Bu... Telfon sekarang." Pinta gadis itu.
"Ya Allah... Maaf ya sayang, ayah lagi lembur. Besok saja ya." Nesa berusaha menenangkan, namun anak itu masih saja rewel. Hingga sang kakek pun masuk ke dalam kamar itu menyentuh tubuh Aqila.
"Ini panas sekali Nes, takutnya nanti kejang. Bawa saja ke rumah sakit ya."
"Nggaaak... Qila nggak mau ke rumah sakit, Qila mau ayah... Mau telfon ayah." Pekik Qila, menolak.
Nesa pun kembali meraih ponselnya mencoba menghubungi pria, yang tengah asik menonton festival bunga api di sana, duduk bersebelahan dengan Andini. Sembari mengobrol hal-hal yang membuat keduanya tertawa bersama.
Nesa menggeleng cepat. "Nggak di angkat, mas Adam benar-benar tengah sibuk kayanya." Ia kembali meletakkan ponselnya itu, lalu menggendong Aqila.
Hingga sang ibu pun masuk, dan menyapuh tubuh Aqila dengan parutan bawang merah yang di campur dengan minyak kayu putih.
"Ayah... Qila mau telfon ayah Bu... Telfon ayah sekarang. Qila mau ayah pulang." Nesa sudah bingung ingin melakukan apa selain mengayun-ayun tubuh sang anak dalam gendongannya. Berharap anak itu bisa tenang dan tertidur.
Sungguh malam yang sangat melelahkan, bahkan dia sendiri saja belum sempat mengganti pakaiannya apalagi membasuh tubuhnya itu.
***
Kembali pada Adam, dan Andini...
Gadis itu menoleh ke arah pria yang masih duduk bersila dengan tangan menopang dagunya sendiri menatap Andini.
"Mas, sudah jam sepuluh. Pulang yuk." Ajak Andini.
"Aku masih betah, disini."
"Tapi aku tidak bisa pulang terlalu malam. Kita harus pulang mas."
"Tapi acara bunga apinya kan belum selesai. Oh... Bahkan kamu belum beli apapun kan?"
"Beli apa? Aku tidak mau beli apa-apa. Ini sudah malam mas. Ayo pulang." Andini meraih tangan Adam menggoyang-goyangkannya. Adam pun tersenyum.
"Ya sudah deh, tapi mampir ke warung nasi goreng dulu ya. Aku lapar." Pinta Adam.
"Isssshh... Bungkus saja ya, jangan makan di warungnya."
"Ya nggak mau lah, enakan makan di sana sama kamu, Dini."
"Tapi ini sudah malam mas, dan?" Dini merasakan tetesan air mengenai wajahnya. "Kayanya gerimis mas. Ayo mas Adam kita pulang saja ya."
"Iya deh iya." Adam yang merasakan tetesan air juga pun beranjak sembari memegangi kedua tangan Andini. Dia lantas menggandeng tangan gadis itu, menyusuri jalan lapangan bola yang terang akibat lampu-lampu dan letusan bunga api yang masih meramaikan tempat itu.