Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manis
Erika👆
Saat ini Evans dan Erika berada di sebuah restoran mewah. Mereka berada di ruang private, duduk berdampingan. Evans sengaja memilih ruang privasi biar enak kalau mau bermesraan tanpa ada yang melihat atau mengganggu. Tetapi saat ini wajah Evans terlihat murung.
"Kak Evans kenapa murung?"
"Kenapa kamu tidak mau kubelikan apa-apa tadi. Aku sengaja menjemputmu dan membawamu ke sana untuk belanja, bukan cuma untuk....apa tadi yang kamu bilang waktu di sana?"
"Cuci mata, Kak," jawab Erika dengan mulut senyum terbuka lebar.
"Hahaha. Iya bukan cuma untuk cuci mata." Evans tertawa merasa lucu dengan istilah cuci mata.
"Hahahaha. Lain kali aja Kak Evans. Masa baru pacaran Kakak sudah beli ini itu."
"Kenapa memangnya? Sudah seharusnya begitu, aku kan pacarmu," jawab Evans lembut, tangannya terulur menjumput rambut Erika.
"Sebenarnya aku merasa trauma menerima belanjaan darimu, Kak Evans. Aku takut karena hal-hal itulah yang membuat Kakak sesuka hati padaku. Seperti waktu itu setelah pulang dari belanja tiba-tiba Kakak menciumku kasar." Erika menunduk. Dia merasa lebih baik berucap jujur akan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Eh? Bukan karena itu, Erika. Sama sekali tidak ada hubungan dengan itu. Apa itu yang membuatmu memulangkan semua yang kuberikan waktu itu?" tanya Evans menebak. Erika mengangguk.
"Astaga. Aku menciummu seperti itu karena...." Bertepatan para pramusaji datang menghidangkan makanan yang dipesan sebelumnya. Setelah mempersilahkan, mereka pun pergi. Mata Erika berbinar-binar melihat makanan itu. Evans tersenyum melihatnya.
"Makanan sudah datang, ayo makan, Erika. Kamu harus banyak makan ya." Evans memilihkan banyak menu yang enak-enak dan menaruhnya di mangkuk Erika.
"Iya makasih, Kak." Erika tersenyum ceria melihat semua makanan yang ada di hadapannya. Erika sangat berselera makan. Makanan yang dipesan dilahap dengan semangat. Membuat Evans merasa senang.
"Coba yang ini nih. Enak banget." Evans menyuapkan daging sapi yang dipotongnya. Erika agak canggung tapi tetap menerima suapan itu. Siapa yang tidak 'klepek-klepek'? Evans selalu memperlakukan pacarnya dengan lembut dan perhatian. Apalagi wajah Evans itu benar-benar tampan. Bahkan orang yang tadinya tidak berselera makan, bisa jadi selera karena melihat senyumnya.
"Jangan sampai terlalu kenyang nanti perutmu sakit," ucap Evans tersenyum, mengusap rambut Erika dengan sayang.
"Enak, Kak. Hehehe," ucapan Erika dengan mulut penuh makanan.
Evans memperhatikan wajah Erika yang sibuk mengunyah, dia mengambil tisu dan menyapu bibir Erika dari sisa makanan. Erika terdiam waktu Evans membersihkan bibirnya. Lalu..
Cupp!
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir manis Erika. Membuat mata Erika terbelalak.
"Kenapa?" tanya Evans tertawa. Dengan segera Erika menelan makanan di mulutnya yang sudah dikunyah. Diraihnya minuman buah miliknya dan diteguknya beberapa kali. Kemudian, dia membuka suara.
"Sudah tiga kali Kakak menciumku tiba-tiba."
"Empat kali," bantah Evans.
"Eh? Tiga. Jangan ditambah dong, Kak."
"Empat kali, Sayang." Evans terkekeh. Wajah Erika memerah karena itu pertama kalinya seorang pria memanggilnya sayang.
"Eumm. Kakak salah hitung. Kenapa empat sih? Satu, yang pertama kali di depan gang dekat rumah. Dua, di ruang kesehatan. Tiga, yang barusan tadi," jelas Erika dengan polosnya. Evans terkekeh tak karuan. Bagaimana bisa Erika menghitung ciuman mereka beserta perincian waktunya?
"Ini yang ke empat, Sayang. Dan ke depannya kamu tidak akan bisa menghitungnya lagi. Karena itu tidak akan terhitung." Wajah Erika sudah seperti kepiting rebus menahan malu akan perkataan Evans. Evans menatap wajah Erika.
"Dan ini yang kelima."
Cupp!
Evans mengecupnya lagi di bibir. Erika pun mematung. Evans tertawa kembali. Wajahnya memancarkan sinar kebahagiaan. Evans benar-benar sangat tampan. Erika lagi-lagi terpesona melihat tawa Evans.
"Kamu sangat menggemaskan, Erika." Evans mencubit pelan kedua pipi Erika. Erika jadi tersadar dari keterpesonaannya tadi.
"Se.. Sebenarnya kenapa bisa lima kali?" celetuk Erika tiba-tiba.
"Di ruang kesehatan itu ciuman ketiga. Yang kedua waktu kamu di rumah sakit," ucap Evans sambil mengusap kembali puncak kepala Erika.
"Hah?" Mulut Erika menganga.
"Kamu tidur nyenyak waktu itu," ucap Evans tersenyum.
"Berani-beraninya diam-diam cium aku." Erika pura-pura marah.
"Biar aja!" jawab Evans pura-pura menantang.
"Eh? Jadi benar boneka beruang itu Kakak yang kasih?" Wajah Erika berbinar teringat tentang boneka.
"Tebak aja sendiri." Evans tersenyum.
"Iya pasti dari Kakak. Makasih ya Kak, aku suka," ucap Erika balas tersenyum.
"Baguslah kalau kamu suka. Akan kubelikan kamu bermacam-macam." Erika mengangguk ceria.
"Cantiknya!" Evans terkagum dalam hati.
"Aku menyukaimu, Erika. Aku harap tidak ada orang ketiga di antara kita."
"Terutama si Danish itu!" sambung Evans dalam hati.
Evans memeluk Erika. Walau sedikit terkejut tetapi bibir Erika terukir senyuman, lalu Erika berkata, "Aku harap Kakak juga begitu."
Evans melepas pelukannya. Tanpa menjawab, dia menundukkan wajah dan kembali mencium bibir Erika.
Mata Erika melebar merasakan bahwa ini bukan kecupan biasa seperti tadi.
•
•
Mata Evans berkabut penuh gairah. Evans menelan ludah. Saat ini otak kotor mesum menguasai pikirannya. Tetapi kemudian, Evans menggeleng cepat, mengusir pikirannya yang kurang ajar itu.
"Erika, aku ke toilet sebentar ya. Kamu lanjut dulu makannya." Erika mengangguk menahan malu, dengan wajah yang sudah sangat merah karena ciuman tadi.
Di toilet, Evans mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa dia seperti ini terhadap Erika? Kenapa dia malah berubah menjadi lelaki mesum seperti ini? Evans tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian Evans kembali ke ruang private itu. Dia melemparkan senyum manisnya pada Erika yang sedang sangat menikmati hidangan penutup, dessert cake coklat lezat bercampur potongan strawberry segar.
"Enak?" tanya Evans sambil duduk kembali di samping Erika.
"Mmmh, enak banget Kak. Kakak mau coba punyaku?" tawar Erika. Evans mengangguk. Erika pun menyuapi Evans dengan malu-malu.
***
Evans 👆
Bersambung.
Jangan lupa klik menu Like nya. 😉