• Buku ini memiliki 5 cerita ber-sekuel, kalian bisa membacanya dari awal agar lebih mengerti •
• Psycho Man
• My Girl
• Destiny Of Love
• Her Secret
• Possessive Brother
Dulu Eros pergi tanpa alasan dan meninggalkan luka padanya. Kini saat Adara sudah melupakan pria itu dan sebentar lagi akan menikah, Eros malah kembali dan memintanya untuk bersama. Luka dan kesakitan membuat Adara menolaknya, tapi pria itu malah berbuat hal gila yang membuat Adara semakin terluka.
Bagi yang suka cerita berkonflik berat genre hurt mari mampir, di sini hatimu akan di bolak-balik oleh kisah percintaan mereka. Selamat membaca, di tunggu juga dukungan dari kalian semua❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Maya memperhatikan putri semata wayangnya yang sedang memasukan pakaian ke dalam koper. Ada perasaan sedih karena Ia akan kembali berpisah dengan Adara, dan Ia akan sendiri lagi di sini.
"Sayang kamu yakin akan kembali ke Jakarta?"
"Iya, Mama sudah tanya itu lima kali loh."
"Kamu di sini saja sama Mama, jangan pergi lagi."
Mendengar nada sedih itu membuat Adara mendekat pada Maya, lalu memeluk Ibunya erat. "Adara juga maunya begitu, tapi aku gak mau ngerepotin Mama terus."
Tepukan lumayan keras di bokongnya membuat Adara meringis, menatap bertanya Maya.
"Kamu ini kaya orang asing aja sama Mama, ini rumah kamu dan kenapa harus ngomong gitu?"
"Hehe gak bukan tadi Adara salah ngomong, maksudnya ya Adara ingin kerja lagi aja bosan di rumah."
"Ya sudah kamukan bisa kerja di butik."
"Gak mau ah, Adara pengen kerja jauh."
"Ck ada-ada aja kamu."
Maya mengusap pipi Adara, menatap putri satu-satunya lembut. "Kalau begitu jaga diri kamu baik-baik, jangan sakit. Mama pasti akan selalu merindukan kamu."
"Iya Mama."
"Kalau ada apa-apa langsung telphone Alvaro, dia pria baik dan perhatian. Mama percaya sama Alvaro dan sekarang Mama sudah tidak terlalu khawatir karena ada yang jagain kamu di sana."
Sebenarnya Adara ingin sekali menjelaskan pada Mamanya jika hubungan mereka bohong, tapi rasanya tidak tega juga. Bukan hanya Maya yang pastinya sedih, tapi juga tante Indri. Adara tidak mau merusak persahabatan mereka, lagi pula jika tidak dijelaskanpun mungkin tidak apa-apa.
"Sekarang kamu istirahat, besok harus bangun pagi-pagi dan jangan kesiangan."
"Siap kapten."
***
"Kamu yakin mau tinggal di apartemen saja?"
"Iya saya lebih nyaman di sini."
"Hm baiklah saya mengerti." Ucap Alvaro.
Tadinya Ia ingin meminta Adara untuk tinggal di rumahnya saja, yang pasti lebih aman, tapi wanita itu menolak dengan dalih tidak ingin merepotkan. Baiklah, lagi pula Alvaro harus mengerti. Dan akhirnya Alvaro memberikan salah satu apartemennya untuk Adara, Ia juga memang jarang ke sini karena tinggal di rumah bersama Mamanya.
Sore hari mereka baru tiba di Jakarta. Ibunya langsung pulang, sedang Alvaro mengantar dulu Adara ke apartemennya. Kawasan apartemennya tidak terlalu jauh dari kantornya, dan itu membuat Alvaro sedikit merasa tenang.
"Apa tidak merepotkan saya tinggal di sini?"
"Tidak, lagi pula saya jarang ke sini. Sekarang apartemen ini milik kamu, semoga betah."
"Terima kasih."
Alvaro mengangguk. "Besok pembukaan perusahaan di Kemang, kamu harus hadir menemani saya."
"Iya saya pasti hadir."
"Hm saya akan menjemput kamu pukul tujuh pagi."
"Tidak papa, saya bisa-"
"Tidak ada penolakan nona."
Ya begitulah sifat Alvaro, tidak mau dibantah. Tapi walau begitu, masih banyak sifat lainnya yang telah Adara tahu. Yang pasti sebenarnya lebih banyak yang baik dari pada menyebalkannya.
"Saya pulang sekarang tidak apa-apa?"
"Iya."
"Sampai jumpa besok."
Adara mengantarkan Alvaro sampai parkiran, karena sudah tanggung dibawah Ia memutuskan untuk berbelanja bahan makanan di market dan untungnya tidak jauh. Adara memilih berjalan kaki sekalian jalan-jalan sore, apalagi langit sore sedang cerah.
Wanita itu tak menyangka akan kembali lagi ke kota ini, kota yang banyak memberikan kenangan padanya. Padahal dulu Adara sudah berjanji tak akan lagi menginjakan kaki di Jakarta, tapi kenapa sekarang Ia malah kembali?
Benar juga apa kata Alvaro, masa lalu biarlah masa lalu. Sekarang Adara harus menikmati hari-harinya, dan tidak perlu memikirkan yang buruk. Termasuk memikirkan pria itu-Eros. Adara menghentikan langkahnya, menatap langit sore yang cerah. Entah kenapa matanya berkaca-kaca saat mengingat nama pria itu, dadanya terasa sesak.
"Adara.. Kau harus melupakannya."
***
Bartender pria itu berdecak sebal melihat sahabatnya yang sudah sangat mabuk berat. Entah sudah berapa botol Eros minum, yang pasti pria itu sudah tak sadar, sambil meracau mengucapkan satu nama wanita.
"Heh lo pulang aja sana!"
"Adara."
"Ck gue telphone supir lo deh, soalnya gak yakin gue lo bisa pulang selamat."
"Adara."
"Gila!" Maki Afif.
Afif membawa ponsel Eros, sempat terdiam saat melihat walpaper pria itu. Seorang wanita cantik yang sedang berpelukan dengan Eros, sedang di belakangnya pemandangan langit yang dihiasi dengan jutaan kembang api indah. Apa mungkin wanita ini Adara? Sangat cantik, pantas saja Eros terus meracaukan nama itu.
"Hallo pak bambang, tolong jemput Eros di klub malam jalan Jend. Sudirman ya pak, dia mabuk berat."
"Baik saya segera ke sana."
Setelah menutup ponsel, Afif langsung terbelak karena tak menemukan Eros. Kemana pria itu? Dengan segera Ia mencari, dan entah kenapa Ia turun ke lantai menari, firasatnya mengatakan kalau Eros di sini. Agak sulit karena banyak sekali orang dan Ia harus berdesakan untuk mencari Eros, lampu juga kerlap-kerlip membuatnya pusing.
Lalu keributan terdengar dari dekat panggung, dengan segera Ilham ke sana. Saat sudah dekat Ia bisa melihat dua orang pria yang sedang baku hantam sampai beberapa barang berantakan.
"LO BERANI SENTUH ADARA HAH?!"
Bugh!
Pukulan demi pukulan Eros berikan untuk pria itu, walaupun mabuk tapi kekuatannya jangan diragukan. Pria itu duduk diatas perut pria tadi, Eros mencengkram kemeja pria itu.
"Jangan pernah sentuh milik gue!"
"Lo ngomong apa sih?!"
"Dasar brengsek! Adara cuma milik gue!"
Saat Eros akan kembali memukul wajah pria itu, tarikan kasar dibelakang membuat pria itu menjauh dan berdiri. Pria itu berusaha melepaskan diri, tapi tiba-tiba wajahnya dipukul keras sampai membuatnya jatuh.
Karena merasa tak terima, Eros berdiri untuk membalas tapi pukulannya terhenti diudara melihat pria itu.
"Lo mabuk b*go!"
Eros mendengus sebal melihat Afif. "Minggir lo! Jangan ganggu urusan gue!"
"Urusan apa?!"
"Lo gak perlu ta-"
"Adara?"
Afif dan Eros menatap satu sama lain, tatapan tajam anatara sahabat itu membuat siapa saja yang melihat merasa gugup.
"Gue lihat Adara lagi ciuman sama si brengsek itu!"
"Di sini gak ada Adara b*go! Lo udah mabuk dan gak sadar!"
"Gue gak mabuk!"
Afif menarik kerah kemeja Eros, kesabarannya sudah habis juga. "Kalau lo cinta sama dia, jangan siksa diri lo sendiri! Lo pikir Adara bakal tahan sama pria kasar kaya lo?! Lo itu cuma salah lihat karena terus mikirin dia!" Teriaknya.
Eros melepas kasar cengkraman itu, meringis karena kepalanya semakin pusing. Pria itu menatap wanita yang sedang membantu pria yang tadi Ia pukul, dan benar juga apa yang dikatakan Afif, itu bukanlah Adaranya.
Tanpa mempedulikan sekitar, Eros melenggang pergi dari sana sambil memegang keningnya yang pusing. Tapi tarikan tangan kanannya membuat Ia menoleh, Afif membantunya berjalan keluar.
"Ck lepasin!"
"Jangan ngambek kaya gitu, jijik!"
Afifpun membantu Eros berjalan, saat berjalan saja tertatih dan hampir jatuh beberapa kali, sudah jelas bukan Eros mabuk? Di luar Klub Afif langsung melihat salah satu supir Eros, syukurlah sudah sampai. Pria itu lalu membantu Eros masuk mobil ke bagian penumpang dibelakang.
"Langsung istirahat!" Ucap Afif dan mobil itupun melaju pergi.
Eros menatap tajam jalanan dari kaca mobil samping, pikirannya hanya tertuju pada satu nama. Adara. Dimana Adaranya? Eros sangat merindukan wanita itu. Dia bahkan hampir gila karena frustasi entah harus kemana lagi mencari Adara.
Sekarang Ia sangat menyesal telah melepaskan wanita itu, dan Eros berjanji akan terus mencari Adara. Setelah Ia mendapatkan Adara, Eros tidak akan pernah melepaskannya lagi. Adara hanya miliknya, sampai kapanpun juga!
enak aja ama perempuan..sini lawan emak2 jaman now pasti babak bunyak lo eros 😬😬😡😠