Akira tewas terbunuh karena ledakan bom yang di pasang di mobilnya, oleh musuh. Namun keajaiban terjadi, dia terbangun di tubuh wanita bernama Elvira, seorang istri yang tak di anggap oleh suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Undangan
Sebuah undangan datang pada Zavian. AKR Corp akan mengadakan acara amal tahunan. Para pengusaha, pejabat dan artis-artis ternama di undang untuk menghadirinya.
Zavian melempar undangan itu sembarang arah. Dia tahu acara amal itu hanya kedok, kalau memang ingin beramal lakukan secara diam-diam, bukannya mengadakan acara besar seperti itu, sedang arah uangnya tak pernah ada kejelasannya.
“Bapak gak mau coba dateng ke acara ini. Kalau Bapak terus menerus menjauh, mereka akan mengira Bapak sombong,” ucap Bima, sambil memungut undangan tersebut.
Zavian bersandar di kursi kerjanya yang berbalut kulit sintetis, menatap langit-langit ruangan yang tinggi dengan pandangan yang tajam namun dingin. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan karena senang, melainkan karena rasa geli yang bercampur jijik mendengar ucapan Bima.
“Sombong?” ulangnya pelan, suaranya rendah namun berat hingga menggema di ruangan yang sunyi itu. “Bima, kau sudah lama bekerja bersamaku. Kau tahu betul apa yang ada di balik kilauan emas dan sorotan lampu-lampu mereka.”
Bima melipat undangan itu rapi, lalu meletakkannya di atas meja kerja yang lebar itu kembali. Ia berdiri tegak di hadapan Bos-nya, wajahnya tampak khawatir namun tetap berusaha tegas.
“Aku tahu pendapat Bapak. Tapi di dunia bisnis ini, penampilan dan hubungan itu segalanya,” kata Bima lagi dengan nada lembut namun berisi. “AKR Corp adalah perusahaan raksasa. Banyak mata yang menatap gerak-gerik Bapak. Kalau Bapak tidak hadir, mereka bisa saja menyebarkan berita buruk—bahwa Bapak tidak mau bekerja sama, atau menganggap diri lebih tinggi dari yang lain. Hal itu bisa merugikan usaha kita ke depannya.” Terang Bima.
Zavian bangkit berdiri, melangkah mendekati jendela kaca besar yang memandang ke arah gadung-gedung bertingkat, yang kini mulai bersinar dengan lampu-lampu saat senja beranjak malam. Ia menatap bayangannya sendiri di kaca itu—seorang pengusaha yang namanya cukup disegani, namun tetap berpegang teguh pada prinsip yang sering kali dianggap kaku oleh orang lain.
“Merugikan usaha kita?” ulangnya sambil menoleh sedikit ke arah Bima. “Usaha kita tumbuh karena kerja keras, kejujuran, dan kualitas yang kita berikan. Bukan karena menari di pesta yang isinya hanya pamer kekayaan dan janji kosong. Mereka mengumpulkan sumbangan berjumlah ratusan juta, bahkan miliaran rupiah, lalu ke mana uang itu pergi? Tidak ada laporan yang jelas, tidak ada bukti nyata bahwa uang itu sampai ke tangan yang benar-benar membutuhkan.”
Zavian berbalik sepenuhnya, matanya menatap tajam ke arah Bima.
“Dulu aku pernah ikut acara serupa. Aku saksikan sendiri bagaimana mereka bersorak saat ada orang yang menyumbang besar, memuji-muji seolah orang itu pahlawan, tapi tak lama kemudian uang itu hilang begitu saja ke rekening pribadi para penyelenggara. Sejak saat itu aku bersumpah: kalau aku ingin berbuat baik, aku akan melakukannya sendiri—datang langsung ke desa-desa yang terpencil, membagikan bantuan tanpa perlu ada wartawan yang memotret, tanpa perlu nama aku dipajang di papan pengumuman besar.”
Bima terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. Ia tahu pendirian Bos-nya itu sulit diubah, namun tanggung jawabnya sebagai orang kepercayaan menuntutnya untuk tetap berbicara.
“Aku tidak menyangkal semua itu, Pak. Tapi pikirkan juga bahayanya. Ketua panitia acara ini adalah Nona Akira sendiri orang yang punya banyak pengaruh di kalangan pejabat maupun pengusaha besar. Kalau Bapak dianggap menentangnya, bisa saja ia mencari cara untuk mengganggu jalannya usaha kita. Bukan tidak mungkin izin-izin yang kita butuhkan menjadi sulit didapat, atau mitra kerja menjadi ragu untuk tetap bersama kita,” Bima mencoba mengingatkan.
Zavian kembali melangkah mendekati meja kerjanya, lalu mengambil undangan itu dan memegangnya dengan kuat seolah ingin meremasnya hingga hancur. Di atas kertas itu tertulis nama-nama orang terkemuka yang telah mendaftar hadir—nama-nama yang sering muncul di berita, dipuji sebagai dermawan besar, namun di balik layar banyak cerita yang tidak terungkap.
“Biarkan mereka berbicara,” kata Zavian akhirnya, namun nada bicaranya berubah menjadi lebih tenang, seolah ada rencana lain yang mulai terbentuk di benaknya. “Tapi kau benar satu hal: kalau aku terus menolak mentah-mentah, mereka akan punya alasan untuk menuduhku yang tidak-tidak. Mungkin sudah saatnya aku datang ke sana.”
Bima terkejut, matanya terbuka agak lebar, “Bapak… bersedia datang?”
Zavian mengangguk pelan, lalu meletakkan undangan itu kembali ke meja dengan gerakan yang lambat dan penuh perhitungan.
“Aku akan datang. Tapi bukan untuk ikut bersorak atau memuji kebaikan palsu mereka. Aku ingin melihat sendiri bagaimana jalannya acara ini, siapa saja yang terlibat, dan ke mana sebenarnya aliran dana itu disalurkan. Siapa tahu… di sana aku bisa menemukan bukti yang cukup untuk membuka mata banyak orang tentang kebenaran yang selama ini mereka tutupi rapat-rapat.”
Wajah Bima berubah menjadi serius. Ia mengerti betapa berisiko langkah yang hendak diambil majikannya itu. “Kalau begitu, aku akan ikut serta bersama Bapak. Aku tidak akan membiarkan Bapak menghadapi mereka sendirian.”
“Bagus,” jawab Zavian sambil tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya. “Siapkan pakaian yang pantas, tapi jangan terlalu mewah. Kita datang sebagai tamu biasa, bukan sebagai bintang yang ingin dipamerkan. Dan ingat, Bima—mulai saat ini, amati segala sesuatu dengan saksama. Jangan ada satu hal pun yang terlewat dari pandangan kita.”
.
.
.
“AKR Corp?” pekik Elvira, saat melihat Zavian sudah siap dengan setelan Jas berwarna navi-nya.
“Ya, mereka mengundangku untuk menghadiri acara amal yang mereka adakan,” jelasnya.
“Aku ikut, tunggu aku akan bersiap dulu,” dia lekas bangkit dan berlalu menuju kamarnya.
Tak lama kemudian Elvira turun, tubuhnya sudah berbalut gaun dengan warna senada dengan baju Zavian, belahan bajunya agak tinggi hampir mencapai paha atas. Wajahnya nampak cantik dengan polesan makeup.
Zavian membeku, dia tidak menyangka Elvira bisa berdandan secantik itu, kemana saja ia selama ini, kenapa baru sekarang dia menunjukkan kemampuannya.
“Ehem. Kita mau ke acara amal Vira, kau tidak perlu berdandan berlebihan,” Zavian mengalihkan pandangannya kearah lain.
“Ini tidak berlebihan. Kau akan lihat yang jauh lebih berlebihan disana.”
“Bagaimana kau tahu. Kau pernah pergi kesana?”
“Tidak perlu pergi kesana untuk tahu, media sosial, internet, tv. Mereka meliput semuanya,” sahut Elvira sembari duduk di kursi belakang. Bima sebagai sopir juga asisten sudah siap dibalik kemudinya.
“Malam Bu,” sapanya sambil melempar senyum pada Elvira.
“Malam,” balas Elvira tajam, dia menatap tepat ke manik mata Bima. Dia masih kesal perihal Bima yang memata-matainya tempo hari.
Sedang Bima hanya nyengir melihat reaksi Istri sang Bos.
Mobil mulai melaju meninggalkan kediaman Zavian. Elvira memandang keluar jendela, namun otaknya menyusun sebuah rencana.
Berbeda dengan Zavian. Sejak tadi, dia terus mencuri-curi pandang pada sang Istri, apa lagi saat melihat belahan gaun yang menampilkan paha mulus Elvira, kesal juga cemburu ia rasakan. Dia tak ingin orang lain melihat itu, tapi dia tak berani mengatakannya.
ikutan tegang
😍😍💪💪🙏🙏
😍😍😍😍💪💪💪💪🙏🙏🙏
apa selama ini akira jga memanipulasi dana amal?
😍😍😍😍💪💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🙏🙏😍😍💪💪
gk nyangka kalo hub akira dan calvin seperti itu awqlnya..
gk krtebak.
🙏🙏🙏😍😍😍😍😍💪💪💪
akankah mereka saling jatuh hati saat caviar tau kalo ebelyn adalah dori nya alias akira.?
🤣🤣😍🙏🙏💪💪
😍🙏🙏💪💪
penuh misteri..
seruu..
😍🙏🙏💪💪💪
🤣🤣💪🙏😍😍
jadi dia masih ngitilin elvira..
jadi tau saat elvira brkanja senjata ...
🤣🤣💪🙏😍
🤣💪🙏😍😍😍😍
rencana raisa kalah telak sama elvira
daripada raisa..
🤭😄😄💪💪🙏🤣🤣😍
tambah seru..
apa yg akan raisa lakukan...
bagaimna zavian menaggapi ..
apa yg akan akira lakukan..
🤣🤣😍😍🙏🤣🤣🤣😍😍😍
biar zelda kapok..
🤣😍😍🙏🙏💪💪
mulai..
🤣😍🙏🙏💪💪
jgn2 mantan tunangan Zavian...
😍😍😍😍🙏🙏💪