NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : DOA YANG TAK SENGAJA DI DENGAR

Hujan semalam telah reda, menyisakan udara dingin yang menyegarkan menusuk kulit. Bau tanah basah dan daun melati merayap masuk dari celah jendela kamar utama, bercampur dengan hening yang hanya bisa ditemukan saat dunia masih tertidur.

Arga terbangun lebih awal dari biasanya.

Bukan karena dia tidak nyaman tidur di sofa. Sofa itu sudah cukup empuk untuk punggungnya yang terbiasa tidur di lantai panti dulu. Bukan juga karena tidak ada kasur empuk untuknya. Kasur besar di kamar ini... kosong di sisi Kirana.

Hanya saja, hati yang tidak tenang jika tetap berada di dekat Kirana.

Arga duduk di sofa, menatap punggung Kirana yang tertutup selimut putih. Nafasnya teratur. Tenang. Rambut hitamnya terurai di bantal seperti sutra hitam di atas salju.

Sejenak arga berdiri di dekat ranjang sebelum suara hatinya menyadarkan lamunannya.

"Ada yang tidak beres dengan hatiku..."pikir Arga.

sepuluh tahun dia tinggal di rumah Pak Harsono. Sepuluh tahun dia melihat Kirana dari kejauhan sebagai Nona majikan. Tapi sejak akad nikah kemarin... sejak dia harus memanggil Kirana dengan sebutan "istri"... ada sesuatu yang bergeser di dadanya.

Ada desiran hangat di hatinya. Desiran yang ingin melindungi. Desiran yang ingin memastikan gadis itu tidak terluka.

"Ini hanya kontrak. Satu tahun."

Kata-kata Kirana semalam kembali menghantam kepalanya.

Arga menghela napas panjang. Dia berdiri pelan, mengambil baju koko dan sarung yang tergantung di kursi. Dia tidak ingin membangunkan Kirana.

Pukul 04.50, azan Subuh dari masjid kecil di ujung jalan terdengar samar.

Arga berjalan ke kamar mandi di luar kamar. Dia berwudhu dengan air dingin yang membuat tubuhnya menggigil, tapi pikirannya menjadi jernih.

Saat dia keluar dari kamar mandi, dia melirik ke kasur. Kirana masih terlelap.

Arga tersenyum kecil. Dia membawa sajadah ke sudut kamar, menghadap kiblat.

DI KASUR

Kirana terbangun.

Matanya terbuka tiba-tiba, seperti ada alarm di alam bawah sadarnya yang berbunyi.

Jujur, tidak biasanya Kirana terbangun sepagi ini. Selama ini dia baru bangun pukul 07.00. Tapi malam ini... alam bawah sadarnya seperti menyuruhnya bangun saat mendengar deru nafas seseorang yang mendekatinya.

Kirana tahu itu Arga.

Dia bisa membedakan. Nafas Arga lebih berat, lebih tenang. Bukan nafas Papa atau Bibi Rina.

Kirana memejamkan mata lagi. Hati kecilnya masih menyuruhnya untuk tetap waspada. "Arga seorang laki-laki dewasa yang normal, jangan pernah percaya begitu saja Kirana." Logika kirana mencoba bebicara.

Dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan tertutup. Suara langkah kaki Arga yang pelan di karpet. Suara gemerisik kain. Lalu... hening.

Arga menggelar sajadah. Dia berdiri tegak, mengangkat kedua tangan.

"Allahu Akbar."

Suara Arga membaca Al-Fatihah pelan, tapi jelas. Merdu. Tenang.

Kirana yang pura-pura tidur bisa merasakan getaran suara itu menembus dinding hatinya yang sudah bertahun-tahun dia kunci.

Arga ruku. Arga sujud. Arga duduk di antara dua sujud.

Di akhir sholatnya, Arga mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Suaranya pelan, hampir berbisik.

"Ya Allah... Ya Rob..engkau lah sang maha pelindung umatmu"

"jaga kesehatan Tuan Harsono. Panjangkanlah umur beliau . Beliau masih dibutuhkan Kirana... masih dibutuhkan banyak orang."

Kirana menggigit bibirnya di balik selimut.

"Ya Allah... Lindungilah panti asuhan tempat aku dibesarkan. Jaga Ibu Hana. Jaga semua anak-anak di sana yang masih menunggu jemputan orang tua mereka."

Air mata Kirana hampir jatuh. Dia tidak tahu... Arga masih sering mendoakan panti itu.

"Ya Allah..." Arga menelan ludah. "Jaga dan lindungilah kebahagiaan Nona Kirana." ucanya lirih

Hati Kirana mencelos saat namanya disebutkan di dalam doa Arga.

"Jaga Kirana agar dia tidak merasa sendirian. Jaga Kirana agar dia bisa mengejar mimpinya lagi. Jaga Kirana agar dia... suatu hari nanti... bisa memaafkanku karena masuk ke dalam hidupnya tanpa izin." lanjut nya dalam hati.

Arga mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aamiin."

Kirana menutup mata lebih rapat. Dadanya sesak.

"Kenapa? Kenapa dia mendoakan aku?"

"Kita ini hanya kontrak. Satu tahun. Setelah itu kita berpisah."

Tapi doa itu... tulus. Kirana bisa merasakannya. Tidak ada pamrih. Tidak ada tuntutan. Hanya doa seorang hamba untuk hamba lainnya.

JAM 05.30

Arga selesai sholat. Dia melipat sajadah dengan rapi, lalu meletakkannya di lemari.

Dia berjalan ke arah jendela dan membuka sedikit tirai. Cahaya fajar mulai menyusup masuk, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara.

Arga menatap halaman belakang. Hanya ada suara burung pagi dan hembusan angin yang menggoyang daun melati.

Dia tidak melihat Kirana yang diam-diam mengintipnya dari balik selimut.

Kirana melihat punggung Arga yang tegap. Kemeja koko putih itu membuat Arga terlihat... berbeda. Tidak seperti supir. Lebih seperti... pria yang bisa diandalkan.

Kirana menutup mata lagi. "Jangan lemah, Kirana. Ini hanya sandiwara."

Tapi hatinya berbisik lain. "Bagaimana kalau sandiwara ini... menjadi nyata?"

Kirana berdiri, Kakinya melangkah ke arah pintu kamar mandi. Dia harus mandi. Harus menyegarkan diri. Harus melupakan doa itu.

Tapi semakin dia mau melupakan... Semakin jelas suara Arga terngiang di Kepalanya.

JAM 07.00

Arga keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan. Dia tidak ingin Kirana bangun dan merasa canggung karena dia masih ada di kamar.

Baru saja Arga menutup pintu, Kirana langsung membuka mata.

Jantungnya berdebar kencang.

Kirana duduk di pinggir kasur. Tangan kanannya memegang dada kiri. Di sana... ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sejak Ibu meninggal 10 tahun lalu.

"Kenapa aku merasa... aman?"pikir Kirana.

Dia mengingat doa yang diucapkan Arga. "Untuk menjaga dan melindungi kebahagiaan Kirana..."

Kirana tidak pernah meminta siapapun mendoakan kebahagiaannya.

Tapi Arga... mendoakan kebahagiaannya.

Kirana berdiri. Kakinya melangkah ke arah pintu kamar mandi. Dia harus mandi. Harus menyegarkan diri. Harus melupakan doa itu.

Tapi di dalam kepala, suara Arga masih terngiang.

"Jaga Kirana..."

JAM 7.30

Kirana turun kebawah untuk ikut sarapan. Di meja makan sudah ada Papanya dan Arga sedang ngobrol santai, membicarakan pekerjaan di kantor.

Melihat kirana datang, Arga segera berdiri menarik kursi di sebelahnya untuk Kirana duduk.

Kirana menatap Arga dengan tatapan anehnya, kemudian Kirana duduk tapi bukan di kursi yg disiapkan Arga. Kirana duduk di samping Papinya.

Pak Harsono yang menyaksikan semua itu hampir saja tertawa, tapi masih bisa Ia tahan...

"Sabar Arga.. " ucap pak Harsono dalam hati.

Arga hanya bisa kembali duduk sambil merapikan kursi yg tadi Ia tari sambil garuk kepalanya yang tak gatal.

" Pah.. Kirana mau ngomong...soal pekerjaan di kantor Kirana mau mempelajari nya". Diam sesaat.

"Kirana.... Kirana mau menggantikan posisi Papah Di kantor" ucap Kirana sedikit ragu tapi tegas.

"BENARKAH NAK..?? " ucap pak Harsono agak tidak percaya, mengingat Kirana yg keras kepala.

Kirana mau merubah haluan mimpi nya.

" Nak papa tau ... kamu khawatir sama papa, tapi kalau keputusanmu membuat kamu tak bahagia. Papa gak mau maksa kamu " ucap Pak Harsono.

"Papa masih sanggup menangani.. "

"GAK PAHH.. Kirana gak keberatan, Kirana sudah pikirkan ini semalam. Kirana sudah yakin dengan keputusan Kirana. " Jelas Karina.

Arga yg dari tadi mendengarnya hanya bisa diam, Dia paham ini soal tanggung jawab. Ini bentuk bakti seorang anak kepada ayah nya. Arga memberikan ruang pada Ayah dan Anak untuk berbicara.

"Hemm... Baiklah kalau begitu nak. Papa ngerti. Mulai besok Kamu ikut Arga ke Kantor, Arga yg akan bimbing dan ajarin kamu. "

"APAA.. " Karina

"APAA.. " Arga.

[BERSAMBUNG.. ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!