NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:594
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Hari Senin datang terlalu cepat.

Dan seperti yang selalu dikatakan banyak orang—hari pertama ujian semester selalu terasa paling menegangkan.

Pagi itu, langit masih sedikit mendung ketika Kayla berdiri di depan cermin kamarnya. Seragamnya sudah rapi, rambutnya diikat sederhana, namun ada sesuatu yang berbeda dari dirinya.

Ia terlihat lebih diam.

Lebih fokus.

Namun juga… lebih gugup.

Di meja belajar, catatan kecil masih terbuka. Rumus matematika yang semalam ia ulang berkali-kali kini terasa seperti ingin kabur lagi dari kepalanya.

“Astaga… jangan blank, jangan blank,” gumamnya kecil.

Mama yang kebetulan lewat pintu kamar tersenyum kecil.

“Kalau terlalu dipikirin malah lupa nanti.”

Kayla menghela napas.

“Aku takut tiba-tiba lupa semuanya, Ma.”

Mama menghampiri, merapikan sedikit kerah seragamnya.

“Takut itu wajar.”

“Tapi kamu udah usaha.”

Mama mengetuk pelan kepala Kayla.

“Sekarang tinggal percaya sama sini.”

Kayla tertawa kecil.

“Iya…”

Namun jujur saja…

ia tetap gugup.

Sangat gugup. Di sekolah, suasananya benar-benar berbeda. Biasanya koridor penuh suara ramai. Kini yang terdengar justru suara halaman buku dibalik cepat-cepat.

Ada yang berdiri sambil menghafal.

Ada yang panik mencari catatan.

Ada juga yang terlihat sudah menyerah bahkan sebelum mulai.

Dan tentu saja…

ada Raka.

“Aku yakin hidupku berakhir hari ini.”

Raka menyender dramatis ke loker.

Salsa langsung memukul lengannya pelan.

“Baru ujian, bukan kiamat.”

“Buatku sama aja.”

Kayla tidak bisa menahan tawanya.

Namun sebenarnya…

ia juga gugup.

Tangannya terasa dingin.

Apalagi hari pertama adalah—

Matematika.

Pelajaran favoritnya.

Sekaligus yang paling ia takuti saat ujian.

Karena justru pelajaran yang paling kita pedulikan…

sering jadi yang paling menegangkan.

“Udah siap?”

Suara Reyhan muncul dari belakang mereka.

Kayla menoleh.

Dan anehnya…

rasa paniknya sedikit berkurang.

Sedikit.

Reyhan tersenyum kecil.

“Jangan terlalu tegang.”

“Kalau panik malah salah hitung.”

Kayla menghela napas kecil.

“Aku takut blank.”

Reyhan berpikir sebentar.

Lalu mengulurkan tangannya.

Di sana ada sebatang pensil mekanik.

“Pinjam.”

Kayla mengernyit.

“Hah?”

“Pensil keberuntungan.”

Raka langsung protes.

“Lah aku gak dikasih?”

“Kamu butuh mukjizat, bukan pensil,” jawab Reyhan cepat.

Salsa langsung tertawa keras.

Kayla ikut tertawa sampai rasa gugupnya sedikit hilang.

Ia menerima pensil itu pelan.

“Beneran boleh?”

Reyhan mengangguk.

“Asal balik.”

Entah kenapa…

hal kecil itu terasa berarti.

Bel berbunyi.

Dan seketika suasana berubah.

Semua siswa mulai masuk kelas.

Wajah-wajah panik berubah jadi serius.

Meja disusun berjauhan.

Tas diletakkan di depan.

Tidak boleh menyontek.

Tidak boleh bicara.

Tidak boleh apa pun selain berpikir.

Kayla duduk di kursinya.

Tangannya menggenggam pensil Reyhan.

Jantungnya berdetak cepat.

Sangat cepat.

Guru mulai membagikan soal.

Lembar putih itu akhirnya sampai di mejanya.

Dan di detik itu seluruh rasa percaya dirinya mendadak menghilang

“Astaga…”

Soal nomor satu terlihat sulit.

Nomor dua lebih sulit.

Nomor tiga…

lebih menyeramkan.

Kayla menelan ludah.

Kepalanya tiba-tiba kosong.

Benar-benar kosong.

Jangan panik.

Jangan panik.

Namun semakin ia memaksa tenang semakin sulit berpikir. Tangannya mulai dingin. Napasnya sedikit cepat.

Suara jam dinding terasa terlalu keras. Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku gak cukup pintar? Bagaimana kalau semua usaha ini sia-sia? Pikiran itu datang lagi.

Mengganggu.

Menghantam. Sampai tiba-tiba matanya jatuh pada pensil kecil di tangannya. Pensil Reyhan. Dan tanpa sadar ia teringat sesuatu.

**“Pintar itu kebiasaan.”**

**“Yang bikin beda itu… konsisten.”**

Lalu suara Nadya.

**“Kamu udah usaha belum?”**

“Berarti sekarang tinggal percaya sama diri sendiri.” batin Kayla

Kayla menarik napas panjang.

Pelan.

Sekali.

Dua kali.

Lalu ia melihat soal nomor satu lagi.

Pelan.

Satu langkah dalam satu waktu. Dan kali ini angka-angka itu tidak terasa semenakutkan tadi.

Pensilnya mulai bergerak.

Pelan.

Lalu semakin cepat.

Satu soal selesai.

Lalu dua.

Lalu tiga.

Ia tidak tahu hasilnya akan bagaimana. Namun satu hal pasti kali ini ia tidak menyerah pada rasa takut. Di luar kelas, semester masih panjang. Ujian masih belum selesai. Dan tanpa Kayla sadari sesuatu yang baru sedang mulai berubah bukan di nilainya. Tapi di hatinya.

1
senjani jingga
semangat belajar ya kayla🤭
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!