Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 3 -ISTANA KUNO (1)
Arta dan timnya terus melangkah jauh ke dalam kegelapan. Di beberapa sudut lorong, mereka bertemu dengan monster golem serangga yang tubuhnya terselimuti kristal obsidian. Karena jumlahnya tidak terlalu banyak, mereka bisa mengatasinya dengan cepat.
Namun, ancaman sebenarnya muncul saat mereka bertemu dengan batalion golem obsidian humanoid. Tidak seperti monster sebelumnya, golem ini bergerak dengan formasi militer yang sangat teratur, bersenjata lengkap layaknya kesatria kuno. Elian dan Reldia sempat kewalahan menghadapi pertahanan mereka yang rapat.
Situasi baru berbalik saat Arta merapalkan sihir badai, menciptakan pusaran angin kencang yang mengacaukan formasi golem tersebut dan menarik mereka ke satu titik pusat. Dalam celah sempit itu, Elian melesat dengan sisa kekuatan pahlawannya, menghancurkan seluruh batalion dalam beberapa kali tebasan beruntun.
Perjalanan pun berlanjut hingga mereka tiba di depan sebuah gerbang raksasa yang tertutup rapat. Bahan persediaan di dalam portal sihir ruang milik Raylen mulai menipis, dan kelelahan fisik mulai nampak jelas di wajah setiap anggota tim. Mereka memutuskan untuk beristirahat di depan gerbang itu.
"Sepertinya pedang ini sudah mencapai ajalnya," ucap Elian pelan. Ia memperhatikan bilah pedangnya yang tumpul, penuh retakan, dan kehilangan kilaunya. Tekanan energi Mana yang ia pusatkan berkali-kali telah merusak struktur logam senjata tersebut.
Grom yang duduk di sebelahnya melirik pedang itu sambil mengunyah ransum kering. "Jika itu terbuat dari Adamantium, pasti bisa bertahan sepuluh kali lipat lebih lama. Kebetulan aku punya satu di bengkelku. Nanti aku jual dengan harga teman padamu."
"Benarkah? Aku dengar dulu kau salah satu penempa terbaik di bawah gunung. Kenapa tiba-tiba kau malah jadi petualang?" tanya Elian penasaran.
Grom tertawa kecil, suara tawanya menggema di lorong yang sunyi. "Memang menyenangkan membuat senjata dan zirah yang indah. Tapi, aku lebih ingin melihat secara langsung bagaimana barang-barang indah itu pecah atau bertahan di tengah pertempuran. Itu jauh lebih memuaskan."
Di sisi lain, Arta sedang bersandar pada dinding batu bersama Unit 0-9. Ia terus membolak-balik buku kuno anonim yang dibawanya. Buku ini mulai kehilangan relevansinya. Monster-monster obsidian tadi sama sekali tidak tercatat di sini, batin Arta.
"Tuan, gerbang ini terlindungi oleh segel sihir tingkat tinggi," suara Unit 0-9 memecah keheningan.
Arta berdiri, mendekati gerbang itu dan menyentuh permukaannya. Dingin dan bergetar karena aliran energi. "Hanya ada sedikit petunjuk di buku ini... dan ini hanya menjelaskan setengah dari mekanisme kuncinya."
Selama empat hari berikutnya, suasana di depan gerbang menjadi sangat suram. Persediaan makanan semakin kritis. Arta hampir tidak tidur; matanya merah dan wajahnya kuyu. Ia terus menggambar pola sihir di atas tanah, mencoba memecahkan kode segel tersebut. Ratusan kali ia mencoba memasukkan aliran Mana, ratusan kali pula segel itu menolaknya dengan ledakan energi kecil yang melukai tangannya.
"Arta, jika hari ini gagal lagi, kita harus mempertimbangkan untuk kembali," ucap Elian dengan pada hari keempat.
Arta tidak menjawab. Ia fokus pada sirkuit sihir terakhir. "Sedikit lagi..." bisiknya. Ia mencoba membalikkan rotasi aliran Mana yang selama ini ia anggap sebagai kunci utama.
Klik.
Suara mekanisme berat berputar terdengar dari balik dinding. Segel sihir yang menyelimuti gerbang itu perlahan memudar, berganti dengan suara gesekan batu yang memekakkan telinga. Gerbang raksasa itu perlahan terbuka, menyemburkan udara dingin yang sudah terperangkap selama ribuan tahun.
"Kau berhasil..." gumam Raylen dengan wajah lega yang luar biasa.
Saat debu-debu mulai turun, pemandangan di balik gerbang itu membuat mereka semua terdiam mematung.
Di depan mereka terhampar sebuah kompleks ibu kota kuno yang sangat luas. Bukan dibangun di atas tanah, melainkan dipahat langsung pada dinding-dinding gua raksasa yang menjulang tinggi.
"Ini... ini mustahil," bisik Grom, matanya berkaca-kaca. "Ini adalah Ibukota Penempa yang hilang dalam legenda kami. Lihat pahatan di dinding itu, itu adalah teknik kuno yang sudah punah."
"Tempat ini sangat besar," sahut Lilia, matanya menatap tajam ke arah istana utama yang berada di titik tertinggi tebing. "Tidak ada tanda-tanda kehidupan."
Arta melangkah masuk ke dalam area ibu kota kuno itu. Sepatunya beradu dengan jalanan batu yang masih mulus.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat