Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Permintaan Moana
Danara baru saja keluar dari rumah sakit dengan napas memburu. Tangannya mengepal kuat menahan amarah. Sudah banyak yang ia korbankan demi merebut hati Rendra.
"Brengsek!" pekiknya pelan, "Kenapa semuanya jadi berantakan begini? Kak Rendra gampang sekali terpengaruh wajah polos wanita itu. Apa hebatnya wanita itu? Wajah biasa aja, cantikan juga aku. Kaya juga engga, jauh lebih mapan aku. Kenapa semua orang selalu memihak Razna? Tidak...ini tidak boleh terjadi lagi. Masa aku harus kalah demi mendapatkan kak Rendra. Dulu kak Sherin sekarang Razna. Sia-sia dong pengorbananku menyingkirkan kak Sherin jauh-jauh," gerutunya dalam hati.
Rahangnya mengeras, dadanya terasa sesak oleh rasa iri yang membakar jiwanya.
Matanya mengembun, kali ini bukan karena sedih melainkan karena rasa kesal dan kecewa yang membuncah terhadap Rendra yang lebih perhatian pada Razna.
Pikirannya kembali mengingat ucapan Rendra yang terasa menusuk harga dirinya sebagai wanita.
"Walaupun aku harus menikah, itu bukan denganmu."
Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Danara. Tatapannya berubah menjadi dingin dan tajam.
"Aaarrrgggh!"
Brak!
Danara menggebrak setir mobil dengan keras. Dadanya naik turun karena emosi yang membuncah. Dia membenci kenyataan bahwa Razna sudah masuk ke dalam kehidupan Rendra, bahkan diterima sebagai pengasuh sekaligus ibu susu buat Finza..
"Apa kurangnya aku kak? Bahkan saat kak Sherin sudah dianggap meninggal pun kamu tetap tidak mau menikah denganku," gumamnya sambil menatap foto Rendra yang terpampang di dashboard mobil.
Danara menarik napas panjang berusaha menenangkan diri. Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang justru tampak menyeramkan.
"Kalau aku tidak bisa memiliki kak Rendra, maka siapa pun tidak boleh memilikinya. Termasuk Razna..." bisiknya lirih.
Mobil yang ditumpangi Danara melaju meninggalkan area rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu kota mulai menyala ketika hujan rintik turun mengguyur jalanan. Namun, dinginnya malam sama sekali tidak mampu meredakan panas di hati Danara.
Sesampainya di rumah, Danara langsung masuk ke kamar dan melempar tasnya ke atas ranjang. Dia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Rasa lelah, letih sebenarnya sudah dirasakan sejak tadi, namun berhasil ditepisnya. Bayangan Rendra yang begitu melindungi Razna terus berkelebat dalam pikirannya seperti sebuah kaset yang diputar secara terus-menerus.
Matanya terpejam sesaat, sampai akhirnya ia mengingat sesuatu. Perlahan ia beranjak dari tempat tidurnya. Membuka laci meja dan mengambil map cokelat yang berisi beberapa foto kakak sambungnya, Sherin. Senyumnya perlahan menghilang.
"Seharusnya dari dulu aku sadar, selama masih ada wanita di dekat kak Rendra, dia tidak akan pernah melirikku," gumamnya pelan.
Matanya menyipit menatap salah satu foto Razna yang diam-diam pernah dicetaknya. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang samar.
"Kamu berbeda. Kalau kamu terus dibiarkan dekat dengan kak Rendra, bisa jadi kak Rendra akan terpikat denganmu. Padahal kamu tidak memiliki apa pun. Kamu hanya seorang janda yang gagal punya anak."
Jemarinya mengusap permukaan foto itu secara perlahan. Lalu menggenggamnya kuat-kuat hingga kertasnya kusut.
"Kamu harus pergi, secepatnya..." lirihnya tidak mau menyerah.
****************
Keesokan harinya, di rumah sakit suasana kamar perawatan Finza jauh lebih tenang. Finza sudah mulai ceria. Kondisinya sudah stabil. Dokter sudah memperbolehkan pulang siang ini.
"Kita bersiap untuk pulang," ujar Rendra sambil menatap putranya yang sedang tertawa kecil di gendongan Razna
"Baik Tuan...." jawab Razna lembut.
" Mbak Surti, tolong bantu kemas barang - barang yang akan dibawa pulang ya!"
"Siap Tuan!"
Rendra lalu teringat sesuatu, yang sejak tadi malam tidak kelihatan.
"Oiya, aku baru kepikiran Moana. Di rumah sama siapa?"
"Kemarin Mona ikut nyonya besar, Tuan. Dia diajak menginap ke rumah beliau," jawab Surti.
Rendra mengangguk lega. Setidaknya anak perempuannya bersama orang yang tepat. Dia merasa khawatir tindakan Danara akan berlanjut. Bukan tidak mungkin, Moana pun bisa dijadikan korban demi memenuhi ambisinya.
Dalam perjalanan menuju rumah, Finza tampak tertidur pulas di pelukan Razna. Sesekali wanita itu mengusap kepala bayi dengan lembut penuh kasih sayang.
Tanpa sadar, Rendra memperhatikan Razna cukup lama. Ada sesuatu yang terasa hangat setiap kali melihat wanita itu bersama anaknya. Ketulusan yang tidak dibuat-buat.
"Kamu capek?" tanya Rendra tiba-tiba.
Razna sedikit terkejut, "Engga, Tuan."
"Kamu pasti capek menjaga Finza semalaman,"
Razna tersenyum tipis merasa bahagia melihat keadaan Finza yang sudah sehat kembali.
"Tidak apa-apa, Tuan. Itu sudah menjadi tugas saya menjaga Finza. Yang terpenting Finza sudah sehat sekarang.
Jawaban sederhana itu justru membuat dada Rendra terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan. Selama ini banyak wanita yang mendekatinya karena harta, jabatan atau nama besar keluarganya. Namun Razna berbeda. Dari awal, Razna tidak memikirkan jumlah gaji yang akan diterimanya. Sikap tulus ini yang membuat Rendra merasa hangat dan nyaman untuk pertama kalinya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang mulai ramai menjelang siang. Di dalam mobil, suasana terasa hangat meski tidak banyak percakapan.
Finza masih tertidur pulas di pelukan Razna, sesekali Razna menepuk-nepuk lembut manakala Finza menggeliat sebentar.
Sementara Rendra sesekali melirik wanita itu dari kursi depan. Entah sejak kapan, kehadiran Razna memberi rasa tenang yang selama ini sulit ia dapatkan.
Setibanya di rumah, beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan mereka. Surti buru-buru membawa barang-barang dari mobil, sedangkan Razna tetap menggendong Finza dengan hati-hati agar tidurnya tidak terganggu.
"Biar saya bawa Finza ke kamar, Tuan," ucap Razna pelan.
"Rendra mengangguk, "Aku ikut."
Langkah mereka beriringan menuju kamar Razna. Setelah sampai, Finza dibaringkan dengan perlahan di atas tempat tidurnya. Sejak Finza bisa tengkurap, Finza selalu tidur bersama di satu ranjang agar lebih mudah diawasi. Walaupun insiden kemarin membuat Razna harus lebih berhati-hati.
Razna menyelimuti tubuh mungil itu dengan lembut. Tatapannya penuh kasih sayang, seolah Finza adalah anaknya sendiri.
Rendra berdiri tidak jauh dari sana. Kedua tangannya dilipat memperhatikan setiap gerakan wanita itu tanpa berkedip.
"Razna..." panggil Rendra sambil mendekat.
"Wanita itu menoleh cepat. "Iya, Tuan. Ada apa?"
"Terima kasih ya!"
Razna tampak bingung sesaat "Untuk apa, Tuan?"
"Untuk semuanya. Karena kamu sudah tulus menjaga Finza...dan tetap mau bertahan di rumah ini demi Finza."
Ucapan itu membuat Razna terdiam. Selama bekerja di sana, baru kali ini Rendra berbicara dengan nada setenang dan setulus itu kepadanya. Apalagi dengan kesibukannya, sulit sekali untuk melihat perkembangan anak-anaknya.
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, Tuan. Jadi Tuan tidak perlu sungkan pada saya,"
Rendra tersenyum tipis, "Tidak semua orang bisa setulus kamu. Entah kalau tidak ada kamu di rumah ini..."
Belum sempat Razna menjawab, suara langkah kaki terdengar tergesa dari luar kamar. Tak lama kemudian, Moana berlari masuk sambil memanggil riang.
"Papa!"
Rendra segera membungkuk menyambut putri kecilnya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Moana, sayang..."
Anak itu langsung memeluk leher papanya dengan erat.
"Moana kangen papa dan adik..."
Rendra mengusap rambut putrinya dengan lembut.
"Papa juga kangen,"
Rendra menggendong Moana melihat Finza yang sedang tertidur pulas.
"Dede Finza sudah sehat ya, Pah?"
"Iya, karena dijaga sama Mbak Razna juga," jawab Rendra tanpa sadar.
Moana langsung menatap Razna dengan mata berbinar.
"Mbak Razna hebat. Papa boleh tidak Moana panggil Mbak Razna, Ibu?" tanyanya polos.
biar leluasa pangil ibu😂
Iyaa inn renn .. biar makin kebakaran tuhh Nara kalau tau Razha di pangil ibu 🤣🤣.. pasti makin ngamukkk
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri