Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Mulai dari Mana?
CAHYO
Sore hari seperti biasanya.
Cahyo berkeliling untuk mengecek kondisi perkebunan. Sebenarnya ini sudah waktunya pulang. Tetapi suasana hati Cahyo sedang buruk jadi dia sengaja berlama-lama di sana.
Tadi pagi Cahyo mendengar cerita dari Suci kalau Ayu ternyata menyukai dokter tampan di kecamatan. Katanya, Ayu tergila dengan dokter itu.
Cahyo sangat kecewa. Sejak kecil dia dan Ayu selalu bersama. Meski tidak bisa bisa berbuat banyak, dia selalu berusaha melindungi Ayu dari kejahatan ibu tirinya.
"Yu, tadi aku numpang mandi di rumahmu." itu adalah alasan paling klasik bagi Cahyo untuk membantu gadis itu. Dengan beralasan menumpang mandi, Cahyo bisa mengisi bak air sampai penuh sehingga kalau Ida atau Suci hendak mandi mereka tidak akan memarahi Ayu karena bak mandinya kosong.
Tidak hanya sekali dua kali Cahyo memberi Ayu baju baru dengan mengatakan, "Baju ini buat kamu, Yu. Aku beli untuk ibu tapi kekecilan. Sepertinya pas kalau kamu yang pakai."
Padahal Cahyo memang sengaja membelikan baju itu untuk Ayu. Dia kasihan melihat gadis itu selalu memakai baju bekas dari Suci, kadang sudah sobek dan harus dijahit atau kadang sengaja disobek sebelum diberikan.
Ayu tidak pernah membeli baju baru. Semua uang hasil jualannya "diberikan" kepada Ida untuk biaya sekolah Suci. Ayu hanya mengambil sebagian, itu pun untuk membeli bahan baku untuk jualan hari berikutnya.
Cahyo tidak bisa terang-terangan membelikan Ayu baju baru. Cahyo sudah hafal watak Ayu. Gadis itu pasti menolak karena merasa tidak enak.
Baju-baju yang Cahyo belikan pun hanyalah baju-baju sederhana karena jika terlihat bagus sedikit saja, Suci akan merebutnya.
"Tadi aku beli ini untuk makan siang. Tapi ternyata ibu sudah masak. Makanan ini buat kamu aja, Yu. Aku akan makan masakan ibu biar ibu nggak kecewa," kata Cahyo ketika dia memberi Ayu makanan yang jarang sekali gadis itu makan.
"Langsung dimakan ya, Yu. Kalau ibumu lihat nanti dia marah, dikira kamu jajan." Padahal Cahyo sengaja membeli makanan itu untuk Ayu. Dia kasihan karena Ayu tidak pernah makan enak.
Makan siang adalah waktu yang paling tepat bagi Cahyo untuk memperbaiki gizi Ayu. Ibu tirinya tengah bekerja di ladang atau di sawah milik Minah. Suci juga masih di puskesmas karena adik tirinya itu pulang jam tiga sore. Ayu bisa makan dengan tenang tanpa khawatir Suci akan merebut lauknya.
Cahyo selalu menggunakan ibunya sebagai alasan. Tapi itu tidak bisa sering-sering dia lakukan karena Ayu akan curiga dan malah menolak pemberiannya.
Cahyo sangat menyayangi Ayu dan berharap suatu hari nanti mereka menjadi pasangan suami istri. Rasa itu sudah tumbuh sejak mereka masih kecil, ketika kedua orang tua mereka masih sama-sama lengkap. Tetapi ternyata Ayu tidak berpikir demikian. Dia justru menyukai orang lain, bukan dirinya.
Di tengah hatinya yang kalut, Cahyo bertemu beberapa mandor tebu dari daerah lain yang usianya lebih tua dan semuanya sudah berkeluarga.
Mereka mengajak Cahyo untuk pergi bersama ke suatu tempat. Cahyo tidak menolak. Berkumpul dengan sesama mandor seperti ini adalah hal yang biasa. Cahyo pun ikut membonceng motor salah satu dari mereka.
Tiba di sebuah gubuk sederhana jauh dari pemukiman warga, mereka berhenti. Salah satu dari mereka mengeluarkan tiga botol minuman keras dari jok motornya.
Sebenarnya Cahyo tidak mengenal minuman seperti itu. Dia adalah anak yang baik dan hidupnya lurus tidak pernah neko-neko. Cita-citanya sederhana, yaitu membahagiakan ibunya dan menikah dengan Ayu.
Tetapi bujukan dari teman-temannya dan juga suasana hatinya yang sedang buruk membuat Cahyo akhirnya ikut menenggak minuman memabukkan itu.
Teman-teman Cahyo mulai melantur. Ada yang mengincar janda dari desa Suka Sari, ada yang mengeluh kekasih gelapnya pergi. Tidak ada satupun dari mereka yang patut dipuji.
Meski tidak banyak Cahyo juga sempat bercerita bercerita kepada teman-temannya jika dirinya sedang patah hati.
Orang-orang ini memang sudah dewasa tetapi mereka bukanlah orang yang bijaksana. Di bawah pengaruh minum keras, mereka justru memberi saran yang menyesatkan.
"Hamili saja, nanti mau tidak mau dia pasti menikah denganmu!"
"Kamu bilang dia menyukai laki-laki lain, kan? Kalau begitu kamu harus bergerak cepat sebelum keduluan!"
"Aku dulu juga begitu dengan istriku. Dia nggak mau menikah denganku malah menyukai tetanggaku. Jadi aku hamili saja!" sahut yang lainnya sambil terkekeh setengah sadar.
Cahyo memutuskan untuk pergi lebih dulu karena tidak suka dengan omongan teman-temannya yang dianggapnya tidak patut itu.
Cahyo berjalan kaki kembali ke perkebunan tebu. Dari kejauhan dia melihat sosok yang sangat dia kenal berjalan ke arahnya. "Aku kurang apa, Yu?" gumamnya sambil menatap getir ke arah Ayu.
Cahyo melihat Ayu memunguti kue-kuenya tapi Cahyo sama sekali tidak merasa iba. Jika kondisinya berbeda dia akan segera berlari membantunya tetapi kali ini Cahyo tidak ingin melakukannya.
Saran dari teman-temannya terngiang di telinga Cahyo. Dia menghampiri Ayu lalu menarik tangannya. Gadis itu meronta dan terlepas tetapi Cahyo berhasil mengejarnya.
Pengaruh alkohol membuat Cahyo hilang akal. Dia menyeret Ayu memasuki perkebunan tanpa kasihan. Selanjutnya Cahyo tidak ingat apa-apanya selain tatapan memohon dari Ayu.
Cahyo meneteskan air matanya setiap teringat kejadian itu. Bagiamana dia akan menebus kesalahannya jika gadis itu sudah meninggal?
Kenapa dia sampai kehilangan akal hanya karena sebuah informasi yang tidak benar? Sejak awal Cahyo tahu Suci sangat membenci Ayu. Jadi bagaimana bisa Cahyo percaya Suci? Kenapa dia menelan mentah-mentah omongan iblis perempuan itu? Kenapa dia tidak bertanya dulu pada Ayu?
Kini hanya ada sesal di hati Cahyo. Bagaimana dia bisa menebus kesalahannya jika gadis itu sudah meninggal? Dan lebih buruknya, itu bukan satu-satunya kesalahan Cahyo.
* * *
Malam sudah semakin larut. Suara jangkrik yang terdengar nyaring menemani Alvaro yang tidak bisa tertidur. Dia pikir dia telah menemukan titik terang untuk kasus Zivanna tetapi ternyata justru sebaliknya. Kasusnya semakin rumit seperti benang kusut yang harus dia uraikan.
Kini dia sudah tahu, jika Zivanna mendapatkan donor kornea dari Ayu. Mungkin karena itu Zivanna sering memimpikan Ayu. Jadi jika Zivanna bertanya kenapa dia memimpikan gadis yang tidak dia kenal sebelumnya, mungkin itu jawabnya, hubungan mata diantara mereka.
Satu pertanyaan sudah menemukan jawaban, tetapi pertanyaan lain beruntun muncul di belakangnya.
Bagaimana Ayu bisa mendonorkan matanya? Bagaimana Ayu meninggal? Kenapa dia menghantui Zivanna padahal Zivanna tidak bersalah? Apakah mimpi-mimpi itu nyata?
Alvaro menggaruk-garuk kepalanya. Dia bingung harus mulai dari mana untuk mendapatkan jawabannya.