Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Kematian dan Inisiasi Darah
Episode 27
Langkah kaki Gu Sheng menapak di atas tanah hutan yang lembap, menciptakan suara kresek pelan dari dedaunan kering yang hancur menjadi serpihan kecil. Di belakangnya, Qing Er berjalan dengan waspada, tangan kecilnya menggenggam erat tali ranselnya, sementara matanya yang berwarna abu-abu terus memindai pepohonan raksasa yang menjulang tinggi di sekeliling mereka.
Pintu gerbang utara Kota Azure kini telah menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti perbatasan. Hutan yang mereka masuki bukanlah hutan biasa; ini adalah Hutan Binatang Buas Azure, sebuah wilayah tak bertuan yang menjadi pemisah antara peradaban kecil seperti Kota Azure dengan wilayah provinsi yang lebih luas. Di sini, udara terasa lebih berat, dipenuhi dengan energi spiritual yang liar dan aroma lumut yang membusuk bercampur dengan bau amis dari bangkai monster yang tidak terlihat.
Cahaya matahari pagi hanya mampu menembus kanopi hutan yang rimbun dalam bentuk pilar-pilar tipis yang redup. Suara kicauan burung yang biasanya menenangkan kini telah digantikan oleh geraman rendah yang sesekali bergema dari kejauhan, serta suara gesekan sisik di atas dahan pohon yang membuat bulu kuduk berdiri.
Gu Sheng berhenti di depan sebuah pohon beringin raksasa yang akarnya melilit seperti ular-ular raksasa yang membeku. Ia tidak membalikkan badannya, namun indra spiritualnya yang tajam berkat Gerbang Pertama (Kai Men) telah menangkap sesuatu yang sedang mendekat dari arah kiri.
"Qing Er," ucap Gu Sheng, suaranya rendah namun sangat jernih di tengah kesunyian hutan. "Berhenti di sana. Jangan lepaskan kewaspadaanmu meskipun hanya untuk satu kedipan mata."
Qing Er segera berhenti, tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan aliran panas di dalam Dantiannya mulai bergejolak, merespons rasa takut dan adrenalin yang memuncak. "Tuan Muda... saya merasakannya. Ada sesuatu yang berbau busuk di balik semak-semak itu."
“Hahaha! Insting pelayan kecilmu ini cukup lumayan, bocah!” suara Kaisar Iblis tertawa di dalam batin Gu Sheng. “Itu adalah Macan Taring Bayangan, monster tingkat empat. Di dunia luar, ia setara dengan praktisi Qi Refinement tingkat menengah. Bagimu, ia hanyalah camilan, tapi bagi pelayanmu... ini adalah ujian hidup dan mati pertamanya.”
Gu Sheng melirik ke samping, tepat ke arah semak berduri yang berjarak sepuluh meter darinya. "Qing Er, hari ini aku tidak akan menggunakan pedangku. Kau yang akan menghadapinya. Gunakan Qi Phoenix-mu untuk memperkuat tinjumu. Ingat, monster tidak mengenal belas kasihan. Jika kau ragu, ia akan merobek tenggorokanmu sebelum kau sempat berteriak."
Qing Er membelalak, wajahnya sedikit pucat. "Saya... saya sendiri, Tuan Muda?"
"Jangan andalkan aku selamanya," jawab Gu Sheng dingin. Ia melompat ringan ke atas dahan pohon setinggi lima meter, menyandarkan tubuhnya dengan santai sambil tetap memegang gagang Penebas Dosa yang masih tersampir di punggungnya.
GROOOOAAAARRRR!
Sebuah bayangan hitam melesat keluar dari semak-semak dengan kecepatan yang mengerikan. Itu adalah seekor macan raksasa dengan bulu hitam legam dan dua taring panjang yang bersinar seperti belati perak. Matanya yang berwarna hijau neon menatap Qing Er dengan rasa lapar yang murni.
Qing Er terkesiap, ia refleks mundur dua langkah. Namun, Macan Taring Bayangan itu tidak memberinya waktu untuk berpikir. Ia menerjang maju, kuku-kukunya yang tajam menggores udara, mengarah tepat ke dada Qing Er.
"Fokus!" teriak Gu Sheng dari atas dahan.
Qing Er menggertakkan giginya, ia memejamkan mata sejenak dan memicu energi panas di dalam perutnya. Seketika, sebuah aura emas kemerahan meledak dari tubuhnya. Udara di sekeliling Qing Er mendadak menjadi sangat panas, membuat dedaunan di bawah kakinya berubah menjadi abu dalam sekejap.
“Burung Emas, terbanglah!” batin Qing Er berteriak.
Ia mengelak ke samping dengan gerakan yang tidak terduga cepatnya, hasil dari latihan singkat dengan Gu Sheng tempo hari. Cakar macan itu hanya berhasil merobek udara kosong, namun tekanan angin dari serangan itu membuat lengan baju Qing Er sedikit robek.
Macan itu mendarat dengan anggun, lalu segera berbalik. Ia tampak bingung melihat manusia kecil di depannya tiba-tiba memancarkan aura yang begitu menekan. Macan itu mengerang rendah, otot-otot di kaki belakangnya menegang, bersiap untuk serangan kedua yang lebih mematikan.
Gu Sheng mengamati dari atas dengan tatapan yang sangat analitis. Ia tidak hanya melihat pertarungan fisik, ia sedang memantau bagaimana Qi Phoenix di dalam tubuh Qing Er bereaksi. Setiap kali Qing Er bergerak, energi emas itu menyelimuti tulang dan ototnya, memberikan kekuatan yang jauh melampaui level kultivasinya saat ini.
“Bocah, kau lihat itu?” kaisar iblis bergumam pelan. “Darah Phoenix-nya sedang bangun. Semakin ia terdesak, semakin murni api yang ia hasilkan. Namun, dia masih terlalu takut. Dia butuh dorongan terakhir.”
Di bawah, pertempuran berlanjut dengan sengit. Qing Er terus menghindar, namun ia mulai kelelahan. Macan Taring Bayangan itu sangat cerdik; ia mulai menggunakan ekornya yang panjang dan berduri untuk menyerang dari sudut yang tak terduga.
Srak!
Ekor macan itu mengenai bahu Qing Er, membuatnya terlempar menabrak batang pohon. Qing Er mengerang kesakitan, darah merah segar mulai merembes dari bahunya. Rasa sakit itu seolah-olah memicu sesuatu yang liar di dalam jiwanya.
"Tuan Muda... Qing Er... Qing Er tidak ingin mati di sini!" teriaknya.
Matanya yang abu-abu tiba-tiba berubah menjadi emas menyala sepenuhnya. Rambut peraknya yang panjang berkibar-kibar meskipun tidak ada angin. Tekanan udara di tempat itu melonjak drastis, dan sebuah bayangan sayap burung raksasa yang samar mulai muncul di belakang punggungnya.
Qing Er tidak lagi menunggu. Ia justru menerjang ke arah macan itu dengan kecepatan yang menyamai kilat emas.
"Tinju Phoenix, Pijaran Surga!"
Ia menghantamkan tinjunya tepat ke arah kepala macan yang sedang menganga itu.
BOOOOOMMMM!
Sebuah ledakan api emas yang sangat murni terjadi di tengah hutan. Macan Taring Bayangan itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara saat kepalanya hancur berkeping-keping oleh suhu panas yang luar biasa. Tubuhnya yang besar terpental sejauh sepuluh meter, terbakar menjadi arang hitam sebelum ia menyentuh tanah.
Hutan mendadak sunyi. Sisa-sisa api emas masih menari-nari di ujung jari Qing Er sebelum akhirnya perlahan meredup. Ia berdiri dengan napas tersengal, menatap bangkai macan yang sudah menjadi abu dengan tatapan tak percaya.
"Aku... aku melakukannya?" bisiknya lirih.
Gu Sheng melompat turun dari dahan pohon, mendarat dengan sangat ringan di samping Qing Er. Ia melihat luka di bahu Qing Er yang kini mulai menutup dengan sendirinya berkat kemampuan regenerasi Phoenix yang luar biasa.
"Bagus," ucap Gu Sheng pendek, namun nada bicaranya mengandung sedikit rasa bangga. "Kau telah mengambil langkah pertama dari seorang praktisi sejati. Kau telah membunuh, dan kau telah merasakan bagaimana rasanya menjadi pemangsa daripada mangsa."
Gu Sheng berjalan mendekati abu macan itu. Ia mengulurkan tangannya, dan seberkas Qi ungu dari telapak tangannya menyedot sisa-sisa energi spiritual (Neidan) dari macan yang telah mati tersebut. Esensi energi itu masuk ke dalam tubuh Gu Sheng, memberikan sedikit rasa hangat pada Dantian-nya.
"Tapi jangan terlalu bangga," lanjut Gu Sheng sambil menatap ke arah kegelapan hutan yang lebih dalam. "Macan ini hanyalah umpan. Hutan ini memiliki penguasa yang jauh lebih berbahaya. Dan mereka... mereka sudah mencium aroma darahmu."
“Bocah, kau benar,” kaisar iblis memperingatkan. “Aura Phoenix yang baru saja dilepaskan Qing Er adalah seperti suar cahaya di tengah kegelapan bagi monster-monster tingkat tinggi di sini. Mereka akan datang berbondong-bondong untuk mencoba melahap darah Phoenix-nya.”
Gu Sheng mengepalkan tangannya, memicu getaran pedang Penebas Dosa di punggungnya. "Biarkan mereka datang. Dantian-ku masih merasa sangat lapar setelah penyatuan Tulang Dewa kemarin. Aku butuh ribuan Neidan monster untuk mengisi Spirit Sea ungu-ku yang masih kosong."
Gu Sheng menoleh ke arah Qing Er yang kini mulai tenang. "Qing Er, perjalanan ini baru saja dimulai. Dalam tujuh hari ke depan, kita tidak akan keluar dari hutan ini sampai kau bisa membunuh sepuluh monster tingkat lima sendirian. Jika kau gagal... maka aku akan meninggalkanmu di sini agar kau bisa menjadi bagian dari tanah hutan ini."
Qing Er menatap mata ungu Gu Sheng yang dingin namun penuh tekad. Ia menyadari bahwa tuannya tidak sedang bercanda. Di dunia ini, kelemahan adalah dosa terbesar, dan Gu Sheng sedang mencoba menghapus dosa itu dari dalam dirinya.
"Qing Er mengerti, Tuan Muda. Qing Er akan terus membunuh sampai tidak ada lagi monster yang berani mendekat," ucapnya dengan nada yang kini jauh lebih keras dan berwibawa.
Mereka kembali berjalan menembus kabut hutan, bergerak perlahan menuju jantung Hutan Binatang Buas Azure. Setiap langkah kaki mereka membawa kengerian baru bagi penghuni hutan tersebut. Di bawah naungan pohon-pohon purba yang membisu, sang Iblis dan sang Phoenix mulai menempa legenda mereka sendiri, jauh dari mata manusia yang sombong.
Malam mulai turun, dan di tengah kegelapan hutan, mata-mata merah monster mulai bermunculan satu demi satu. Namun, bukannya melarikan diri, Gu Sheng justru tersenyum, sebuah senyuman haus darah yang sangat menakutkan.
"Pesta makan malam... baru saja dimulai," bisik Gu Sheng.