NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Komentar Menggoda dari Seorang Aktor

Langkah Lana saat memasuki pintu lift pribadi menuju penthouse terasa jauh lebih ringan dibandingkan sore-sore sebelumnya. Bayangan wajah Sisca yang kesal dan pujian tulus dari Satria di kampus tadi masih menyisakan debar kepuasan yang hangat di dadanya. Ia menyentuh pipinya sendiri, merasakan sisa-sisa kehalusan bedak tabur pemberian Bumi yang masih setia menempel di sana.

Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, Lana disambut oleh keheningan mewah yang biasanya membuatnya merasa kecil. Namun, sore ini, keheningan itu pecah oleh suara musik jazz bertempo cepat yang menggema dari ruang tengah. Aroma parfum maskulin yang kuat namun segar—campuran antara sandalwood dan bergamot—memenuhi udara. Itu bukan aroma Bumi yang menenangkan, juga bukan aroma Arka yang otoriter. Itu adalah aroma "panggung".

Di ruang tengah yang luas, Kenzo sedang bersantai di sofa panjang beludru berwarna zamrud. Sang aktor papan atas itu tampak sangat santai dengan kemeja sutra hitam yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan kalung perak tipis yang berkilau di lehernya. Ia sedang mempelajari naskah tebal, namun begitu mendengar langkah kaki Lana, ia menurunkan naskahnya dan menoleh.

"Wah, wah... Siapa ini yang baru pulang dari medan perang?" suara Kenzo yang berat dan berkarisma itu menginterupsi musik.

Lana tersentak kecil, namun ia tidak langsung menunduk. Ia berdiri tegak, mencoba mempertahankan "postur" yang sudah ia latih di kampus seharian ini. "Selamat sore, Kak Kenzo. Baru pulang syuting?"

Kenzo tidak langsung menjawab. Ia meletakkan naskahnya ke meja kaca dengan gerakan dramatis, lalu berdiri. Ia berjalan mendekati Lana dengan langkah yang terukur, persis seperti saat ia sedang berjalan di atas karpet merah premiere filmnya. Kenzo berhenti tepat satu meter di depan Lana, menyilangkan tangan di depan dada, dan memiringkan kepalanya sedikit.

Matanya yang tajam, yang biasanya dipuja oleh jutaan penggemar di layar lebar, kini memindai wajah Lana dengan sangat teliti. Kenzo menyipitkan matanya, seolah sedang menilai kualitas pencahayaan pada sebuah set film.

"Tunggu dulu... Ada yang beda," gumam Kenzo. Ia melangkah satu langkah lebih dekat lagi, membuat Lana bisa mencium aroma maskulinnya yang intens. "Lana, lo... lo pake sihir apa hari ini?"

Lana merasakan wajahnya mulai menghangat. "Sihir? Nggak ada, Kak. Lana cuma... pake pemberian Kak Bumi."

Kenzo tiba-tiba tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu dan penuh percaya diri. Ia mengitari Lana perlahan, seolah sedang mengagumi sebuah patung pameran. "Bumi, ya? Si dokter kaku itu ternyata punya selera juga. Tapi jujur, Lan... hari ini lo kelihatan 'berseri-seri' banget. Kayak ada lampu softbox yang ngikutin lo ke mana-mana."

Kenzo berhenti di depan Lana lagi, lalu tiba-tiba ia mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh ujung hidung Lana dengan sangat cepat. "Muka lo nggak lagi pucat kayak orang kurang gizi. Kulit lo dapet glow yang pas. Dan bibir itu..." Kenzo menatap bibir Lana yang merona peach lembut. "...warna itu bener-bener bikin lo kelihatan lebih 'mahal' tanpa harus usaha keras."

Lana menundukkan kepalanya sedikit, tersipu oleh pujian yang begitu terbuka. "Terima kasih, Kak Kenzo. Lana cuma pengen nggak bikin malu Kakak-kakak kalau ke kampus."

"Bikin malu?" Kenzo menaruh satu tangannya di dagu, berpose seolah sedang berpikir keras. "Lan, dengerin gue. Dengan muka lo yang kayak sekarang, lo bahkan bisa jadi pemeran utama di drama remaja yang lagi gue garap. Polos, tapi punya daya tarik yang bikin orang nggak bisa berhenti liat. Gak asik banget kalau lo terus-terusan ngerasa rendah diri."

Kenzo kemudian mundur sedikit, memberikan ruang bagi Lana untuk bernapas. Namun, tatapannya tetap menggoda. "Tapi, Lan... kalau boleh gue kasih kritik sebagai orang yang tiap hari berurusan sama kamera, penampilan muka lo udah oke, tapi baju lo..." Kenzo menunjuk sweter kebesaran yang dikenakan Lana di balik tasnya. "...masih terlalu 'aman'. Lo harusnya mulai pake yang lebih modis. Biar dunia tau kalau Lana-nya kita ini bukan cuma pinter, tapi juga berkelas."

"Modis? Lana nggak tahu gimana caranya..."

"Itu urusan gampang. Besok-besok, jangan cuma nurut sama dokter kaku kayak Bumi. Tanya sama gue. Gue bakal tunjukin gimana caranya bikin mahasiswi-mahasiswi sombong di kampus lo itu ngerasa kayak asisten rumah tangga pas berdiri di samping lo," Kenzo mengedipkan sebelah matanya, sebuah kedipan yang biasanya bikin penggemarnya pingsan, tapi bagi Lana, itu terasa seperti tantangan yang menyenangkan.

Lana tertawa kecil. "Kak Kenzo ada-ada saja."

"Gue serius, Lan. Lo punya potensi buat jadi trendsetter di kampus itu. Jangan cuma pake bedak tipis, besok-besok coba pake sedikit mascara biar mata lo yang besar itu makin 'berbicara'. Lo harus berani bereksperimen. Hidup ini panggung, Lan. Gak asik banget kalau lo cuma jadi penonton di barisan paling belakang."

Kenzo kembali ke sofanya, namun sebelum ia duduk, ia menoleh lagi. "Oh, satu lagi. Malem ini pas makan malem, jangan pake daster lama lo ya. Pake baju yang gue beliin kemarin. Gue pengen liat 'versi lengkap' dari Lana yang baru ini di bawah lampu ruang makan. Biar Jeno sama Arka keselek pas liat lo."

Lana mengangguk, merasa energi Kenzo yang meledak-ledak mulai menular padanya. Pujian Bumi kemarin adalah obat, tapi komentar menggoda dari Kenzo sore ini adalah vitamin. Kenzo memberikan dimensi lain pada rasa percaya dirinya—bahwa menjadi cantik itu menyenangkan, bahwa menarik perhatian itu bukanlah hal yang harus ditakuti.

"Baik, Kak Kenzo. Lana bakal coba," jawab Lana dengan nada yang lebih ceria.

"Nah, gitu dong! Itu baru 'adik' bintang film namanya," Kenzo mengangkat naskahnya kembali, memberikan isyarat tangan agar Lana segera ke kamarnya untuk bersiap.

Lana berjalan menuju kamarnya dengan senyum yang tak kunjung hilang. Komentar Kenzo memang terdengar berlebihan dan penuh gaya, namun Lana tahu itu adalah caranya untuk memberikan dukungan. Jika Bumi membangun fondasi ketenangannya, maka Kenzo mulai membangun dinding kepercayaan dirinya yang lebih megah.

Di dalam kamarnya, Lana menatap kembali pakaian yang dibelikan Kenzo. Sebuah dress minimalis berwarna krem dengan potongan yang elegan. Ia membayangkan dirinya mengenakan baju itu, dengan wajah yang sudah dirawat oleh "resep" Bumi. Ia mulai merasa bahwa Jakarta mungkin tidak sekejam itu jika ia punya tujuh pria luar biasa yang masing-masing memiliki cara unik untuk membuatnya bersinar.

Lana menyadari, meskipun ia berasal dari desa, ia tidak harus selamanya menjadi "si gadis desa". Ia bisa menjadi siapa pun yang ia inginkan di kota ini, selama ia berani melangkah keluar dari zona nyamannya. Dan sore ini, berkat komentar menggoda dari sang aktor, Lana merasa siap untuk memberikan "pertunjukan" terbaik dalam hidupnya.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!