NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Dingin

Terpaksa Menikahi Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeprism4n Laia

Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.

Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.

Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.

Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Jadwal Operasi Bu Wina

Malam harinya Rido bersama embun pergi keruang meja makan, sedangkan Giancarlo dan Tiaras sudah berada disana sejak dari tadi.

“Ayo nak! Kita makan” ucap Tiaras kepada Rido.

Ketika embun merasa sudah selesai mengantarkan Rido di tempat Meka Makan keluarga, dia langsung buru buru untuk berbalik badan, namun kakinya tertahan ketika suara Tiaras berkata “Nak Embun mau kemana? Ayuu disini saja, kamu kan istrinya Rido, kamu harus terus disampingnya, jadi kamu juga harus makan bareng dengan kita”.

Embun merasa canggung dengan permintaan Tiaras padanya, kemudian dia memaksakan senyumannya dan berkata “Maaf bu, saya harus ke dapur, ada yang perlu saya ambilkan”.

Namun telinganya tiba tiba berdenyut ketika dia mendengar Rido berkata “Tetap disini! Dan duduk, ayo tuangkan minuman untuk saya, dan kamu juga harus makan”. Sehingga dengan terpaksa embun duduk dikursi sebelah Rido, dengan sedikit canggung karena gemetar, dia mendudukan bokongnya dikursi itu.

Giancarlo tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena dia berpikir bahwa urusan selanjutnya adalah urusan anak itu, jadi dia tidak lagi harus memikirkan hal itu. Setelah mereka selesai dengan acara makan malam, embun langsung membereskan meja itu, namun dia ditegur oleh Tiaras dan Sang suaminya.

“biarkan para bibi yang membersihkannya nak! Kau antarkanlah suamimu ke kamar untuk istirahat” ucap Tiaras lembut kepada sang menantu.

“Iya benar kata bunda, ayo kita pergi kekamar saja, antarkan saya kesana” timpal Rido membenarkan apa yang dikatakan oleh sang ibu.

Dengan terpaksa embun harus mengiyakan apa kata kata sang pemilik mansion itu, dia mendorong Rido masuk kedalam Kamar, setelah itu dia langsung berbalik pergi meninggalkan kamar itu.

Namun sebelum embun membalikan seluruh badannya, terlebih dahulu Rido berkata “kau mau kemana? Bukankah tadi sudah kukatakan kalau mulai malam ini kau tidur bersama saya dikamar ini!”.

“Emmm, i, ini, apakah Tuan Muda tidak keberatan tidur bersama denga seorang pembantu?” jawab embun dengan menundukan kepalanya.

“iya memang kau tidur di kamar saya, tapi bukannya tidur satu ranjang bersama saya, kau harus tidur dilantai atau di Sofa” Jawab Rido dengan kembali pada mode dinginya. Setelah dia berkata kepada embun, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi karena dia akan pergi ke ruangan privatnya.

Embun hanya bisa memejamkan matanya, dia tidak pernah berpikir kalau nasibnya akan semalang ini, bahkan dia tidak bisa punya kesempatan untuk menjawab setiap butir pertanyaan.

Embun hanya bisa pergi mengambil alas tidur dan beberapa bantal guling, dia harus kuta untuk menjalani segala resiko yang terjadi.

Tanpa terasa pukul sudah menunjukkan pukul 11 malam, embun sudah terkulai tidur di atas kasur tipis disamping ranjangnya Rido.

Rido datang dari ruang privatnya dengan dia mendorong sendiri kursi rodanya, dia melihat embun yang sudah tidur pulas dibawah lantai, namun tanpa berpikir pendek dia langsung naik keatas Ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya tanpa dia memperdulikan seorang manusia cantik dibawah sana.

Keesokan paginya, embun melakukan aktivitasnya sama seperti hari hari sebelumnya, Rido tidak terlalu menghiraukannya dia hanya bisa terus menatap Ipad miliknya.

Embun langsung dipakaikan pakaian mahal yang telah ia pilih kemarin, mata semua orang menjadi terbelalak kaget ketika mereka melihat penampilan embun.

“Kamu terlihat sangat cantik sayang” Puji Tiaras dengan wajah meronanya, dia menatap embun dengan penuh tatapan kekaguman.

Embun hanya bisa tertawa kecil ketika dia terus dibombardir dengan kata kata memuji oleh Tiaras, kemudian dia berkata “Terimakasih Bu, semoga pakaian ini bisa saya jaga, dan secepatnya saya bisa menggantikannya”.

Tiaras mengerutkan keningnya ketika dia mendengar perkataan embun, dia langsung memegang tangan sang embun sambil berkata “Nak! Apapun yang kami berikan padamu, tidak perlua kamu repot repot untuk membalaskannya atau menggantikannya, itu sangat tidak perlu memang itu adalah yang harus kamu dapatkan, karena kita sekarang adalah satu keluarga”.

“Sudah! Ayo kita berangkat sekarang!” seru Rido dengan mode tajamnya menatap semua orang, tidak terkecuali dengan embun yang sudah mau hampir bersahabat dengan sifat dingin sang Tuan Muda itu.

“kalian hati hati ya dijalan, Ingat ya Rido! Kamu harus menjaga menantuku ini, jangan sampai dia kenapa kenapa” saran Tiaras memberikan wejangan kepada sang anak, namun sang anak hanya bisa menjawab deheman saja.

“Ciih, menantu apaan? Ini kan menantu kontrak, sebentar lagi juga akan pergi” ucap Rido dalam hatinya, sambil dia menganggukkan kepala menatap sang bunda.

“Bu, kami pergi dulu ya, asalamulaikum” ucap embun sambil menyalami Tiaras dengan penuh hormat.

“iya nak, hati hati dijalan” jawab Tiaras dengan lembut, dia tersenyum bahagia ketika dia melihat Rido pergi bersama embun solai.

“Andaikan ini semua menjadi kenyataan, saya tidak perlu cemas seperti ini, saya bisa menggendong cucu yang gendut, hah!” ucap Tiaras dalam hati dengan penuh pengharapan.

Setelah Tiaras menyaksikan kepergian anaknya bersama dengan sang mantu ke perusahaan, barulah Tiaras berbalik dan kembali kedalam ruang keluarga.

Berys membantu Rido untuk masuk kedalam mobil BMW itu, sedangkan embun disuruh Rido untuk duduk disebelahnya, karena embun ingin pergi duduk didepan disamping kemudi.

“Ingat ya! Kau itu istri saya, jadi kalau kita diluar seperti sekarang, kau harus duduk disampingku, dan nanti kalau sudah sampai di Kantor, kamu harus diam saja, jangan kamu banyak bicara, nanti bisa bisa menjadi masalah!” Ucap Rido dengan tegas, dengan tatapannya lurus kedepan.

“Ba, baik Tuan!” sahut Embun dengan menganggukan kepalanya, sambil dia menghadap kearah Rido.

Sementara di tempat lain, bu Wina sedang di Cek kondisi kesehatannya oleh dokter, karena sekitar 2 jam lagi dia akan dibawa kedalam ruangan operasi.

“kondisi ibu sedang dalam keadaan baik, sangat bagus untuk di lakukan operasi, Ingat ya! Ibu jangan banyak pikiran, tenangkan saja pikirannya dan berdoalah kepada Tuhan agar proses operasinya tidak ada hambatan” saran dari sang dokter.

Bu wina hanya bisa mengangguk paham “Baik Dokter, terimakasih atas sarannya”.

Sang Dokter mengangguk dan langsung meninggalkan bu Wina di dalam kamar itu, sehingga bu wina memilih untuk meraih HPnya yang bermodel Nokia.

Bu wina mencari nomor bu Farel, dia memilih untuk menghubungi rekan kerjanya itu, sehingga tidak menunggu lama panggilan telepon itupun tersambung.

“Hallo win, bagaimana kabarmu disana? Apakah sudah dilakukan operasinya?” Tanya berturut turut oleh Bu Farel kepada bu wina.

“Heem, bu Farel ini gimana sih? Kabar saya baik baik saja kok, untuk operasinya kan nanti jam 10 jadwal operasinya, saya sekarang masih berada diruang pemantauan” sahut bu wina di dalam sambungan telepon itu.

“Ohh, semoga operasinya berjalan lancar ya” timpal bu Farel lagi.

“Aminn ya rob” jawab bu Wina dengan mengamini perkataan dari rekannya itu.

“Oh ya bu, apakah nak embun sudah pergi dengan tuan muda?” Tanya bu wina dengan cepat.

“em, kalau itu, sekitar sejam yang lalu, Nak embun berangkat bersama dengan Tuan Muda Rido, memangnya kenapa ya bu?” jawab bu Farel sambil kembali bertanya.

“Emm, saya hanya ingin dia lebih tenang bu, saya ingin mendengarkan suaranya, tapi bagaimana lagi dia sedang tidak ada disitu” ucap bu Wina dengan nada sedikit lesuh.

“Bu wina tidak usah khawatir soal nak embun, kan ada Tuan Muda yang menjaganya, bu wina Fokus saja untuk operasinya” saran bu Farel dengan memberikan sedikit semangat kepada Bu Wina.

“Baik bu, makasih ya” ucap bu wina dan langsung di sambut oleh bu Farel “Sama sama win”.

Sambungan teleponpun terputus, bu wina hanya bisa menatap langit langit kamar itu, pikirannya traveling kearah timur ujung negeri.

“apa yang membuat embun terpaksa menikahi tuan muda itu, kenapa dia harus menunggu saya selesai operasi baru dia beritahukan kepada saya” gumam bu wina dengan bermonolog sendiri.

Diperusahaan Talzus Group.

Rido sedang berada diruangan CEO, dengan ditemani oleh Berys dan Embun.

“Bagaimana? Apakah sudah kumpul semua orang di tempat meeting?” Tanya Rido kepada Berys.

“Sudah Tuan Muda” jawab Berys singkat.

“Ayo kita kesana” titah Rido dengan sangat tegas, sorot matanya tajam setajam silet.

1
Nida Rania
suka karakter embun
Tiary91 gaho
Waahh.. ceritanya mantap jiwa
Tiary91 gaho
Mantap Aku Suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!