Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 13. Sandiwara?
Empat orang itu duduk di sofa ruang tengah dengan kepala menunduk dan larut dalam pikiran masing-masing. Hening, tak ada sedikitpun suara yang terdengar memasuki indera pendengaran. Hanya suara cicak-cicak yang menempel di plafon yang sedikit menghidupkan suasana di ruangan ini.
"Sayang...."
Ganis dan Dinda sama-sama mendongak.
"Iya Mas?" ucap mereka bersamaan.
Krisna merasa kikuk sendiri. Saat ini ia punya dua istri tapi lupa untuk menyematkan panggilan spesial yang berbeda untuk keduanya.
"Maksudku, Ganis."
Bibir Dinda mencebik merasa kesal sendiri. "Isshhh... Aku kira manggil aku."
"Ada apa Mas?" tanya Ganis dengan raut wajah yang santai. Wanita itu seakan tidak memiliki rasa sakit sama sekali bertemu langsung dengan sang suami sepaket dengan istri simpanannya.
"A-aku minta maaf..."
"Untuk apa?" tanya Ganis dengan nada suara yang datar.
"Maaf karena aku sudah membohongimu. Maaf karena aku sudah mengingkari janji yang pernah kuucap. Maaf karena aku diam-diam telah menikah lagi. Aku mohon saat ini kamu...."
"Menerima keberadaan wanita ini hadir di dalam rumah tangga kita?" tembak Ganis langsung pada poinnya yang seketika membuat Krisna terhenyak.
"I-iya Sayang, aku mohon keikhlasanmu menerima kehadiran Dinda. Bagaimanapun juga aku sudah menikahinya meskipun secara sirri."
Ganis tersenyum miring. "Kamu memintaku untuk ikhlas menerima wanita lain yang bahkan ketika masuk ke dalam rumah tangga kita tanpa permisi dulu? Dan kamu juga minta aku menerima keberadaan Dinda menjadi istri kedua tanpa kamu minta izin terlebih dahulu kepadaku? Coba kamu cari, istri mana yang mau berada dalam situasi seperti itu?"
Krisna beranjak dari posisi duduknya. Ia menghampiri Ganis dan bersimpuh di atas pangkuannya.
"Aku benar-benar minta maaf Sayang. Aku minta maaf atas semua perbuatan yang sudah aku lakukan. Tapi aku mohon kali ini, tolong terima kehadiran Dinda. Karena saat ini Dinda tengah mengandung darah dagingku."
Jleb....
Ucapan Krisna, seketika membuat Ganis terpaku dan membeku. Ada satu tikaman tak kasat mata yang menancap tepat di jantung dan hatinya. Yang membuat raganya seperti tak memiliki tumpuan untuk tegak berdiri. Beruntung saat ini Ganis dalam posisi terduduk. Jika dalam posisi berdiri mungkin tubuhnya sudah lunglai di lantai.
Darah daging, sebuah kata yang terdengar biasa saja namun memiliki arti yang sangat besar untuk Krisna. Calon anak yang sudah dinantikan dan didambakan oleh Krisna yang sampai saat ini belum bisa diberikan oleh Ganis. Calon anak yang pastinya akan membuat hidup Krisna jauh lebih bahagia.
Air mata Ganis menetes perlahan. Jika sudah perkara anak, ia merasa kalah telak. Karena pada kenyataannya sampai saat ini ia masih belum bisa memberikan keturunan untuk sang suami. Ganis terdiam, tak bergeming sedikitpun. Ia masih bingung akan apa yang dilakukannya nanti.
"Aku mohon terima kehadiranku, Mbak. Aku tidak ingin jika anak ini lahir tanpa adanya sosok seorang ayah. Atau jika mbak Ganis tidak mau menerimaku, setidaknya izinkan mas Krisna untuk terus mendampingiku sampai anak ini lahir. Setelah itu aku akan pergi dari hidup mas Krisna."
Dinda mengikuti Krisna yang tengah bersimpuh di pangkuan Ganis. Wanita yang tengah hamil lima bulan itu memelas dengan air mata yang juga mengalir deras dari pelupuknya.
Rika terhenyak mendengar ucapan yang dilontarkan oleh sang anak. Ia sungguh tak menyangka sang anak akan mengatakan hal itu tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu. Jika Ganis menyetujuinya pasti akan rugi bandar. Mimpinya jadi orang kaya bisa musnah seketika.
"Mana bisa seperti itu Din. Krisna harus tetap ada di sampingmu sampai kapanpun. Kalian disatukan karena kalian saling mencintai sehingga hadirlah anak yang sekarang ada di dalam rahimmu. Jadi mana bisa kamu mengatakan hal itu."
"Akan aku terima apapun resikonya Ma. Aku memang bersalah karena sudah masuk ke dalam rumah tangga mas Krisna. Maka dari itu tidak masalah jika aku hanya diperbolehkan memiliki mas Krisna sampai aku melahirkan nanti."
Dahi Ganis berkerut dalam mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Dinda. Entah mengapa hatinya tidak sedikitpun merasa iba meski istri kedua suaminya ini sudah berurai air mata. Dia hanya tersenyum getir, melihat suami dan istri keduanya yang tengah bersimpuh ini layaknya sepasang kekasih yang meminta restu.
Sandiwara macam apa yang sedang dimainkan oleh wanita ini dan ibunya? Aku benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan keduanya. Entah ada maksud apa mereka masuk di rumah tanggaku? Hmmmm... baiklah, akan aku ikuti permainan mereka terlebih dahulu.
"Baiklah... Akan aku izinkan kamu menjadi istri kedua mas Krisna. Sampai kapan itu, terserah kalian," ucap Ganis membuat sebuah keputusan.
Wajah Krisna mendongak. "Sayang, apa ini bukan mimpi?"
"Mimpi apa maksudmu Mas?"
"Kamu sungguh mau menerima Dinda menjadi madumu? Ini seperti mimpi," tanya Krisna dengan wajah yang berbinar terang. Sangat berbeda jauh dari sebelum Ganis memberikan jawaban. Wajah lelaki itu nampak begitu menyedihkan.
Ganis membuang napas kasar. "Ini mimpi buruk bagiku, tapi entah bagimu mimpi apa. Tidak ada satupun seorang istri di dunia ini yang menginginkan suaminya menikah lagi."
"Sayang, tapi aku janji akan berbuat adil. Aku pasti bisa membagi semuanya secara adil. Baik perhatian, cinta dan juga nafkah lahir maupun batin."
"Ckkckkckkk... Tidak perlu repot-repot. Untuk nafkah lahir, aku bisa mencarinya sendiri. Untuk nafkah batin...." Ganis menjeda ucapannya sejenak. "Lebih baik kamu fokus pada kehamilan istri keduamu. Tidak perlu kamu memikirkan nafkah batin untukku."
"Tapi Sayang, aku tidak mau berbuat dzolim. Aku akan tetap memberikan keduanya untukmu dan untuk Dinda secara adil."
Mata Ganis menyipit. "Dzolim? Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan Mas?"
Krisna mengangguk. "Iya Sayang, aku sadar. Memang kenapa?"
"Cckcckkk kamu di sini berbicara tentang dzolim, padahal kamu sendiri sudah mendzolimi aku dengan menikahi wanita itu secara diam-diam. Bisa-bisanya kamu bicara tentang dzolim."
Krisna seperti kesusahan menelan salivanya. Kali ini ia benar-benar tidak bisa lagi mengcounter ucapan Ganis. Ia benar-benar dibuat mati kutu.
Rika menatap Ganis dengan tatapan tak terbaca. Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ganis membuat nyalinya sedikit menciut.
Aku kira istri pertama Krisna adalah wanita yang lemah. Tapi jika aku dengar dari cara ia bicara, dia bukan wanita sembarangan. Aku harus berhati-hati menghadapinya.
"Kalian tidak capek terus-terusan jongkok seperti itu?" tanya Ganis kepada Dinda dan Krisna. Ia merasa risih sendiri karena sejak tadi dua orang ini tidak segera beranjak dari posisinya. "Kamu juga, apa pinggangmu tidak encok, duduk jongkok seperti itu?" sambung Ganis.
Krisna dan Dinda saling melempar pandangan. Krisna beranjak terlebih dahulu dan kemudian membantu Dinda untuk berdiri. Ia pun menuntun Dinda untuk kembali duduk ke sofa.
Ganis tersenyum getir melihat Krisna yang memperlakukan Dinda dengan begitu manis seperti ini.
Seandainya aku bisa hamil, pasti mas Krisna juga akan begitu perhatian kepadaku dan calon anakku. Stop Ganis, tidak usah berandai-andai. Karena kenyatannya kamu memang tidak bisa memberikan keturunan untuk suamimu.
"Aku rasa untuk saat ini semua sudah jelas. Aku mau pulang dulu."
Ganis beranjak dari posisi duduknya. Ia ambil tas yang berada di atas meja dan mulai ia ayunkan tungkai kakinya. Rasanya ia sudah tidak ingin berlama-lama lagi di tempat ini.
"Ada apa ini? Mengapa ada banyak orang yang berkumpul di sini!"
Suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari arah pintu, membuat perhatian orang-orang yang ada di ruang tengah teralihkan. Mereka menatap ke arah sumber suara dan. . . .
"Papa, Mama?!!!" ucap Ganis dan Krisna bersamaan.
.
.
.