Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butik dan kemewahan
"Sudah, jangan dipikirkan si kutu loncat itu," ucap Zayn sambil mengacak rambut Laila pelan. "Ayo, habiskan rotinya. Kita punya misi yang jauh lebih penting daripada meladeni drama Gion."
Laila tersenyum tipis, meski hatinya masih sedikit berdebar. "Misi apa? Mencari gaun yang tidak membuatku terlihat seperti gumpalan awan?"
"Lebih dari itu. Aku ingin kamu terlihat seperti alasan kenapa semua orang di pesta nanti merasa salah kostum," goda Zayn.
Mobil SUV hitam Zayn berhenti di depan sebuah bangunan minimalis modern dengan kaca besar yang menampilkan manekin-manekin anggun. Ini bukan butik biasa; ini adalah L’Eternité, tempat di mana para bangsawan dan selebriti memesan gaun dengan daftar tunggu berbulan-bulan. Tapi bagi seorang Zayn Malik, daftar tunggu hanyalah barisan kata tak bermakna.
"Selamat siang, Tuan Malik. Kami sudah menunggu Anda," sapa seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat modis bernama Madame Claire.
"Siapkan yang terbaik untuk calon istriku, Claire. Aku tidak mau melihat sesuatu yang 'biasa saja'," ujar Zayn santai sambil menduduki sofa beludru di ruang VIP.
Laila ditarik oleh tiga asisten butik ke ruang ganti raksasa. Setelah hampir tiga puluh menit berkutat dengan kancing, ritsleting, dan kain sutra yang halus, tirai beludru merah di depan Zayn akhirnya terbuka.
Semua staf di sana tertahan napasnya. Laila keluar mengenakan gaun ballgown berwarna off-white dengan ribuan kristal Swarovski yang dijahit tangan, menciptakan efek gradasi cahaya seperti bintang di langit malam. Ekor gaunnya menjuntai sepanjang tiga meter, menyapu lantai marmer dengan anggun.
"Ya Tuhan, Nona Laila... Anda tampak seperti dewi yang turun dari lukisan Renaissance!" seru salah satu staf dengan mata berbinar.
"Potongannya sangat pas di pinggang Anda, Nona. Benar-benar masterpiece," tambah Madame Claire sambil merapikan kain di bahu Laila.
Laila menatap bayangannya di cermin besar, merasa asing dengan dirinya sendiri. "Zayn... ini tidak berlebihan? Aku merasa kalau aku bergerak sedikit saja, harga gaun ini bisa membiayai satu kelurahan."
Zayn berdiri dari sofanya, berjalan mendekat, lalu berdiri di belakang Laila. Matanya menatap pantulan Laila di cermin dengan binar yang sulit diartikan. "Berlebihan? Justru gaun ini yang harus berterima kasih karena kamu mau memakainya, Sayang."
"Gombal," bisik Laila, tapi wajahnya merona merah.
"Ambil yang ini, Claire. Tambahkan cadar yang paling panjang yang kalian punya," perintah Zayn tanpa melihat label harga yang jika dilihat orang biasa, mungkin bisa menyebabkan serangan jantung mendadak.
Keluar dari butik, Zayn tidak langsung mengajak Laila pulang. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah salon dan spa eksklusif yang hanya melayani satu pelanggan per sesi.
"Zayn, kita mau apa lagi? Aku sudah lelah mencoba gaun tadi," keluh Laila manja.
"Tadi itu baru pemanasan. Sekarang waktunya 'perawatan mesin'. Kamu harus rileks setelah menghadapi tikus-tikus pagi tadi," jawab Zayn sambil membukakan pintu mobil untuk Laila.
Di dalam, Laila dimanjakan dengan massage aroma terapi, perawatan wajah dengan emas 24 karat, hingga manikur yang mendetail. Zayn sendiri tampak santai membaca majalah bisnis di ruang tunggu, sesekali membalas email di ponselnya.
Dua jam kemudian, Laila keluar dengan kulit yang tampak lebih glowing dan segar. "Oke, sekarang aku merasa seperti manusia baru. Bisa kita pulang?"
"Belum. Satu pemberhentian terakhir," Zayn mengedipkan mata.
Mereka pindah ke mal paling mewah di pusat kota. Zayn membawa Laila masuk ke butik-butik brand ternama mulai dari Hermes, Chanel, hingga Dior.
"Pilih apa saja yang kamu suka. Tas, sepatu, perhiasan... ambil saja," kata Zayn sambil menyerahkan kartu kredit hitamnya ke tangan Laila.
Laila melongo. "Zayn, aku masih punya banyak tas di rumah."
"Itu koleksi masa lalu. Ini koleksi untuk Nyonya Zayn Malik," Zayn bersandar di meja kasir sambil tersenyum menantang. "Atau kamu mau aku yang memilihkan? Kamu tahu seleraku agak... berbahaya untuk isi toko ini."
Laila akhirnya menyerah dan mulai melihat-lihat. Ia memilih sebuah tas tangan klasik berwarna hitam dan sepasang sepatu hak tinggi yang tampak nyaman. Namun, Zayn justru menambahkannya dengan tiga pasang sepatu lain, dua syal sutra, dan sebuah jam tangan bertahtakan berlian.
"Zayn! Ini terlalu banyak!" protes Laila saat melihat tumpukan kantong belanjaan yang kini dibawa oleh dua orang pengawal yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Hanya sedikit hadiah karena kamu sudah berani menghadapi Gion dan ibunya tadi pagi," Zayn merangkul bahu Laila, menuntunnya keluar menuju parkiran. "Lagipula, melihatmu bahagia itu jauh lebih murah daripada biaya terapi stresku kalau harus melihat wajah Gion setiap hari."
Laila tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Zayn saat mereka berjalan menuju mobil. "Kamu benar-benar tahu cara mengalihkan perhatianku dari masalah, ya?"
"Itu salah satu keahlianku," Zayn membukakan pintu mobil. "Sekarang, ayo pulang. Mama pasti sudah menyiapkan makan malam mewah, dan aku tidak sabar ingin melihat ekspresinya saat melihatmu membawa semua belanjaan ini."
"Dia pasti akan menceramahimu karena terlalu memanjakanku," goda Laila.
"Biarkan saja. Selama aku yang punya kartunya, aku yang punya aturannya," Zayn terkekeh, lalu melajukan mobilnya membelah kemacetan kota dengan perasaan menang yang mutlak.
Sesampainya di kediaman mewah keluarga Malik, suasana hangat langsung menyambut mereka. Aroma panggangan wagyu dan rempah mahal menyeruak dari ruang makan, namun perhatian Mama Rosa, langsung teralihkan oleh deretan pengawal yang membawa gunungan kantong belanjaan bermerek.
"Zayn! Kamu merampok satu mal atau bagaimana?" seru mama Rosa sambil berkacak pinggang, meski matanya berkilat jenaka.
Zayn hanya mengangkat bahu dengan gaya angkuh yang khas. "Hanya memastikan calon menantumu tidak kekurangan amunisi untuk membuat Gion menyesal telah lahir ke dunia, Ma."
Laila mencium tangan mama Rosa, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. "Zayn terlalu berlebihan, Tan. Aku sudah melarangnya, tapi dia malah mengancam akan membeli seluruh toko jika aku tidak memilih sesuatu."
Mama Rosa tertawa renyah, merangkul bahu Laila dengan sayang. "Biarkan saja, Sayang. Laki-laki Malik memang punya genetik 'pamer' yang agak akut jika sudah jatuh cinta. Tapi lihat dirimu... kulitmu bersinar seperti mutiara. Perawatan emas itu memang ajaib."
Malam itu, di bawah pendar lampu kristal ruang makan, ketegangan akibat pertemuan dengan Gion pagi tadi seolah menguap tak berbekas. Di sela tawa dan denting sendok perak, Laila menyadari satu hal: Zayn tidak sedang memamerkan kekayaannya. Ia sedang membangun benteng kepercayaan diri untuk Laila, memastikan bahwa saat hari pernikahan tiba, tidak akan ada satu pun bayang-bayang masa lalu yang berani menyentuh ujung gaunnya.
"Siap untuk dunia yang baru, Nyonya Malik?" bisik Zayn saat mereka menyesap teh melati setelah makan malam.
Laila menatap mata Zayn yang tajam namun teduh, lalu mengangguk mantap. "Selama kamu yang memegang kendalinya, aku siap."