NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Indah

...୨ৎ──── C H E R R Y ────જ⁀➴...

Saat aku bangun, butuh beberapa detik buat memahami apa yang ada di sekitarku.

Aku menyadari lengan Cavell melingkariku dengan erat, punggungku menempel di dadanya. Dia memelukku seperti aku memeluk bantal saat tidur.

Wajahnya menempel di tengkukku, napasnya menghangatkan kulitku. Salah satu kakinya menindih kakiku, dan batang kerasnya menekan pantatku.

Aku sudah berhubungan badan dengan Cavell.

Begitu ingatan pertama muncul, semuanya langsung membanjiri pikiranku.

Latihan menembak.

Cavell memelukku.

Mimpi buruk itu dan dia yang menenangkanku.

Orgasme pertamaku.

Pikiranku berhenti di ingatan itu dan bibirku melengkung.

Saat Cavell terus menggesekkan tubuhnya ke aku, rasanya begitu nikmat sampai hampir membuatku kewalahan.

Aku ingat semuanya saat dia mengambil keperawananku. Ekspresi di wajahnya. Cara tubuhnya bergerak. Rasa sakit saat dia terus mendorong sampai akhirnya menemukan kenikmatannya di tubuhku.

Meskipun sakit sekali, aku akan melakukannya sejuta kali hanya untuk melihat tatapan panas di wajahnya saat dia mencapai klimaks. Merasakan berat tubuhnya jatuh di atasku. Selama beberapa detik, aku merasa lebih kuat dari dia.

Lengan Cavell tiba-tiba mengencang di sekelilingku dan perutku langsung menegang.

Tiba-tiba dia menjauh dari aku.

Beberapa detik kemudian tangannya mencengkeram leherku. Aku sekarang terbaring telentang dan sekali lagi ada pistol yang ditekan ke dahiku.

Saat aku menarik napas tajam, matanya fokus pada wajahku. Lalu dia melepaskan leherku dan jatuh kembali ke kasur sambil menghembuskan napas keras.

"Sial," gumamnya sambil mengaktifkan pengaman pistolnya. "Aku minta maaf."

Aku hanya berbaring diam menatapnya, mencoba memahami kenapa dia bereaksi seperti itu.

"Ini hal baru buat aku," jelasnya.

"Apa?" bisikku.

"Bangun di samping seorang wanita." Matanya bertemu dengan mata aku. "Aku biasa tidur sendirian."

Alisku terangkat. "Kamu gak pernah tidur di samping wanita sebelumnya?"

Dia menggeleng lalu berbaring kembali sambil menghela napas panjang.

Menyadari aku adalah wanita pertama yang tidur di tempat tidurnya membuat senyum muncul di wajahku.

aku menoleh dan melihat jam di meja samping tempat tidur. Ternyata sudah lewat jam sepuluh pagi.

Aku langsung bangun dan berlari ke closet Cavell untuk mengambil kemeja pertama yang aku lihat.

Semoga Livinia belum pergi ke kamar aku.

"Kamu lagi ngapain?" tanya Cavell.

"Aku harus menyingkirkan seprai dan membersihkan darahnya," jawabku sambil menarik kemeja itu melewati kepala.

"Aku sudah mengurusnya," gumamnya.

Aku berhenti dan menatapnya kaget. "Kamu membersihkan kamar aku?"

Dia mengangguk lalu menepuk tempat di kasur tempat aku tadi tidur. "Kembali ke sini."

Saat aku merangkak ke kasur, dia menarik aku kembali ke sisinya.

"Aku gak mau siapa pun melihat darah perawan kamu. Itu cuma buat mata aku," jelasnya.

Sial.

Pria ini posesif sekali.

Tapi hati aku malah meleleh.

Tubuhku rileks dan aku ragu sejenak sebelum menaruh tangan di dadanya.

Dia terlalu agresif. Terlalu dominan. Terlalu gak sabaran. Terlalu menarik. Terlalu kuat. Tapi pada akhirnya, dia milik aku.

"Lepas kemejanya," perintahnya, menarikku dari pikiranku.

Aku duduk dan, meskipun sedikit malu, aku menuruti perintahnya. Dia bersandar lebih nyaman dengan bantal di belakang punggungnya.

Saat aku meletakkan kemeja itu di atas selimut, tangannya meraih pinggulku dan menarik aku ke atas tubuhnya. aku dipaksa duduk di atas Cavell, membuat wajah kami sejajar.

Aku merasakan batang kerasnya di dekat bagian paling sensitif di antara pahaku.

"Biarin aku lihat kamu," gumamnya.

Matanya turun ke dadaku. Saat aku merasakan batangnya semakin keras di bawah, ada sensasi tegang yang kuat di perutku.

Tangan Cavell naik ke dadaku. Saat telapak tangannya menutupi payudaraku, getaran langsung menjalar di tubuhku.

Matanya naik ke wajahku sebelum kembali fokus pada jari-jarinya yang memijat payudara dan putingku.

Sensasi di perutku semakin kuat. Merasa perlu menyentuhnya juga, aku menekan tanganku ke perutnya.

Bibirku terbuka saat ujung jariku menyentuh otot kerasnya.

Saat dia membungkuk dan mengisap salah satu putingku ke dalam mulutnya, erangan pun keluar dari bibirku.

Aku gak pernah membayangkan kedekatan dengan seorang pria bisa terasa sebaik ini.

Aku selalu takut, atau setidaknya khawatir harus berhubungan dengan pria yang dipaksa menikahi aku.

Saat Cavell mengisap dan menggigit putingku, bergantian di antara keduanya, aku menaruh satu tangan di belakang lehernya sementara tangan lain memegang lengannya.

Tanpa sadar, pinggulku mulai bergerak dan bagian sensitif di antara pahaku mencari tubuhnya.

Cavell melepaskan putingku dan menatap wajahku.

"Gimana rasanya?"

Sensitif.

Tapi aku sangat membutuhkan kenikmatan yang dia berikan tadi malam.

Gak ingin berbohong, aku menghindari jawabannya.

"Aku mau kamu." Matanya menyipit. "Gimana rasanya, Cherry?"

"Cuma hemmm," gumamku dengan nada kecewa karena momen intim itu seakan menghilang begitu cepat.

Frustrasi memenuhi dadaku.

Cavell memiringkan kepala dan sudut bibirnya terangkat. aku malah meringis melihat senyum hangat itu.

"Wanitaku butuh tubuh aku," katanya dengan suara penuh kepuasan.

Dia mendekat, bibirnya menyentuh daguku. Saat dia sampai di telingaku, dia menggeram pelan. "Naik di atas aku, Api kecil!"

Dia memegang pinggulku dan menunjukkan bagaimana aku harus menggesekkan tubuhku ke batangnya. Gelombang sensasi kuat langsung membuat tubuhku gemetar.

"Tuhan. Api kecilku mulai putus asa?"

Aku mengangguk dan mencengkeram lehernya lebih erat, lalu mencium bibirnya saat pinggulku mulai bergerak.

Aku menggesekkan tubuhku dengan putus asa, mencari sensasi yang sama seperti malam tadi.

Aku mencium Cavell seperti dia menciumku sebelumnya, tapi aku gak bisa mengendalikan diri lama-lama.

Dia mencengkeram rambutku dan menarik kepalaku ke belakang.

Leherku terbuka untuknya sementara, pinggulku bergerak semakin cepat.

Tatapannya yang gelap membakar wajah dan tubuhku saat aku terus bergerak di atasnya.

Punggungku melengkung dan aku mencengkeram lengannya. Detik berikutnya, tubuhku sepenuhnya dikuasai sensasi panas saat kenikmatan menyapuku.

Saat aku merasakan Cavell bergetar di bawahku, aku menarik tangannya dari rambutku dan melihat ke bawah.

Melihatnya mencapai klimaks meningkatkan kenikmatanku, dan erangan kasar keluar dari tenggorokanku.

"Ohhhh..."

Melihatnya mencapai puncak sangat menggairahkan.

Gerakanku melambat saat kenikmatan memudar. Cavell mengusap jarinya pada benihnya.

Saat dia membawa jarinya ke mulutku, mataku langsung bertemu dengan matanya.

"Buka," perintahnya dengan suara kasar.

Bibirku terbuka dan jarinya masuk ke mulutku. Aku merasakan rasa asin dan sedikit pahit.

Ekspresinya berubah lebih gelap, hampir seperti Boss tanpa belas kasihan yang menarikku menjauh dari orang tuaku.

Perlahan dia menarik jarinya keluar dari mulutku.

Aku menaruh tangan di sisi rahangnya, janggut gelapnya menggesek telapak tanganku.

Aku membungkuk dan mencium bibirnya dengan lembut.

"Kenapa Kamu kelihatan marah?" tanyaku.

"Aku benci kehilangan kendali," gumamnya.

"Kamu merasa kehilangan kendali sekarang?"

Aku mencium bibirnya lagi, mencoba menenangkannya.

"Gak, saat Kamu telanjang di atas aku."

Aku menjauh sedikit dan menatap matanya. Perlahan ekspresinya melunak. Dia hanya menatapku lama.

"Apa yang Kamu pikirin?" bisikku.

"Aku harus kerja. Tapi yang aku inginkan cuma tetap di sini melihat kamu."

Kata-katanya membuatku tersenyum, tapi perut aku tiba-tiba berbunyi.

"Kayaknya aku harus membiarkan Kamu pergi supaya Kamu bisa makan," gumamnya sambil mengangkatku dari pangkuannya. "Dan aku juga harus kembali kerja."

Dia turun dari tempat tidur, dan mataku langsung terpaku pada pantatnya saat dia berjalan menuju kamar mandi.

Aku bangun dan mengambil kemeja yang tadi aku pakai. Setelah memakainya, aku menatap pintu kamar mandi yang tertutup.

Saat aku mendengar air shower mulai mengalir, aku keluar dari suite Cavell dan cepat kembali ke kamarku.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!