NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bilah Rotor dan Sirene Kematian

Langit sore Jakarta menyambut kedatangan Black Hawk itu dengan warna jingga yang berbaur dengan polusi. Di bawah mereka, lanskap hutan zamrud Sumatera telah lama berganti menjadi hutan beton pencakar langit.

Di dalam kabin, deru mesin turboshaft mulai menurun seiring dengan manuver helikopter yang bersiap mendarat di landasan pacu steril di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Kolonel Rayyan Aksara bersandar pada dinding kabin, merasakan ritme getaran mesin yang familier. Di pelukannya, Dr. Lyra Andini tampak tertidur lelap. Kepala gadis itu bersandar nyaman di dada Rayyan, wajahnya masih tertutup masker oksigen bening. Udara murni terus mengalir dari tabung hijau di sebelah kaki mereka, berdesis pelan dan teratur.

Rayyan menatap puncak kepala Lyra, membelai rambut cokelatnya yang kusut dan penuh debu andesit. Sedikit senyum kelegaan terukir di sudut bibir sang komandan. Mereka pulang. Misi selesai, dan yang terpenting, wanita di pelukannya ini selamat. Adrenalin yang sejak tadi menopang tubuh Rayyan akhirnya benar-benar mengendur, membiarkan rasa kebas dan nyeri di luka-lukanya mengambil alih.

Gedebuk.

Roda pendaratan helikopter menghantam aspal landasan pacu.

“Kita sudah sampai, Sayang,” bisik Rayyan pelan di telinga Lyra, tidak ingin mengejutkannya. Ia menepuk bahu gadis itu dengan lembut. “Lyra. Bangun. Helikopter sudah mendarat.”

Tidak ada respons. Tubuh Lyra tetap diam.

Rayyan mengerutkan kening. Ia menundukkan wajahnya, mencoba melihat wajah Lyra dari balik masker oksigennya. Sesuatu yang ganjil seketika menghantam dada Rayyan seperti palu godam.

Kaca masker oksigen plastik itu… tidak lagi mengembun secara teratur. Dan dada Lyra, yang tadinya naik-turun selaras dengan napasnya, kini nyaris tidak bergerak.

“Lyra?” Suara Rayyan menegang. Ia menyentuh pipi gadis itu. Kulitnya terasa sangat dingin, sedingin marmer di ruang arsip bawah tanah.

Rayyan langsung menyingkirkan masker oksigen itu dari wajah Lyra. Bibir gadis itu, yang satu jam lalu sudah kembali berwarna pucat normal, kini berubah menjadi biru pekat yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

“Medis!” Raungan Rayyan membelah suara putaran baling-baling yang memekakkan telinga.

Prajurit medis yang bersiap membereskan peralatannya langsung melompat mendekat. Ia menempelkan dua jarinya di leher Lyra, mencari denyut nadi karotis. Wajah sang medis seketika pucat pasi.

“Nadinya sangat lemah dan cepat, Kolonel! Saturasi oksigennya anjlok total!” Sang medis buru-buru menyalakan senter kecil dan menyorotkannya ke mata Lyra. Pupil gadis itu melebar, tidak responsif. “Efek obat dexamethasone tadi hanya meredam gejala awalnya! Gas beracun itu mengiritasi kapiler paru-parunya. Dia mengalami edema paru-paru, parunya terendam cairan radang dari dalam tubuhnya sendiri! Dia tenggelam, Kolonel!”

Dunia Rayyan seolah berhenti berputar. Udara di sekitarnya tersedot habis ke dalam ruang hampa.

“Buka pintunya! Buka pintu sialan ini sekarang!” Jerit Rayyan kepada kru kabin dengan suara yang menggelegar penuh keputusasaan.

Bahkan sebelum pintu hidrolik helikopter terbuka sepenuhnya, Rayyan sudah memutus sabuk pengaman Lyra. Ia merengkuh tubuh mungil yang tak sadarkan diri itu ke dalam pelukannya, mengangkat ala bridal style dengan sisa tenaga brutal yang bangkit dari ketakutannya. Luka jahitan di perut Rayyan yang belum sembuh kembali merobek, darah segar merembes membasahi kemejanya, namun ia sama sekali tidak merasakannya.

Pintu terbuka. Angin panas dari landasan pacu Halim menerpa wajah mereka. Di luar, sebuah ambulans militer bersiaga—protokol standar untuk setiap kedatangan Satgas Black Ops.

Rayyan melompat turun dari helikopter yang masih menyala, berlari melintasi aspal landasan sambil mendekap erat Lyra di dadanya.

“Minggir! Siapkan intubasi darurat!” Raung Rayyan saat ia menendang pintu belakang ambulans yang terbuka, mengagetkan dua paramedis RSPAD yang berjaga di dalam.

Rayyan membaringkan tubuh Lyra ke atas brankar ambulans dengan lembut. Ia menyingkir ke sudut, memberi ruang bagi paramedis yang langsung bekerja bagaikan mesin.

“Henti napas! Siapkan Bag Valve Mask (BVM)! Kita harus memompa oksigen secara manual!” Teriak salah satu paramedis, merobek kemeja taktis Lyra di bagian dada untuk menempelkan pad elektroda defibrilator pemonitor jantung.

Sirene ambulans melolong memekakkan telinga, membelah senja ibukota. Kendaraan itu melesat keluar dari pangkalan udara dengan kecepatan maksimal, dikawal oleh dua voorijder (motor pengawal militer) yang membuka jalan membelah kemacetan Jakarta menuju Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto.

Di dalam kabin ambulans yang berguncang keras, Rayyan berlutut di lantai besi di samping brankar Lyra.

Mata tajam sang komandan elit itu—yang biasanya menatap kematian musuh tanpa berkedip—kini dipenuhi oleh genangan air mata keputusasaan yang tertahan. Ia menatap paramedis yang sedang memompa kantung udara secara manual ke mulut Lyra, berusaha memaksa oksigen masuk ke dalam paru-paru gadis itu yang terisi cairan.

Layar monitor di atas kepala Lyra berbunyi melengking. Grafik detak jantungnya berantakan, dan angka saturasinya berkedip merah di angka tujuh puluh persen—jauh di bawah batas mematikan.

Rayyan menggenggam tangan kiri Lyra yang dingin dan lemas dengan kedua tangannya. Ia membawa tangan itu ke bibirnya, mengecup buku-buku jari gadis itu berulang kali dengan gemetar.

“Bertahanlah, Lyra. Kumohon, bertahanlah,” bisik Rayyan parau, isak tangis tertahan di tenggorokannya. “Kau tidak boleh menyerah pada gas sialan itu. Kau sudah berjanji padaku. Kau tidak boleh menyerah.”

Setiap detik di dalam ambulans itu terasa seperti siksaan neraka selama seribu tahun.

Setibanya di pelataran UGD RSPAD Gatot Soebroto, pintu belakang ambulans di dobrak terbuka.

“Kode Merah! Pasien ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) akibat paparan gas beracun!” Teriak paramedis sambil menurunkan brankar.

Belasan dokter dan perawat militer berseragam biru langsung berhamburan menyambut mereka. Brankar Lyra didorong dengan kecepatan penuh menyusuri lorong rumah sakit yang terang benderang. Rayyan berlari tepat di sampingnya, tangannya masih menolak melepaskan genggaman tangan Lyra hingga detik terakhir.

“Kolonel, Anda tidak bisa masuk lebih jauh!” Seorang dokter bedah menahan dada Rayyan dengan kedua tangannya saat mereka tiba di depan pintu ganda Ruang Resusitasi Kritis (ICU Darurat). “Kami harus melakukan intubasi pemasangan selang napas langsung ke trakeanya. Anda harus menunggu diluar!”

“Selamatkan dia, Dokter!” Rayyan mencengkeram kerah scrub dokter itu, matanya memancarkan ancaman sekaligus permohonan yang meremukkan hati. “Jika dia berhenti bernapas… aku akan menghancurkan tempat ini. Lakukan apa pun untuk menyelamatkannya!”

“Kami akan melakukan segalanya, Kolonel. Tolong lepaskan.,” ucap sang dokter dengan tenang namun tegas.

Pintu ganda berlapis baja itu tertutup rapat, memisahkan Rayyan dari satu-satunya wanita yang membuat jantungnya berdetak.

Rayyan berdiri mematung di lorong rumah sakit yang sunyi. Tangannya yang dipenuhi noda darahnya sendiri dan debu vulkanik jatuh terkulai di sisi tubuhnya. Ia menatap pintu putih itu dengan pandangan kosong.

Tiba-tiba, kedua lutut sang komandan kehilangan seluruh kekuatannya. Rayyan merosot ke lantai, bersandar pada dinding koridor yang dingin. Pria yang tidak pernah tunduk pada musuh mana pun itu kini menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, bahunya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun karir militernya, Kolonel Rayyan Aksara menangis. Ia menangis karena ketidakberdayaan absolut. Ia bisa menembak musuh dari jarak seribu meter, namun ia tidak bisa membunuh racun yang sedang mencekik paru-paru Lyra.

Satu jam kemudian, Letnan Jati dan Kopral Dito tiba di lorong tersebut. Mereka masih mengenakan seragam taktis yang kotor. Jati membawa sebuah kemeja bersih dan kotak P3K.

Langkah Jati terhenti saat melihat komandannya duduk di lantai, menatap kosong ke arah pintu ICU dengan darah yang mulai mengering di seragamnya.

“Kolonel…” bisik Jati prihatin. Ia berjongkok di hadapan Rayyan. “Anda harus diobati. Luka jahitan Anda terbuka lagi. Dokter jaga sudah menunggu di ruangan sebelah.”

“Aku tidak akan bergeser satu sentimeter pun dari pintu ini, Jati,” suara Rayyan sedingin es batu, kosong tanpa emosi. “Tidak sebelum pintu itu terbuka dan mereka memberitahuku bahwa dia bernapas.”

“Bapak Anda, Jenderal Baskoro, sedang dalam perjalanan kemari bersama Jenderal Haris, Kolonel.”

“Persetan dengan mereka semua,” desis Rayyan. Matanya yang merah menatap tajam ke arah wakil komandannya. “Lyra tidak akan berakhir di ruangan ini jika bukan karena negara menyuruhnya memecahkan teka-teki mematikan itu. Aku tidak peduli siapa yang datang. Aku tetap di sini.”

Jati menelan ludah, tahu betul bahwa berdebat dengan Rayyan saat ini sama saja dengan bunuh diri. Ia hanya mengangguk pelan dan berdiri menjaga perimeter di ujung lorong bersama Dito.

Tiga jam yang menyiksa berlalu. Tiga jam yang diisi oleh keheningan kaku, bau antiseptik yang menyesakkan, dan detik jam dinding yang terus berputar.

Akhirnya, bunyi klik dari pintu ganda ICU itu memecah kesunyian.

Dokter bedah kepala keluar dari ruangan, melepaskan masker bedah dan sarung tangannya. Wajahnya tampak luar biasa lelah.

Rayyan langsung melompat berdiri, mengabaikan rasa sakit yang merobek perutnya. Ia menerjang maju, mencengkeram lengan dokter itu.

“Bagaimana keadaannya?” Tuntut Rayyan, napasnya tertahan.

Dokter itu menghela napas panjang, menatap Rayyan dengan simpati profesional. “Kolonel… kondisinya sangat kritis saat tiba di sini. Gas hidrogen sulfida itu merusak membran kapiler paru-parunya, menyebabkan cairan plasma membanjiri ruang udara. Kami berhasil menstabilkan detak jantungnya, tetapi paru-parunya tidak bisa memompa oksigen secara mandiri saat ini.”

Kata-kata itu menghantam Rayyan bertubi-tubi. “Apa maksud Anda? Jelaskan dengan bahasa yang saya mengerti!”

“Kami menempatkannya dalam kondisi koma diinduksi secara medis (koma buatan),” jelas sang dokter lembut. “Dan kami telah memasang ventilator invasif—selang pernapasan yang terhubung ke mesin—untuk mengambil alih 100% fungsi pernapasannya. Ini satu-satunya cara untuk memberikan paru-parunya waktu untuk memulihkan diri dari peradangan ekstrem tanpa membuatnya kehabisan tenaga.”

Rayyan menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. “Apakah dia… apakah dia akan selamat?”

“Tujuh puluh dua jam kedepan adalah masa paling kritis. Jika cairan di paru-parunya berkurang dan ia merespons obat anti-inflamasi dosis tinggi kami, ia akan bertahan. Tapi jika terjadi infeksi sekunder…” Dokter itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya, namun maknanya sangat jelas.

“Bolehkah saya melihatnya?” Suara Rayyan pecah menjadi bisikan permohonan.

Dokter itu mengangguk pelan. “Hanya satu orang. Pastikan Anda mengenakan pakaian steril.”

Setelah membersihkan diri sekedarnya dan mengenakan gaun pelindung medis hijau, masker, dan penutup kepala, Rayyan melangkah masuk ke dalam Ruang Isolasi VVIP ICU.

Ruangan itu dipenuhi oleh bunyi bising peralatan medis. Suara mesin ventilator yang berdesis memompa udara naik-turun menjadi suara dominan di sana.

Di tengah ruangan, di atas ranjang putih, Lyra terbaring tak berdaya. Pemandangan itu nyaris menghancurkan sisa pertahanan Rayyan. Gadis yang biasanya penuh energi, berbicara cepat tentang sejarah, dan keras kepala itu kini tampak begitu rapuh.

Sebuah selang tebal menjulur dari mulutnya, dipelester kuat di pipinya, terhubung langsung ke mesin ventilator raksasa di samping ranjang. Wajahnya sangat pucat, matanya terpejam rapat. Berbagai kabel elektroda menempel di dadanya, memantau detak jantungnya di layar monitor yang berkedip hijau.

Rayyan melangkah perlahan mendekati ranjang, merasa seolah sepatunya berasal dari timah.

Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang Lyra. Dengan tangan gemetar, Rayyan menyusupkan jari-jarinya ke sela-sela jari Lyra yang tidak terpasang infus. Tangan Lyra terasa sangat dingin. Rayyan menempelkan punggung tangan gadis itu ke pipinya, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan kembali menetes, membasahi masker yang ia kenakan.

“Lyra…” bisik Rayyan dengan suara yang sarat akan rasa sakit yang tak terperi. “Aku di sini. Pedangmu ada di sini.”

Rayyan menatap selang ventilator yang memompa dada Lyra naik-turun secara artifisial. Ia membenci pemandangan itu. Ia membenci mesin itu karena harus melakukan apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh tubuh Lyra sendiri.

“Kau curang, Dokter Andini,” Rayyan bergumam, ibu jarinya mengusap lembut buku-buku jari Lyra. Ia berbicara pada gadis yang berada di alam bawah sadar, berharap suaranya bisa menembus kabut koma tersebut. “Kau berjanji tidak akan meninggalkanku di lorong gelap itu. Kau berjanji akan menjadi oborku. Kau tidak boleh tidur selama ini.”

Pria itu menundukkan wajahnya, menyandarkan dahinya ke tepi kasur, tepat di samping tangan Lyra.

“Aku tidak pernah memohon pada apa pun di dunia ini,” isak Rayyan tertahan, tubuh besarnya kembali bergetar oleh kesedihan yang nyata. “Tapi malam ini, aku memohon padamu. Kembalilah padaku, Lyra. Aku tidak peduli dengan sejarah, aku tidak peduli dengan monolit, aku hanya peduli padamu. Jangan berani-berani memejamkan mata dan meninggalkanku sendirian dalam kegelapan ini.”

Hanya suara desisan mesin ventilator yang menjawab permohonan sang komandan.

1
NP
Hehhe🥰 siang ya aku update
nur atika
lagi thorrr😍
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NP: Kak, makasih Love nya 🤗
total 1 replies
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!