NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 41

Merasakan jahitan kain tuxedo yang terlalu kaku di sekitar leher adalah pengingat paling nyata bahwa penyamaran selalu memiliki harga yang harus dibayar dengan kenyamanan fisik. Mahesa berdiri di depan sebuah cermin besar yang melapisi salah satu pilar di lorong menuju area servis. Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan dadanya membusung sejenak sebelum melepaskannya perlahan. Di bawah pantulan lampu dinding yang temaram, dia tidak lagi melihat pria yang kemarin berlari menghindari rintik hujan Paris; dia melihat seseorang yang siap melompat ke dalam api demi sebuah janji yang belum sempat dia ucapkan dengan sempurna.

Jemarinya yang sedikit kasar bergerak menyesuaikan letak dasi kupu-kupunya yang terasa mencekik. Mahesa melirik ke arah tas kameranya yang kini terasa lebih berat. Di dalamnya, selain peralatan fotografi profesional, tersimpan alat penyadap frekuensi pemberian Pierre yang sudah dia modifikasi. Ini adalah langkah yang paling berbahaya yang pernah dia ambil. Dia sedang bermain dengan api di tengah gudang mesiu, dan satu percikan kecil saja bisa meruntuhkan seluruh dunia yang sedang dia bangun bersama Felysha.

Dia melangkah menjauh dari cermin, suara sepatunya yang baru dipoles beradu pelan dengan lantai marmer yang dingin. Mahesa tidak menuju ke arah ballroom utama. Dia berbelok ke arah tangga darurat, sebuah lorong yang jauh dari jangkauan mata para tamu VIP yang sedang sibuk memamerkan perhiasan mereka. Di sana, aroma parfum mahal berganti dengan aroma sisa pembersih lantai yang tajam dan uap panas dari area dapur yang bocor melalui celah pintu.

Sesampainya di balik pintu besi tangga darurat lantai dua, Mahesa berhenti. Dia bisa mendengar suara napas seseorang yang berat dan aroma rokok kretek yang sangat dia kenal—aroma yang selalu membawanya kembali ke gang-gang kumuh tempat dia pertama kali belajar arti pengkhianatan.

"Kamu terlambat lima menit, Hes."

Pierre berdiri di bayang-bayang tangga, wajahnya yang kasar tampak semakin menyeramkan di bawah cahaya lampu darurat yang berwarna merah redup. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja lusuhnya; dia memakai seragam staf keamanan hotel yang tampaknya juga hasil curian atau pemalsuan identitas. Pierre menyesap rokoknya satu kali lagi sebelum mematikannya di dinding beton, meninggalkan noda hitam yang permanen.

Mahesa tidak mendekat. Dia menjaga jarak aman, tangannya tetap memegang tali kameranya seolah-olah itu adalah satu-satunya pelindung yang dia miliki. "Area VIP sangat ketat malam ini. Saya tidak bisa bergerak sembarangan tanpa menarik perhatian."

Pierre mendengus, matanya menyipit menatap tas kamera Mahesa. "Sudah dapat foto kartu akses emasnya? Aku butuh data itu sekarang. Orang-orangku sudah siap di area parkir bawah."

Mahesa merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu memori cadangan—bukan kartu memori yang berisi bukti kejahatan Pierre, melainkan kartu memori yang berisi foto-foto acak dari area teknis yang tidak berguna. "Ini. Tapi saya butuh jaminan bahwa kamu tidak akan mendekati paviliun Felysha malam ini."

Pierre mengambil kartu itu dengan gerakan cepat, matanya berkilat penuh kemenangan yang jahat. "Jaminanmu adalah keberhasilan operasi ini, Hes. Kalau aku dapat apa yang aku mau, aku tidak punya alasan untuk berurusan dengan mahasiswi itu. Tapi kalau kamu main-main..." Pierre tidak melanjutkan kalimatnya, namun gerakan tangannya yang meraba pinggangnya sendiri sudah cukup memberikan jawaban.

"Saya sudah menaruh jammer di ruang CCTV," Mahesa berbohong dengan nada yang sangat tenang, sebuah kemampuan yang dia asah selama bertahun-tahun di jalanan Paris. "Sinyalnya akan terganggu selama lima belas menit tepat saat acara lelang dimulai. Itu waktu yang kamu punya."

Pierre mengangguk puas, sebuah seringai muncul di wajahnya yang berkerut. "Bagus. Kamu memang asisten terbaikku. Sekarang, kembali ke bawah. Pastikan kamu memotret target-target utama agar mereka tidak curiga dengan keberadaanmu sebagai fotografer dokumentasi."

Mahesa berbalik, mendorong pintu besi itu kembali. Saat dia keluar ke lorong yang lebih terang, dia merasa seluruh tubuhnya gemetar. Adrenalin yang tadi membantunya tetap tenang kini mulai meninggalkan rasa lemas di lututnya. Dia menyadari bahwa dia baru saja memberikan Pierre sebuah "bom waktu" yang sebenarnya adalah jebakan untuk pria itu sendiri. Log aktivitas ilegal yang dikirimkan melalui alat modifikasinya sudah mulai terkirim ke server agensinya di London. Mahesa hanya perlu bertahan beberapa jam lagi sebelum otoritas internasional mulai bergerak.

Dia berjalan kembali menuju area balkon yang menghadap ballroom. Dari atas sana, dia bisa melihat Felysha yang sedang berdiri di samping ayahnya. Felysha tampak sedang mendengarkan sesuatu yang dikatakan Andra, namun pandangannya terus-menerus mengarah ke lantai dua, seolah-olah dia memiliki insting bahwa Mahesa sedang memperhatikannya.

Mahesa mengangkat kameranya. Dia membidik Felysha melalui lensa tele yang panjang. Melalui jendela bidik yang sempit, dia bisa melihat setitik kecemasan di mata gadis itu—kecemasan yang sama dengan yang dia rasakan. Dia menekan tombol rana, mengabadikan momen di mana Felysha tampak seperti seorang putri yang terjebak di tengah kastil kaca yang indah namun mematikan.

Tiba-tiba, dia melihat Andra membisikkan sesuatu ke telinga Gunawan, lalu pria muda itu menunjuk ke arah balkon tempat Mahesa berdiri. Jantung Mahesa berdegup kencang. Dia segera menarik diri ke belakang pilar, namun dia tahu dia mungkin sudah terlihat. Andra memiliki ketajaman mata yang didorong oleh rasa benci, dan Mahesa tidak bisa meremehkannya.

Dia harus tetap bergerak. Dia tidak bisa membiarkan Andra menemukannya di sini dengan peralatan yang mencurigakan. Mahesa berjalan cepat menuju tangga manual lainnya, berniat untuk turun ke lantai bawah dan membaur di antara kerumunan tamu. Dia butuh berada dekat dengan Felysha, bukan hanya untuk menjaganya, tapi untuk memastikan bahwa jika segalanya meledak malam ini, dia adalah orang pertama yang akan menarik tangan gadis itu menuju pintu keluar.

Di saku jasnya, ponselnya bergetar sekali. Sebuah notifikasi singkat dari email agensinya di London: “Data received. Local authorities in Jakarta alerted. Stand by for further instructions.”

Mahesa memejamkan matanya sejenak, sebuah hembusan napas lega yang singkat keluar dari mulutnya. Setengah dari rencananya sudah berhasil. Sekarang, dia harus menghadapi setengah lainnya—bagian di mana dia harus berdiri tegak di depan Gunawan dan Andra, bukan sebagai pencuri, tapi sebagai pria yang telah mengungkap sebuah kejahatan besar demi melindungi wanita yang dia cintai.

Lampu ballroom mulai meredup, tanda bahwa acara lelang amal akan segera dimulai. Mahesa menuruni anak tangga terakhir, masuk ke area kerumunan dengan kamera yang sudah siap di tangan. Di balik lensa kamera itu, dia tidak lagi hanya melihat piksel warna. Dia melihat garis akhir dari sebuah pelarian panjang yang dimulai di Paris dan akan berakhir di Jakarta malam ini.

Dia melangkah maju, membelah kerumunan dengan gerakan yang sangat sopan namun pasti. Matanya tidak pernah lepas dari gaun Midnight Blue yang dikenakan Felysha. Mahesa tahu, badai akan segera datang, dan di bawah gemerlap lampu kristal Kempinski, dia bersumpah tidak akan membiarkan setitik pun debu kotoran masa lalunya menyentuh Felysha lagi.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!