Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Ruangan basement itu bergetar hebat. Suara raungan dari makhluk raksasa, gabungan sisa-sisa manusia dan limbah plastik memantul di dinding beton, menciptakan frekuensi yang menyakitkan telinga. Namun, bagi Nirmala, suara itu terdengar jauh. Fokusnya hanya tertuju pada satu hal, denyut nadi Biji Kedua yang ada di bawah kaki mereka.
"Nir, awas!" teriak Arka.
Makhluk raksasa itu mengayunkan lengannya yang terbuat dari jalinan kabel serat optik dan tulang manusia. Hantamannya menghancurkan pilar semen di samping Arka hingga hancur berkeping-keping. Arka berguling di lantai yang becek, matanya berkilat hijau zamrud. Ia mencoba menahan pergerakan makhluk itu dengan memanggil sisa-sisa energi kehidupan dari spora di udara, tapi di tempat sekering dan seberacun ini, kekuatannya terasa tumpul.
"Arka, mundur!"
Suara Nirmala terdengar dingin, tanpa emosi. Ia melangkah maju dengan tenang. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kristal garam yang membeku di atas genangan limbah merah. Uap biru yang keluar dari tubuhnya kini begitu pekat hingga menyelimuti seluruh ruangan dengan kabut es yang asin.
Nirmala mengangkat tangan kanannya. Kristal garam di pipinya kini mulai merambat naik, menutupi sebagian matanya.
"Kau ingin air, kan?" bisik Nirmala pada makhluk itu.
Seketika, seluruh cairan nutrisi merah di dalam membran raksasa itu bergejolak. Nirmala tidak menghancurkan membran itu, ia memerintahnya. Cairan itu meledak keluar, tapi alih-alih membanjiri ruangan, cairan itu memadat di udara menjadi tombak-tombak kristal merah yang tajam. Dengan satu ayunan tangan, ribuan tombak itu melesat, memaku makhluk raksasa itu ke dinding beton.
Makhluk itu menjerit, suaranya seperti mesin yang rusak. Perlahan, tubuhnya mulai memutih, mengering, dan rontok menjadi serpihan garam.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari pengeras suara di sudut ruangan. Hologram Hendrawan muncul kembali, kali ini ia duduk dengan santai di kursi kantor mewahnya, menyesap secangkir kopi hitam.
"Luar biasa, Nirmala. Kau bukan lagi gadis malang yang menangis di bawah pohon. Kau adalah dewi, Kau adalah badai." ucap Hendrawan dengan nada kagum yang dibuat-buat. "Tapi lihatlah dirimu. Lihat tanganmu. Lihat matamu. Apakah kau masih Nirmala yang dicintai Arka? Ataukah kau hanya seonggok garam yang menunggu waktu untuk hancur?"
Nirmala tertegun, Ia menatap tangannya. Ujung jarinya kini sudah mengeras seperti batu karang, kehilangan tekstur kulit manusia.
"Arka." Hendrawan mengalihkan pandangannya pada Arka yang masih terengah-engah. "Kau melihatnya, kan? Kekuatannya tumbuh dengan menghisap nyawanya sendiri. Semakin dia bertarung untuk 'menyelamatkan' dunia ini, semakin cepat dia akan berubah menjadi patung garam yang mati. Apakah itu cinta? Membiarkannya menjadi monster demi ego pahlawanmu?"
"Diam kau, setan!" Arka berdiri, energinya memuncak karena amarah. "Kau yang menciptakan semua ini! Kau yang menjadikannya tumbal!"
"Aku hanya memberi jalan bagi evolusi, Arka. Jakarta butuh Sandiwayang untuk tetap tegak. Tanpa akar-akarku, tanah ini akan amblas. Tanpa energiku, gedung-gedung ini akan runtuh menimpa jutaan orang." Hendrawan tersenyum licik. "Jika kau menghancurkan sumur di bawah ini, kau tidak hanya membunuhku. Kau membunuh kota ini. Kau akan menjadi pembantai jutaan nyawa. Apakah kau sanggup menanggung dosa itu di bahu hijaumu?"
Aki, yang sejak tadi diam sambil merapal doa, tiba-tiba melangkah maju. Beliau menghujamkan kerisnya ke lantai beton yang retak. "Jangan dengarkan dia! Dia hanya menggunakan rasa bersalahmu sebagai perisai! Kebohongannya lebih beracun daripada limbah ini!"
Namun, Nirmala mulai ragu. Denyut di dadanya terasa sangat menyakitkan. Setiap kali ia menggunakan kekuatannya, ia merasakan sebagian ingatannya memudar, kenangan tentang ibunya, tentang masa kecilnya, bahkan tentang hangatnya tangan Arka. Yang tersisa hanya rasa haus yang dingin dan asin.
"Tiga puluh hari, Nirmala..." sebuah suara gaib kembali berbisik di telinganya. Kali ini suara itu bukan dari Hendrawan, melainkan dari kedalaman laut selatan. "Berikan dia padaku... atau kau yang akan menjadi milikku."
Garis biru di telapak tangan Nirmala berdenyut kencang, mengeluarkan cahaya yang menembus kegelapan. Nirmala menatap Hendrawan atau lebih tepatnya, menatap ke arah sumur di bawah pondasi gedung yang menjadi pusat kendalinya.
"Aku tidak peduli pada kotamu, Hendrawan" desis Nirmala. Suaranya kini terdengar seperti gesekan karang yang tajam. "Aku punya kontrak yang harus kupenuhi. Dan laut tidak menerima alasan."
Nirmala meledakkan energinya. Kali ini bukan tombak, melainkan gelombang kejut garam yang merambat lewat lantai beton, menghancurkan segala sistem elektronik di ruangan itu. Hologram Hendrawan berkedip-kedip lalu menghilang, meninggalkan tawa terakhir yang menghantui.
Lantai di bawah mereka mulai retak membentuk lubang besar yang menuju ke tingkat basement paling bawah, Basement 7. Tempat yang tidak terdaftar di denah resmi mana pun. Dari lubang itu, uap hitam pekat keluar, membawa aroma tanah yang sudah tertimbun ribuan tahun.
Baruna si pengamen, menatap ke dalam lubang itu dengan wajah pucat. "Itu dia. Gerbang menuju Sumur Kencana. Di bawah sana, ruang dan waktu tidak lagi berlaku seperti di atas."
Mereka mulai turun satu per satu, meniti tangga darurat yang sudah dililit oleh akar kayu hitam yang tebal. Semakin dalam mereka turun, suhu udara turun drastis, namun bukan dingin yang menyegarkan, melainkan dingin yang lembap dan menjijikkan.
Di dasar lubang, mereka menemukan sebuah ruangan yang sangat luas, berbentuk lingkaran sempurna. Di tengahnya, terdapat sebuah sumur tua dari batu kali, dikelilingi oleh ribuan kabel server yang terhubung langsung ke dinding sumur. Akar Sandiwayang tumbuh dari dalam sumur itu, menjalar ke atas melalui pipa-pipa gedung.
Namun, yang paling mengerikan adalah apa yang ada di atas sumur itu. Sesosok tubuh manusia tergantung lemas, dililit oleh ribuan akar halus. Tubuh itu tampak masih hidup, namun wajahnya sudah tertutup oleh kulit kayu.
"Siapa itu?" tanya Ibu Lastri ketakutan.
"Itu adalah inang asli." bisik Aki. "Hendrawan yang kita lihat tadi hanyalah proyeksi. Ini adalah tubuh aslinya atau apa yang tersisa darinya. Dia telah menyatukan dirinya dengan Pohon Induk untuk menjadi abadi."
Tiba-tiba, mata sosok yang tergantung itu terbuka. Mata itu tidak memiliki pupil, hanya ada cahaya emas yang menyilaukan.
"Nirmala... kau terlambat" suara itu keluar langsung dari dinding-dinding sumur, menggetarkan tulang-tulang mereka. "Hutangmu pada laut... biar aku yang membayarnya dengan nyawamu."
Akar-akar di bawah kaki mereka mulai bergerak seperti ular, mencoba menarik mereka masuk ke dalam sumur yang gelap itu. Arka dengan sigap memeluk Nirmala, mencoba melindunginya, namun Nirmala justru mendorongnya menjauh.
"Jaga Ibu dan Aki Arka!" bisik Nirmala. Air mata keluar dari matanya, namun air mata itu seketika mengkristal menjadi butiran garam sebelum jatuh ke lantai. "Aku harus menyelesaikan ini sendiri. Laut ingin jantungnya, dan aku akan memberikannya."
Nirmala berjalan menuju sumur itu, membiarkan akar-akar hitam melilit kakinya. Ia bersiap untuk melakukan ledakan energi terakhir, sebuah pengorbanan yang mungkin akan menghapus keberadaannya dari dunia ini untuk selamanya.
Untuk Othor Juga... Selamat Hari Raya ya, Maapkan pembaca ini yang mungkin sering ngeluh di komentar🤣Mohon maap lahir dan batin kak🙏🙏🙏