NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Diary

Setelah perdebatan semalam, pagi harinya aku tetap menjalani hari-hariku sebagai seorang istri dan ibu. Dalam keadaan sedikit pusing karena luka di jidatku meradang dan bengkak.

Aku tetap memasak sarapan. Menyiapkan pakaian kak Satya, mempersiapkan seluruh alat kerjanya, bukan maksud untuk menarik perhatian. Namun, ini adalah tugasku sebagai istri. Ini sudah menjadi kewajibanku.

Setelah perlengkapan kak Satya selesai aku lanjut mengurus sandrina. Ber lama-lama di kamar gadis kecil itu. seolah aku sedang menghindar dari keberadaan kak Satya. Sedari tadi aku belum berbicara sepatah kata pun dengan kak Satya. Begitu pun dengannya, dia seolah memalingkan wajahnya dariku.

Dengan perlahan aku mulai menyisir rambut sandrina, menatanya menjadi kuncir dua. Kemudian merapikan poninya dan memberinya aksesoris berupa jepitan lebah berwarna kuning di kedua kunciran.

"Mama ndra, aku kangen banget sama baby Kenzo" ujarnya sambil mematut di cermin, mini set meja riasnya.

"Hem... Nanti kita main ke rumahnya ya, sekalian lihat rumah baru Tante Leona". Ucapku yang kemudian mengoleskan lotion di tangan dan kakinya.

"Harini ini drina belajar tentang apa?"

"sekarang bermain game dan story telling" ucapnya riang.

"Oke good... Drina sudah latihan apa yang mau di ceritakan nanti?"

"Sudah mama ndra..... Tadi setelah shalat subuh papa yang ngajarin"

"oke coba ceritakan dulu sama mama ndra!"

"Kemarin aku, papa dan mama ku pergi les berenang bersama. aku bahagia dan senang sekali karena hari itu mama ndra ikut mengantarku pergi les. Namun, ada kejadian yang membuatku sangat khawatir dan sedih...." jeda sejenak. sandrina menatapku di pantulan kaca. "Mama ndra terjatuh dan terluka saat dia akan menolongku, aku dan papah sangat khawatir melihatnya, darah bercucuran di dahi mama ndra. Untuk mama Ndra aku sangat menyayangimu, terimakasih sudah menolongku. I love you"

"Oke good..... Bagus sekali. sama-sama sayang". Sandrina berbalik menghadapku. Kemudian aku kecup kedua pipi gembul gadis kecil itu.

"Kata terakhir itu kata papah mama ndra..."

Aku terdiam sejenak. berfikir sejenak berusaha mencerna perkataan sandrina. "yang mana sayang."

"Aku menyayangimu dan i love you itu...."

Aku terdiam, ada denyutan hangat di dada.

"Oke, udah siap. Drina harus segera berangkat. Nanti kesiangan" ucapku sambil mengandeng tangan mungilnya.

Setelah aku dan Drina keluar dari kamarnya, rupanya kak Satya sudah menunggu di ambang pintu apart. Tatapannya hanya tertuju pada Drina.

"Papa nungguin ya..."

"Iya, cepet na!. Nanti telat"

Sandrina menyalami tanganku.

"Bye mam ndra... See you" sandrina melambaikan tangannya kepadaku.

Setelah semuanya keluar rumah. seperti biasa aku akan membersihkan apartemen.

Aku baru ingat janjiku. Hari ini aku akan mengunjungi makam sahabatku, Raisya.

Setelah mandi membersihkan diri. Aku berdiri di ambang pintu lemari. mencari pakaian yang cocok untuk. tanganku dengan perlahan memilih helai demi helai. Mataku langsung tertuju pada abaya berwarna blue sky. Tangan ku meraih baju itu.

Pluk....

Sebuah kotak buku berkunci terjatuh.

Buku diary milik Raisya.

buku itu berwarna coklat dengan cover potongan foto Satya, Raisya dan aku di bagian tengah. Kemudian foto bayi sandrina menyempil di bawahku.

Entah apa maksud Raisya. Ia memposisikan fotoku di bagian tengah di antara Satya dan Raisya.

buku diary itu terkunci rapat. Aku tidak menemukan kuncinya. Jadi aku simpan dulu di laci nakas di samping tempat tidur.

Lalu kembali melanjutkan kegiatanku. Memoles sedikit make up dan mengenakan hijab berwarna yang sama dengan abaya. Pashmina coklat pemberian dari Raisya.

Aku ingat sekali waktu itu dia memberiku pashmina coklat dan mengajariku cara memakainya dengan benar.

Tidak lupa aku mengirimkan pesan pada kak Satya.

Sandra : Kak, aku izin pergi keluar.

Satya : Kmn?.

Bahkan saking cueknyaa dia singkat balasan chat ku.

Sandra : TPU.

Balasku lalu mematikan ponsel. Karena batrenya tinggal sedikit.

***

Suasana pemakaman siang ini sangat sepi. Mungkin hanya beberapa orang yang ada di sana yang bisa dihitung dengan jari.

Aku mulai berjalan mendekati pusara sahabatku Raisya. hembusan angin pelan menerpa wajahku, dedaunan tua berjatuhan tertiup angin. Awan mendung bergelayut manja, seolah merajuk ia ingin segera menumpahkan beban nya.

Tidak lupa aku menghadiahi do'a untuk sahabatku. Tidak terasa satu titik air mata lolos tidak bisa kutahan.

"Sa.... Maafkan aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kak Satya. Belum bisa menjadi ibu yang baik untuk sandrina... Seperti yang kamu lakukan. Aku lagi berusaha sebaik mungkin sa. Tapi.... Aku lelah jika berjuang sendiri, bolehkan aku menyerah dengan pernikahan ini sa?"

"Sa... Rasa cinta kak Satya hanya untukmu.. Sepertinya dia tidak ikhlas dengan pernikahan ini" aku menyeka sudut mata. "Posisimu di hati kak Satya tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Kak Satya sangat mencintaimu sa..."

"Sa... Jika nanti aku menyerah dan tidak bisa melanjutkan pernikahan ini kamu jangan marah ya...".

"Sa... Kamu beruntung sekali... Kamu seorang yang baik hati, banyak orang yang sangat menyayangimu. Kenapa kamu pergi secepat ini..."

Aku mengusap Batu nisan yang bertuliskan Raisya Andriyani. mengecup sejenak.

"Aku pulang ya sa..."

Awan yang tadi bergelayut manja. Kini mulai menurunkan rintik-rintik air.

Aku berdiri dan mengucapkan selamat tinggal pada Raisya.

Berbalik.

Dan....

Kak Satya...

Berdiri tegak dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Ia menatap lurus pada makan Raisya. Di tangannya terdapat sebuah payung.

Aku terus berjalan melewatinya. Tidak menoleh keberadaanya. Mungkin dia akan mengunjungi istrinya. Namun menungguku pergi.

Namun...

Srek.. Srek..

Seperti ada orang yang mengikutiku. Dan kini ada sebuah payung yang melindungi ku dari tetesan air hujan yang cukup deras.

Aku menoleh kebelakang.

Kak Satya. Rupanya dia mengikutiku.

Aku tidak peduli. Aku berjalan cukup cepat. Menuju pangkalan ojek dan ingin segera pulang.

"Ndra..." pergelangan tanganku di cekal cukup kuat.

Aku menoleh, dengan tatapan tajam. Air mataku kembali mengembun.

"Kita harus kerumah sakit sekarang!"

Rumah sakit? Siapa yang sakit?

Aku tidak mendengar, dan berusaha melepaskan cekalannya. Namun, mana bisa aku melawan kekuatan seorang pria.

Dan kini kak Satya merengkuh badanku untuk memasuki mobilnya.

Kak Satya melajukan mobil sangat cepat.

Sebenarnya ini ada apa?. Perasaanku jadi tidak enak. Namun aku enggan bertanya.

tidak lama kita sampai di parkiran rumah sakit. Kak Satya memarkirkan mobil kemudian membuka pintu belakang dn memangku sandrina yang tertidur pulas. Aku yang mematung bingung.

Kak Satya meraih tanganku dan membawaku menelusuri lorong lorong rumah sakit.

Dadaku berdebar cepat. perasaanku tidak enak.

Langkah kita berhenti.

Loh kok ada Leona dan Izhar. Jadi siapa yang sakit?

"Sandra... Ayah.. Ibu.. Kecelakaan". Bagaimana di sambar petir di siang bolong. Perkataan Leona langsung membuatku shock.

Leona memelukku erat. Aku masih mematung.

"Ibu... Ayah.." satu teriakan memenuhi lorong rumah sakit. tanganku masih bertaut dengan jemari kak Satya.

Aku terduduk lesu di lantai rumah sakit. Kaki ku lemas.. Seolah tulang-tulang yang menumpu itu hilang sejenak.

"Ndraa.. Tenang.." Kini kak Satya yang memeluku.

Ia mendekapku erat. Air mataku bercucuran membasahi kemejanya.

"Ga bisa tenang.. Ibu dan ayah kak..." kak Satya mengusap ngusap punggungku lembut.

"Tenang... Kita dengarkan dulu dokter yang menangani ayah dan ibu.."

Tangisku sedikit mereda.

Kini aku duduk bersampingan dengan kak Satya di sebelahku.

Dukung karya pertamaku dengan like komen subscribe dan vote. Itu sangat berarti untukku terimakasih kepada para pembaca. Aku berharap bacaan ini bisa menjadi hiburan🙏🏻

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!