NovelToon NovelToon
Detektif Kacau Balau

Detektif Kacau Balau

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mata-mata/Agen / Persahabatan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ladang, Lobi, dan Langit Eropa

Setelah keseharian mereka diisi oleh misi-misi tak terduga ke lab rahasia, konferensi internasional, dan pemecah konspirasi, hidup mereka kembali ke tempat yang tidak asing namun terasa baru: ladang, warung, kampus, jalanan kota. Hujan telah berhenti di Malang, memunculkan pelangi di belakang Gunung Arjuno, warna-warninya memantulkan cahaya sore yang hangat. Di kebun belakang rumah Pak Hadi, tanaman cabai dan tomat tumbuh subur. Joko duduk di kursi dengan tongkat di dekatnya, mengajarkan anak tetangga cara menanam bibit. Ia tersenyum, merasa hidup kembali. “Ini tanah yang kita perjuangkan,” katanya. “Kita jaga seperti kita jaga keadilan.”

Di ruang tamu kontrakan, meja penuh dengan kertas: program pelatihan, surat permohonan dana, undangan rapat, dan undangan resmi dari Parlemen Eropa. Mereka berkumpul. “Kita hanya punya tiga minggu sebelum ke Brussels,” kata Rina, memegang secangkir kopi. “Kita harus menyiapkan materi, bukti tambahan, dan misi kita di sana. Kita juga diundang ke Italia untuk melihat laboratorium etika.” Profesor mengangguk. “Dan ada permintaan dari universitas di London untuk mengadakan kuliah umum,” tambahnya. Budi memegang paspor, menatap stempel Geneva. “Aku seperti selebritas keliling, tapi tanpa manajer,” katanya. Mereka tertawa.

Meski begitu, mereka juga menghadapi isu lokal. Yayasan Joko Karin mulai menerima laporan dari daerah tentang program kesehatan meragukan, penambangan ilegal, dan kasus pencemaran. Mereka memutuskan untuk membuka cabang yayasan di beberapa daerah. Mereka melatih sukarelawan. Rina memimpin lokakarya etika riset di Universitas Airlangga, berbicara di depan mahasiswa kedokteran dengan slide penuh warna. “Jika kalian ingin menjadi dokter, kalian harus tahu apa yang boleh dan tidak,” katanya. Mahasiswa mengangguk, mencatat, terkejut dengan cerita B16. Profesor mengajar di kampus tentang regulasi global, memicu diskusi. “Bahasanya begitu,” kata Budi saat mengajar di workshop seni, “Seni bisa jadi medium perlawanan.” Anak-anak melukis maskot reog melawan ilmuwan jahat.

Di sela-sela itu, mereka diundang oleh seorang menteri muda dari Kementerian Kesehatan. Kantor menteri berada di gedung kementerian dengan marmer putih, lantai mengkilap, air conditioner dingin. Pranata bercukur rapi mengantar mereka. Menteri muda itu, bernama Ibu Siska, mengenakan blazer krem, kacamata, dan senyum ramah. “Saya ingin mengucapkan terima kasih,” katanya. “Kalian menyingkap sesuatu yang memalukan. Kami ingin belajar. Kami sedang merumuskan UU baru tentang etika riset, dan ingin kalian memberi masukan.” Mereka terkejut; mereka tidak menyangka diterima dengan baik. Rina berkata, “Kami ingin hukum yang memastikan persetujuan, transparansi, dan sanksi.” Profesor menambahkan, “Dan lembaga pengawas independen.” Ibu Siska mencatat, mengangguk. Ia berjanji melibatkan mereka.

Namun, tidak semua pejabat senang. Beberapa oknum DPR yang disebut namanya marah. Mereka melancarkan tuduhan balik. “Mereka hanya cari perhatian,” ujar satu anggota DPR di TV. “Mereka menghancurkan ekonomi kita.” Di media sosial, muncul kampanye hitam: mereka dituduh agen asing. Budi membaca komentar itu, tersenyum pahit. “Padahal kita hanya minum kopi asing,” katanya. Mereka sepakat untuk tidak terpancing. Mereka membalas dengan data, fakta, dan tawa. “Kita balas dengan film pendek,” kata Budi. “Kita ceritakan perjuangan kita dalam waktu lima menit. Humor itu tajam.” Mereka membuat video mini, mengupload ke YouTube. Video viral.

Minggu pertama, mereka mengunjungi desa-desa yang melaporkan program kesehatan mencurigakan. Mereka menyusuri jalan berlumpur, bau pupuk, ayam berlarian, sapi berkeliaran. Mereka bertemu warga di posyandu. Ibu-ibu muda bertanya, “Apakah suntikan ini aman?” Mereka menjelaskan hak-hak mereka. “Jika kalian ragu, tanyakan. Minta dokter jelaskan. Jangan takut,” kata Rina. Warga berterima kasih. Mereka merasa kekuatan mereka berubah menjadi pengaruh positif. Budi menggambar sketsa bayi tersenyum dengan jarum steril dan menuliskan “Hati-hati, bukan takut”. Sketsa itu ditempel di posyandu.

Minggu kedua, mereka mengadakan festival budaya di kampus: Reog, Tarian Tor-Tor, Tarian Saman, Band Indie, Teater Etnik, Film Dokumenter. Halaman kampus ramai. Stand makanan menjual makanan Nusantara: soto, rendang, papeda. Budi membuat booth melukis wajah, menggambar reog di pipi anak-anak. “Bayar dengan senyum,” katanya. Anak-anak antri. Mereka memperkenalkan Yayasan Joko Karin. Banyak yang mendukung. “Kalian menginspirasi kami,” kata seorang mahasiswi. “Kami ingin belajar.”

Minggu ketiga, mereka berangkat ke Jakarta lagi untuk persiapan keberangkatan ke Eropa. Mereka bertemu dengan perwakilan EU di Jakarta. Duta Besar EU, seorang pria tinggi dengan rambut putih, menyambut mereka di kantor kedutaan yang besar. “Kami menyambut kalian di Brussels,” katanya. “Ini agenda kalian: bertemu anggota Parlemen, berbicara di komite etika, kemudian perjalanan ke Roma dan ke laboratorium di Bologna. Kami juga mengatur pertemuan dengan kelompok hak asasi manusia Eropa.” Mereka terkesan. Duta besar juga menawarkan pelajaran dasar bahasa Prancis dan Italia. “Bonjour, Buon giorno,” kata Budi, salah. Duta besar tertawa. “Kalian belajar,” katanya. Mereka mempelajari beberapa kata penting, menulis di buku catatan: terima kasih = merci, tolong = s'il vous plaît, maaf = desolé.

Hari sebelum keberangkatan, mereka menengok keluarga mereka. Rina pulang ke rumah orang tuanya di Surabaya. Ibunya menyambut dengan air mata. “Nak, kamu jadi pahlawan,” katanya. Rina memeluk ibunya, mencium tangannya. “Ibu, saya hanya melakukan yang benar,” katanya. Ibunya membuat rawon, aroma kluwek mengisi rumah. Mereka makan sambil berbicara tentang masa kecil. “Hati-hati di luar negeri. Jangan lupa doa,” kata ibunya. Rina mengangguk.

Budi pulang ke rumah orang tuanya di Blitar. Ayahnya, seorang petani, memeluknya. “Aku bangga, Nak. Dulu kamu sering ngapusi untuk melukis. Sekarang lukisanmu membawa perubahan,” katanya. Ibu Budi membuat pecel, menyajikan lalapan dengan sambal kacang kental. Adik-adik Budi memeluknya, menanyakan tentang salju. “Apakah salju bisa dimakan?” tanya adik bungsu. Budi tertawa. “Tidak enak, dingin,” jawabnya. Mereka tertawa bersama.

Perikus juga pulang ke rumah neneknya, yang tinggal di desa kecil dekat Kediri. Nenek duduk di depan rumah, merajut selendang. “Kamu mau ke luar negeri lagi?” tanyanya. “Iya, Nek, tapi akan kembali. Aku bawa foto salju,” jawab Perikus. Nenek tertawa. Ia memberi cucunya bekal: nasi jagung, sambal bawang, ikan asin kering. “Jangan lupa makan,” katanya.

Profesor tinggal di Malang, merapikan berkas, menulis laporan akhir untuk konferensi, dan menyiapkan materi presentasi untuk Parlemen Eropa. Pak Hadi mengunjungi makam istrinya, menaburkan bunga, berbisik, “Aku akan terus melawan, istriku.” Joko pergi bersama ayahnya, menaburkan bunga di makam adik-adiknya. Ia menatap nisan, berjanji melanjutkan perjuangan. Sondi memeluk keluarga, menyiapkan ulos untuk diberikan kepada teman baru di Italia sebagai tanda persahabatan.

Hari keberangkatan pun tiba. Mereka berkumpul di Bandara Juanda Surabaya, membawa paspor dengan stempel Schengen, tiket pesawat ke Brussels via Istanbul. Di ruang tunggu, aroma kopi bandara dan suara pengumuman penerbangan terasa familiar. Mereka mengenakan pakaian hangat, membawa jaket tebal. Budi membawa sebuah tas kecil berisi lukisan kecil yang akan ia berikan di Eropa. Mereka berbicara dengan penumpang lain. “Kalian ke mana?” tanya seorang ibu. “Ke Brussels, Bu, mau bicara di Parlemen,” jawab Rina. Ibu itu terpana, lalu tersenyum. “Tuhan memberkati,” katanya.

Mereka naik pesawat Turkish Airlines, menempati kursi tengah. Kali ini, Budi lebih santai. Ia memegang remote, menonton film komedi Turki yang tidak ia mengerti, tertawa hanya karena tawa penonton lain. Perikus menonton film dokumenter tentang alpaka. Rina membaca buku “Orientasi Parlemen Eropa”. Professor menulis catatan di buku agenda. Mereka transit di Istanbul, bandara yang ramai, beraroma rempah, dipenuhi toko suvenir dan baklava. Mereka memesan kebab, mencicipi, memuji rasa daging dan roti pipih. Mereka berdiri di jendela, memandang menara-menara masjid yang menjulang.

Penerbangan berikutnya membawa mereka ke Brussels. Saat pesawat mendarat, mereka melihat gereja-gereja tua, kanal, dan bangunan bergaya gotik. Udara dingin, lebih dingin daripada Geneva. Mereka mengambil tas, keluar. Duta besar EU Indonesia menjemput mereka, membawa mereka ke hotel. Dalam perjalanan, mereka melewati Parlemen Eropa, gedung modern kaca dan besi, bendera-bendera berkibar. “Itu tempat kita bicara besok,” kata Rina. Mereka merasakan degupan jantung. “Ayam sayap,” kata Budi spontan, mencampur bahasa Inggris, membuat semua tertawa, melepaskan ketegangan.

Di hotel, mereka bertemu delegasi dari negara lain yang pernah menjadi korban pelanggaran riset: Ghana, Vietnam, Meksiko. Mereka saling memperkenalkan, membagikan cerita, saling menguatkan. Mereka mencicipi wafel Belgia, mengunjungi Grand Place dengan lampu-lampu emas, lalu kembali tidur. Keesokan paginya, mereka mengenakan baju formal: batik sutra, ulos, jas gelap. Mereka berjalan ke gedung Parlemen Eropa, melewati sel security, duduk di kursi tinggi, melihat mikrofon, layar, dan bendera biru dengan bintang kuning. Rina membuka catatan. Professor menyiapkan slide. Mereka mendengar lagu pengantar, kemudian nama mereka dipanggil.

Rina berdiri, berjalan ke mikrofon. Kamera menyorot, layar menampilkan wajahnya. Parlemen diam. Ia mulai berbicara. “Selamat pagi, anggota Parlemen yang terhormat,” katanya dalam bahasa Inggris, suara mantap. “Kami datang dari Indonesia, negara kepulauan dengan beragam budaya. Kami datang sebagai perawat, petani, mahasiswa, seniman, dan warga biasa. Kami datang karena kami mengalami pelanggaran etika yang mengerikan. Kami datang dengan hati terluka, tetapi dengan harapan. Kami minta bantuan Anda untuk membuat regulasi global yang melindungi kami semua. Kami tidak ingin anak-anak kami menjadi bahan uji coba tanpa persetujuan. Kami tidak ingin ilmu menjadi monster. Kami ingin ilmu menjadi cahaya.”

Profesor melanjutkan dengan data, grafik. Budi menunjukkan lukisan-lukisan mini yang mencuri perhatian. Perikus berbicara tentang humor sebagai alat perlawanan. Pak Hadi berbicara singkat, mata berkaca. “Saya ayah. Tolong, jangan biarkan ada ayah lain menangis seperti saya,” katanya. Sondi menyanyikan lagu Batak pelan, suaranya gemetar, liris. Parlemen hening, beberapa anggota meneteskan air mata. Setelah mereka selesai, tepuk tangan pecah. Beberapa anggota Parlemen berdiri.

Salah satu anggota, perempuan dari Italia, berkata, “Kami berjanji membahas ini minggu depan.” Anggota dari Jerman mengangkat tangan. “Saya dari daerah yang sama dengan Klaus. Saya malu. Saya berjanji mendukung regulasi.” Anggota dari Swedia berkata, “Kami ingin bekerja sama.” Setelah sesi, mereka berbicara informal, bertukar kartu nama, mendapatkan janji. Mereka merasa optimis.

Di luar, para jurnalis Eropa mewawancarai mereka. “Bagaimana perasaan Anda?” tanya seorang jurnalis Prancis. Rina menjawab, “Kami merasa didengar, tetapi pekerjaan belum selesai.” Budi menambahkan, “Kami senang karena roti Belgia enak,” membuat jurnalis tertawa. Jurnalis Jerman Anna hadir, melaporkan perkembangan. “Hero dari Indonesia mempengaruhi Parlemen,” tulisnya di blog. Artikel itu viral.

Setelah Brussels, mereka terbang ke Roma, Italia, bertemu dengan para ilmuwan etis. Mereka berjalan di sepanjang jalan berbatu, melewati Colosseum, aroma pizza, dan kopi espresso. Mereka mengunjungi laboratorium di Bologna yang terkenal dengan riset etika, bertemu dengan Dr. Claudia, seorang ilmuwan yang menolak bekerja untuk perusahaan farmasi besar demi integritas. Dr. Claudia mengajak mereka makan gelato, memperlihatkan sel-sel di mikroskop. “Ilmu itu indah jika digunakan dengan benar,” katanya. Mereka setuju.

Setelah itu, mereka mengunjungi Vatikan, berdoa, memandangi lukisan-lukisan Michelangelo, merasakan sejarah. Pak Hadi berdiri di Basilika Santo Petrus, menutup mata, meneteskan air mata. “Aku tidak pernah bermimpi bisa ke sini,” katanya. “Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Tuhan.” Budi membeli rosario, memberikan kepada ibunya nanti.

Kembali ke Indonesia, mereka disambut dengan antusiasme. Media meliput pidato mereka di Parlemen Eropa. Netizen membuat meme: gambar Budi di Parlemen, dengan caption “Budi In Your Area.” Mereka tertawa. Namun, kerja menanti. Mereka harus menyiapkan pengawasan untuk B19, bekerja sama dengan China. Mereka harus menindaklanjuti janji Parlemen Eropa. Mereka harus membantu kementerian merumuskan undang-undang. Mereka harus menguatkan yayasan.

Malam itu, di warung Pak Mulyono, mereka menonton berita bersama warga. “Belgia, Italia, Wah!” seru Pak Mulyono. “Aku dulu cuma sampai Sidoarjo.” Budi menjawab, “Pak, sekarang kita ke mana pun pakai soto.” Orang-orang tertawa. Tapi di balik tawa, ada kesadaran bahwa tugas mereka bertambah besar. Mereka menyadari bahwa mereka tidak lagi hanya milik diri mereka sendiri; mereka milik gerakan yang lebih luas.

Hari itu berakhir dengan mereka, di bawah lampu kuning warung, memegang gelas kopi, menatap keluar jendela. Hujan rintik-rintik turun lagi, membasahi jalan. Mereka saling memandang, mengangguk tanpa kata. Mereka tahu, perjalanan mereka sekarang adalah maraton, bukan sprint. Mereka telah menanam benih perubahan di ladang, universitas, dan parlemen. Benih itu harus dirawat terus, disirami dengan pengetahuan, humor, dan keberanian. Mereka akan melakukannya, bersama-sama, satu langkah lagi, satu bab lagi, sampai tak ada lagi bayi yang menjadi kelinci percobaan, sampai ilmu dan kemanusiaan bersatu, sampai cerita mereka tidak perlu diulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!