Kimberly kembali ke negaranya bersama ke empat anak kembarnya untuk membawa anak sulungnya yang terpaksa dititipkan oleh seorang pria. Di mana pria tersebut adalah seorang CEO yang terkenal dengan kekejamannya dan super dingin.
Kimberly hamil di luar nikah karena melakukan hubungan satu malam dengan seorang pria. Di mana saat itu Kimberly di jebak oleh Ibu tirinya dan adik tirinya demi mendapatkan warisan yang ditinggalkan oleh Ibunya.
Selain ingin membawa putra sulungnya, Kimberly berniat membalaskan dendam terhadap Ibu tirinya dan juga adik tirinya dengan cara menikah dengan pria yang membuat dirinya hamil.
Akankah rencananya berjalan lancar? Apakah pernikahan Kimberly berakhir bahagia atau bercerai? Mengingat banyak orang yang ingin memisahkan hubungan mereka. Ikuti yuk novel terbaruku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Kimberly Hilang
Kimberly hanya menatap Ronald dengan tatapan kesal tanpa menjawab pertanyaannya. Kemudian Kimberly kembali melanjutkan pekerjaannya untuk menandatangani dokumen.
"Jika kalian berdua cocok maka kamu bisa membawa ke empat anak kembarmu kembali ke keluarga Roberto. Bukankah itu akan menyenangkan semua pihak khususnya ke lima anak kembarmu?" Tanya Ronald yang sedang berusaha mempengaruhi Kimberly.
Kimberly terdiam dan entah kenapa dirinya ingat dengan kejadian kemarin malam di mana Diego tiba-tiba mencium bibirnya.
"Tidak semudah itu. Jika suatu hari nanti Diego tidak menyukaiku maka bukan hanya mengusirku tapi juga akan merebut hak asuh anak-anak. Bukankah Aku malah rugi dua kali lipat kalau Aku membawa anak-anak kembali ke Keluarga Roberto?" Tanya Kimberly yang tidak ingin nasibnya dirasakan oleh kelima anak kembarnya.
"Aku sudah menyelidiki kehidupan pribadi Diego kalau Diego bukanlah pria seperti itu." Ucap Ronald.
"Meski karakter Diego tidak bermasalah tapi keluarga pamannya mengincar posisi pemimpin dengan mata serakah." Ucap Kimberly.
Kimberly kemudian menghembuskan nafas dengan perlahan sedangkan Ronald terdiam sambil menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Kimberly.
"Jika seandainya Keluarga Roberto mengetahui kalau ada anak kembar lainnya maka Aku kuatir itu akan membahayakan anak-anak kembarku." Ucap Kimberly.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Bukankah Diego sangat menyayangi putranya?" Tanya Ronald.
"Apakah kamu tidak ingat kejadian enam tahun yang lalu? Bagaimana keluargaku ingin membunuhku dan juga janin yang Aku kandung dengan cara membakar gudang tua. Kamu pasti tidak lupa bukan?" Tanya Kimberly balik bertanya sambil menahan amarahnya.
"Aku tidak mungkin lupa. Apa yang kamu katakan memang benar. Jadi jangan sampai Keluarga Roberto mengetahui keberadaan anak-anak yang lain." Jawab Ronald dengan tubuh gemetar.
Hal ini dikarenakan dirinya tidak sanggup membayangkan jika seandainya kelima anak kembar milik Kimberly dengan Diego menjadi sasaran orang jahat.
"Oh ya, mumpung Aku masih ingat ... (sambil mengambil tasnya lalu membukanya) ... Ini kartu memori, tolong diperiksa." Ucap Kimberly sambil mengambil kartu memori dari dalam tasnya lalu diberikan ke Ronald.
"Baik." Jawab Ronald sambil menerima kartu memori dari tangan Kimberly.
"Aku akan mengeceknya segera dan akan Aku laporkan segera mungkin." Sambung Ronald.
Kimberly hanya menganggukkan kepalanya kemudian Ronald pergi meninggalkan Kimberly di ruang kerjanya. Hingga dua jam kemudian Ronald kembali masuk ke dalam ruangan Kimberly.
"Ini hasilnya." Ucap Ronald sambil memberikan dokumen ke atas meja kerja milik Kimberly.
"Dengan data yang ada di dalamnya maka perusahaan milikmu bisa mengendalikan Baskoro Grup." Ucap Ronald.
"Bukti-bukti ini belum cukup untuk mencabut saham milik Kevin Baskoro." Ucap Kimberly sambil berpikir.
Ronald terdiam begitu pula dengan Kimberly hingga beberapa saat kemudian Ronald ingat akan sesuatu yang belum dikatakan ke Kimberly.
"Oh ya, tadi pagi asistenku menerima telepon dari Kevin Baskoro. Katanya Dia minta kita untuk berinvestasi dengan perusahaannya." Ucap Ronald.
"Benar-benar kebetulan yang pas sekali, kamu setujui saja kalau kita bersedia investasi di perusahaannya." Ucap Kimberly sambil tersenyum devil.
"Kalau kita investasi padanya, bukankah dana perusahaan akan sia-sia?" Tanya Ronald yang menolak rencana Kimberly karena mengingat kemampuan Kevin Baskoro dalam berbisnis.
"Dalam berbisnis, tentu saja ada syaratnya." Ucap Kimberly sambil tersenyum misterius ke arah Ronald.
"Ah, Aku mengerti apa yang kamu rencanakan. Jika Dia tidak bisa mencapai target profit yang kita tetapkan maka Dia harus melepaskan Baskoro Grup." Tebak Ronald.
Kimberly hanya menganggukkan kepalanya sambil masih tersenyum penuh bahagia. Karena sebentar lagi dirinya akan menguasai perusahaan milik Ayah Kevin yang seharusnya diwariskan ke dirinya.
"Tapi .... Dia itu bukan orang bodoh, bukan? Jadi mana mungkin Dia setuju dengan idemu?" Tanya Ronald yang ragu dengan ide Kimberly.
"Kevin Baskoro memang tidak kompeten dalam memimpin perusahaan. Tapi ambisinya sangat besar karena itulah Baskoro Grup beberapa tahun ini tidak pernah berkembang." Jawab Kimberly yang tidak sudi memanggil Kevin Baskoro dengan sebutan Ayah.
"Aku sangat yakin kalau saat ini Kevin Baskoro ingin segera bangkit. Jadi kemungkinan Dia setuju sangat besar." Sambung Kimberly.
"Baik. Aku akan segera menyuruh orang untuk menghubunginya agar segera datang ke sini." Ucap Ronald.
"Aku ingin kamu mengaku sebagai pemilik perusahaan ini agar mereka tidak curiga." Ucap Kimberly.
Ronald hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju kemudian Ronald pergi meninggalkan ruangan tersebut. Satu jam kemudian Ronald kembali masuk ke dalam ruangan Kimberly dan mengatakan kalau Ayah Kevin datang bersama Ibu Bela dan Cintya.
Kimberly hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangannya sedangkan Ronald duduk di kursi kebesaran milik Kimberly.
Kimberly berjalan menuju ke arah lift bersamaan pintu lift terbuka. Hal itu membuat Kimberly menghentikan langkahnya dan melihat Ayah Kevin datang bersama Ibu Bela dan Cintya.
Kimberly hanya bisa menahan amarahnya terhadap mereka bertiga. Sedangkan mereka bertiga menahan kebencian terhadap Kimberly karena tidak mau membantu perusahaan yang dikelola oleh Ayah Kevin.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Ayah Kevin dengan nada ketus.
"Emm ... (sambil berpikir) ... Aku datang ke sini untuk wawancara." Jawab Kimberly berbohong.
"Nyonya dari keluarga Roberto yang terhormat masih perlu melakukan wawancara? Kenapa kamu tidak melamar pekerjaan milik Keluarga Roberto?" Tanya Cintya dengan tatapan merendahkan.
"Jangan-jangan Roberto Grup menganggap kamu wanita yang tidak berguna. Makanya tidak bisa menerimamu, benar bukan?" Tanya Cintya.
"Aku mengira kalau Tuan Diego sangat menghargaimu. Tapi pada kenyataannya Tuan Diego tidak memberikanmu pekerjaan yang layak." Sambung Cintya tanpa jeda yang sangat suka melihat Kimberly menderita.
"Ayah, kenapa Ayah datang ke perusahaan ini?" tanya Kimberly yang malas mendengarkan perkataan yang tidak penting.
"Perusahaan ini sudah setuju untuk berinvestasi pada perusahaan milikku yang nantinya akan Ayah berikan ke Cintya." Jawab Ayah Kevin tanpa punya perasaan.
Kimberly hanya tersenyum namun dalam hatinya ingin secepatnya bisa menguasai perusahaan Baskoro Grup yang seharusnya diwariskan untuk dirinya.
Setelah berhasil menguasai perusahaan maka Kimberly akan mengusir mereka bertiga dan menjadikan mereka pengemis. Selain itu Kimberly ingin mereka merasakan penderitaan yang dulu pernah dirasakan Kimberly.
"Karena kamu datang untuk wawancara di perusahaan ini, maka tentunya kamu tahu. Kalau beberapa tahun terakhir ini betapa kuatnya pengaruh perusahaan ini ." Ucap Ibu Bela sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Bahkan Roberto Grup, hanya bisa memandangnya dari kejauhan." Ucap Cintya dengan nada merendahkan.
("Demi menekanku, kalian memuji perusahaan milikku setinggi langit. Aku jadi merasa tersanjung dan sedikit malu dengan pujian kalian." Ucap Kimberly yang tidak mungkin mengatakan hal itu di depan mereka).
"Rasanya tidak mungkin kalau perusahaan ini mau berinvestasi di perusahaan Baskoro Grup." Cibir Kimberly.
"Kenapa tidak mungkin? Tunggu saja sampai kamu malu sendiri." Ucap Cintya dengan nada ketus.
"Sudahlah. Jangan membuang-buang waktu dengannya. Lebih baik kita pergi dan tinggalkan wanita yang tidak berguna itu." Ucap Ayah Kevin yang sangat membenci putri sulungnya.
Ke dua wanita itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka pergi meninggalkan Kimberly. Sedangkan Kimberly hanya terdiam sambil menatap kepergian mereka dengan tatapan penuh amarah dan dendam.
"Sepertinya mereka bertiga tidak akan peduli seberapa ketatnya syarat yang nantinya akan diajukan oleh Ronald, Kevin Baskoro tidak akan mungkin menolaknya." Ucap Kimberly sambil tersenyum menyeringai.
Kemudian Kimberly pergi meninggalkan perusahaan menuju ke arah parkiran mobil. Sedangkan Ayah Kevin, Ibu Bela dan Cintya kini sudah berada di ruangan milik Kimberly.
Mereka bertiga bertemu dengan Ronald yang mengaku sebagai pemilik perusahaan. Ketika mereka bertiga datang Ronald langsung memberikan dokumen ke Ayah Kevin.
Ayah Kevin langsung menerima dokumen tersebut lalu membaca isi dokumen dengan teliti. Hingga beberapa saat wajahnya yang awalnya bahagia kini mendadak berubah menjadi kesal.
"Tuan Ronald, investasi ini bernilai miliaran dollar tapi sayangnya syarat-syarat dari kontrak ini sangat berat." Ucap Ayah Kevin sambil meletakan dokumen tersebut ke atas meja.
"Kalau kalian tidak membutuhkannya maka masih banyak perusahaan lain yang membutuhkannya." Jawab Ronald dengan nada santai seakan tidak peduli jika Ayah Kevin menolaknya.
"Ayah, lebih baik Ayah menandatangani kontrak ini. Kalau tidak maka Kimberly akan menertawakan kita." Ucap Cintya.
Ayah Kevin hanya terdiam sambil berpikir karena sejujurnya dirinya tidak menyetujui syarat yang diberikan Ronald.
"Suamiku, meskipun syaratnya sangat berat tapi jika kita bisa mencapai target keuntungan maka nantinya Baskoro Grup akan memiliki posisi berbeda di kota ini. Bahkan Keluarga Roberto harus bersikap sopan pada kita." Ucap Ibu Bela yang berusaha mempengaruhi suaminya.
Hal ini dikarenakan Ibu Bela melihat kalau Ayah Kevin agak ragu untuk menerima syarat-syarat yang sudah tertulis di dokumen perjanjian yang akan ditandatangani.
"Apa yang kamu katakan memang benar." Jawab Ayah Kevin sambil mengambil dokumen yang tadi diletakkan di atas meja.
"Aku akan menandatangani dokumen ini." Sambung Ayah Kevin sambil mengambil pena dari dalam saku jasnya.
Ronald hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap ke arah Ayah Kevin yang sedang menandatangani dokumen.
("Ternyata apa yang dikatakan Kimberly memang benar. Aku tidak sabar menunggu mereka menjadi pengemis dan mengalami penderitaan dua kali lipat yang dulu dirasakan Kimberly." Ucap Ronald yang sangat dendam terhadap mereka bertiga).
Setelah menandatangani dokumen perjanjian, mereka kemudian mengobrol untuk membicarakan langkah selanjutnya.
Hingga beberapa saat kemudian mereka bertiga pamit dan pergi meninggalkan perusahaan tersebut sambil tersenyum bahagia. Mereka bertiga tidak tahu kalau sebentar lagi mereka tidak akan pernah bisa tersenyum lagi seperti saat ini.
Sedangkan di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana Kimberly sudah berada di tempat parkiran mobil. Dirinya sangat terkejut karena mobil yang tadi di parkir kini sudah tidak ada.
"Mobilku kemana? Masa mobilku hilang tanpa jejak?" Tanya Kimberly dengan wajah bingung.